Waspada! BPOM Temukan 9 Obat Herbal Berisiko Stroke & Jantung, Cek Daftarnya!

Table of Contents

Jakarta – Kabar penting nih buat kita semua! Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini ngasih peringatan keras soal peredaran obat tradisional dan suplemen kesehatan yang ternyata dicampur sama Bahan Kimia Obat (BKO) berbahaya. Bayangin aja, katanya sih alami dan aman, eh malah ada kandungan yang bikin deg-degan sampai risiko stroke atau serangan jantung!

Sepanjang bulan Mei 2025 kemarin, tim BPOM kerja keras ngecek total 683 produk, mulai dari obat bahan alam (OBA), obat kuasi, sampai suplemen kesehatan yang beredar di berbagai penjuru Indonesia. Hasilnya cukup bikin kaget, nih. Dari ratusan produk yang dites, ada 9 produk OBA yang positif mengandung BKO. Parahnya lagi, produk-produk ini banyak yang enggak punya izin edar resmi dari BPOM, atau kalaupun ada nomor izin, itu palsu!

“Temuan kami menunjukkan 9 produk ini mengandung BKO. Ini sangat berbahaya jika dikonsumsi masyarakat,” ujar Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam keterangan resminya, hari Kamis (20/6/2025). Beliau menambahkan, penemuan ini bukan cuma pelanggaran administratif, tapi benar-benar mengancam keselamatan jiwa konsumen di Indonesia. Produk-produk seperti ini seringkali jadi incaran karena klaimnya yang bombastis tapi ternyata dibikin curang.

Waspada Obat Herbal Berbahaya BPOM

Klaim Manis, Isinya Jerat Maut

Produk-produk yang ditemukan ini seringkali tampil meyakinkan. Ada yang pakai logo jamu atau gambar-gambar etnik biar kelihatan tradisional banget. Klaimnya juga macem-macem, mulai dari yang paling populer yaitu peningkat stamina pria, ada juga yang buat pelangsing badan, penggemuk badan, sampai yang diklaim bisa nyembuhin penyakit kronis. Siapa sih yang enggak tertarik sama solusi instan buat masalah kesehatan atau penampilan?

Tapi di balik klaim-klaim menggiurkan itu, produk ini ternyata nyelipin senyawa-senyawa kimia yang seharusnya cuma boleh dipakai di bawah pengawasan ketat dokter dan dengan resep. Senyawa ini biasa ada di obat-obatan medis dan punya efek samping serius kalau enggak sesuai dosis atau kondisi penggunanya. Ini yang bikin bahaya banget.

“Penggunaan BKO dalam produk OBA merupakan pelanggaran serius dan bisa merusak citra OBA asli Indonesia yang seharusnya aman, alami, dan berbasis kearifan lokal,” tegas Pak Taruna. Beliau menyoroti bagaimana oknum tak bertanggung jawab ini enggak cuma nyelipin bahan berbahaya, tapi juga mencoreng nama baik produk herbal asli Indonesia yang sebenarnya punya banyak manfaat dan udah dipakai turun-temurun. Kepercayaan masyarakat terhadap jamu dan obat tradisional jadi ikut terkikis gara-gara ulah segelintir pihak ini.

Bahan Kimia Obat Berbahaya yang Ditemukan

BPOM merinci beberapa jenis BKO yang mereka temukan dalam 9 produk OBA yang berbahaya ini. Ini penting banget buat kita tahu biar bisa lebih waspada:

  • Sildenafil, Tadalafil, Vardenafil: Ketiganya ini umumnya dipakai buat mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Nah, kalau dicampur sembarangan ke dalam produk stamina pria tanpa takaran jelas, risikonya serem banget. Bisa memicu penurunan tekanan darah drastis yang berujung stroke, gangguan penglihatan permanen, bahkan yang paling fatal adalah kematian mendadak, terutama buat yang punya riwayat penyakit jantung.
  • Asam Mefenamat, Natrium Diklofenak: Ini adalah jenis obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) yang biasa dipakai buat meredakan nyeri atau peradangan. Kalau ada di obat herbal, apalagi dosisnya enggak jelas, bisa bikin gangguan lambung serius kayak pendarahan atau tukak lambung. Jangka panjang, obat ini juga bisa menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.
  • Sibutramin: Dulu ini pernah dipakai sebagai obat pelangsing, tapi sekarang udah ditarik izin edarnya di banyak negara termasuk Indonesia karena risikonya yang tinggi. Sibutramin bekerja di sistem saraf pusat buat menekan nafsu makan, tapi efek sampingnya bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke secara signifikan, terutama pada orang yang punya masalah jantung atau tekanan darah tinggi.
  • Deksametason, Siproheptadin: Deksametason adalah kortikosteroid kuat, biasanya buat anti-radang dan alergi. Siproheptadin adalah antihistamin yang kadang dipakai juga buat nambah nafsu makan. Kalau dicampur ke obat penggemuk badan atau jamu pegal-pegal, efeknya memang kelihatan instan (badan jadi gemukan karena retensi cairan dan nafsu makan nambah, atau pegal-pegal hilang karena radangnya ditekan kuat). Tapi bahayanya luar biasa! Penggunaan kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan bisa menyebabkan gangguan hormon (seperti sindrom Cushing), penipisan tulang (osteoporosis), penurunan imunitas tubuh sehingga gampang sakit, gangguan gula darah, sampai kerusakan organ lainnya.

Jadi, bisa dibayangkan kan, kalau produk-produk ini dikonsumsi orang sembarangan tanpa tahu isinya? Apalagi kalau yang mengonsumsi punya kondisi kesehatan tertentu, risikonya jadi berlipat ganda. Obat yang seharusnya menyembuhkan malah jadi racun.

BPOM Bertindak Tegas: Pelaku Terancam Penjara Berat

Melihat temuan yang mengancam jiwa ini, BPOM enggak main-main. Pak Taruna menegaskan bahwa BPOM enggak akan kasih ampun buat pelaku usaha yang sengaja mencampurkan BKO ke dalam produk obat tradisional atau suplemen kesehatan. Tindakan seperti ini bukan cuma masalah etika bisnis yang buruk, tapi udah masuk kategori kejahatan serius.

Pelaku yang nekat mencampur BKO ke dalam produk obat bahan alam melanggar Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. Ancaman hukumannya enggak main-main, bisa dipidana penjara sampai 12 tahun atau denda maksimal Rp 5 miliar. Ini menunjukkan betapa seriusnya negara memandang kejahatan di bidang obat dan makanan, terutama yang sampai mengancam nyawa masyarakat. BPOM berkomitmen untuk terus mengusut tuntas kasus-kasus seperti ini sampai ke ranah hukum, biar ada efek jera dan enggak ada lagi korban.

“Ini bukan hanya masalah administratif. Ini soal nyawa konsumen,” tegas beliau lagi. Pernyataan ini mencerminkan prioritas utama BPOM, yaitu melindungi masyarakat dari produk-produk yang enggak aman dan berbahaya. Proses penegakan hukum ini penting banget buat ngirim pesan kuat ke industri, bahwa kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah segalanya, enggak bisa dikorbanin demi keuntungan sesaat.

Kerja Sama Internasional: Ancaman dari Luar Negeri

Masalah obat herbal berbahaya ini ternyata enggak cuma ada di Indonesia, lho. BPOM juga dapat laporan dari negara tetangga, Singapura dan Thailand, yang sama-sama tergabung dalam jaringan ASEAN Post Marketing Alert System (PMAS). Jaringan ini berfungsi buat saling ngasih informasi kalau ada temuan produk yang berbahaya di negara masing-masing, biar negara lain bisa ikut waspada dan ngecek peredaran produk tersebut.

Dari laporan ASEAN PMAS ini, BPOM dapat info soal 4 produk OBA dari luar negeri yang juga terdeteksi mengandung BKO. Beberapa produk ini mengklaim sebagai peningkat stamina pria, mirip dengan temuan di dalam negeri. Ada juga satu produk yang diklaim buat penurun gula darah, tapi ternyata mengandung BKO Metformin (obat gula darah) dengan dosis yang enggak jelas atau dicampur dengan bahan lain.

Meskipun 4 produk asing ini mungkin belum terdaftar resmi di Indonesia, BPOM tetap enggak tinggal diam. Mereka langsung gerak cepat melakukan langkah pengawasan, terutama di platform-platform penjualan daring atau online. Soalnya, produk dari luar negeri gini sering banget masuknya lewat jalur online atau jastip (jasa titip) yang kadang luput dari pengawasan konvensional. Langkah antisipasi ini penting biar produk berbahaya itu enggak keburu nyebar luas di masyarakat Indonesia.

Masyarakat Wajib Super Waspada!

Melihat kondisi ini, peran serta masyarakat jadi krusial banget. BPOM mengimbau kita semua buat enggak gampang tergiur atau percaya gitu aja sama produk-produk yang nawarin hasil instan, apalagi yang iklannya lebay atau dijual dengan cara-cara yang mencurigakan (misalnya cuma lewat online shop yang enggak jelas, bukan di apotek atau toko obat resmi).

Ada cara gampang yang selalu digembar-gemborkan BPOM buat ngecek keamanan produk obat, obat tradisional, dan suplemen kesehatan sebelum dibeli atau dikonsumsi. Namanya Cek KLIK:

  1. Kemasannya: Perhatikan kemasannya. Apakah masih utuh, enggak rusak, atau kelihatan palsu? Kemasan yang baik biasanya punya kualitas cetak yang bagus dan tersegel rapi.
  2. Labelnya: Baca baik-baik labelnya. Apa informasi yang tertera jelas? Ada nama produk, produsen, komposisi, aturan pakai, nomor izin edar BPOM (kalau ada), tanggal produksi dan kedaluwarsa, serta peringatan-peringatan penting? Hati-hati kalau informasinya kurang lengkap atau kelihatan dicetak asal-asalan.
  3. Izin Edar: Ini paling penting! Cek nomor izin edar BPOM. Nomor izin edar obat tradisional biasanya diawali huruf TR (untuk dalam negeri), TI (untuk impor), atau POM XX (untuk produk lama). Kalau suplemen kesehatan diawali SD. Nah, nomor ini bisa kamu cek keasliannya langsung di website atau aplikasi Cek BPOM. Tinggal masukin nomornya, nanti ketahuan produk itu beneran terdaftar atau enggak. Kalau enggak terdaftar, mending jangan dibeli!
  4. Kedaluwarsa: Pastikan tanggal kedaluwarsa produk masih lama atau belum lewat. Jangan pernah mengonsumsi produk yang sudah kedaluwarsa, karena efektivitasnya sudah menurun dan bisa jadi malah berbahaya.

BPOM juga ngasih pesan, kalau kamu atau orang terdekat udah terlanjur mengonsumsi produk dari daftar temuan BPOM yang berbahaya, segera hentikan konsumsinya. Kalau muncul gejala-gejala yang aneh atau mencurigakan setelah minum produk itu, jangan tunda lagi, langsung deh hubungi tenaga kesehatan (dokter atau apoteker) buat minta saran dan penanganan.

Laporkan Jika Ada Pelanggaran!

BPOM enggak bisa kerja sendirian, lho. Pengawasan dan penegakan hukum ini butuh partisipasi aktif dari masyarakat dan juga pelaku usaha yang baik. Kalau kamu menemukan produk obat tradisional atau suplemen kesehatan yang dicurigai ilegal, mengandung BKO, atau punya klaim yang enggak masuk akal, jangan ragu buat lapor!

Kamu bisa melaporkan temuan atau kecurigaanmu melalui Contact Center HALOBPOM 1500533. Selain itu, ada juga kanal-kanal resmi BPOM lainnya yang bisa dipakai buat laporan, seperti media sosial resmi BPOM, atau datang langsung ke kantor BPOM terdekat. Setiap laporan dari masyarakat itu berharga banget buat membantu BPOM memberantas peredaran produk berbahaya.

Tabel: Contoh BKO Berbahaya yang Sering Ditemukan & Risikonya

Bahan Kimia Obat (BKO) Sering Ditemukan Pada Klaim Produk Apa? Risiko Kesehatan yang Mungkin Timbul
Sildenafil, Tadalafil Peningkat Stamina Pria Stroke, gangguan penglihatan, serangan jantung, kematian
Asam Mefenamat, Natrium Diklofenak Pereda Nyeri, Pegal-pegal Gangguan lambung (pendarahan/tukak), kerusakan hati & ginjal
Sibutramin Pelangsing Badan Peningkatan risiko serangan jantung & stroke
Deksametason, Siproheptadin Penggemuk Badan, Anti-radang, Pegal-pegal Gangguan hormon, penurunan imunitas, osteoporosis, gangguan gula darah
Metformin Penurun Gula Darah Hipoglikemia (gula darah terlalu rendah), asidosis laktat

Catatan: Tabel ini adalah ilustrasi berdasarkan jenis BKO yang sering ditemukan, bukan daftar lengkap 9 produk spesifik yang ditemukan BPOM dalam rilis ini (daftar spesifik produk biasanya dirilis terpisah oleh BPOM secara resmi).

Bayangin kalau informasi kayak gini dibikin dalam bentuk video pendek yang isinya simulasi orang yang salah minum produk berbahaya, atau infografis yang gampang dicerna soal Cek KLIK. Pasti bakal lebih efektif buat nyampein pesannya ke masyarakat luas, ya kan? Media pendukung seperti itu penting banget buat edukasi publik secara masif.

“Pengawasan ini adalah tanggung jawab bersama demi menjaga kesehatan masyarakat dan citra OBA Indonesia,” pungkas Pak Taruna. Kalimat penutup ini mengingatkan kita semua bahwa memerangi peredaran obat dan suplemen berbahaya ini bukan cuma tugas BPOM, tapi tugas kita semua sebagai warga negara yang peduli sama kesehatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jangan diam aja kalau lihat yang enggak beres!

Yuk, jadi konsumen cerdas dan bijak! Jangan mudah tergiur janji-janji instan yang ternyata membahayakan. Selalu Cek KLIK sebelum membeli, dan kalau ragu, lebih baik tanyakan ke tenaga kesehatan profesional. Kesehatan itu mahal, jangan sampai hilang gara-gara salah pilih produk.

Bagaimana pendapatmu tentang temuan BPOM ini? Atau mungkin kamu punya pengalaman soal produk yang mencurigakan? Yuk, sharing dan diskusi di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar