Geger! Bitcoin Rp140 Triliun Pindah Tangan: Hack, Kongkalikong, atau...?

Table of Contents

Sebuah pergerakan Bitcoin dalam jumlah yang bikin mata terbelalak baru saja terjadi. Bayangkan saja, Bitcoin senilai sekitar US$8,6 miliar, atau kalau dirupiahkan, tembus angka Rp140 triliun! Bitcoin sebanyak ini, sekitar 80.009 keping BTC, berpindah tangan setelah diam saja di delapan wallet selama lebih dari 14 tahun. Transaksi jumbo yang terjadi pada 4 Juli kemarin ini langsung memicu kehebohan dan spekulasi liar di kalangan komunitas kripto.

Geger! Bitcoin Rp140 Triliun Pindah Tangan: Hack, Kongkalikong, atau...?

Pergerakan dana sebesar ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini sinyal buruk untuk pasar Bitcoin? Mungkinkah ada kaitannya dengan penyelesaian kasus hukum atau kesepakatan dengan pemerintah? Atau jangan-jangan, ini adalah indikasi dari aksi peretasan (hack) super besar yang berhasil membobol wallet tua?

Arkham Bilang, Ini Cuma ‘Upgrade’ Wallet Biasa

Di tengah keriuhan spekulasi, Arkham Intelligence, sebuah perusahaan yang jago menganalisis data di blockchain, datang dengan penjelasan yang lebih kalem. Menurut mereka, pergerakan coin dalam jumlah masif itu kemungkinan besar hanyalah sebuah proses teknis belaka, yaitu upgrade wallet. Arkham yakin, ini bukan aksi jual besar-besaran atau likuidasi yang bisa mengguncang harga pasar Bitcoin.

Arkham menjelaskan bahwa aset Bitcoin tersebut hanya dipindahkan dari alamat legacy yang berawalan ‘1’ ke alamat SegWit yang lebih modern dan berawalan ‘bc1q-‘. Migrasi semacam ini adalah hal yang wajar dalam dunia kripto. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi saat melakukan transaksi dan juga bisa memangkas biaya jaringan atau fee yang harus dibayar.

Arkham menambahkan bahwa coin-coin ini pertama kali masuk ke wallet tersebut antara April dan Mei 2011. Pada masa itu, harga Bitcoin masih sangat, sangat murah, diperdagangkan di bawah US$1 per kepingnya. Jadi bisa dibayangkan betapa fantastisnya nilai coin-coin ini sekarang setelah lebih dari satu dekade harga Bitcoin melambung tinggi.

Setelah sekian lama tidak disentuh, distribusi dana ke delapan wallet baru ini, menurut Arkham, lebih seperti penyelarasan teknis. Mereka menekankan bahwa langkah ini tidak menunjukkan adanya niat untuk segera menjual aset-aset tersebut. Analisa mereka semakin kuat melihat reaksi pasar. Harga Bitcoin ternyata tetap stabil setelah transaksi jumbo itu tereksekusi, menandakan tidak ada tekanan jual yang berarti.

Seluk Beluk Alamat Bitcoin: Dari Legacy ke SegWit

Untuk lebih memahami penjelasan Arkham, ada baiknya kita kenalan sedikit dengan jenis-jenis alamat Bitcoin. Saat awal kemunculannya, alamat Bitcoin menggunakan format yang sekarang disebut legacy atau P2PKH (Pay to Public Key Hash). Alamat ini biasanya dimulai dengan angka ‘1’. Alamat jenis ini sudah teruji dan masih banyak digunakan, tapi punya keterbatasan dalam hal efisiensi data transaksi di dalam blok blockchain.

Kemudian muncul jenis alamat lain seperti P2SH (Pay to Script Hash) yang dimulai dengan angka ‘3’. Alamat ini memungkinkan fitur yang lebih kompleks seperti multisig (membutuhkan beberapa tanda tangan untuk bertransaksi). Namun, inovasi terbesar untuk efisiensi adalah SegWit (Segregated Witness).

SegWit diperkenalkan untuk memisahkan data tanda tangan transaksi (witness) dari data transaksi itu sendiri. Ini memungkinkan lebih banyak transaksi masuk ke dalam satu blok blockchain, sehingga meningkatkan kapasitas jaringan dan menurunkan biaya transaksi. Alamat SegWit modern yang disebut Bech32 biasanya dimulai dengan ‘bc1’.

Memindahkan coin dari alamat legacy ke alamat SegWit adalah praktik umum yang dilakukan oleh para pemilik coin lama atau whale (pemilik Bitcoin dalam jumlah besar). Ini dilakukan untuk mempersiapkan coin mereka agar bisa ditransaksikan lebih efisien di masa mendatang, entah itu untuk disimpan lebih lanjut atau suatu saat nanti memang akan dijual. Jadi, sudut pandang Arkham bahwa ini hanya ‘upgrade’ teknis cukup masuk akal dari sisi operasional blockchain.

Teori Lain yang Bikin Penasaran: Pemerintah Sampai Hack?

Meskipun penjelasan Arkham terdengar paling rasional dari sudut pandang teknis, beberapa tokoh di industri kripto justru melempar teori yang lebih ‘panas’. Mereka bertanya-tanya, kok bisa coin sebanyak ini bergerak setelah belasan tahun? Pasti ada sesuatu yang besar di baliknya!

Salah satunya adalah Cathie Wood, CEO dari Ark Invest, sebuah perusahaan investasi besar yang sangat bullish terhadap Bitcoin. Cathie Wood secara terbuka mempertanyakan motif sebenarnya di balik transaksi ini. Dia menduga, pergerakan coin jumbo ini mungkin saja berkaitan dengan kesepakatan penyelesaian pemerintah.

Ia melihat fakta bahwa pasar Bitcoin bisa kembali stabil dengan cepat setelah transaksi itu terjadi sebagai indikasi. Menurutnya, stabilitas ini bisa menjadi sinyal bahwa pemindahan aset ini dilakukan oleh pihak institusional atau bahkan pemerintah. Jika aset ini menjadi bagian dari perbendaharaan pemerintah, misalnya hasil penyitaan dari kasus kejahatan, maka pergerakannya mungkin tidak akan langsung berujung pada penjualan di pasar terbuka, sehingga tidak menekan harga.

“Pasar Bitcoin stabil relatif cepat, jadi mungkinkah blok ini merupakan bagian dari kesepakatan penyelesaian pemerintah? Apakah kini sudah menjadi bagian dari Treasury pemerintah?” tulis Cathie Wood di akun media sosialnya, menyuarakan kebingungan sekaligus teorinya. Pertanyaan ini membuka kemungkinan bahwa pemilik asli coin tersebut mungkin sedang dalam proses berurusan dengan pihak berwenang atau telah mencapai kesepakatan tertentu yang melibatkan penyerahan atau pemindahan aset digital mereka.

Di sisi lain, Conor Grogan, seorang eksekutif di Coinbase, salah satu exchange kripto terbesar, melontarkan teori yang lebih dramatis: ini bisa jadi indikasi peretasan atau hack. Teori ini tentu saja lebih mengerikan, karena melibatkan potensi kerugian dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Grogan melakukan pengamatan terhadap salah satu wallet yang terlibat dalam transfer Bitcoin besar tersebut. Dia menemukan bahwa sekitar 14 jam sebelum pergerakan Bitcoin jumbo itu terjadi, ada transaksi kecil yang dikirim dari wallet yang sama, namun dalam bentuk Bitcoin Cash (BCH). BCH adalah pecahan dari Bitcoin yang lahir dari fork atau perpecahan blockchain Bitcoin di masa lalu.

Menurut Grogan, transaksi kecil berupa BCH ini bisa menjadi tanda uji coba kunci privat secara diam-diam. Jika seseorang berhasil mendapatkan kunci privat dari sebuah wallet Bitcoin lama, kunci tersebut juga berlaku untuk coin lain yang berasal dari fork Bitcoin sebelum fork tersebut terjadi, seperti BCH atau BSV. Menguji kunci privat dengan mengirim sedikit BCH dari wallet tersebut adalah cara yang lebih low-profile dan sulit dideteksi oleh layanan pemantau whale yang biasanya lebih fokus pada Bitcoin.

“Ada kemungkinan pemiliknya sedang menguji kunci privat dengan cara yang tidak mudah terdeteksi, karena BCH jarang dipantau oleh layanan pemantau whale. Alasan saya berpendapat demikian, wallet BCH lain sama sekali belum disentuh; jika memang ingin, mengapa tidak sekaligus menyapu semua wallet itu?” tulis Grogan, menjelaskan logikanya. Dia menduga, jika sang hacker berhasil mengirim BCH, itu membuktikan kunci privat yang mereka peroleh valid, dan setelah itu mereka bisa dengan percaya diri memindahkan aset utamanya: Bitcoin senilai US$8,6 miliar.

Kendati demikian, Grogan buru-buru menegaskan bahwa analisanya ini masih murni spekulatif. Dia tidak punya bukti pasti bahwa ini adalah hack. Namun, dia menambahkan, jika teorinya ini terbukti benar, maka peristiwa ini akan tercatat sebagai pencurian terbesar dalam sejarah kripto, jauh melampaui insiden peretasan besar lainnya yang pernah terjadi.

Dikaitkan dengan Sosok Kontroversial Roger Ver?

Makin seru lagi, ada juga teori yang mengaitkan wallet-wallet tua ini dengan sosok yang cukup kontroversial di dunia kripto, yaitu Roger Ver. Roger Ver dikenal sebagai salah satu investor awal Bitcoin dan pendukung vokal Bitcoin Cash.

Firma riset kripto 10x Research mengisyaratkan kemungkinan koneksi ini. Mereka menyebut bahwa beberapa pengamat berspekulasi bahwa waktu transaksi besar ini sangat selaras dengan periode awal keterlibatan Roger Ver di ekosistem Bitcoin. Roger Ver diketahui sudah aktif dan berinvestasi di Bitcoin sejak awal 2011.

Selain itu, mereka juga menunjuk fakta bahwa Roger Ver baru saja dibebaskan dari penahanan sebagai petunjuk lain yang mungkin relevan. Roger Ver sempat ditahan di Spanyol atas permintaan Amerika Serikat terkait tuduhan penggelapan pajak yang berkaitan dengan aset kriptonya.

“Ia dibebaskan dengan jaminan dari penjara Spanyol pada 5 Juni, sementara Bitcoin itu terakhir berpindah pada Mei 2011, periode ketika Roger mulai terjun ke Bitcoin pada Februari 2011. Dia pasti memiliki Bitcoin senilai miliaran dolar,” ujar 10x Research, menyoroti kebetulan waktu tersebut. Meskipun belum ada bukti langsung yang menghubungkan wallet-wallet ini secara definitif dengan Roger Ver, timing pergerakan coin yang berdekatan dengan pembebasannya dari tahanan ini cukup menimbulkan tanda tanya dan memicu perdebatan sengit di komunitas kripto. Apakah ini hanya kebetulan semata, atau memang ada kaitannya dengan upayanya mengakses kembali aset-aset lamanya?

Misteri yang Masih Menggantung

Sampai saat ini, alasan sejati di balik pergerakan Bitcoin senilai US$8,6 miliar ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Apakah ini hanya upgrade wallet biasa seperti kata Arkham? Apakah ini bagian dari kesepakatan dengan pemerintah seperti dugaan Cathie Wood? Apakah ini justru hasil dari peretasan besar seperti kekhawatiran Conor Grogan? Atau mungkinkah ini memang aset milik investor awal seperti Roger Ver yang akhirnya bisa diakses kembali?

Satu hal yang pasti, “kebangkitan” aset Bitcoin yang sudah ‘mati suri’ selama 14 tahun ini berhasil menyalakan kembali perbincangan hangat di seluruh industri kripto. Ini mengingatkan kita betapa transparannya blockchain, namun di saat yang sama, identitas di balik alamat-alamat wallet tetap bisa menjadi rahasia, memicu spekulasi tanpa akhir.

Siapakah sebenarnya pemilik Bitcoin senilai triliunan rupiah ini? Dan apa rencana mereka selanjutnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

Menurut kalian, teori mana yang paling mungkin terjadi? Upgrade wallet, kesepakatan pemerintah, hack, atau ada hubungannya dengan tokoh tertentu seperti Roger Ver? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Posting Komentar