Saham Bank Terbang Tinggi, IHSG Siap-siap Kecapekan Abis Party?

Table of Contents

Saham Bank Terbang Tinggi

Pasar saham global lagi seru nih. Di Amerika Serikat, bursa Wall Street baru saja merayakan pesta besar pada perdagangan Kamis waktu sana, yang kalau di Indonesia sudah masuk Jumat dini hari. Indeks-indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan berhasil bikin rekor baru sepanjang masa.

S&P 500 ditutup naik 0,27% ke level 6.280,46. Nasdaq, yang isinya didominasi saham teknologi, juga menguat 0,09% jadi 20.630,67. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average ikut naik 192 poin atau 0,43%, mendarat di 44.650,64. Seru banget ya pergerakannya!

Perayaan di Wall Street ini terjadi setelah Presiden Donald Trump bikin pengumuman mengejutkan. Pada Rabu malam waktu AS, dia bilang tarif impor tembaga ke AS sebesar 50% bakal mulai berlaku per 1 Agustus nanti. Ini jelas jadi sentimen yang cukup diperhatikan pasar.

Trump juga ngasih tarif 50% buat Brasil. Keputusan ini sebagian gara-gara sidang yang lagi jalan buat mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro soal dugaan usaha nggagalin hasil pemilu 2022. Selain itu, Trump bilang langkah ini diambil karena hubungan dagang sama Brasil yang “sangat tidak adil” dan jauh dari kata timbal balik.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva langsung merespons. Dia bilang negaranya bakal bales tarif 50% itu sesuai sama hukum ekonomi timbal balik Brasil. Akibatnya, iShares MSCI Brazil ETF (EWZ) langsung turun 1,6% pada hari Kamis.

Sebelum pengumuman tarif buat Brasil ini, Trump ternyata udah ngirim surat ke minimal tujuh negara lain lho, ngasih tahu soal tarif baru buat impor ke AS. Awal pekan ini, dia juga udah ngirim surat serupa ke pemimpin 14 negara lain, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Semua tarif baru ini rencananya bakal mulai berlaku serentak tanggal 1 Agustus nanti.

Pasar AS Kebal Tarif?

Meskipun ketegangan dagang lagi memanas, pasar saham AS kokoh banget, malah bisa cetak rekor baru. Padahal, musim semi kemarin sempat turun tajam. Ini bikin heran banyak pihak.

Menurut Mike Dickson, Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif di Horizon Investment, luar biasa melihat valuasi pasar sekarang ada di atas level awal tahun, padahal banyak ketidakpastian gara-gara tarif perdagangan, dan sekarang malah ada tenggat waktu baru. Dia bilang pasar kayaknya udah kebal banget sama dinamika gini, dan dia punya alasannya sendiri buat itu. Pasar saham AS tampaknya fokus pada hal lain.

Wall Street juga udah menguat dari sesi sebelumnya, hari Rabu. Penguatan itu didorong sama optimisme yang tinggi soal tren kecerdasan buatan (AI). Gara-gara itu, saham Nvidia naik hampir 2% dan jadi perusahaan publik pertama di dunia yang nilai pasarnya tembus US$4 triliun! Saham Nvidia bahkan masih naik 0,8% lagi pada hari Kamis dan tetep bertahan di atas ambang valuasi fantastis itu.

Dengan pergerakan ini, S&P 500 dan Nasdaq Composite sekarang di jalur yang pas buat nutup pekan ini dengan kinerja positif. Sementara itu, Dow Jones diperkirakan bakal nutup pekan ini dengan penurunan tipis sekitar 0,4%. Jadi, gambaran pasar global campur aduk nih, antara euforia teknologi dan sentimen dagang.

IHSG Hari Ini: Party Udah Mau Berakhir?

Nah, sekarang kita balik ke Tanah Air. Hari ini adalah hari terakhir perdagangan buat pasar keuangan Indonesia, baik itu IHSG maupun nilai tukar rupiah. Prediksinya, pergerakan IHSG hari ini bakal cenderung melemah. Kenapa? Soalnya IHSG udah lari kenceng banget selama empat hari berturut-turut.

Selain itu, pada perdagangan kemarin, Kamis (10/7/2025), IHSG dibuka langsung melompat jauh dari penutupan hari Rabu (9/7/2025). Dalam istilah teknikal, ini sering disebut gap. Biasanya, IHSG punya kecenderungan buat ‘menutup’ gap ini dalam beberapa waktu. Mengingat hari ini juga relatif sepi sentimen positif dari dalam negeri, kemungkinan IHSG bakal terkoreksi buat nutup gap itu lumayan besar.

Tapi, ada beberapa saham yang diprediksi masih bisa lanjut naik hari ini. Saham-saham ini adalah saham dari perusahaan yang baru aja IPO alias listing perdana di Bursa Efek Indonesia. Minat investor buat saham-saham IPO yang nawarin potensi cuan gede dalam jangka pendek masih tinggi banget. Makanya, saham-saham ini bisa jadi pengecualian dari prediksi pelemahan IHSG secara keseluruhan.

Selain itu, kabar dari luar negeri, terutama hasil risalah rapat bank sentral AS (FOMC) soal proyeksi penurunan suku bunga, juga bisa jadi booster buat pasar keuangan kita hari ini. Kalau ada sinyal positif soal kapan The Fed bakal nurunin suku bunga, itu bisa bikin investor lebih optimis dan mungkin menahan pelemahan IHSG. Jadi, kita lihat aja nanti sentimen mana yang lebih dominan.

Saham Perbankan Melesat Pesat: Sang Pendorong IHSG

Penguatan IHSG kemarin yang berhasil nembus level psikologis 7.000 itu sebagian besar didorong sama saham-saham perbankan. Terutama bank-bank gede (big caps). Saham-saham bank big caps ini kompak melesat signifikan dan bikin euforia di pasar saham Indonesia. Kontribusi mereka lumayan besar buat ngangkat IHSG.

Salah satu yang paling moncer adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Saham BBRI mencatat kenaikan tertinggi di antara bank-bank big caps lain, melesat 5,16% dan mendarat di level Rp3.870 per lembar saham. Wow, lumayan banget kan kenaikannya dalam sehari!

Kenaikan signifikan BBRI ini bukan tanpa alasan, ada kabar baik dari luar negeri. BBRI ternyata menduduki peringkat tertinggi sebagai bank terbaik di Indonesia dalam daftar “Top 1000 World Banks 2025”. Daftar prestisius ini dirilis sama The Banker, publikasi keuangan internasional yang ternama. Daftar itu nyusun 1.000 bank dengan kinerja paling oke di seluruh dunia berdasarkan beberapa indikator keuangan utama.

Pencapaian BRI di daftar ini sejalan sama kinerja keuangan mereka yang kuat sepanjang tahun 2024 lalu. Bayangin aja, per akhir Desember 2024, Tier 1 Capital alias modal inti mereka tercatat sebesar US$18,03 miliar. Sementara total asetnya mencapai US$123,31 miliar. Angka-angka ini menunjukkan kekuatan finansial BBRI.

Dari sisi profitabilitas, laba sebelum pajak BBRI tercatat sebesar US$4,8 miliar. Selain itu, rasio-rasio keuangan utama BRI juga nunjukkin permodalan yang kuat dan efisiensi operasional yang oke. Capital Asset Ratio (CAR) mereka sebesar 14,62%, Return on Capital (ROC) ada di level 20,82%, dan Return on Assets (ROA) mencapai 3,04%. Rasio-rasio ini penting banget buat nunjukkin seberapa sehat dan efisien sebuah bank beroperasi.

Selain BBRI, ada juga 11 bank asal Indonesia lain yang masuk dalam daftar Top 1000 World Banks 2025 versi The Banker. Mereka adalah Bank Mandiri, BCA, BNI, Panin Bank, BTN, Bank Mega, Bank BJB, Bank Jatim, Bank Mayapada Internasional, dan Bank DKI. Ini bukti kalau sektor perbankan kita lumayan kompetitif di mata dunia.

BBRI berhasil nangkring di peringkat pertama bank terbaik di Indonesia, ngalahin bank-bank nasional lain yang juga masuk daftar. Secara global, BBRI ada di peringkat ke-114 dunia. Posisi ini didukung banget sama fundamental kinerja keuangan mereka yang solid dan terus membaik.

Pemeringkatan Top 1000 World Banks ini tiap tahunnya disusun berdasarkan sejumlah indikator keuangan utama yang udah disebutin tadi: Tier 1 Capital, total aset, laba sebelum pajak (pre-tax profit), rasio kecukupan modal terhadap aset (Capital Asset Ratio), pengembalian modal (Return on Capital), dan pengembalian aset (Return on Assets). Ini ngasih gambaran komprehensif soal kesehatan dan kinerja bank.

Pesta IPO: Ada yang ARA, Ada yang ARB

Selain saham bank, kenaikan saham-saham IPO juga jadi salah satu pendorong semangat di pasar saham kita. Ada delapan saham IPO yang udah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini. Performa mereka di hari-hari awal listing lumayan bikin heboh, dan ini ikut nyumbang penguatan IHSG dalam sepekan terakhir. Kayak ada ‘pesta’ kecil-kecilan buat saham-saham baru ini.

Tapi dari delapan saham IPO yang udah melantai, ada dua di antaranya yang nasibnya kurang mujur. Mereka malah langsung kena Auto Rejection Bawah (ARB) 15% di hari pertama atau hari-hari awal perdagangannya. Ini tentu jadi catatan buat investor.

Salah satu yang kena ARB itu adalah saham PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI). Jatuhnya harga saham PMUI ini kabarnya disebabkan insiden yang lumayan dramatis H-1 sebelum listing. Ternyata, sekuritas yang jadi penjamin pelaksana emisi efek (underwriter) PMUI gagal ngejual saham yang ditawarin ke publik.

Kabarnya, saat penawaran umum perdana (IPO), PMUI cuma mampu nyerap 25% saham dari total saham yang ditawarin. Padahal, skema IPO yang dipake itu full commitment. Artinya, underwriter seharusnya wajib nyerap semua sisa saham yang gak laku di pasar. Gagalnya underwriter ini bikin proses pencatatan saham PMUI sempat tertahan dan bikin deg-degan.

Sempat beredar juga tangkapan layar email dari IDX Contact Center yang bilang BEI gak bisa ngelanjutin pencatatan saham PMUI. Kabar ini nyebar luas dan bikin spekulasi kalau IPO PMUI batal. Situasinya lumayan mencekam saat itu.

Dikabarkan juga, pihak manajemen PMUI sampe turun tangan langsung buat nombokin kekurangan dana yang seharusnya jadi kewajiban underwriter. Ini nunjukkin betapa gentingnya situasi biar IPO tetep jalan.

Untungnya, setelah dokumen diperbaiki dan semua kewajiban keuangan beres, akhirnya saham PMUI diizinin buat lanjut IPO dan tercatat di BEI. Lega deh.

Usai pencatatan saham perdananya, Direktur Utama PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI), Agus Susanto, bilang ada investor strategis yang nyerap saham yang ditawarin saat IPO. Dia juga negasin kalau seluruh proses listing udah jalan sesuai ketentuan. Isu soal kegagalan penyerapan saham itu katanya cuma miskomunikasi yang udah diselesaiin internal bareng penjamin pelaksana emisi efeknya, yaitu PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Manajemen PMUI juga nepis kabar kalau pihak internal perusahaan harus nalangin kekurangan saham biar bisa memenuhi syarat pencatatan. Jadi menurut versi manajemen, semua sudah clear.

Sementara itu, enam saham IPO lainnya bernasib jauh lebih baik. Mereka berhasil mencatat kenaikan maksimal alias Auto Reject Atas (ARA) di hari pertama atau hari-hari awal listing. Melesatnya saham-saham IPO yang ARA ini nunjukkin tingginya minat pasar setelah saham-saham itu melantai. Banyak investor yang kelihatan antri buat beli saham-saham IPO ini di pasar reguler. Fenomena ini bikin volatilitas pasar meningkat dan ikut mendorong kenaikan IHSG belakangan ini.

Data Ekonomi AS: Pasar Tenaga Kerja Masih Tangguh?

Kita intip lagi perkembangan dari Amerika Serikat, khususnya data ekonomi. Klaim awal tunjangan pengangguran di AS turun lumayan, sebanyak 5.000 orang dibanding pekan sebelumnya. Angkanya jadi 227.000 pada periode awal Juli. Ini lebih rendah dari perkiraan pasar yang nyangka bakal naik jadi 235.000.

Ini udah penurunan keempat berturut-turut buat klaim awal, dan jadi level terendah dalam tujuh minggu terakhir. Data ini ngasih sinyal kalau pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, meskipun lagi dihadapin sama suku bunga yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi. Ini kabar bagus buat ekonomi AS secara umum.

Tapi, ada data lain yang agak bikin khawatir. Klaim lanjutan alias outstanding unemployment claims malah naik 10.000, jadi 1.965.000. Ini angka tertinggi sejak tahun 2021. Kenaikan klaim lanjutan ini bisa nunjukkin kalau laju perekrutan tenaga kerja udah mulai melambat, atau orang yang kehilangan pekerjaan butuh waktu lebih lama buat nyari kerja baru.

Sementara itu, klaim awal dari pegawai pemerintah federal, yang sempat jadi sorotan gara-gara ada serangkaian pemecatan oleh Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency/DOGE), turun tipis sebesar 15 klaim jadi 438 pada pekan terakhir Juni. Angka ini adalah yang terendah sejak Desember 2024.

Babak Baru Perseteruan Gedung Putih vs The Fed

Ada drama baru nih dari Washington DC. Kepala Anggaran Presiden Donald Trump, Russell Vought, ngeluarin pernyataan pedas. Dia bilang Chairman The Fed, Jerome Powell, udah sangat salah ngelola The Fed. Vought bahkan ngasih isyarat kalau Powell udah nyasarin Kongres soal proyek renovasi markas besar bank sentral yang dinilai super mahal dan mewah.

Pernyataan tajam dari Vought, yang juga menjabat Direktur Office of Management and Budget (OMB), ini membuka babak baru dalam ‘perang’ kata-kata antara Trump dan Powell. Seperti kita tahu, saat masih menjabat presiden, Trump berkali-kali nyuruh Powell buat nurunin suku bunga, tapi gak berhasil.

Trump bahkan kabarnya pernah mikirin buat mecat Powell, dan belakangan ini sempat mikir buat ngumumin pengganti Powell lebih awal, jauh sebelum masa jabatan Powell berakhir musim semi tahun depan. Ini nunjukkin betapa seriusnya ketegangan antara Gedung Putih (di bawah Trump) dan The Fed (di bawah Powell).

Surat dari Vought ini bikin orang bertanya-tanya, apa Trump bakal coba mecat Powell dengan alasan tertentu, setidaknya secara formal? Tapi, Mahkamah Agung AS dalam putusan terbarunya udah ngasih sinyal kuat. Mereka bilang anggota dewan Federal Reserve punya perlindungan khusus dari pemecatan oleh presiden. Jadi, langkah Trump mungkin gak segampang itu.

“Sejak Tahun Anggaran 2023 (Full Year 2023), The Fed terus ngalamin defisit buat pertama kalinya dalam sejarahnya, dan kini melebihi anggaran buat renovasi kantor pusatnya,” tulis Vought dalam unggahannya di platform media sosial X (dulu Twitter). Dia menambahkan, biayanya itu nyampe US$2,5 miliar, sekitar US$700 juta lebih tinggi dari perkiraan awal. Ini jadi salah satu ‘amunisi’ Vought buat nyerang Powell.

Situasi politik dan ekonomi di AS ini penting buat diperhatiin karena dampaknya bisa merembet ke pasar global, termasuk Indonesia. Kebijakan The Fed soal suku bunga, misalnya, punya pengaruh besar ke arus modal global dan nilai tukar.

Agenda Penting Hari Ini

Biar gak ketinggalan, ini dia beberapa agenda penting dari dalam dan luar negeri yang perlu kamu tahu hari ini:

Agenda Ekonomi Dalam Negeri:

  • Kementerian PPN/Bappenas dan kementerian/lembaga terkait rencananya bakal meluncurkan “Desain Besar Pembangunan Kependudukan 2025-2045”. Temanya keren nih: “Pembangunan Kependudukan: Kunci Strategis Indonesia Emas 2045”. Ini program jangka panjang yang penting buat masa depan bangsa.
  • Panitia Seleksi Calon Anggota Ombudsman RI buat masa jabatan 2026-2031 bakal ngadain kunjungan audiensi sama Pimpinan Ombudsman RI. Mereka mau diskusi soal pelaksanaan proses seleksi.

Inisiatif Teknologi Dalam Negeri:

  • Komdigi (mungkin maksudnya kementerian terkait digital/kominfo) bakal meluncurkan “Pusat Keunggulan AI Indonesia” (Indonesia’s AI Center of Excellence). Ini inisiatif strategis skala nasional buat ngebutin daya saing Indonesia di bidang kecerdasan artifisial (AI). Mereka kerja sama lintas sektor sama pemain gede kayak Indosat, Cisco, dan NVIDIA. Keren nih, Indonesia mau ikutan ngebut di era AI!

Agenda Emiten Dalam Negeri:

Belum ada agenda emiten spesifik yang disebutkan hari ini, tapi biasanya di akhir pekan ada pengumuman atau rilis data penting dari beberapa perusahaan. Tetap pantau berita emiten favoritmu ya!

Indikator Perekonomian Nasional:

Artikel asli tidak menyertakan data spesifik indikator perekonomian nasional saat ini. Tapi indikator yang biasa dipantau antara lain inflasi, nilai tukar rupiah, suku bunga acuan Bank Indonesia, data neraca perdagangan, dan cadangan devisa. Pergerakan indikator-indikator ini bisa mempengaruhi sentimen pasar.

Secara umum, dengan euforia saham bank dan IPO belakangan ini, pasar saham kita memang lagi party. Tapi ingat, setelah party biasanya ada rasa kecapekan atau bahkan hangover. Prediksi IHSG hari ini yang cenderung melemah bisa jadi semacam ‘istirahat’ setelah naik kenceng.

Bagaimana pendapatmu? Setuju dengan prediksi IHSG hari ini? Atau kamu punya pandangan lain soal pergerakan pasar setelah pesta saham bank dan IPO? Bagikan pikiranmu di kolom komentar di bawah ya!

Posting Komentar