Trauma Air India: Psikolog Ungkap Kenapa Kita Jadi Ngeri Terbang

Table of Contents

Kabar kecelakaan pesawat Air India beberapa waktu lalu memang langsung bikin hati ciut. Buat yang sering bepergian pakai pesawat, atau bahkan yang jarang pun, pasti muncul rasa was-was dan ngeri. Kejadian seperti ini, meskipun terjadi jauh di sana pada orang yang tidak kita kenal, punya dampak psikologis yang lumayan besar. Rasanya mendadak muncul lagi pertanyaan, “Aman nggak sih naik pesawat?” Padahal, moda transportasi udara sering disebut yang paling aman. Tapi, kok ya rasa takut ini muncul terus?

Menurut para ahli psikologi, reaksi ngeri atau takut setelah mendengar berita kecelakaan pesawat itu wajar kok. Ini bukan cuma soal jadi takut naik pesawat secara umum, tapi bisa sampai memicu fobia terbang atau aerofobia pada sebagian orang. Peristiwa tragis semacam ini punya kekuatan untuk mengaktifkan ketakutan yang mungkin sudah ada di dalam diri kita, atau bahkan menciptakan ketakutan baru. Jadi, jangan heran kalau setelah dengar berita kurang mengenakkan soal pesawat, mendadak perut terasa nggak enak kalau mikir mau terbang.

Ilustrasi Pesawat Terbang

Mengapa Kecelakaan Pesawat Bikin Kita Jadi Takut Terbang?

Seperti yang dijelaskan oleh Gail Saltz, seorang profesor klinis psikiatri, kejadian dramatis seperti kecelakaan pesawat adalah pemicu umum bagi banyak orang. Bukan hanya mereka yang terlibat langsung, tapi juga kita yang cuma mendengar atau membaca beritanya. Otak kita cenderung merespons hal-hal yang dianggap mengancam, bahkan jika ancaman itu belum terjadi pada kita.

Ketika kita terpapar berita kecelakaan, pikiran kita secara otomatis mulai membayangkan skenario terburuk. Kita membayangkan bagaimana rasanya berada di situasi tersebut, bagaimana kepanikan yang terjadi, dan ini memicu respons stres dalam tubuh. Rasa takut ini bisa menempel dan muncul kembali setiap kali kita dihadapkan pada situasi serupa, yaitu saat harus naik pesawat. Ini adalah bagian dari cara kerja pikiran kita dalam mencoba “melindungi” diri, meskipun terkadang responsnya jadi berlebihan dan tidak rasional.

4 Penyebab Umum Rasa Takut Naik Pesawat Menurut Psikolog

Ternyata, rasa takut naik pesawat atau aerofobia itu kompleks. Nggak cuma karena satu alasan, tapi bisa jadi gabungan dari beberapa faktor yang saling terkait. Psikolog mengidentifikasi setidaknya ada empat penyebab paling umum kenapa seseorang bisa merasa takut atau ngeri saat harus terbang. Memahami akar masalahnya bisa jadi langkah awal untuk mengatasi rasa takut ini.

1. Pengalaman Tak Menyenangkan di Penerbangan Sebelumnya

Mungkin kedengarannya aneh, tapi banyak orang yang takut naik pesawat belum pernah mengalami bahaya nyata saat terbang. Rasa takut mereka justru dipicu oleh pengalaman yang sebenarnya hanya ‘tak menyenangkan’ atau ‘tidak nyaman’. Contoh paling klasik adalah turbulensi. