Waduh! OECD Pangkas Lagi Proyeksi Ekonomi RI, Ada Apa Nih?

Table of Contents

Grafik Ekonomi Menurun

Daily Market Performance 🚀

Yuk, kita intip dulu pergerakan pasar terkini!

Indikator Nilai Terbaru Perubahan
IHSG 7.113 +0,63%
Foreign Flow -Rp721 miliar
Kurs USD/IDR 16.290 -0,09%
Gold 3.416 +0,49%
Oil 65,1 +0,43%
Coal 105,0 +0,53%
CPO 3.904 -1,11%
Nickel 15.395 -0,28%

👋 Stockbitor!

Ada kabar terbaru nih dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Mereka kembali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam laporan outlook yang dirilis awal Juni 2025, OECD memproyeksikan ekonomi RI hanya tumbuh +4,7% YoY di tahun 2025 dan +4,8% YoY di tahun 2026. Angka ini masing-masing lebih rendah 0,2 percentage point dibanding perkiraan mereka sebelumnya di bulan Maret 2025. Ini bukan pertama kalinya lho, OECD juga sempat memangkas proyeksi untuk Indonesia di Maret lalu.

Gak cuma Indonesia, OECD juga kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Mereka sekarang memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh +2,9% YoY di tahun 2025 dan 2026. Angka ini juga turun -0,2 dan -0,1 percentage point dari perkiraan Maret 2025. Penurunan proyeksi global ini dipengaruhi oleh risiko perlambatan di beberapa negara maju seperti AS, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, meningkatnya hambatan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik juga jadi faktor penting yang bikin outlook global jadi kurang cerah.

Meski pertumbuhan ekonomi global melambat dan memberikan tekanan ke negara-negara berkembang, OECD bilang penurunan perkiraan untuk Indonesia terutama disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam negeri. Mereka menegaskan bahwa dampak langsung dari kebijakan tarif impor AS ke Indonesia itu terbatas. Ini karena kontribusi ekspor Indonesia ke AS masih kurang dari 2% terhadap PDB nasional. Jadi, masalah utama bukan dari luar negeri, melainkan dari dalam rumah tangga ekonomi kita sendiri.

Secara spesifik, OECD melihat bahwa konsumsi dan investasi swasta di Indonesia akan agak melemah di paruh pertama 2025. Ini terjadi karena optimisme pelaku bisnis dan konsumen lagi turun. Selain itu, ketidakjelasan soal arah kebijakan fiskal pemerintah yang baru serta tingginya biaya pinjaman juga bikin investasi jadi seret. Dari sisi eksternal, makin tingginya ketegangan dagang global dan penurunan harga komoditas diperkirakan bakal menekan kinerja ekspor Indonesia. Ini sudah terlihat dari data BPS yang menunjukkan ekspor kita terkontraksi -10,77% MoM di April 2025.

OECD sih memperkirakan permintaan domestik di Indonesia bakal pulih perlahan-lahan di paruh kedua 2025 sampai tahun 2026. Mereka juga memprediksi inflasi di Indonesia bakal bergerak ke level 2,3% di 2025 dan 3% di 2026. Hal ini seiring dengan selesainya efek diskon tarif listrik dan efek depresiasi nilai tukar rupiah. Belanja investasi pemerintah lewat BPI Danantara juga dilihat punya potensi jadi pendorong pemulihan investasi ke depan. Tapi, OECD juga wanti-wanti soal risiko tambahan dari potensi capital outflow alias dana asing keluar dari Indonesia. Ini bisa dipicu ketidakpastian global maupun domestik dan berpotensi menekan rupiah, memperbesar defisit transaksi berjalan, serta meningkatkan risiko inflasi yang diimpor dari luar.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai +5,2% YoY di tahun 2025. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2025 kemarin hanya mencapai +4,87% YoY. Angka ini lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya (+5,02% YoY di 4Q24) dan juga lebih rendah dari target pemerintah. Melihat data ini, Bank Indonesia (BI) juga sudah memangkas target pertumbuhan ekonomi 2025 mereka dari +4,7–5,5% jadi +4,6–5,4%. Ini juga jadi pemangkasan target yang kedua kalinya dari BI tahun ini.

Key Takeaway

Menurut kami, efek dari paket stimulus ekonomi jilid 2 yang rencananya diluncurkan pemerintah selama libur sekolah Juni-Juli 2025 ini bisa jadi kunci penting buat menjaga pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Untuk jangka panjang, pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal dipengaruhi beberapa faktor. Ini termasuk kecepatan pemerintah dalam membelanjakan anggarannya, bagaimana dana investasi Danantara bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, prospek penurunan suku bunga ke depan, serta membaiknya iklim investasi seiring meredanya perang dagang global.

Di tengah risiko perlambatan ekonomi yang ada, punya portofolio investasi yang beragam di berbagai kelas aset itu penting banget. Ini bisa bantu meminimalkan dampak dari gejolak pasar. Mengingat ada prospek suku bunga turun ke depan untuk mendorong ekonomi, investor bisa lirik obligasi pemerintah dengan tenor pendek. Obligasi ini masih menawarkan risk-reward yang lumayan menarik.

Berikut beberapa contohnya:
1. SR022–T3 (tenor 3 tahun, yield 6,45%)
2. PBS003 (tenor ~2 tahun, yield ~5,93%)
3. PBS032 (tenor ~1 tahun, yield ~5,73%)

🔍 UNTR Incar Akuisisi Tambang Emas & Nikel di Luar Negeri

Ada beberapa berita menarik dari emiten nih:

United Tractors ($UNTR) Lirik Tambang Mineral Global

Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, bilang perusahaannya lagi cari-cari peluang buat mengakuisisi tambang mineral seperti emas dan nikel di luar negeri. Tujuannya buat ningkatin porsi pendapatan mereka dari sektor non-batu bara di masa depan. Iwan menyebut kalau UNTR lagi gencar nyari tambang mineral baru di negara-negara seperti Australia dan Kanada. Ini karena kebanyakan tambang mineral besar di Indonesia sudah punya pemilik dan gak dijual. UNTR sudah mantau hampir semua tambang mineral di Australia, terutama di wilayah Australia Barat dan Queensland, tapi belum ada kesepakatan yang dicapai sampai sekarang. UNTR memperkirakan butuh belanja modal (capex) sekitar 500 juta–1 miliar dolar AS dalam setahun buat akuisisi ini.

GS Supermarket Diambil Alih MAPI ($MAPI)

Ketua Umum Hippindo (Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia), Budihardjo Iduansjah, menginfokan bahwa operasional GS Supermarket di Indonesia sekarang sudah diambil alih oleh FoodHall Indonesia. FoodHall ini sendiri dioperasikan oleh Mitra Adiperkasa. Kesepakatan awal atau nota kesepahaman untuk transaksi ini sudah ditandatangani di awal Juni 2025. Makanya, mulai 1 Juni 2025 kemarin, merek GS Supermarket di Indonesia sudah ganti nama jadi Daily Supermarket.

BSI ($BRIS) soal Rumor Akuisisi Danantara

Sekretaris Perusahaan Bank Syariah Indonesia, Wisnu Sunandar, menanggapi kabar soal rencana akuisisi saham BRIS oleh BPI Danantara. Dia bilang pihaknya belum bisa kasih komentar banyak karena ini wewenang pemegang saham utama. Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir sempat mengkonfirmasi di awal pekan bahwa ada rencana pemisahan BRIS dari Bank Mandiri ($BMRI). Erick menambahkan, Kementerian BUMN akan menunggu hasil kajian dari Danantara terkait rencana ini sebelum ngambil keputusan final.

Wahana Interfood ($COCO) Gelar Rights Issue

Wahana Interfood Nusantara punya rencana buat ngadain rights issue alias penerbitan saham baru terbatas. Mereka berencana menerbitkan hingga 8,5 miliar saham baru. Harga pelaksanaannya sendiri belum diumumin, tapi dana yang didapat rencananya bakal dipake buat pengembangan usaha. Rencana ini bakal dibahas dan dimintain persetujuan di RUPSLB yang dijadwalin tanggal 15 Juli 2025 nanti.

Bank OCBC NISP ($NISP) Terbitkan Obligasi

Bank OCBC NISP berencana menerbitkan obligasi dengan nilai total hingga 1,5 triliun rupiah. Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini bakal dipake buat ngasih kredit alias pinjaman biar usaha bank bisa terus tumbuh. Obligasi ini terdiri dari 3 seri, tapi info soal tingkat bunganya per seri belum diumumkan. Obligasi NISP ini sudah dapat rating AAA(idn) dari Fitch Ratings Indonesia, rating yang menunjukkan tingkat risiko sangat rendah. Masa penawaran umum obligasi ini dijadwalin dari tanggal 26 sampai 30 Juni 2025.

Gihon Telekomunikasi ($GHON) Bagi Dividen Gede

Gihon Telekomunikasi Indonesia bakal membagikan dividen dari keuntungan tahun buku 2024. Total dividen yang dibagi sekitar 99 miliar rupiah atau 180 rupiah per saham. Jumlah ini gede banget, setara dengan ~117% dari laba bersihnya (tahun 2023 payout ratio-nya ~91%). Ini juga ngasih dividend yield sebesar 9,9% per harga saham Kamis (⅚) kemarin. Tanggal Cum date di pasar reguler dan negosiasi adalah 12 Juni 2025, dan pembayarannya bakal dilakukan tanggal 2 Juli 2025.

Surya Toto ($TOTO) Setuju Pembagian Dividen Final

Para pemegang saham Surya Toto Indonesia setuju buat membagikan dividen dari laba tahun buku 2024 dalam RUPS pada Rabu (4/6). Total dividen yang disetujui sekitar 248 miliar rupiah, atau setara ~79% dari laba bersih (tahun 2023 sekitar 77%). Ini artinya ada dividen final sebesar 12 rupiah per saham. Dengan harga saham Kamis (⅚) kemarin, yield dividen finalnya sekitar 5,3%. Tanggal Cum date dan pembayaran dividen ini masih belum diumumkan. Perlu diingat, TOTO sebelumnya juga sudah membagikan dividen interim sebesar 12 rupiah per saham di Desember 2024 lalu. Jadi, total dividen TOTO dari laba 2024 adalah 24 rupiah per saham.

Dharma Satya Nusantara ($DSNG) Juga Bagi Dividen

Pemegang saham Dharma Satya Nusantara juga menyetujui rencana pembagian dividen dari laba tahun buku 2024. Total dividen yang bakal dibagikan sekitar 254 miliar rupiah atau 24 rupiah per saham. Jumlah ini setara dengan ~22% dari laba bersih (tahun 2023 sekitar 28%). Dividend yield-nya sekitar 3% per harga saham Kamis (⅚). Tanggal Cum date dan tanggal pembayarannya belum diumumkan nih.

🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

Selain berita-berita emiten, ada juga beberapa info penting lainnya di pasar:

OJK Atur Skema Co-Payment Asuransi Kesehatan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru aja ngeluarin surat edaran baru, yaitu SE OJK Nomor 7 Tahun 2025. Isinya, produk asuransi kesehatan diwajibkan menerapkan skema pembagian risiko atau yang biasa dikenal dengan co-payment. Pemegang polis alias nasabah wajib menanggung paling sedikit 10% dari total pengajuan klaim. Tapi ada batas maksimalnya nih: untuk rawat jalan, maksimal ditanggung nasabah 300 ribu rupiah per klaim, dan untuk rawat inap maksimal 3 juta rupiah per klaim. Surat edaran ini juga membolehkan perusahaan asuransi menerapkan batas maksimum co-payment yang lebih tinggi, asal disepakati dulu sama nasabah. Kebijakan ini cuma berlaku buat produk asuransi kesehatan dengan prinsip indemnity (mengganti sesuai kerugian) dan skema managed care. Produk asuransi mikro dikecualikan ya.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2025 Turun

Kementerian ESDM sudah menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2025. Hasilnya, HBA turun cukup signifikan, yaitu -16,7% MoM, jadi 100,97 dolar AS per ton. Kalau dibandingin sama HBA periode kedua bulan Mei 2025, penurunannya juga lumayan, sekitar -8,5%. Ini nunjukin tren harga batu bara yang lagi turun di pasar global.

Oversupply Nikel Diprediksi Sampai 2027-2028

Analis dari Macquarie, Jim Lennon, bilang kalau kondisi oversupply alias kelebihan pasokan di pasar nikel global diprediksi masih bakal berlanjut sampai tahun 2027-2028. Ini terjadi karena pertumbuhan permintaan nikel lagi melambat, padahal kapasitas produksi terus bertambah. Harga nikel di London Metal Exchange sempat nyentuh titik terendah dalam 5 tahun terakhir di 13.865 dolar AS per ton pada 7 April 2025, meskipun belakangan udah naik lagi ke sekitar 15.380 dolar AS per ton per Kamis (⅚). Lennon bilang level 15.000 dolar AS per ton itu level penting buat produsen. Soalnya, kalau harga di bawah itu, setengah dari produsen nikel yang ada sekarang berisiko rugi. Pertumbuhan permintaan nikel melambat antara lain karena banyak yang beralih pakai baterai berbahan lithium iron phosphate yang harganya lebih murah. Reuters melaporkan bahwa konsensus analis udah memangkas estimasi permintaan nikel buat sektor baterai di tahun 2030 jadi cuma 967.000 ton (dibanding realisasi 2024 sebesar 518.000 ton). Angka ini jauh lebih rendah dari perkiraan konsensus dua tahun lalu yang sampai 1,5 juta ton.

Bank Singapura Biayai Proyek Data Center di RI

Dua bank besar Singapura, yaitu DBS dan UOB, ngumumin kalau mereka udah ngasih pinjaman total senilai 6,7 triliun rupiah. Dana pinjaman ini buat membiayai pengembangan data center yang punya perusahaan Singapura, DayOne, bareng sama Indonesia Investment Authority (INA). Reuters bilang pinjaman ini jadi pembiayaan dalam denominasi rupiah yang terbesar sepanjang sejarah buat sektor data center di Indonesia. Pinjaman ini bakal dipake buat membangun dan mengoperasikan 3 data center dengan total kapasitas 72 MW di Batam. Proyek pembangunannya ditargetin selesai tahun 2025 ini.

Pengendali JECC ($JECC) Borong Saham Harga Diskon

Pengendali Jembo Cable Company ($JECC), yaitu PT Monaspertama Persada, membeli 53,1 juta saham JECC. Uniknya, harga pembeliannya cuma 600 rupiah per lembar pada tanggal 2 Juni 2025 lalu. Harga ini jauh lebih rendah, sekitar -43,9%, dibanding harga saham JECC saat penutupan bursa di hari yang sama yang ada di level 1.070 rupiah per lembar. Total nilai transaksi pembelian ini sekitar 31,9 miliar rupiah. Setelah transaksi ini, kepemilikan PT Monaspertama Persada di JECC naik dari sekitar 52,57% jadi 59,59%.

Pengendali ISSP ($ISSP) Juga Tambah Kepemilikan

Gak ketinggalan, Pengendali Steel Pipe Industry of Indonesia ($ISSP), yaitu PT Cakra Bhakti Para Putra, juga membeli 6,8 juta saham ISSP. Pembelian ini dilakukan di harga 296 rupiah per lembar pada tanggal 4 Juni 2025. Total nilai transaksinya sekitar 2 miliar rupiah. Setelah transaksi ini, kepemilikan PT Cakra Bhakti Para Putra di ISSP naik tipis dari 56,3% jadi 56,4%.

📈 Pelajaran dari $DCII dan Operating Leverage

“Perusahaan dengan operating leverage tinggi memang bisa terlihat mahal di awal. Tapi justru akan terlihat murah di masa depan ketika laba bersihnya mulai meledak” - fadhilonn

Ini kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini. Kadang, naiknya harga saham itu bukan cuma karena “digoreng” atau dimainin sama market maker. Ambil contoh saham $DCII, lonjakan harganya bisa dijelasin pake konsep operating leverage. Ini terjadi ketika laba bersih sebuah perusahaan tumbuh jauh lebih cepat dibanding pendapatannya. Kenapa bisa gitu? Karena perusahaan punya biaya tetap yang besar di awal, tapi biaya variabel per tambahan pendapatan kecil. Dengan biaya operasional utama $DCII yang cuma listrik, setiap tambahan kapasitas yang laku di pasar bisa langsung bikin margin keuntungan mereka makin tebal. Ini jadi pelajaran penting buat kita investor, karena kadang pasar bisa lebih cepat membaca potensi tersembunyi dari model bisnis suatu perusahaan. Penasaran gimana analisis ini dibahas lebih detail? Yuk, baca dan temukan sudut pandang baru soal cara kerja laba di balik layar melalui tulisan fadhilonn di komunitas Stockbit!


Gimana, banyak banget kan info menarik hari ini? Mulai dari proyeksi ekonomi yang dipangkas sampai aksi korporasi emiten dan kebijakan baru.

Jangan lupa share pendapatmu di kolom komentar ya! Diskusi bareng yuk, apa dampaknya info-info ini buat investasi kita?

Posting Komentar