Panas Bumi Jadi Andalan? Prabowo Satukan PGEO & BREN Demi Energi Hijau!
Energi Baru Terbarukan (EBT) kini benar-benar jadi prioritas utama pemerintah kita! Bayangkan saja, Presiden Prabowo Subianto punya target ambisius: Indonesia bisa mencapai 100% kapasitas pembangkit EBT sebelum tahun 2060, bahkan fokus utamanya di 10 tahun ke depan. Ini bukan cuma omong kosong, lho. Dalam pidato kenegaraan soal Rancangan Undang-Undang APBN 2026 dan Nota Keuangan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa EBT adalah sumber energi masa depan yang wajib digenjot.
Pemerintah juga nggak main-main soal pendanaan. Untuk ketahanan energi, termasuk pengembangan EBT, dana sebesar Rp 402,4 Triliun sudah disiapkan dalam RAPBN 2026. Angka ini menunjukkan keseriusan luar biasa dari pemerintah untuk beralih ke energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Tentu saja, dua raksasa EBT di Tanah Air, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dari plat merah dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik konglomerat, bakal jadi pemain kunci dalam mewujudkan visi besar ini.
Geothermal: Tulang Punggung Energi Hijau Indonesia¶
Pasti banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih panas bumi atau geothermal jadi sorotan utama? Nah, energi panas bumi ini punya banyak keunggulan, salah satunya adalah sifatnya yang baseload. Artinya, dia bisa menghasilkan listrik secara terus-menerus 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nggak kayak solar atau angin yang tergantung cuaca. Ini penting banget buat stabilitas pasokan listrik nasional. Selain itu, geothermal juga ramah lingkungan karena jejak karbonnya jauh lebih rendah dibanding pembangkit listrik tenaga fosil.
Indonesia sendiri itu ibarat “surga” panas bumi. Kita punya potensi geothermal terbesar kedua di dunia, bahkan mungkin terbesar. Dengan begitu banyak gunung berapi dan aktivitas tektonik, sumber daya panas bumi kita melimpah ruah. Makanya, sangat logis kalau pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, menempatkan pengembangan energi panas bumi ini sebagai agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon. Potensi yang ada sangat besar, tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya.
PGEO: Ambitious Langkah BUMN untuk Energi Bersih¶
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), sebagai pemain utama dari sisi BUMN, jelas banget bakal diuntungkan dari target energi bersih pemerintah. Mereka punya posisi strategis dan sudah lama berkecimpung di industri ini. Yang terbaru, PGEO berpotensi mendapatkan penguatan signifikan berkat masuknya BPI Danantara ke proyek percepatan panas bumi PLN dan PGEO. Ini bukan sekadar investasi, tapi juga sinergi operasional yang bisa mempercepat pengembangan 19 proyek eksisting berkapasitas 530 MW. Bayangkan, sinergi ini bukan cuma menambah kapasitas, tapi juga mengoptimalkan operasional yang sudah ada.
Kerja sama ini mencakup koordinasi lintas entitas yang lebih erat, memastikan setiap proyek berjalan mulus dan efisien. Bukan hanya itu, mereka juga sepakat untuk mengkaji potensi pengembangan tambahan, baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun di area prospektif baru yang belum terjamah. Secara keseluruhan, potensi kapasitas yang bisa dicapai dari inisiatif ini sangat fantastis, mencapai 1.130 MW dengan estimasi nilai investasi hingga US$ 5,4 miliar. Angka ini setara dengan sekitar Rp 87,88 triliun, sebuah cerminan skala strategis dan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi bersih yang diidam-idamkan.
Deretan Proyek Panas Bumi Unggulan PGEO¶
PGEO saat ini lagi ngebut mengembangkan tiga proyek geothermal besar untuk mencapai target pemerintah. Pertama, ada PLTP Hululais yang berlokasi di Bengkulu. Proyek ini punya kapasitas 110 megawatt (MW) dan diproyeksikan mulai beroperasi komersial (COD) pada akhir 2027 atau awal 2028. Kehadiran PLTP Hululais ini tentunya akan sangat mendukung pasokan listrik di wilayah Sumatera bagian selatan.
Kedua, PLTP Gunung Tiga yang akan memiliki kapasitas 55 MW. Proyek ini masih dalam tahap eksplorasi, dengan target COD pada 2029. Yang menarik, proyek ini baru saja diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni lalu, menunjukkan betapa strategisnya proyek ini di mata pemerintah. Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah dan PGEO dalam menggarap potensi panas bumi di Indonesia.
Ketiga, PGEO juga fokus pada proyek co-generation. Kapasitas awal pengembangan berasal dari PLTP Lahendong Binary Unit sebesar 15 MW dan PLTP Ulubelu Binary Unit sebesar 30 MW. PLN juga sudah mengirimkan Request for Proposal (RFP) kepada PGEO untuk membeli tenaga listrik dari kedua PLTP ini, meskipun target COD proyek co-generation baru pada 2027. Proyek-proyek ini menunjukkan diversifikasi pendekatan PGEO dalam memanfaatkan sumber daya panas bumi, termasuk panas sisa yang biasanya terbuang.
Dalam dua tahun ke depan, PGEO menargetkan peningkatan kapasitas terpasang menjadi 1 GW. Dan bukan cuma itu, penambahan kapasitas terpasang hingga 1,7 GW ditargetkan akan terwujud pada tahun 2034. Untuk mendukung ambisi ini, PGEO juga berkolaborasi erat dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) melalui pembentukan konsorsium. Kerja sama ini mencakup penandatanganan Head of Agreement (HoA) pengembangan panas bumi sebesar 530 MW serta pembentukan konsorsium untuk dua proyek PLTP di Ulubelu dan Lahendong.
Sebagai tindak lanjut dari HoA tersebut, PLN IP dan PGEO sepakat membentuk Joint Venture Company (JVC) setelah menerima surat penunjukan dari PLN. Kedua proyek ini adalah PLTP Ulubelu Binary Unit berkapasitas 30 MW di Lampung dan PLTP Lahendong Binary Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara. Ini adalah contoh nyata sinergi BUMN dalam mendukung pengembangan EBT di Indonesia.
BREN: Raksasa Swasta Panas Bumi Prajogo Pangestu¶
Beralih ke sektor swasta, ada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Emiten yang satu ini adalah perusahaan induk yang fokus pada pengembangan energi bersih, khususnya melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal Group. Perlu diketahui, Star Energy Geothermal ini adalah produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia. Namanya memang nggak asing lagi, apalagi dengan Prajogo Pangestu di baliknya, konglomerat yang dikenal punya visi jauh ke depan di sektor energi.
BREN, yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2023 lalu, sudah punya kapasitas pembangkit listrik panas bumi sebesar 886 megawatt (MW) di bawah Star Energy Geothermal, per 4 Juli 2025. Dengan kapasitas sebesar itu, BREN diproyeksikan akan menggeser posisi sejumlah perusahaan geotermal top di dunia. Ini bukan cuma soal kapasitas, tapi juga soal teknologi dan efisiensi operasional yang mereka terapkan.
Baru-baru ini, BREN juga mengumumkan rencana ambisiusnya untuk menambah kapasitas pembangkit geotermal miliknya hingga 112 MW lagi. Penambahan kapasitas ini menelan investasi yang nggak main-main, yaitu US$365 juta. Dengan tambahan ini, total kapasitas pembangkit geotermal BREN akan mencapai 998 MW. Ini adalah langkah besar yang menunjukkan komitmen kuat BREN dalam memperluas jejak energi bersihnya.
Inovasi Teknologi dan Dampak Ekonomi BREN¶
BREN secara resmi memulai pembangunan lima proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) baru. Total investasi untuk proyek-proyek ini mencapai US$364,8 juta atau sekitar Rp5,9 triliun. Kelima proyek ini dikelola oleh anak usaha BREN, Star Energy Geothermal, dengan total kapasitas terpasang 112,2 MW. Peresmian pembangunan ini dilakukan secara daring oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Juni 2025, dengan pusat kegiatan berada di Kawah Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Proyek-proyek lainnya tersebar di wilayah Salak dan Wayang Windu, Jawa Barat, yang merupakan area-area potensial panas bumi di Indonesia.
Pembangunan ini nggak cuma menambah kapasitas listrik nasional, tapi juga jadi motor penggerak ekonomi lokal. Selama proses konstruksi, sekitar 3.356 tenaga kerja diserap, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pembangunan rendah karbon yang inklusif. Secara teknis, proyek-proyek BREN ini mengandalkan teknologi modern yang canggih. Misalnya, penggunaan binary cycle di Proyek Salak Binary yang mampu memanfaatkan panas sisa (brine) menjadi energi listrik. Ini adalah terobosan karena panas yang biasanya terbuang bisa dimanfaatkan.
Ada juga teknologi 3D turbin blade design yang mampu menambah umur operasi sekaligus meningkatkan efisiensi dan kapasitas pembangkitan tanpa perlu overhaul besar. Kemudian, compact power plant untuk penambahan kapasitas Proyek Salak Unit 7 juga menjadi bukti inovasi BREN dalam mendesain pembangkit yang lebih efisien dan ringkas. Semua ini menunjukkan bahwa BREN tidak hanya berinvestasi pada jumlah, tapi juga pada kualitas dan efisiensi teknologi.
Peluang Kerjasama PGEO & BREN: Akankah Prajogo Masuk?¶
Rumor pasar sempat berhembus kencang, menyebut bahwa PT BRE, bagian dari Grup Prajogo Pangestu, tengah mempertimbangkan akuisisi saham PGEO. Rumor ini bahkan sempat memicu lonjakan tajam harga saham PGEO pada pertengahan Mei 2025. Meskipun masih sebatas rumor, ini menunjukkan betapa menariknya potensi kolaborasi antara dua raksasa panas bumi ini.
Melihat latar belakang bisnis keduanya, peluang kerja sama antara PGEO dan BREN di bisnis energi panas bumi ini sangat terbuka lebar. Keduanya merupakan pemain utama di sektor EBT, khususnya panas bumi, dan memiliki potensi untuk saling melengkapi dan bersinergi. Bayangkan jika PGEO yang didukung penuh oleh pemerintah dengan akses ke Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang luas, bisa berkolaborasi dengan BREN yang dikenal dengan agilitas dan inovasi teknologi dari sektor swasta. Ini bisa jadi kombinasi yang sangat kuat!
Potensi Kolaborasi antara PGEO dan BREN:
| Aspek Kolaborasi | PGEO | BREN | Sinergi Potensial |
|---|---|---|---|
| Akses & Regulasi | Dukungan BUMN, akses WKP luas | Cepat dalam pengambilan keputusan, inovasi | Mempercepat perizinan & pengembangan proyek baru |
| Pengalaman Proyek | Pengalaman panjang di eksplorasi & operasi | Pengalaman di beragam teknologi EBT | Gabungan keahlian untuk proyek kompleks |
| Pendanaan | Dukungan anggaran negara | Pendanaan swasta & akses pasar modal | Kombinasi modal untuk investasi skala besar |
| Teknologi | Teknologi teruji | Inovasi & efisiensi teknologi terbaru | Adopsi teknologi terbaik dari kedua belah pihak |
| Diversifikasi EBT | Fokus utama di panas bumi | Pengalaman di angin, solar (potensial) | Pengembangan portofolio EBT yang lebih luas |
Kerja sama ini bisa terwujud dalam berbagai bentuk. Misalnya, PGEO dan BREN bisa bekerja sama dalam pengembangan proyek panas bumi baru, baik dalam hal eksplorasi, eksploitasi, maupun pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). BREN, yang memiliki pengalaman di pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) dan proyek energi baru terbarukan lainnya, juga bisa berkolaborasi dengan PGEO dalam diversifikasi bisnis di sektor EBT. Sinergi ini akan menciptakan kekuatan yang tak tertandingi dalam menghadapi tantangan transisi energi.
Peluang Emas dari Lelang WKP dan PSPE Pemerintah¶
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengumumkan lelang 10 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan 11 Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) tahun ini. Ini adalah peluang emas yang tidak boleh dilewatkan oleh PGEO dan BREN. Lelang WKP dan PSPE ini merupakan sinyal positif terhadap komitmen transisi energi di Indonesia.
Contoh WKP Panas Bumi yang dilelang antara lain Danau Ranau (cadangan mungkin 42,6 MW), Gunung Endut (38 MW), Gunung Galunggung (110 MW), dan lain-lain. Sementara itu, contoh area prospek yang akan dilelang dengan kontes PSPE termasuk Lokop, Aceh (41 MW); Panti, Sumatra Barat (131 MW); Jenawi, Jawa Tengah (195 MW); dan Bituang, Sulawesi Selatan (75 MW). Jumlah wilayah yang dilelang tahun ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2024 lalu, di mana Kementerian ESDM berhasil melelang 7 WKP dan Wilayah PSPE dengan total kapasitas 320 MW dan nilai kesepakatan mencapai US$ 1,82 miliar.
Bagi PGEO dan BREN, ini adalah peluang besar untuk memperluas portofolio bisnis panas bumi mereka. Potensi mendapatkan proyek baru melalui lelang WKP dan Wilayah PSPE akan membuat posisi mereka semakin kuat di industri, yang pada akhirnya berdampak positif bagi kinerja keuangan jangka panjang. Pengumuman lelang ini juga menjadi momentum bagi kedua emiten ini untuk lebih ekspansif. Terlebih lagi, keduanya sudah punya rekam jejak dan posisi yang solid di industri panas bumi nasional maupun global.
Sinergi atau Kompetisi? Tantangan dan Harapan¶
Meskipun ada potensi kerja sama yang sangat menjanjikan, tidak bisa dipungkiri bahwa PGEO dan BREN juga merupakan kompetitor di pasar panas bumi. Keduanya tentu ingin mengamankan proyek-proyek terbaik dan memperluas pangsa pasar masing-masing. Namun, dalam konteks visi besar pemerintah untuk energi hijau, kolaborasi bisa jadi kunci utama untuk mempercepat pencapaian target.
Peluang kerja sama antara PGEO dan BREN dalam bisnis energi panas bumi sangat menjanjikan. Dengan adanya potensi sinergi dan saling melengkapi, kerja sama ini bisa memberikan keuntungan besar bagi kedua perusahaan. PGEO dan BREN juga bisa bekerja sama dalam memberikan masukan kepada pemerintah terkait kebijakan yang mendukung pengembangan energi panas bumi di Indonesia, menciptakan ekosistem yang lebih kondusif.
Ini adalah momen krusial bagi kedua perusahaan untuk melihat gambaran yang lebih besar. Transisi energi bukan hanya tentang siapa yang paling besar, tapi juga siapa yang paling efektif dalam memanfaatkan potensi yang ada. Kolaborasi ini bisa menjadi model sukses bagaimana BUMN dan swasta bisa bersatu demi kepentingan nasional, mempercepat transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Apa pendapat Anda tentang potensi kolaborasi dua raksasa energi panas bumi ini? Mungkinkah mereka benar-benar bersatu untuk mewujudkan target energi hijau Indonesia? Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar!
Posting Komentar