IHSG Mau Koreksi? Dolar AS Makin Perkasa Nih!
Wah, tampaknya pasar saham Amerika Serikat, atau yang sering kita sebut Wall Street, lagi semangat-semangatnya nih! Pada perdagangan Kamis lalu, atau Jumat dini hari waktu Indonesia, bursa saham di sana kompak menguat. Kenaikan ini didorong oleh data ekonomi terbaru yang positif banget, ditambah lagi dengan rilis laporan keuangan perusahaan yang hasilnya di luar dugaan.
Indeks S&P 500 berhasil naik 0,54% dan menorehkan rekor penutupan baru di level 6.297,36. Ini adalah rekor kesembilan kalinya di tahun 2025 ini, keren banget kan? Nggak mau kalah, indeks Nasdaq Composite yang isinya mayoritas saham-saham teknologi juga melonjak 0,75% dan mencapai rekor penutupan kesepuluh di tahun ini, yaitu di level 20.885,65. Kedua indeks ini bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi intraday sepanjang masa. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga ikut menanjak 229,71 poin atau 0,52%, dan menutup perdagangan di level 44.484,49.
Beberapa saham juga jadi bintang di Wall Street. Saham PepsiCo melonjak lebih dari 7% setelah berhasil membukukan laba yang lebih baik dari perkiraan para analis. United Airlines juga ikutan naik 3% setelah maskapai tersebut melaporkan laba yang melampaui ekspektasi pasar. Tentunya, kabar baik ini bikin investor makin percaya diri.
Kinerja Perusahaan Ciamik & Data Ekonomi AS yang Memukau
Rangkaian laporan laba kuartalan yang dirilis sepanjang minggu ini memang banyak yang melampaui ekspektasi Wall Street. Ini tentu saja meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis ke depan. Bayangin aja, dari sekitar 50 komponen indeks S&P 500 yang sudah melaporkan kinerjanya sejauh ini, 88% di antaranya berhasil mengalahkan perkiraan analis. Ini menunjukkan fundamental perusahaan-perusahaan di AS memang lagi solid banget.
Selain laporan keuangan, data ekonomi penting yang dirilis Kamis juga mencerminkan kekuatan ekonomi AS yang luar biasa. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 12 Juli tercatat sebanyak 221.000, turun 7.000 dari pekan sebelumnya. Angka ini jauh lebih baik dari perkiraan, menunjukkan pasar tenaga kerja masih sangat greng.
Secara terpisah, Biro Sensus AS juga merilis data penjualan ritel bulan Juni yang naik lebih tinggi dari perkiraan. Penjualan ritel meningkat 0,6% dibandingkan Mei, mengalahkan estimasi konsensus Dow Jones yang sebesar 0,2%. Ini sinyal kuat bahwa konsumsi masyarakat Amerika masih sangat aktif. Bret Kenwell, seorang analis investasi dari eToro AS, bahkan bilang ke CNBC International kalau hasil penjualan ritel yang meyakinkan ini datang di waktu yang pas banget, apalagi saat musim laporan laba lagi berlangsung. Kalau laporan laba terus optimistis dan manajemen perusahaan terus menyampaikan narasi positif soal belanja konsumen, pasar saham bisa merespons positif, bahkan setelah kenaikan yang mungkin dinilai sebagian investor sudah terlalu tinggi. Intinya, konsumen itu tulang punggung ekonomi AS!
Wall Street sendiri baru saja melewati sesi perdagangan yang lumayan bergejolak setelah Presiden Donald Trump membantah rumor pemecatan Jerome Powell dari jabatan Ketua Federal Reserve. Tapi, pasar nggak terlalu lama terpengaruh. Sepanjang minggu ini, S&P 500 berada di jalur penguatan 0,6%, sementara indeks Dow Jones 30-saham mencatatkan kenaikan sekitar 0,3%. Yang paling unggul sejauh ini adalah Nasdaq, dengan kenaikan sekitar 1,5% dalam periode tersebut.
Gimana Nasib Pasar Saham RI Hari Ini?
Jumat, 18 Juli 2025, nggak banyak data rilis yang dinanti pasar. Tapi, ada beberapa sentimen, baik dari luar maupun dalam negeri, yang bakal pengaruh banget ke pasar kita, Indonesia. Dari negeri Paman Sam semalam, ada update soal pasar tenaga kerja dan penjualan ritel yang positif. Tapi, ada satu hal yang patut diwaspadai: posisi indeks dolar AS (DXY) yang makin perkasa! Ini bisa jadi tantangan berat buat pasar emerging market kayak kita.
Dari dalam negeri, pasar saham kita, IHSG, udah berada di level resistance dan jadi rawan take profit. Apalagi, sepertinya pesta saham IPO udah mau selesai, ditambah lagi dana asing masih suka kabur-kaburan, meskipun trennya udah jauh mereda. Kenaikan di Wall Street dan masuknya dana asing memang diharapkan bisa jadi sentimen positif buat bursa saham Indonesia. Tapi, lonjakan dolar AS ini bisa jadi alarm bahaya yang wajib kita pantau.
Yuk, kita bedah lebih jauh rincian sentimen yang bakal memengaruhi gerak pasar keuangan hari ini:
Update Pasar Tenaga Kerja AS & Penjualan Ritel: Sisi Lain dari Kabar Baik¶
Kamis malam kemarin, AS merilis update data pasar tenaga kerja, khususnya soal klaim tunjangan pengangguran mingguan dan penjualan ritel. Hasilnya sih menunjukkan tanda-tanda positif banget di tengah ketidakpastian ekonomi global. Klaim pengangguran turun dan penjualan ritel naik melampaui ekspektasi pasar. Ini tentu kabar gembira dari segi ekonomi makro AS.
Penjualan ritel AS tercatat meningkat sebesar 0,6% secara bulanan (MoM) pada Juni 2025, mengakhiri tren penurunan selama dua bulan sebelumnya. Angka ini juga jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan pertumbuhan tipis 0,1%. Kenaikan terbesar terjadi pada kategori retailer toko serba ada yang naik 1,8%, diikuti kendaraan bermotor dan suku cadang (1,2%), bahan bangunan dan perlengkapan taman (0,9%), serta pakaian (0,9%). Artinya, masyarakat AS masih kuat banget belanjanya!
Kenaikan juga tercatat di sektor restoran dan bar sebesar 0,6%, toko makanan dan minuman (0,5%), produk kesehatan dan perawatan pribadi (0,5%), toko barang umum (0,5%), retailer daring (0,4%), serta perlengkapan olahraga, hobi, alat musik, dan buku (0,2%). Meskipun penjualan di SPBU stagnan dan penjualan furnitur serta elektronik mengalami penurunan tipis 0,1%, secara keseluruhan, konsumsi tetap jadi motor penggerak ekonomi AS. Bahkan, kalau dilihat dari penjualan ritel inti yang nggak mencakup restoran, dealer mobil, toko bahan bangunan, dan SPBU—kategori yang dipakai untuk menghitung pertumbuhan ekonomi AS (GDP)—angka penjualan naik 0,5%. Ini melampaui proyeksi 0,3% dan lebih tinggi dari revisi sebelumnya yang sebesar 0,2%.
Sementara itu, klaim tunjangan pengangguran awal (initial jobless claims) di AS hanya bertambah 221.000 untuk periode pekan kedua Juli 2025. Penambahan ini lebih baik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan naik jadi 235.000. Level tersebut setara dengan posisi terendah sejak April 2025, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih solid, meskipun ada perlambatan dalam laju perekrutan sejak awal tahun. Klaim lanjutan (outstanding claims) tercatat stabil di angka 1,956 juta, di bawah perkiraan 1,970 juta, dan tetap di bawah level tertinggi tahun 2021 yang sempat disentuh bulan Juni lalu.
Ada catatan khusus nih, pada klaim pengangguran yang diajukan oleh pegawai pemerintah federal. Klaim dari kategori ini naik 158 menjadi 596, tertinggi dalam tujuh minggu terakhir. Ini terkait dengan pemutusan hubungan kerja di Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency/DOGE) yang lagi jadi sorotan. Tapi secara keseluruhan, data terbaru ini memperkuat pandangan Federal Reserve bahwa pasar tenaga kerja AS masih dalam kondisi kuat, sementara konsumsi masyarakat tetap tumbuh stabil di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan moneter. Hasil yang baik dari konsumsi dan pasar tenaga kerja ini sekilas mungkin terasa positif. Namun, ini juga memberikan gambaran lebih jauh soal prospek pemangkasan suku bunga The Fed yang tampaknya semakin pudar, mengingat inflasi AS periode Juni juga memanas lagi. Jadi, kabar baik ini bisa jadi kabar buruk buat harapan penurunan suku bunga.
Dolar AS Makin Perkasa: Ancaman untuk Rupiah?¶
Masih dari negeri Paman Sam, the Greenback alias dolar AS terpantau mulai naik dan hampir mendekati level 100 lagi. Ini patut banget diantisipasi, apalagi buat emerging market seperti Indonesia. Kenapa? Karena penguatan dolar bisa menghambat stabilitas nilai tukar rupiah kita! Indeks dolar ditutup di posisi 98,79 pada perdagangan kemarin, ini adalah level terkuatnya sejak 11 Juni 2025.
Indeks Dolar AS (DXY) adalah ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, yaitu euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Nah, kalau nilai DXY ini semakin menguat dan mendekati atau bahkan melampaui level 100, ini biasanya berdampak negatif banget bagi negara-negara emerging market kayak kita. Penguatan dolar menandai kalau investor global lagi memburu dolar AS, biasanya dengan menjual instrumen non-denominasi dolar, seperti rupiah.
Dampak penguatan dolar itu bermacam-macam. Pertama, mata uang negara berkembang cenderung melemah. Ini bikin beban utang luar negeri yang berdenominasi dolar jadi membengkak, karena kita harus bayar lebih banyak rupiah untuk melunasi utang dolar. Kedua, ini bisa memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi mereka. Investor cenderung beralih ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman dan lebih menarik, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Jadi, rupiah bisa loyo dan IHSG bisa kehilangan dana asing. Ini yang bikin kita perlu waspada banget!
