The Conjuring: Last Rites – Bikin Merinding atau Justru Bikin Ngantuk? Review Jujur!

Table of Contents

The Conjuring Last Rites Review

Halo horor-lovers dan para pengikut setia Ed dan Lorraine Warren! Udah pada nungguin banget kan film penutup saga The Conjuring ini? Yap, The Conjuring: Last Rites akhirnya tiba. Tapi, jujur aja nih, film ini kayaknya memang sengaja dibikin khusus buat kamu-kamu yang udah jadi “anak-anak” Ed dan Lorraine, yang udah ngikutin petualangan mereka dari awal banget. Kalau kamu cuma sekadar pencinta horor secara umum, siap-siap aja mungkin Last Rites ini bakal kerasa flat dan kurang greget, alias bisa bikin ngantuk di tengah jalan.

Bukan Horor Biasa, Tapi Sebuah Reuni Keluarga Besar

Bagi penonton awam atau yang cuma pengin horor yang bikin meloncat dari kursi, mungkin film ini nggak bakal seberapa nendang. Banyak banget film horor lain di luar sana yang jauh lebih bisa bikin teriak-teriak atau bahkan sampai trauma saking seramnya. Coba deh inget The Conjuring pertama yang rilis tahun 2013, itu kan ikonik banget dan jadi awal mula semesta horor yang gede ini. Nah, Last Rites ini feel-nya beda jauh sama yang pertama itu.

Tapi, kalau kamu udah terlanjur cinta mati sama Ed dan Lorraine Warren, nah ini dia! Film yang naskahnya ditulis sama Ian Goldberg, Richard Naing, dan David Leslie Johnson-McGoldrick (berdasarkan cerita James Wan dan Johnson-McGoldrick) ini bakal jadi penutup yang manis banget. Ini adalah puncak dari perjalanan 12 tahun yang udah kita lewati bareng mereka. Jadi, buat para fans, ini lebih dari sekadar film; ini kayak closing chapter yang emosional.

Naskah yang Familiar, dengan Tambahan Drama Keluarga yang Dominan

Secara objektif, naskah Last Rites ini bisa dibilang standar aja. Ceritanya masih ngikutin pola yang udah ada dari delapan film sebelumnya, terutama tiga film The Conjuring pertama. Jadi, jangan harap ada gebrakan baru yang bikin kamu kaget sama pengemasan cerita atau alurnya, semuanya terasa familiar. Konsistensi ini bisa jadi nilai plus buat fans, tapi minus buat yang ngarep freshness.

Salah satu hal yang paling kentara di Last Rites adalah porsi drama keluarga yang jauh lebih banyak. Baik buat keluarga Warren maupun keluarga yang jadi korban iblis kali ini, yaitu keluarga Smurl. Ini bukan hal baru sih, karena drama keluarga mulai terasa menonjol sejak The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) dan lanjut ke The Nun II (2023). Tapi di Last Rites, porsinya makin diperluas lagi, sampai-sampai film ini kerasa lebih kayak film keluarga dengan bumbu horor, bukan sebaliknya.

Bisa dibilang, para penulis naskah sengaja mengambil rute ini untuk memberikan dimensi yang lebih personal dan emosional pada penutup saga. Mereka ingin para penonton merasakan koneksi yang lebih dalam, bukan hanya sekadar ketakutan sesaat. Jadi, siap-siap aja untuk melihat lebih banyak momen interaksi antarkarakter dan konflik internal daripada jump scare yang bikin jantung copot.

Durasi Panjang dan Teror “Cubitan Kecil”

Film ini berdurasi dua jam lima belas menit, lumayan panjang ya. Para penulis memang sengaja main panjang dalam membangun cerita dan membawa penonton menuju pertemuan dua keluarga tadi. Jujur, buat sebagian penonton, durasi segini mungkin terasa agak dragging. Teror horor yang disebar di paruh pertama film juga lebih terasa kayak “cubitan kecil” aja. Tujuannya cuma buat ngejaga penonton biar nggak ketiduran sebelum momen pertemuan dua keluarga itu tiba.

Ini menimbulkan pertanyaan, apakah teror itu cukup efektif untuk membangun ketegangan? Kalau kamu berharap build-up yang intens dan bikin cemas dari awal, mungkin kamu akan sedikit kecewa. Scares yang ada terasa lebih sebagai filler atau pengingat bahwa “oh iya, ini film horor lho,” daripada sebagai elemen utama yang bikin bulu kuduk merinding. Pendekatan ini menunjukkan bahwa prioritas film ini memang berbeda dari film horor konvensional.

Eksperimen Sutradara yang Kurang Pas di Hati

Michael Chaves, sutradara yang udah menjajal semesta The Conjuring lewat The Conjuring 3 dan The Nun II, kali ini kayak terlalu pengin pamer dalam bereksperimen. Ada beberapa adegan atau cerita di Last Rites yang menurut saya nggak perlu banyak eksperimen dalam pengambilan gambarnya. Bukannya bikin makin bagus, malah kadang bikin fokus penonton menurun dan keterlibatan emosi jadi berkurang.

Chaves sepertinya terlalu fokus pada teknik pengambilan gambar dan visual yang canggih, alih-alih membangkitkan jiwa dan rasa dari cerita yang ada. Hasilnya? Last Rites terasa kayak “dada ayam goreng, seret.” Maksudnya, ada isinya, tapi kurang bumbu, kurang juicy, dan agak susah ditelan. Eksperimen itu penting, tapi kalau sampai mengorbankan esensi cerita, apalagi untuk franchise horor yang identik dengan ketegangan dan kengerian, jadi kurang pas rasanya.

Mungkin Chaves ingin memberikan sentuhan artistic yang berbeda, tapi dalam konteks The Conjuring, yang sudah punya trademark gaya visual dan atmosfernya sendiri, ini malah jadi bumerang. Film ini kehilangan sebagian dari identitas horornya yang sudah melekat kuat di benak penggemar. Padahal, franchise ini dikenal karena kemampuannya menciptakan ketakutan lewat atmosfer dan jump scare yang efektif, bukan cuma visual yang indah.

Drama Keluarga dan Fan Service: Sebuah Kompromi

Meskipun kritik terhadap gaya penyutradaraan Chaves dan naskah yang lebih berfokus pada drama, saya bisa menerima drama keluarga yang dihadirkan di The Conjuring: Last Rites. Ini semakin menegaskan bahwa babak kali ini memang diperuntukkan bagi para penggemar saga The Conjuring. Mereka yang sudah mengikuti kisah Ed dan Lorraine sejak lama, akan lebih mengapresiasi kedalaman drama ini.

Namun, kalau boleh jujur, keinginan James Wan, Michael Chaves, tim penulis, dan produser Peter Safran untuk menghadirkan kisah yang emosional sebagai penutup The Conjuring Universe lewat film ini saya rasa agak kurang tercapai. Ceritanya memang punya unsur yang bisa menggugah emosi penonton, tapi sayangnya nggak cukup kuat untuk benar-benar membuat emosi kita tergugah sampai netes air mata atau merinding haru.

Justru, fan service paling manis yang diberikan oleh James Wan dan kawan-kawan adalah kedatangan sejumlah karakter lama dalam puncak film ini. Momen-momen ini, meski singkat, terasa sangat berarti. Rasanya kayak reuni dengan kawan lama yang sudah terpisah 12 tahun, berkumpul dalam sebuah acara yang indah, dan merangsang kilasan balik cerita dari masa lalu. Ini adalah saat di mana Last Rites benar-benar bersinar untuk para penggemar setia.

Bayangkan saja, melihat kembali wajah-wajah yang sudah menemani kita dalam petualangan menegangkan selama bertahun-tahun itu. Ini bukan tentang menakut-nakuti lagi, tapi tentang merayakan perjalanan yang sudah dilalui bersama. Momen ini berhasil menciptakan kehangatan dan nostalgia, yang mungkin menjadi tujuan utama para pembuat film untuk mengucapkan selamat tinggal pada saga ini. Jadi, meskipun horornya kurang, heart-nya tetap ada, setidaknya untuk fans.

Ed dan Lorraine Warren: Tetap Jadi Pusat Semesta

Saya juga berterima kasih kepada tim kreatif karena fokus mereka kembali pada Ed dan Lorraine Warren sebagai pusat dari semesta The Conjuring Universe pada bagian penutup ini. Ini adalah keputusan yang sangat tepat. Jujur, saya rasa seandainya mereka memberikan petunjuk untuk meneruskan kisah lewat Judy (anak Ed dan Lorraine) dan Tony, semesta The Conjuring nggak akan lagi sama dan mungkin nggak akan seseru ini. Keduanya memang punya potensi, tapi belum saatnya untuk mengambil alih spotlight.

Ed dan Lorraine adalah core dari franchise ini. Mereka adalah jiwa dan hati dari setiap cerita. Tanpa mereka, The Conjuring mungkin akan kehilangan esensinya. Kalaupun ada rencana lain untuk melanjutkan kisah di semesta ini, akan lebih baik dibuat dalam format yang berbeda, mungkin spin-off atau seri antologi dengan karakter baru, tapi tidak memaksakan mereka menjadi pengganti Ed dan Lorraine yang ikonik.

Chemistry yang Tak Tergantikan

Soal performa Patrick Wilson dan Vera Farmiga sebagai Ed dan Lorraine Warren, nggak banyak yang perlu dibahas lagi. Keduanya sudah sangat menyatu dengan karakter tersebut. Mereka udah jadi Ed dan Lorraine itu sendiri. Chemistry mereka di layar kaca begitu kuat dan terasa natural, seolah-olah mereka memang pasangan suami istri di kehidupan nyata.

Bahkan, mungkin akan sangat sulit bagi saya dan banyak penggemar lainnya untuk melihat Wilson dan Farmiga setelah ini bukan sebagai pasangan Warren. Mereka telah menciptakan karakter yang begitu kuat dan mudah dikenali, sehingga setiap kali kita melihat mereka berdua di film lain, pasti ada sedikit memori tentang The Conjuring yang muncul. Ini adalah bukti betapa briliannya akting mereka dan betapa lekatnya mereka dengan peran ini.

Akting mereka yang konsisten dan penuh penghayatan adalah salah satu pilar utama yang membuat franchise ini bertahan dan dicintai. Mereka berhasil menyampaikan emosi, ketakutan, keberanian, dan cinta kasih yang tulus, bahkan di tengah-tengah teror paling mengerikan sekalipun. Jadi, meskipun filmnya punya kekurangan di sana-sini, penampilan Patrick dan Vera tetap jadi highlight yang patut diacungi jempol.

Legacy The Conjuring Universe

Selama 12 tahun, The Conjuring Universe telah menciptakan warisan yang signifikan di genre horor. Dimulai dari film yang groundbreaking, semesta ini berhasil melahirkan berbagai spin-off yang memperkaya lore dan memperkenalkan entitas jahat baru. Dari Annabelle yang menyeramkan hingga The Nun yang gotik, franchise ini punya segalanya.

Meskipun tidak semua spin-off mencapai tingkat kesuksesan yang sama, secara keseluruhan, The Conjuring Universe berhasil menciptakan dunia yang kohesif dan menakutkan, dengan Ed dan Lorraine Warren sebagai jangkarnya. Last Rites adalah penutup untuk babak utama ini, dan mungkin saja akan membuka jalan untuk cerita-cerita baru di masa depan, meskipun tanpa pasangan Warren yang ikonik di garis depan. Ini adalah akhir dari sebuah era, tapi mungkin bukan akhir dari semua cerita.

Kesimpulan: Perpisahan yang Hangat, Bukan Horor yang Gong

Hingga akhirnya, The Conjuring: Last Rites mungkin bukan penutup saga 12 tahun yang “gong” dari aspek kengerian. Jangan harap kamu bakal teriak-teriak atau tidur dengan lampu nyala setelah nonton film ini. Film ini lebih terasa seperti acara pelepasan yang tenang, manis, dan penuh kehangatan untuk saga 12 tahun, serta untuk pasangan ikonis dalam dunia perfilman horor ini.

Ini adalah film yang mengajak kita untuk merayakan perjalanan Ed dan Lorraine, mengenang kembali semua momen menakutkan dan heroik yang telah mereka lalui. Jadi, kalau kamu mencari penutup yang mendebarkan dan bikin trauma, mungkin Last Rites bukan jawabannya. Tapi kalau kamu pengin mengucapkan selamat tinggal yang damai dan penuh makna kepada pasangan Warren, film ini patut kamu tonton. Ini adalah sebuah surat cinta untuk para penggemar setia.

[Gambas:Youtube]

Bagaimana menurut kalian? Apakah The Conjuring: Last Rites berhasil memenuhi ekspektasi kalian sebagai penutup saga? Atau justru bikin kalian berharap lebih? Yuk, share pendapat dan pengalaman kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar