IHSG Loyo 3 Hari Terakhir? Ini Dia Biang Keroknya Kata Analis!
Jakarta, CNBC Indonesia - Aduh, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kok ya berat banget sih akhir-akhir ini? Selama pekan ini, indeks kebanggaan kita ini cuma bisa ngasih koreksi tipis aja. Lebih parah lagi, dalam tiga hari terakhir, IHSG selalu finish di zona merah, meskipun di awal sempat ngintip ke zona hijau.
Perdagangan hari ini juga gitu loh, sempat dibuka naik 0,5%, eh malah nyungsep lagi ke zona merah, mentok di posisi 6.861,93. Rasanya udah lama banget ya, sejak tanggal 19 Juni kemarin, IHSG belum bisa balik lagi ke level psikologis 7.000. Bikin deg-degan para investor nih!
Banyak yang bertanya-tanya, ada apa sih sebenarnya? Kenapa IHSG loyo terus? Menurut para analis pasar modal, ada beberapa faktor yang jadi biang keroknya nih. IHSG sekarang lagi stagnan atau bergerak sideways karena dihantam tekanan jual dari investor asing. Ditambah lagi, suasana global dan domestik juga lagi enggak pasti. Belum ada juga sentimen positif dari kinerja fundamental emiten yang bisa dongkrak pasar. Makanya, investor sekarang ini lagi cenderung wait and see, nunggu kepastian dulu sebelum berani ambil langkah besar.
Kenapa Sih IHSG Loyo Terus? Kata Para Pakar¶
Memang ya, kondisi pasar saham itu dipengaruhi banyak banget hal, baik dari dalam maupun luar negeri. Nah, para analis punya pandangan masing-masing soal ademnya IHSG belakangan ini. Kita kupas satu per satu yuk apa kata mereka!
Tekanan dari Investor Asing¶
Salah satu faktor utama yang disebut-sebut adalah tekanan jual dari investor asing. Ini bukan hoax ya, datanya memang menunjukkan investor asing lagi banyak yang net sell alias jualan saham di pasar kita. Kenapa sih mereka pada cuan harvesting atau malah kabur?
Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, bilang kalau asing memang lagi net sell terus nih dari pasar kita. Ini ada hubungannya sama kekhawatiran global yang masih membayangi. Misalnya, soal arah kebijakan moneter bank sentral global, terutama The Fed di Amerika Serikat, yang masih galau mau naikin suku bunga lagi atau enggak. Ketidakpastian ini bikin investor asing cari aman, narik dananya dari emerging market seperti Indonesia. Selain itu, ada juga isu tarif antara AS dan Indonesia yang kabarnya belum jelas, ini juga menambah daftar kekhawatiran mereka.
Menurut Ekky, investor asing itu enggak bisa sembarangan masukin duitnya ke pasar Indonesia. Soalnya, pasar kita ini dianggap kecil kalau dibandingin sama pasar negara maju. Jadi, mereka cuma masuk ke saham-saham tertentu yang likuid dan punya fundamental kuat, biasanya sih saham-saham big caps, terutama perbankan. Nah, problemnya, kinerja emiten perbankan yang biasanya jadi pilihan utama investor asing ini lagi ngalamin perlambatan. Kalau saham andalan mereka aja loyo, ya wajar aja kalau mereka belum balik lagi invest besar-besaran di sini.
Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, sependapat soal kinerja emiten yang biasa aja. Dia bilang, rilis laporan keuangan kuartal II-2025 yang masih on-going ini diperkirakan hasilnya secara umum masih stagnan. Jadi, dorongan positif dari fundamental perusahaan buat ngangkat pasar itu masih minim banget. Ibaratnya, mesin pendorongnya kurang bertenaga.
Ketidakpastian Global dan Domestik¶
Selain aksi jual asing, ketidakpastian global dan domestik juga jadi PR besar. Secara global, kita tahu kan kondisi ekonomi dunia masih gak pasti. Ada ancaman resesi di beberapa negara, inflasi yang masih tinggi di sana-sini, dan tensi geopolitik di berbagai belahan dunia. Hal-hal ini bikin investor global deg-degan dan cenderung risk-off alias hindari aset berisiko tinggi, termasuk saham di negara berkembang kayak Indonesia.
Dari sisi domestik, meskipun transisi pemerintahan sudah berjalan, masih ada tanda tanya soal kebijakan ekonomi ke depan. Investor tentu menunggu kejelasan dan dampak real dari kebijakan-kebijakan baru ini terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rudiyanto bilang, meskipun pemerintah sudah ngeluarin beberapa revisi kebijakan buat narik minat investor, tapi masih butuh waktu buat ngelihat realisasinya di lapangan. Investor itu gak cuma denger janji, tapi ngelihat bukti nyata.
Yang menarik, Rudiyanto juga mention kalau secara umum, Indonesia ini masih dipandang asing sebagai negara berbasis komoditas. Jadi, kalau harga komoditas global kayak batu bara, sawit, nikel, atau minyak lagi stagnan atau bahkan turun, story Indonesia jadi kurang menarik di mata investor asing. Belum ada story baru yang menggugah selain dari sektor komoditas yang lagi lesu ini. Padahal, Indonesia kan punya potensi di sektor lain juga, misalnya digital atau manufaktur, tapi mungkin belum jadi highlight utama di mata investor global.
Sentimen Fundamental Masih Adem Ayem¶
Seperti yang udah disebutin Rudiyanto, rilis laporan keuangan kuartal II 2025 belum bisa jadi obat buat IHSG. Kenapa ya kira-kira kinerja emiten secara umum masih stagnan? Mungkin ini ada kaitannya sama daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, biaya produksi yang mungkin masih tinggi, atau persaingan bisnis yang makin ketat. Sektor-sektor tertentu mungkin masih struggle, sementara yang lain tumbuh, tapi secara agregat gak cukup kuat buat mengangkat indeks secara keseluruhan.
Investor itu kan ngarepnya ada surprise positif dari laporan keuangan. Misalnya, laba perusahaan tumbuh signifikan di atas ekspektasi, atau margin keuntungan melebar. Kalau hasilnya sesuai ekspektasi aja, atau bahkan di bawah, ya gak ada gregetnya buat investor buat buru-buru beli saham. Mereka jadi males-malesan dan milih nunggu aja.
Kalau kinerja emiten perbankan, yang punya porsi besar di IHSG, melambat, ini otomatis banget narik indeks ke bawah. Investor asing yang notabene pegang saham perbankan gede-gedean jadi pusing juga. Mereka mungkin ngurangin porsi investasinya di saham perbankan atau wait and see dulu sambil mikirin potensi pertumbuhan kredit dan laba di kuartal berikutnya.
Pasar Lagi ‘Wait and See’¶
Semua faktor di atas muaranya ke satu sikap umum di pasar: wait and see. Investor, baik asing maupun lokal, lagi nunggu sinyal yang jelas. Mereka gak mau terburu-buru masuk pasar kalau risikonya masih tinggi dan potensinya gak terlalu kelihatan.
Pergerakan IHSG yang sideways antara 6.820 sampai 6.980, seperti yang disebutin Ekky, adalah ciri khas pasar yang lagi bingung dan nunggu arah. Investor gak yakin apakah pasar akan naik kuat (tren bullish) atau turun dalam (tren bearish). Jadi, mereka cuma main di rentang sempit itu. Ada yang trading jangka pendek di rentang itu, ada juga yang bener-bener diam gak ngapa-ngapain.
Kondisi ini bikin volume perdagangan juga cenderung sepi. Kalau volume sepi, pergerakan harga saham jadi gak terlalu dinamis. Investor yang pengen masuk pasar dalam jumlah besar jadi mikul dua kali, takut gak bisa keluar lagi kalau kondisinya gak membaik.
Gimana Dengan Investor Lokal?¶
Enggak cuma investor asing yang adem ayem, investor domestik pun kondisinya gak jauh beda. Menurut Ekky, investor lokal juga belum melakukan aksi beli besar-besaran lagi. Ada beberapa alasan nih kenapa investor domestik masih nahan diri:
Likuiditas Kering Karena Banyak IPO¶
Salah satu alasan utamanya adalah likuiditas di pasar lagi kering. Ini disebabkan salah satunya karena banyak duit investor yang lagi nyangkut atau dialokasikan buat ikut book building perusahaan yang mau Initial Public Offering (IPO).
Bayangin aja, kalau ada beberapa perusahaan gede atau yang lagi hype ngadain IPO dalam waktu berdekatan, duit investor yang biasanya diputer di pasar sekunder (tempat kita beli saham harian di bursa) jadi dialihkan sementara buat pesen saham IPO. Proses book building ini kan ngunci dana investor sampai penetapan harga dan penjualan perdana sahamnya. Kalau banyak yang ikut, duit yang tersedia buat beli saham di pasar reguler jadi berkurang.
Ekky negesin kalau karena lagi banyak emiten yang mau IPO saat ini, market beberapa hari ini cenderung sepi. Ini efek langsung dari duit yang lagi numpuk di antrean IPO. Setelah IPO selesai dan sahamnya listing, baru deh duit investor bisa balik lagi ke pasar sekunder, atau malah mereka jualin saham IPO nya kalau untung. Tapi selama proses IPO berlangsung, likuiditas memang kering.
Selain IPO, faktor likuiditas kering juga bisa dipengaruhi oleh tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia. Suku bunga yang tinggi bikin instrumen investasi lain seperti deposito atau surat utang pemerintah jadi lebih menarik. Investor mungkin milih naruh duitnya di sana dulu yang dianggap lebih aman dan pasti untungnya, dibanding main saham yang lagi gak jelas arahnya.
Ada juga investor lokal yang memang lagi nunggu momentum. Mungkin mereka lagi amati situasi, nunggu ada sinyal positif yang kuat, entah dari global, domestik, atau dari kinerja emiten. Mereka gak mau langsung masuk kalau masih ada awan gelap di atas pasar.
Jadi, Kapan IHSG Bisa Bangkit dari Keloyoan?¶
Nah, ini pertanyaan yang sulit dijawab pasti. Pasar saham itu dinamis banget. Tapi, kita bisa melihat potensi katalis apa aja yang bisa bikin IHSG kembali bergairah.
Pertama, tentu saja kejelasan dari faktor-faktor yang tadi disebutin. Kalau ketidakpastian global mulai mereda, misalnya arah suku bunga global udah lebih pasti, atau ketegangan geopolitik menurun, investor asing bisa kembali masuk ke pasar emerging. Kejelasan soal tarif AS-Indonesia juga penting.
Kedua, dari sisi domestik, sinyal positif dari kebijakan pemerintah baru bisa jadi pemicu. Kalau investor melihat kebijakan ekonomi yang pro-pertumbuhan, stabil, dan menarik investasi, mereka akan lebih percaya diri buat invest jangka panjang di Indonesia. Rudiyanto bilang, masih butuh waktu buat membuktikan dampak kebijakan tersebut.
Ketiga, kinerja emiten yang membaik. Kalau perusahaan-perusahaan terutama yang punya bobot besar di IHSG bisa kasih laporan keuangan yang bagus di kuartal berikutnya, ini akan jadi sentimen fundamental yang kuat. Mungkin setelah Q2 lewat, di Q3 atau Q4 kita bisa lihat perbaikan kinerja seiring dengan musim belanja akhir tahun atau pulihnya aktivitas ekonomi.
Keempat, kondisi likuiditas domestik. Kalau gelombang IPO mulai mereda atau dana hasil IPO kembali masuk ke pasar sekunder, atau kalau ada penurunan suku bunga acuan, likuiditas akan kembali longgar. Ini bisa mendorong investor lokal buat lebih aktif lagi beli saham.
Sementara menunggu katalis tersebut, investor bisa memanfaatkan kondisi sideways ini. Ada yang milih trading di rentang sempit (beli di dekat support dan jual di dekat resistance), ada yang milih akumulasi bertahap di saham-saham unggulan yang lagi turun harga (value investing), atau ada juga yang milih diam dulu dan parkir dana di instrumen lain yang lebih aman.
Kondisi pasar yang loyo memang bikin gemes, tapi ini juga bisa jadi kesempatan buat investor yang jeli buat mencari saham-saham berkualitas yang mungkin lagi diskonto. Yang penting, jangan panik dan tetap ambil keputusan investasi berdasarkan analisis, bukan ikut-ikutan emosi pasar.
Gimana Menurut Kalian?¶
Nah, itu dia kira-kira biang kerok di balik loyonya IHSG dalam beberapa hari terakhir menurut para analis. Faktor global, domestik, fundamental emiten, sampai likuiditas domestik gara-gara IPO campur aduk bikin pasar lesu.
Menurut kalian, faktor mana sih yang paling berpengaruh? Atau ada faktor lain yang terlewat? Yuk, share pandangan kalian di kolom komentar di bawah! Kira-kira sampai kapan IHSG akan begini terus? Kapan nih kita bisa lihat IHSG kembali ke 7.000 bahkan menuju level yang lebih tinggi? Bagaimana strategi investasi kalian di tengah kondisi pasar yang sideways ini? Yuk, diskusi bareng!
Posting Komentar