Ogah Ketemu Fortuner di Jogja? Ini Alasan Ku Menyebalkan!
Jujur saja, ada beberapa hal di dunia ini yang bisa bikin aku auto-misuh dalam hati, dan salah satunya adalah saat pandanganku bertemu Fortuner di jalanan Jogja. Bukan, ini bukan soal merek mobilnya atau harganya yang selangit, ya. Lebih ke vibe yang dibawa oleh mobil gede itu, terutama ketika dia sedang beraksi di kota yang damai ini. Aku tahu ini mungkin terdengar agak provokatif atau bahkan sedikit nyinyir, tapi percayalah, ini semua murni dari lubuk hati terdalam seorang warga yang mencoba menikmati keindahan Jogja.
Setiap pagi, saat aku mengayuh sepeda atau sekadar berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil atau jalanan yang mulai padat, pemandangan mobil-mobil besar ini selalu berhasil menyita perhatian. Bukan karena kagum, melainkan karena ada perasaan aneh yang muncul. Rasanya seperti ada elemen yang kurang pas, sebuah orkestra yang tiba-tiba memasukkan suara heavy metal di tengah alunan gamelan Jawa. Nah, biar lebih jelas, mari kita bedah satu per satu kenapa si Fortuner ini sering banget bikin aku merasa… gerah di Jogja.
Fortuner di Mata Warga Jogja (atau Setidaknya Aku)¶
Jogja itu kan kota yang punya filosofi “alon-alon waton kelakon,” pelan-pelan asal sampai. Kota ini nyaman banget buat jalan santai, naik motor pelan-pelan sambil menikmati suasana, atau bahkan gowes sepeda sore hari. Jalanannya juga banyak yang nggak terlalu lebar, apalagi kalau masuk ke area-area perkampungan atau menuju destinasi wisata yang agak nyempil. Makanya, kalau ada mobil bongsor macam Fortuner melintas, rasanya kayak ada gajah yang lagi menari balet di panggung kecil.
Ukuran Fortuner yang gede itu memang jadi nilai jual utama buat sebagian orang yang butuh mobil tangguh dan lega. Tapi di Jogja, jujur saja, ukurannya itu sering jadi masalah. Misalnya, saat papasan di jalan dua arah yang sebenarnya cukup buat dua mobil tapi dengan Fortuner, tiba-tiba harus ekstra hati-hati. Atau saat dia parkir, bisa makan tempat dua mobil kecil sendirian, bikin lahan parkir makin sempit dan warga lain kebingungan.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah ketika mereka memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sebenarnya ramai dan banyak kendaraan lain. Seolah-olah jalanan itu milik pribadi dan semua harus minggir. Aku tahu mungkin ini bukan semua pengemudi Fortuner, tapi image itu sudah terlanjur melekat dan sering bikin warga lokal jadi mikir, “Wah, ada Fortuner lagi, siap-siap aja deh.”
Kebiasaan yang Bikin Geleng-Geleng Kepala¶
Oke, mari kita bicara tentang kebiasaan mengemudi. Ini mungkin poin paling krusial yang bikin aku ogah ketemu Fortuner di Jogja. Entah kenapa, sering banget aku menemukan pengemudi Fortuner dengan gaya yang sedikit… ugal-ugalan. Mereka cenderung ngebut di jalanan yang padat, membunyikan klakson dengan durasi panjang dan nada tinggi seolah-olah semua harus segera menyingkir, dan sering nyalip sembarangan tanpa perhitungan matang.
Kadang, aku sampai mikir, apakah ada semacam “mantra” yang bikin pengemudi Fortuner merasa lebih superior di jalanan? Entah itu karena posisi duduk yang tinggi, bodi mobil yang gagah, atau mesinnya yang bertenaga, tapi seringkali mereka terlihat kurang sabar. Padahal, kesabaran adalah kunci utama mengemudi di Jogja, yang terkenal dengan pace hidupnya yang lebih lambat dan santai.
Pernah suatu kali, aku lagi asyik gowes santai di jalan kecil menuju Prawirotaman. Tiba-tiba dari belakang, ada Fortuner yang nyalip mepet banget sambil mengklakson dengan nyaring, padahal jelas-jelas jalanan itu sempit dan aku sudah di pinggir. Jantungku rasanya mau copot, dan sisa perjalanan itu aku cuma bisa menghela napas panjang. Kejadian-kejadian minor seperti ini yang kemudian menumpuk, membentuk persepsi negatif yang sulit dihilangkan.
Bukan cuma soal ngebut dan klakson. Gaya parkirnya juga sering bikin geregetan. Dengan ukuran mobil yang jumbo, seharusnya mereka lebih ekstra hati-hati dalam memilih spot parkir. Tapi seringnya, mereka main selonong boy aja, parkir di tempat yang bikin susah mobil lain keluar, atau bahkan di area yang jelas-jelas dilarang. Rasanya seperti ada kesan “aku parkir di sini, terserah deh kalau yang lain mau lewat atau nggak.”
mermaid
graph TD
A[Pengemudi Fortuner di Jogja] --> B{Jalanan Sempit/Ramai?};
B -- Ya --> C[Klakson Kencang Tanpa Henti];
B -- Tidak (Tapi Ada Kesempatan Nyalip) --> D[Nyalip Melebihi Batas Aman];
C --> E[Bikin Kaget Pengguna Jalan Lain];
D --> E;
E --> F[Membuat Lalu Lintas Makin Semrawut];
F --> G[Saya Menghela Napas dan Menggerutu];
G --> H[Munculnya Stereotip Negatif];
Tentu saja, aku tahu tidak semua pengemudi Fortuner itu seperti yang aku gambarkan. Banyak juga kok yang santun dan menghargai pengguna jalan lain. Tapi, satu dua kejadian yang kurang mengenakkan itu seringkali lebih membekas di ingatan. Rasanya kayak lagi makan gudeg enak, eh, tiba-tiba ada kerikil nyelip. Sekali aja, tapi bisa bikin mood makan jadi berantakan. Nah, begitu juga pengalamanku dengan Fortuner di Jogja.
Jogja dan Filosofi Kendaraannya¶
Jogja itu punya identitas yang kuat. Kota ini kental dengan budaya, seni, dan nilai-nilai kesederhanaan. Kendaraan yang ideal di Jogja, menurutku, adalah yang bisa menyatu dengan vibe tersebut. Motor matic yang lincah, mobil-mobil city car yang ramping, atau bahkan sepeda onthel yang jadi ikon. Kendaraan-kendaraan ini lebih pas dengan kondisi jalanan yang bervariasi, dari jalanan utama yang cukup lebar sampai gang-gang kecil yang artistik.
Mobil besar seperti Fortuner, dengan segala kegagahannya, seringkali terasa kontras dengan citra kesederhanaan Jogja. Di kota yang mayoritas warganya masih suka naik motor atau bahkan jalan kaki, kehadiran SUV bongsor ini seolah menjembatani dua dunia yang berbeda. Dunia yang satu menghargai kelambatan dan kebersamaan di jalan, sementara dunia yang lain mungkin lebih mengedepankan kecepatan dan individualitas.
Aku tidak bilang Fortuner itu jelek, ya. Sama sekali tidak. Mobil ini punya segmennya sendiri, dan di daerah lain yang jalanannya lebih luas, atau mungkin di medan yang lebih menantang, dia akan sangat fungsional. Tapi di Jogja, dengan segala keunikan dan karakternya, kadang terasa seperti ikan paus yang berenang di kolam ikan koi. Mungkin bisa, tapi kan jadi repot sendiri.
Coba deh bayangkan, lagi asyik nongkrong di angkringan pinggir jalan, ngopi sambil ngobrol ringan. Tiba-tiba ada Fortuner lewat dengan suara mesin yang menggelegar dan klakson nyaring. Kan jadi buyar semua suasana syahdunya. Kontrasnya itu yang kadang bikin aku mikir, “Duh, kenapa nggak pakai mobil yang lebih pas aja sih buat di kota ini?”
Bukan Cuma Soal Ukuran, Tapi… Aura?¶
Mungkin ini terdengar agak konyol, tapi terkadang aku merasa bukan cuma soal ukuran fisiknya saja yang bikin Fortuner terasa “aneh” di Jogja. Ada semacam “aura” atau image yang melekat pada mobil ini. Fortuner seringkali diasosiasikan dengan kemewahan, status sosial, dan kekuatan. Nah, di Jogja, hal-hal seperti itu justru seringkali disikapi dengan kerendahan hati dan tidak perlu diumbar.
Kota ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu pamer, untuk membaur dan tidak menonjolkan diri secara berlebihan. Ketika ada mobil yang secara inheren sudah menonjol karena ukurannya, lalu ditambah lagi dengan gaya mengemudi yang kurang simpatik, maka image negatif itu semakin kuat. Rasanya seperti ada pernyataan yang diucapkan tanpa kata-kata: “Aku punya mobil besar, jadi aku berhak atas jalanan ini.”
Video review Toyota Fortuner ini bisa memberi gambaran betapa gagahnya mobil ini, yang kadang jadi "terlalu gagah" untuk jalanan Jogja.
Padahal, salah satu pesona Jogja adalah kesetaraan. Di sini, siapa pun bisa menikmati suasana yang sama, tanpa memandang latar belakang. Anak jalanan, mahasiswa, seniman, sampai pejabat bisa sama-sama antre gudeg Yu Djum atau ngopi di Kopi Jos. Kehadiran Fortuner yang terkadang arogan di jalanan, menurutku, sedikit mengganggu harmoni kesetaraan ini. Ini bukan soal iri atau dengki, ya. Ini murni soal bagaimana kita berinteraksi di ruang publik yang sama.
Tentu saja, setiap orang bebas memilih kendaraannya. Punya Fortuner itu bukan dosa. Tapi, ada baiknya juga memahami konteks di mana kita berkendara. Beradaptasi dengan budaya lokal adalah kunci untuk bisa benar-benar menikmati dan menjadi bagian dari sebuah kota. Kalau di Jogja, adaptasi itu artinya ya harus lebih sabar, lebih santun, dan mungkin… nggak terlalu ngebut, deh.
Kalau Boleh Jujur, Kadang Lucu Juga Sih!¶
Di balik segala kekesalanku, kadang aku juga bisa menertawakan fenomena ini. Lucu aja gitu, mobil segede Fortuner harus pelan-pelan nyusup di antara motor-motor yang sliweran di depan Pasar Beringharjo. Atau pas dia kesulitan mencari parkiran yang pas di area Malioboro yang super padat. Kan jadi kayak bukan habitat aslinya.
Kadang aku berpikir, apakah mereka sengaja ingin menonjol? Atau memang nggak ada pilihan mobil lain? Atau jangan-jangan, mereka cuma belum sadar kalau di Jogja itu, mobil gede malah bikin ribet sendiri? Entahlah. Yang jelas, fenomena ini selalu menarik untuk diamati. Mungkin ini jadi salah satu daya tarik Jogja juga, yaitu bagaimana kendaraan dengan berbagai bentuk dan ukuran harus beradaptasi dengan karakter kota yang unik.
Mari kita bandingkan secara sederhana, apa yang aku rasakan antara Fortuner dan kendaraan yang menurutku lebih pas di Jogja:
| Karakteristik | Fortuner di Jogja (Menurutku) | Kendaraan Ideal di Jogja (Menurutku) |
|---|---|---|
| Ukuran | Besar, intimidatif, makan jalan, sulit parkir | Kompak, lincah, nggak makan tempat, mudah parkir |
| Gaya Mengemudi | Cenderung agresif, ngebut, klakson berisik | Santai, mengikuti arus, sabar, minim klakson |
| Citra | Pamer kekayaan, sok jagoan, “aku di atas” | Rendah hati, fungsional, membaur, “kita sama” |
| Parkir | Susah, sering sembarangan, makan dua tempat | Gampang, rapi, menghargai ruang publik |
| Getaran Kota | Kontras, bikin “rusuh”, mengganggu harmoni | Harmonis, mendukung suasana santai dan damai |
| Tingkat Stresku | Tinggi, bikin darah tinggi | Rendah, bikin hati senang |
Tabel di atas memang berdasarkan persepsiku pribadi, ya. Tapi setidaknya, itu bisa menggambarkan kenapa “ketemu Fortuner di Jogja” itu sering bikin aku menghela napas. Bukan benci Fortunernya, tapi lebih ke culture mengemudi yang kadang tidak selaras dengan culture kota Jogja.
Solusi Anti-Fortuner? (Canda Deng!)¶
Tentu saja, tidak ada solusi anti-Fortuner yang serius. Mereka punya hak untuk berkendara di mana saja, asalkan sesuai aturan. Tapi kalau boleh berandai-andai, mungkin para pengemudi Fortuner bisa sedikit meniru gaya para sopir TransJogja yang meski kendaraannya besar, tapi tetap sabar dan santun di jalanan. Atau mungkin, kalau memang mau liburan ke Jogja, coba deh pakai mobil yang lebih kecil atau sesekali rental motor. Dijamin pengalaman eksplorasinya jauh lebih asyik dan nggak bikin macet.
Lagian, Jogja itu punya transportasi publik yang lumayan oke kok. Ada TransJogja, taksi, ojek online, sampai becak dan andong yang ikonik. Dengan menggunakan transportasi umum atau kendaraan yang lebih kecil, kita bisa lebih merasakan denyut nadi kota ini. Bisa nyelip di gang-gang sempit, mampir ke warung makan tersembunyi, atau sekadar menikmati perjalanan tanpa beban mikirin parkir atau jalanan sempit.
Jadi, intinya, ini bukan ajakan untuk membenci Fortuner atau para pemiliknya. Ini lebih ke curhat seorang warga Jogja yang berharap agar semua pengguna jalan bisa lebih saling menghargai dan memahami karakter kota. Yogyakarta itu kota yang istimewa, dan rasanya akan lebih sempurna jika semua elemen yang ada di dalamnya bisa saling melengkapi dan menciptakan harmoni.
Nah, itu dia alasan-alasanku kenapa kadang aku ogah ketemu Fortuner di Jogja. Mungkin ada yang setuju, mungkin juga ada yang nggak. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian punya pengalaman serupa dengan Fortuner atau mobil besar lainnya di kota-kota yang punya karakter unik seperti Jogja? Atau mungkin kalian adalah pemilik Fortuner yang punya cerita berbeda? Yuk, bagikan pendapat kalian di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar