Superman Terlalu Progresif? Superhero Ikonik Ini Dibilang Makin Politis!
Film Superman terbaru yang rencananya tayang di bioskop awal Juli 2025 ini bikin geger. Bayangkan, adegan pembukanya langsung memperlihatkan sang pahlawan utama kita dalam kondisi babak belur, terdampar di daerah Arktik yang terpencil. Ini bukan Superman yang biasanya kita kenal, kan? Sang sutradara, James Gunn, sengaja banget menampilkan Superman yang babak belur di awal cerita karena, menurutnya, itulah cerminan situasi negaranya.
Dalam konferensi pers setelah pemutaran perdana trailer film tersebut, Gunn menegaskan bahwa Superman kali ini melambangkan Amerika Serikat yang sedang melalui masa-masa sulit. Meskipun demikian, sang pahlawan tetap teguh berpihak pada kebaikan. Selama ini, Superman selalu digambarkan sebagai simbol pahlawan super Amerika yang memperjuangkan kebenaran dan perwujudan American Dream.
Namun, kali ini Gunn memilih fokus pada konsep kebaikan yang lebih universal. Superman bukan hanya melindungi orang Amerika, melainkan juga setiap kelompok lemah di seluruh penjuru dunia. Bahkan, keputusan ini bisa saja membuatnya terperosok dalam masalah, tutur Gunn. Ia tanpa ragu mengakui bahwa film ini memang tentang politik, meskipun di sisi lain juga berbicara tentang kebajikan manusia.
“Tentu masih akan ada orang di luar sana yang menganggap film ini ofensif hanya karena berfokus pada tema kebaikan,” lanjut Gunn dengan santai. “Tapi biarlah mereka berpendapat sesuka hati mereka.” Pernyataan ini sontak mengusik kelompok sayap kanan di Amerika Serikat. Mereka menilai Gunn mengubah sosok Superman yang ikonik jadi terlalu progresif, bahkan sampai ada gerakan boikot film ini.
Beberapa media besar seperti Fox News juga ikut menyiarkan kritik pedas. Kellyanne Conway, presenter The Five, bahkan terang-terangan mengatakan, “Kami tidak menonton film untuk diceramahi atau mendengar seseorang bicara soal ideologinya. Saya mempertanyakan apakah film ini akan sukses.” Ini menunjukkan betapa sensitifnya isu politisasi dalam industri hiburan saat ini.
Pahlawan dan Ideologi: Perang Dingin Marvel dan DC¶
Fenomena “politisasi” film superhero sebenarnya bukan hal baru, tapi baru kali ini terasa begitu kentara. Biasanya, film-film blockbuster enggan menunjukkan identitas politik yang jelas, baik itu konservatif maupun liberal, demi menjaga netralitas dan menarik semua kalangan. Namun, para fans film superhero kini merasakan adanya polarisasi yang signifikan antara penikmat cerita DC dan Marvel Comics. Perbedaan ideologi ini seolah memunculkan konflik di kalangan penggemar dua penerbit komik terbesar di Amerika Utara ini.
Mungkin Anda sendiri pernah merasakan perdebatan seru antara penggemar DC dan Marvel. Dianggapnya, para pahlawan dalam DC Universe seperti Superman dan Batman cenderung digambarkan sebagai figur yang konservatif-otoritarian. Mereka selalu jadi pembela hukum yang sangat taat, bahkan terkesan tidak ada yang mengawasi mereka karena mereka seolah perpanjangan dari hukum itu sendiri. “Tidak ada partisipasi demokratis dalam dunia Batman,” kata A.O. Scott, seorang kritikus film, dalam podcast X Man: The Elon Musk Origin Story. Ini mengisyaratkan bahwa dalam semesta DC, seringkali keputusan dan tindakan pahlawan bersifat unilateral dan tanpa pengawasan publik.
Berbeda dengan DC, Scott beranggapan bahwa para pahlawan dalam semesta Marvel seperti Iron Man, Captain America, Ant-Man, dan Avengers; adalah figur pahlawan yang bertindak dengan belas kasih dan seringkali mempertanyakan sistem. Bagi Scott, film-film Marvel merepresentasikan cara pandang yang lebih progresif, bahkan ia menyebutnya ala Obama dan Biden. Karakter-karakter Marvel seringkali dihadapkan pada dilema moral yang kompleks, konflik internal, dan harus belajar dari kesalahan, yang mencerminkan pandangan politik yang lebih nuansa dan fleksibel.
Berikut adalah perbandingan sederhana bagaimana kedua semesta ini seringkali dipersepsikan secara ideologis:
| Aspek | DC Universe (Superman, Batman, Wonder Woman) | Marvel Universe (Iron Man, Captain America, Spider-Man) |
|---|---|---|
| Fokus Keadilan | Seringkali Absolut, Berpegang Teguh pada Hukum dan Tatanan yang Ada | Relatif, Mengutamakan Kemanusiaan dan Pertimbangan Moral, Sering Mempertanyakan Otoritas |
| Tindakan Pahlawan | Otoritarian, “Di Atas” Hukum, Mengambil Keputusan Besar Sendiri Demi Kebaikan yang Lebih Besar | Kolaboratif, Sering Bekerja dalam Tim, Mengakui Batasan dan Akuntabilitas |
| Representasi Politik | Patriotisme Tradisional, “American Dream” Versi Klasik, Kekuatan Institusional | Progresivitas, Inklusivitas, Adaptasi Sosial, Kritisisme Terhadap Kekuasaan |
| Dilema Moral | Konflik Antara Kebaikan dan Kejahatan Jelas, Tapi Cara Mencapainya Bisa Tegas | Konflik Internal dan Eksternal yang Kompleks, Area Abu-abu Moral, Konsekuensi Tindakan |
Tabel ini menggambarkan generalisasi yang sering dibahas oleh para kritikus dan penggemar. Namun, perlu diingat bahwa baik DC maupun Marvel memiliki beragam karakter dan cerita yang bisa saja melampaui stereotip ini. Polarisasi ini tak hanya terjadi di kalangan penggemar, tapi juga di ranah politik yang lebih luas, di mana film dan media hiburan kerap jadi medan perang ideologi.
Jejak Politis James Gunn: Dari Marvel ke DC¶
Pernyataan James Gunn yang blak-blakan tentang politik memang bukan hal baru. Sebelumnya, ia adalah bagian dari tim kreatif Marvel, yang sukses besar dengan film Guardians of the Galaxy. Namun, ia juga dikenal sebagai kritikus vokal Donald Trump. Pada tahun 2017, Gunn sempat membuat heboh jagat maya dengan tweet kontroversialnya: “Kita sedang berada dalam kondisi krisis nasional karena presiden kita yang tidak kompeten ini melancarkan serangan besar-besaran terhadap fakta dan jurnalisme dengan gaya ala Hitler dan Putin.”
Tweet tersebut langsung menyinggung kelompok sayap kanan. Salah satu situs berita sayap kanan, Daily Caller, bahkan secara khusus meriset dan membagikan unggahan Gunn di X (Twitter) yang dianggap ofensif. Respons warganet pun beragam, banyak yang menuntut Disney untuk memutus kerja sama dengan Gunn. Akibatnya, Gunn sempat dibebastugaskan dari proyek film ketiga Guardians of the Galaxy. Ini menjadi pelajaran pahit baginya tentang bagaimana komentar pribadi bisa berdampak besar pada karier profesional.
Namun, setelah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan bernegosiasi dengan para petinggi studio Disney, Gunn akhirnya direkrut kembali. Episode ini menunjukkan betapa sensitifnya industri hiburan terhadap sentimen publik dan politik. Tak lama kemudian, pada tahun 2022, Gunn memilih beralih ke “kubu” lain. Ia diangkat sebagai co-chairman DC Studios, sebuah posisi yang sangat strategis. Kini, ia menjabat sebagai kepala kreator DC Universe, yang bertanggung jawab penuh untuk menggarap sejumlah film besar, termasuk film Superman yang sedang kita bahas ini. Pindah haluan ini memberinya kebebasan lebih untuk mewujudkan visi kreatifnya, termasuk menyuntikkan pesan-pesan yang lebih progresif.
Superman, Sang ‘Alien Ilegal’ yang Berani¶
Meskipun pernyataan Gunn memprovokasi sebagian penonton non-progresif, ia sebenarnya tidak bermaksud memprovokasi. Faktanya, inti dari karakter Superman itu sendiri sudah mengandung pesan politik yang kuat sejak awal. Tokoh Superman diciptakan oleh Jerry Siegel dan Joe Shuster, dua imigran Yahudi. Mereka menciptakan figur Superman sebagai respons atas kebangkitan Hitler dan gelombang antisemitisme di Eropa pada masa itu.
Ini adalah konteks historis yang sering terlupakan: Superman pertama kali tampil dalam Action Comics #1 pada tahun 1938, di ambang Perang Dunia II. Ia adalah simbol harapan dan kebaikan yang datang dari luar, melawan kejahatan dan ketidakadilan. Superman lahir di planet Krypton dengan nama Kal-El. Orang tua Kal-El mengirimnya ke Bumi agar ia tidak menjadi korban kehancuran planet Krypton. Keluarga yang mengadopsi Kal-El di Bumi, Kent, menganggapnya sebagai anak biologis dan memberinya nama Clark Kent.
Ini dilakukan agar tidak ada yang mengetahui bahwa Kal-El adalah seorang “alien ilegal.” Istilah “alien ilegal” adalah sebutan yang sangat ofensif bagi para migran tanpa dokumen. Penggunaan istilah ini oleh Gunn dan dalam sejarah Superman adalah bentuk komentar sosial yang tajam terhadap isu imigrasi. Kisah asal-usul Superman, yang datang dari tempat lain dan mencari perlindungan di Bumi, sangat relevan dengan pengalaman jutaan imigran di seluruh dunia.
Asal-usul Superman yang lekat dengan tema imigran mulai dikulik kembali pada tahun 2018. Saat itu, Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) menerbitkan sebuah buku berjudul Superman Was a Refugee Too. Ini memperkuat narasi bahwa identitas Superman sebagai imigran atau “pengungsi” bukanlah kebetulan, melainkan bagian intrinsik dari karakternya. Setahun sebelumnya, Action Comics edisi #987 menggambarkan Superman melindungi sekelompok imigran tanpa dokumen dari serangan orang kulit putih bersenjata. Komik tersebut dirilis tak lama setelah Presiden Trump menghapus kebijakan Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA), sebuah program yang memungkinkan ratusan ribu imigran Amerika Serikat yang tiba di sana sejak masa kanak-kanak bisa tinggal dan bekerja tanpa ancaman deportasi.
Video relevan tentang asal usul Superman sebagai imigran:
Ini menunjukkan bagaimana komik, sebagai media populer, seringkali merespons isu-isu sosial dan politik yang sedang hangat. Pada awal tahun 2025, pemerintah Amerika Serikat kembali memakai kata ‘alien’ untuk menyebut para migran, istilah yang sempat dilarang ketika Joe Biden masih menjabat. Ironisnya, kini pemerintahan Trump juga meningkatkan pengetatan imigrasi yang mengancam demokrasi di Amerika Serikat dan memperbesar polarisasi di kalangan masyarakat. Hal ini membuat film Superman garapan Gunn, dengan segala kritik progresifnya, menjadi sangat relevan dan tepat waktu.
Jadi, ketika James Gunn bicara tentang Superman yang ‘politis’ atau ‘progresif’, dia sebenarnya hanya membawa kembali esensi asli dari karakter tersebut. Superman selalu menjadi cerminan dari masyarakat dan isu-isu yang sedang dihadapi. Apakah Anda setuju bahwa superhero harus selalu netral, atau justru sudah waktunya mereka lebih berani bersuara tentang isu-isu penting? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!
Posting Komentar