Sandal India Dicontek Prada? Tuduhan 'Pencurian' Desain Mencuat!

Table of Contents

Sandal India Dicontek Prada? Tuduhan 'Pencurian' Desain Mencuat!

Kemarin, dunia mode heboh gara-gara ajang Milan Men’s Fashion Week. Prada, salah satu rumah mode paling ikonik dari Italia, menampilkan sandal terbuka di catwalk. Mereka menyebutnya “sandal kulit,” terdengar biasa aja kan? Tapi ternyata, sandal itu langsung jadi sumber kontroversi besar di India, memicu tuduhan serius tentang “pencurian” desain.

Sandal sederhana itu, yang sebenarnya cuma aksesori pelengkap gaya Prada, langsung menarik perhatian publik India. Para kritikus mode, pengrajin lokal, bahkan politisi di sana kompak menunjuk Prada. Mereka bilang, desain sandal Prada itu plek-ketiplek menjiplak Kolhapuri Chappals, sandal tradisional yang legendaris dari daerah Kolhapur, Maharashtra, India barat.

Kolhapuri Chappals: Lebih dari Sekadar Alas Kaki

Kolhapuri Chappals ini bukan sandal sembarangan, guys. Sandal ini adalah hasil kerajinan tangan dengan pola anyaman yang sangat khas, dibuat secara turun-temurun. Sejarahnya pun panjang banget, dipercaya sudah ada sejak abad ke-12. Bayangin, sudah hampir seribu tahun model sandal ini bertahan!

Sandal ini dibuat dari kulit sapi atau kerbau yang diolah secara tradisional, menjadikannya sangat kuat dan awet. Proses pembuatannya pun rumit, melibatkan banyak langkah manual mulai dari penyamakan kulit, pemotongan, sampai penjahitan dan penganyaman. Setiap pasang dibuat dengan penuh ketelitian oleh para pengrajin.

Secara tampilan, Kolhapuri Chappal punya ciri khas unik. Bentuknya datar, terbuka di bagian depan dengan satu atau dua strap lebar yang melintasi punggung kaki, dan dihiasi anyaman atau pola timbul yang rumit. Ada juga bagian toe loop (lingkaran untuk jempol kaki) pada beberapa modelnya. Desainnya yang simpel tapi kokoh membuatnya nyaman dipakai sehari-hari, terutama di iklim panas India.

Sandal ini bukan cuma alas kaki fungsional, tapi juga punya nilai budaya dan historis yang dalam. Mereka adalah simbol dari keahlian para pengrajin di wilayah Kolhapur dan sekitarnya. Dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani sampai pedagang, Kolhapuri Chappals adalah bagian tak terpisahkan dari identitas regional Maharashtra dan Karnataka.

Sayangnya, meskipun punya nilai sejarah dan budaya tinggi, harga Kolhapuri Chappal di pasar lokal India sangat terjangkau. Kamu bisa dapatkan sepasang sandal Kolhapuri asli dengan kualitas bagus dengan harga nggak lebih dari Rp200 ribu. Jauh banget bedanya sama sandal Prada yang belum rilis tapi sudah diperkirakan bakal dibanderol di atas $1.200 atau sekitar Rp19,5 juta. Perbedaan harga yang jor-joran ini yang bikin banyak orang India makin geram dan merasa desain mereka dieksploitasi tanpa pengakuan yang layak.

Protes Menggema, Prada Beri Respons

Begitu sandal Prada itu muncul di Milan Fashion Week dan fotonya menyebar di media sosial, protes langsung membludak. Netizen India, aktivis budaya, dan bahkan organisasi pengrajin rame-rame menyuarakan kekecewaan dan kemarahan mereka. Mereka menuduh Prada melakukan “perampasan budaya” (cultural appropriation), yaitu mengambil elemen dari budaya minoritas tanpa pemahaman atau penghormatan yang memadai, lalu mengomersialkannya dengan harga selangit.

Kamar Dagang Maharashtra, sebuah organisasi yang mewakili kepentingan bisnis di wilayah tersebut, ikut bersuara. Mereka secara resmi menyerukan agar Prada mengakui secara jelas bahwa desain sandal mereka memang terinspirasi dari akar budaya India, khususnya Kolhapuri Chappals. Tujuannya adalah agar ada pengakuan yang pantas atas warisan budaya dan keahlian para pengrajin India.

Tekanan dari publik dan organisasi ini ternyata membuahkan hasil. Lorenzo Bertelli, yang merupakan putra dari pemilik merek Prada dan juga menjabat sebagai Head of Corporate Social Responsibility (CSR) di perusahaan tersebut, merespons. Dalam suratnya kepada Kamar Dagang Maharashtra, dia mengakui bahwa desain sandal yang ditampilkan memang terinspirasi dari kerajinan lokal India.

“Kami mengakui bahwa sandal ini terinspirasi dari alas kaki buatan tangan tradisional India, yang membawa warisan budaya yang kaya,” tulis Bertelli, dikutip dari laporan Reuters. Pernyataan ini sedikit banyak meredakan ketegangan, meskipun bagi sebagian orang pengakuan saja belum cukup tanpa adanya kompensasi atau kerja sama yang adil dengan komunitas pengrajin.

Bertelli juga menambahkan bahwa sandal tersebut masih dalam tahap desain awal dan belum ada keputusan final apakah akan diproduksi massal atau tidak. Dia menekankan komitmen Prada terhadap praktik desain yang bertanggung jawab, mendorong keterlibatan budaya, dan membangun dialog pertukaran yang berarti dengan komunitas pengrajin lokal India. Dia juga mengklaim Prada sudah melakukan hal serupa dalam koleksi-koleksi sebelumnya untuk memastikan keahlian para pengrajin mendapat pengakuan yang layak. Meskipun begitu, janji-janji ini masih perlu dilihat bagaimana implementasinya di masa depan.

Respons Prada, meskipun datang setelah kritik keras, menunjukkan bahwa tekanan publik, terutama melalui media sosial, memiliki kekuatan signifikan untuk memaksa merek-merek global memberikan penjelasan dan pengakuan. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi industri mode tentang sensitivitas terhadap sumber inspirasi budaya dan pentingnya pengakuan yang adil.

Bukan Kali Pertama: Kasus Paul Smith di Tahun 2014

Tuduhan penjiplakan desain tradisional oleh merek fesyen global ternyata bukan barang baru. Insiden Prada ini mengingatkan publik pada kasus serupa yang terjadi sekitar satu dekade lalu, tepatnya pada tahun 2014. Saat itu, desainer asal Inggris, Paul Smith, menuai kecaman keras karena produk sandalnya.

Paul Smith menjual sandal kulit hitam mengilap yang diberi nama “Robert”. Sandal ini langsung dikenali oleh publik Pakistan. Desainnya sangat mirip, bahkan bisa dibilang tiruan, dari Peshawari Chappal atau Charsadda Chappal, sandal khas yang sangat populer di Pakistan. Peshawari Chappal ini juga merupakan sandal tradisional yang dibuat secara manual, dikenal karena kekuatannya dan kenyamanannya.

Sama seperti kasus Kolhapuri Chappal, perbedaan harga antara sandal tradisional Pakistan dan versi desainer Paul Smith sangat mengejutkan. Sandal Paul Smith dijual di toko-toko premium dengan harga 20 kali lipat lebih mahal dibanding harga sandal aslinya di pasar-pasar lokal Pakistan. Bayangkan, sandal yang di sana harganya ratusan ribu Rupiah, dijual menjadi jutaan Rupiah hanya karena diberi label desainer ternama.

Protes pun bermunculan di media sosial Pakistan dan bahkan muncul petisi online yang menuntut Paul Smith memberikan pengakuan. Akibat tekanan publik yang gencar, Paul Smith akhirnya mengambil langkah untuk merespons. Mereka menambahkan keterangan pada deskripsi produk sandal “Robert” di situs web mereka. Keterangan itu berbunyi bahwa sandal tersebut “terinspirasi dari Peshawari Chappal.”

Kasus Paul Smith dan Prada ini menyoroti pola yang berulang di industri fesyen global: mengambil desain tradisional dari budaya non-Barat, mereproduksinya dengan sedikit modifikasi (atau bahkan tanpa modifikasi signifikan), memberinya label desainer mewah, menjualnya dengan harga fantastis, dan awalnya tanpa memberikan pengakuan yang memadai terhadap asal-usul budaya tersebut. Insiden-insiden ini memicu perdebatan panjang tentang etika desain, cultural appropriation, dan keadilan ekonomi bagi para pengrajin tradisional yang telah menjaga warisan desain selama berabad-abad.

Melindungi Kolhapuri: Paten dan Gugatan Hukum

Belajar dari pengalaman masa lalu dan melihat kasus Prada yang terbaru, Kamar Dagang Maharashtra tampaknya mengambil langkah lebih serius untuk melindungi warisan desain Kolhapuri Chappal. Mereka punya niat untuk mematenkan sandal tradisional ini. Pematenan ini diharapkan bisa memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat terhadap desain Kolhapuri Chappal di masa depan, mencegah merek-merek lain menjiplaknya tanpa izin atau tanpa mengakui sumbernya.

Sebenarnya, Kolhapuri Chappal sudah punya bentuk perlindungan hukum di India melalui label Geographical Indication (GI). GI adalah penanda yang digunakan pada produk yang memiliki asal geografis spesifik dan memiliki kualitas atau reputasi yang unik karena asal tersebut. Kolhapuri Chappal telah terdaftar sebagai produk dengan label GI, menandakan bahwa sandal ini berasal dari wilayah tertentu di India dan memiliki karakteristik khas.

Perlindungan GI secara hukum menyatakan bahwa meniru desain produk berlabel GI untuk keuntungan komersial tanpa izin atau tanpa pembagian manfaat yang adil dianggap ilegal, setidaknya di bawah hukum India. Tujuannya adalah untuk melindungi produsen asli di wilayah yang ditentukan dan mencegah pihak lain memanfaatkan reputasi produk tersebut secara tidak sah. Hingga tahun 2024, India mencatat ada 603 produk yang telah terdaftar sebagai GI. Ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya melindungi warisan budaya dan industri lokal.

Selain upaya pematenan dan perlindungan GI, tampaknya ada langkah hukum yang lebih konkret sedang dipertimbangkan. Media Qatar, Al Jazeera, melaporkan bahwa seorang anggota parlemen dari distrik Kolhapur, Dhananjay Mahadik dari Partai Bharatiya Janata (BJP), menyatakan dukungannya terhadap para pengrajin sandal. Mahadik dilaporkan akan mendukung para pengrajin Kolhapuri untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Prada di Pengadilan Tinggi Bombay.

Jika gugatan ini benar-benar diajukan, ini bisa menjadi kasus hukum yang menarik dan penting terkait hak kekayaan intelektual tradisional dan cultural appropriation. Gugatan ini bisa memaksa Prada untuk menghadapi konsekuensi hukum atas tuduhan penjiplakan dan mungkin menuntut kompensasi atau pengaturan yang lebih adil bagi komunitas pengrajin Kolhapuri. Langkah ini juga bisa menjadi preseden bagi kasus-kasus serupa di masa depan, menegaskan bahwa warisan budaya tradisional tidak bisa begitu saja diambil dan dikomersialkan tanpa penghormatan dan pengakuan yang layak.

Tantangan Lain: Politik Sapi Rugikan Pengrajin Kulit

Di tengah polemik desain Prada dan upaya hukum untuk melindungi Kolhapuri Chappal, para pengrajin sandal tradisional ini ternyata menghadapi masalah lain yang tak kalah pelik di tingkat lokal. Masalah ini berkaitan erat dengan politik yang sensitif di India: perlindungan sapi.

Sejak Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin oleh Narendra Modi berkuasa pada tahun 2014, gerakan nasionalis Hindu ekstremis semakin berani dalam melakukan aksi main hakim sendiri. Mereka menyerang orang-orang yang dianggap mengangkut atau memperdagangkan sapi untuk penyembelihan. Sapi dianggap suci dalam ajaran Hindu, dan beberapa negara bagian di India memiliki hukum ketat yang melarang penyembelihan sapi.

Ironisnya, korban dari kekerasan yang dilakukan oleh kelompok premanisme sapi ini umumnya berasal dari komunitas Dalit dan Muslim. Kedua komunitas ini selama ini menjadi kelompok yang terpinggirkan di India. Mereka sering kali terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan kulit hewan atau perdagangan daging, pekerjaan yang secara tradisional dianggap “rendah” oleh kasta yang lebih tinggi.

Masalahnya, para pengrajin Kolhapuri Chappal sebagian besar berasal dari komunitas Dalit. Merekalah yang selama ratusan tahun, lintas generasi, telah melestarikan teknik anyaman dan desain rumit yang menjadi ciri khas sandal Kolhapuri. Keahlian ini diwariskan dari ayah ke anak, dari generasi ke generasi, menjadi warisan berharga yang dijaga oleh komunitas Dalit.

Gangguan terhadap pasokan kulit sapi akibat penyerangan dan pengawasan ketat terhadap transportasi sapi oleh kelompok ekstremis Hindu berdampak langsung pada para pengrajin kulit, termasuk pembuat Kolhapuri Chappal. Mereka kesulitan mendapatkan bahan baku kulit yang berkualitas dan stabil. Hal ini tentu saja menghambat produksi dan mengancam mata pencaharian ribuan pengrajin yang bergantung pada industri ini.

Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi para pengrajin tradisional di India. Di satu sisi, mereka harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan dari merek-merek global yang diduga menjiplak desain mereka. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi tantangan internal yang disebabkan oleh kebijakan politik dan kekerasan komunal yang mengganggu rantai pasok bahan baku esensial bagi kerajinan mereka.

Warisan Komunitas Dalit

Situasi ini juga menyoroti pentingnya mengakui kontribusi spesifik dari komunitas Dalit dalam melestarikan seni dan kerajinan tradisional seperti Kolhapuri Chappal. Organisasi hak asasi Dalit Voice menggarisbawahi aspek ini. Melalui unggahan di Instagram, mereka mengingatkan publik bahwa Kolhapuri Chappal bukan hanya sekadar item mode atau kerajinan biasa.

Menurut Dalit Voice, sandal ini adalah “warisan ketekunan dan keahlian komunitas Dalit.” Mereka menekankan bahwa sejarah Kolhapuri Chappal terpaut erat dengan perjuangan dan keberlanjutan komunitas Dalit di tengah struktur sosial yang diskriminatif.

“Mereka adalah sejarah, identitas, dan bentuk perlawanan,” tulis Dalit Voice. Bagi komunitas ini, sandal Kolhapuri adalah simbol dari kemampuan mereka bertahan, berkreasi, dan menjaga tradisi meskipun sering kali menghadapi kesulitan dan penindasan. Oleh karena itu, ketika desain ini diambil dan dikomersialkan tanpa pengakuan yang layak, itu bukan hanya soal cultural appropriation, tapi juga penghapusan kontribusi dan identitas komunitas Dalit. Pesan mereka jelas: “Hormatilah akar budaya kami.”

Kasus Prada dan Kolhapuri Chappal ini membuka mata dunia tentang isu kompleks di balik industri mode global. Ini bukan hanya tentang desain dan harga, tapi juga tentang warisan budaya, keadilan ekonomi, hak kekayaan intelektual tradisional, dan perjuangan komunitas marginal. Semua pihak, termasuk konsumen, punya peran untuk lebih sadar dan kritis terhadap produk yang mereka beli, serta menuntut merek-merek besar untuk beroperasi dengan cara yang lebih etis dan bertanggung jawab.

Gimana pendapat kalian tentang isu ini? Apakah menurut kalian Prada sudah cukup dengan memberikan pengakuan? Atau seharusnya ada tindakan lebih lanjut? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Posting Komentar