Pesta IPO Selesai, IHSG di Level Krusial!¶
Sekarang kita bahas pasar saham Indonesia secara spesifik, yaitu IHSG. Posisi IHSG secara teknikal saat ini patut diantisipasi karena berada di level resistance. Apa itu resistance? Gampangnya, itu level yang membatasi harga untuk naik lebih jauh, ibarat kayak atap. Kalau IHSG nggak mampu menembus resistance ini, masih rawan kontraksi atau koreksi ke level support terdekat di 7.075. Kebetulan, level ini bertepatan dengan garis MA200 daily, yang sering jadi penanda tren jangka menengah. Jadi, kalau jebol ke bawah, bisa jadi sinyal kurang bagus.
Salah satu sentimen yang bisa bikin IHSG koreksi adalah efek saham IPO PT Chandra Daya Kreasi Tbk (CDIA) dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang digembok. Ini seolah jadi pertanda bahwa pesta IPO alias Auto Reject Atas (ARA) beruntun sudah mau usai. Saham IPO selama beberapa hari terakhir memang jadi pemanis pasar, bikin banyak investor happy karena harganya naik terus. Tapi, dengan disuspensi, peluang saham masuk papan pemantauan khusus (FCA) meningkat, apalagi kalau hari ini sahamnya digembok lagi.
Tapi, jangan panik dulu. Apabila gembok ini dibuka, nggak menutup kemungkinan akan memicu aksi taking profit dulu dari para investor yang sudah cuan banyak. Meski begitu, jika masuk FCA pun, persentase kenaikan ARA hanya akan turun dari sebelumnya kisaran 25% atau 20% menjadi 10% saja. Bisa dibilang, ini akan mendinginkan pasar dari hype saham IPO yang terlalu panas. Praktik seperti ini juga sudah sering terjadi kok, jadi bukan hal yang aneh.
Namun, di balik tembok resistance dan sudah semakin dekatnya pesta IPO berakhir, ada yang menarik dari potensi IHSG membentuk pattern inverse head and shoulder. Ini potensi terbentuk, jika terjadi kontraksi ke level support terdekat dan memantul kencang, kemudian breakout ke atas dari resistance saat ini. Kalau pattern ini benar-benar terbentuk dan sukses breakout, itu bisa jadi sinyal bullish yang kuat banget buat IHSG ke depan.
Sementara itu, jika skenario terjadi penguatan kembali hari ini, maka peluang menuju resistance selanjutnya juga terbuka lebar, yaitu ke level 7.470. Hal ini juga didukung oleh aksi jual asing yang kian mereda. Kita bisa lihat dari data, tren net sell asing semakin menipis hari demi hari. Bahkan, kemarin asing sudah net buy di keseluruhan pasar saham senilai Rp636,31 miliar. Angka ini sedikit mengurangi net sell yang terjadi sepanjang pekan sebanyak Rp2,49 triliun. Ini menunjukkan investor asing mulai tertarik lagi masuk ke pasar kita, meskipun masih net sell secara mingguan.
Sebenarnya, penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir ini belum banyak didorong secara fundamental oleh emiten-emiten big caps perbankan, yang padahal dasarnya punya kontribusi lebih dari 30% terhadap indeks. Perlu diakui, kenaikan IHSG lebih banyak didorong saham-saham konglomerat, utamanya dari grup Prajogo Pangestu. Sebut saja, seperti saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang sempat Auto Reject Atas (ARA), alhasil mengakumulasi penguatan mingguan lebih dari 30%. Fantastis!
Nggak cuma itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang berhasil stock split pekan ini, juga mendukung pergerakan harga yang ciamik. Dalam sebulan, saham ini sudah terbang lebih dari 30% juga. Dan tak luput juga, kemarin saham teknologi related data center, DCII, berhasil ARA lagi mendorong indeks terbang ke atas 1%. Ini menunjukkan pasar lagi demen banget sama saham-saham yang punya story pertumbuhan tinggi atau lagi di hype.
Kesimpulannya, kenaikan IHSG berpotensi masih bisa lanjut, meskipun jangka pendek nggak menutup kemungkinan bisa terjadi taking profit atau koreksi wajar. Prospek kelanjutan tren naik IHSG harapannya bisa didorong kebangkitan sektor perbankan big caps, dan emiten big caps sektor lain yang belum terlalu diapresiasi. Apalagi valuasi mereka sudah murah dan sudah mendapatkan dukungan dari penurunan suku bunga. Jadi, masih ada harapan nih buat IHSG ke depan!
Agenda Pasar Hari Ini¶
Agar kita makin up-to-date, berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
| Kategori | Agenda |
|---|---|
| Eksternal | Inflasi Jepang untuk periode Juni 2025 |
| Pidato pejabat The Fed: Waller dan Cook | |
| Internal (Emiten) | Perdagangan terakhir right issue TOWR dan FILM |
| Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) INCO dan FAST | |
| Public Expose PBRX |
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Gimana nih menurut kalian, apakah IHSG memang bakal koreksi atau justru melanjutkan kenaikannya setelah ini? Yuk, diskusikan di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar