Bangkrut? 5 Bisnis Kuliner Artis Ini Tutup Permanen: Ada Syahrini & Nagita!
Fenomena Artis Jadi Pengusaha Kuliner: Dari Hype ke Realita¶
Dunia hiburan memang menjanjikan panggung dan popularitas yang luar biasa, tapi banyak artis yang tak puas hanya sampai di situ. Mereka juga melirik sektor lain untuk melebarkan sayap, salah satunya yang paling populer adalah bisnis kuliner. Pada rentang waktu 2017-2018, bisnis kue kekinian yang digawangi para selebriti memang sedang berada di puncak kejayaannya. Seolah menjadi tren wajib, hampir setiap artis papan atas berlomba-lomba membuka toko kue atau restoran dengan nama besar mereka sebagai daya tarik utama, berharap bisa meraup keuntungan besar dari popularitas.
Bisnis kuliner ini dianggap sangat menjanjikan karena pangsa pasarnya yang luas dan potensi keuntungan yang besar, apalagi jika didukung oleh nama dan popularitas sang pemilik. Dengan jutaan pengikut di media sosial, promosi bisa dilakukan secara masif, cepat viral, dan langsung menjangkau audiens yang sangat besar. Sayangnya, tidak semua kisah bisnis yang diawali dengan hype dan gemerlap popularitas berujung indah. Banyak dari bisnis kuliner artis ini yang, meskipun sempat viral dan digandrungi banyak penggemar, pada akhirnya harus gulung tikar. Kisah-kisah ini menjadi bukti nyata bahwa popularitas saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan sebuah usaha.
Deretan Bisnis Kuliner Artis yang Kini Tinggal Kenangan¶
1. Lu’miere - Ashanty¶
Ashanty, penyanyi berbakat dan istri dari musisi legendaris Anang Hermansyah, juga tak ketinggalan dalam euforia bisnis kue kekinian. Ia mendirikan toko kue bernama Lu’miere yang menawarkan berbagai macam produk roti dan kue dengan konsep modern serta cita rasa yang diklaim premium. Lu’miere sempat beroperasi selama enam tahun dan berhasil membuka 15 gerai yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Kehadiran Lu’miere pada kala itu disambut antusias oleh para penggemar Ashanty dan tentu saja para pencinta kuliner yang ingin mencoba produk dari idola mereka.
Namun, pada Juli 2025, kabar mengejutkan datang dari pihak Ashanty sendiri. Ia secara resmi mengumumkan penutupan seluruh gerai Lu’miere secara permanen. Keputusan yang sangat berat ini tentu saja berdampak pada sekitar 200 karyawannya yang harus kehilangan pekerjaan. Meskipun demikian, Ashanty menegaskan bahwa penutupan ini bukan karena masalah finansial atau kerugian yang diderita bisnisnya. Ia mengungkapkan adanya “masalah internal yang sulit diselesaikan” sebagai alasan utama di balik keputusan drastis ini. Ashanty sendiri mengaku sangat berat hati mengambil langkah tersebut dan menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh pelanggan setia yang telah mendukung Lu’miere selama ini. Kisah Lu’miere menjadi bukti nyata bahwa tantangan dalam dunia bisnis tidak hanya soal keuntungan dan penjualan, tetapi juga dinamika serta kesehatan internal perusahaan yang kompleks.
2. Gigieat Cake - Nagita Slavina¶
Pasangan artis paling hits se-Indonesia, Nagita Slavina dan Raffi Ahmad, juga pernah meramaikan industri kuliner dengan lini kue kekinian mereka, Gigieat Cake. Diluncurkan pada tahun 2017, Gigieat Cake langsung meledak di pasaran begitu namanya diumumkan. Antrean panjang pembeli menjadi pemandangan biasa di setiap gerainya, saking viralnya produk kue milik Mama Gigi ini di kalangan masyarakat. Kue-kue yang ditawarkan Gigieat Cake memang dirancang sesuai selera pasar kala itu, dengan beragam varian rasa yang menarik dan kemasan yang sangat Instagrammable.
Sayangnya, popularitas yang membumbung tinggi dan hype yang luar biasa tidak selalu menjamin keberlanjutan sebuah bisnis. Gigieat Cake hanya mampu bertahan kurang dari dua tahun sejak pertama kali dibuka. Pada akhirnya, seluruh cabang Gigieat Cake terpaksa ditutup dan operasionalnya berhenti total. Alasan utama di balik penutupan ini disebut-sebut karena persaingan yang sangat ketat di segmen kue artis yang memang sedang menjamur. Pada masa itu, memang ada puluhan artis lain yang juga terjun ke bisnis serupa, menyebabkan pasar menjadi sangat jenuh dan kompetitif. Fenomena Gigieat Cake menunjukkan bahwa hype saja tidak cukup untuk mempertahankan bisnis; dibutuhkan strategi jangka panjang, inovasi berkelanjutan, dan diferensiasi yang kuat untuk bisa bertahan di tengah gempuran kompetitor.
3. Kuenya Ayu - Ayu Ting Ting¶
Pedangdut hits Ayu Ting Ting juga tak mau ketinggalan tren bisnis kue kekinian yang sedang melanda para selebriti. Ia ikut merilis bisnis kue kekiniannya sendiri yang diberi nama unik, Kuenya Ayu. Dengan basis penggemar yang sangat besar, terutama di wilayah Jabodetabek, Kuenya Ayu langsung menjadi sorotan dan banyak dicari setelah diluncurkan pada akhir tahun 2017. Kue-kue yang disajikan Kuenya Ayu diharapkan bisa menjadi pilihan favorit bagi para penggemar dan masyarakat luas yang ingin mencicipi kuliner dari idola mereka.
Sama seperti beberapa rekan artis lainnya, Kuenya Ayu juga harus menghadapi kerasnya persaingan di pasar kue kekinian yang kala itu memang sangat ramai dan penuh pemain baru. Meski sempat viral dan banyak diburu, Kuenya Ayu tidak mampu bertahan lama dan sepertinya tidak bisa bersaing dengan produk lain. Bisnis ini hanya beroperasi kurang dari dua tahun sebelum akhirnya menutup seluruh gerainya secara diam-diam. Kisah Kuenya Ayu menjadi contoh bagaimana branding artis yang kuat pun bisa tergerus oleh dinamika pasar dan ketatnya kompetisi jika tidak didukung oleh inovasi berkelanjutan, kualitas produk yang konsisten, dan manajemen operasional yang solid.
4. Princess Cake - Syahrini¶
Dari Bogor hingga Bandung, nama Syahrini dikenal tak hanya sebagai penyanyi fenomenal dengan gaya yang cetar membahana, tetapi juga sebagai pemilik toko kue bernama Princess Cake. Dengan julukan “Princess” yang sudah sangat melekat pada dirinya, Syahrini membawa citra mewahnya ke dalam bisnis kuliner ini. Princess Cake dibuka pada pertengahan 2017 dan langsung menarik perhatian banyak penggemar Syahrini serta masyarakat umum yang penasaran. Banyak penggemar yang saat itu rela datang jauh-jauh ke gerai Princess Cake di Bogor atau Bandung hanya untuk mencicipi kue spesial dari idola mereka.
Namun, seperti bisnis kue artis lainnya yang juga menjadi fenomena sesaat, Princess Cake juga memiliki umur operasional yang relatif singkat. Memasuki tahun 2019, toko kue ini terpantau sudah tidak aktif lagi dan gerainya mulai tutup satu per satu. Syahrini sendiri, setelah menikah dengan Reino Barack, juga tampak tidak lagi gencar mempromosikan bisnisnya ini. Hilangnya Princess Cake dari peredaran menunjukkan bahwa keterlibatan personal sang artis dalam promosi dan manajemen bisnis sangat penting untuk menjaga momentum. Ketika fokus artis bergeser ke hal lain, bisnis pun bisa kehilangan arah dan daya tariknya, apalagi jika pondasinya hanya bergantung pada popularitas semata.
5. Surabaya Snow Cake - Zaskia Sungkar¶
Zaskia Sungkar, artis yang dikenal dengan gaya hidup sehat dan ketertarikannya pada dunia fashion, juga mencoba peruntungan di bisnis kuliner dengan Surabaya Snow Cake. Diluncurkan pada 2017, Surabaya Snow Cake menawarkan inovasi unik berupa puff pastry yang berlapiskan kue lembut. Konsep ini langsung disambut baik oleh warga Surabaya dan sekitarnya, bahkan menjadi salah satu oleh-oleh wajib. Popularitasnya bahkan sampai memunculkan jasa titip (jastip) khusus untuk para penggemar di luar kota yang ingin mencicipi kue ini.
Meskipun berbasis di Surabaya, Surabaya Snow Cake tidak hanya melayani pelanggan lokal. Mereka juga membuka opsi pengiriman ke seluruh kota di Indonesia, menunjukkan ambisi yang besar untuk memperluas pasar. Namun, seperti tren bisnis kue artis pada umumnya, Surabaya Snow Cake juga tidak bertahan lama di tengah gempuran kompetitor. Sekitar tahun 2018, bisnis kue milik kakak dari Shireen Sungkar ini dikabarkan telah tutup permanen. Akun Instagram resminya pun menunjukkan aktivitas terakhir pada Juni 2017, menandakan bahwa operasional bisnis ini memang telah berhenti sepenuhnya. Kisah Surabaya Snow Cake menjadi pengingat bahwa inovasi produk yang menarik saja tidak cukup; keberlanjutan bisnis juga sangat ditentukan oleh kekuatan manajemen, strategi pemasaran yang konsisten, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar yang begitu cepat.
Mengapa Bisnis Kuliner Artis Rentan Gulung Tikar?¶
Fenomena banyaknya bisnis kuliner artis yang bangkrut atau tutup permanen tentu memunculkan pertanyaan: mengapa demikian? Ada beberapa faktor umum yang sering menjadi penyebab kegagalan ini, bahkan untuk bisnis yang digawangi oleh nama-nama besar. Pertama, hype yang dibangun oleh nama besar artis seringkali tidak diimbangi dengan kualitas produk yang konsisten dan inovasi berkelanjutan. Konsumen mungkin penasaran dan membeli di awal, tapi jika rasanya biasa saja atau tidak ada hal baru yang ditawarkan, mereka akan cepat beralih ke produk lain.
Kedua, persaingan yang sangat ketat menjadi momok serius. Ketika banyak artis meluncurkan produk serupa secara bersamaan dalam waktu singkat, pasar menjadi sangat jenuh dengan pilihan yang hampir sama. Konsumen punya terlalu banyak pilihan, dan hanya bisnis yang paling menonjol atau konsisten dalam kualitas dan pelayanan yang bisa bertahan. Ketiga, kurangnya keterlibatan langsung dari sang artis dalam manajemen operasional sehari-hari. Seringkali, artis hanya menjadi brand ambassador atau wajah bisnis, sementara operasional diserahkan pada pihak ketiga tanpa pengawasan ketat. Hal ini bisa menyebabkan kontrol kualitas yang buruk, kurangnya respons cepat terhadap masalah, atau bahkan praktik curang di lapangan.
Keempat, manajemen keuangan yang kurang matang dan biaya operasional yang tinggi seringkali menjadi batu sandungan. Membuka banyak gerai dan melakukan promosi besar-besaran memang menarik perhatian, tapi semua itu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Jika penjualan tidak sesuai ekspektasi atau manajemen biaya tidak efisien, kerugian bisa cepat menumpuk dan membengkak. Terakhir, pergeseran tren pasar yang sangat cepat menjadi tantangan besar. Bisnis kuliner, terutama yang berbasis tren atau viral, sangat dinamis. Apa yang populer hari ini mungkin sudah usang atau tidak menarik lagi besok. Bisnis yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat dan berinovasi akan tertinggal dan ditinggalkan konsumen.
Belajar dari Kegagalan: Pentingnya Strategi Jangka Panjang¶
Kisah-kisah bangkrutnya bisnis kuliner para artis ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin terjun ke dunia usaha. Popularitas memang bisa menjadi modal awal yang luar biasa untuk menarik perhatian dan menciptakan buzz, tapi bukan jaminan kesuksesan jangka panjang. Bisnis yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar nama besar atau endorsement artis. Diperlukan produk yang berkualitas tinggi, strategi pemasaran yang cerdas dan berkelanjutan, manajemen operasional yang efisien, serta kemampuan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan pasar yang dinamis.
Para artis yang terjun ke dunia bisnis kuliner menghadapi tantangan yang sama, bahkan mungkin lebih besar, dibandingkan pebisnis pada umumnya. Ekspektasi publik terhadap mereka mungkin jauh lebih tinggi, sehingga setiap kekurangan bisa menjadi sorotan besar. Semoga kisah-kisah ini bisa menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi siapa pun yang ingin memulai usaha. Ini membuktikan bahwa fondasi bisnis yang kuat dibangun di atas perencanaan matang, kualitas produk yang tak tergoyahkan, inovasi berkelanjutan, dan dedikasi penuh, bukan hanya pada popularitas semata.
Bagaimana Pendapatmu?¶
Apakah kamu pernah mencoba salah satu dari bisnis kuliner artis yang disebutkan di atas? Atau mungkin kamu punya pandangan lain tentang mengapa bisnis-bisnis ini tidak bisa bertahan lama di tengah persaingan ketat? Bagikan pengalaman dan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini! Diskusi kita akan sangat menarik!
Posting Komentar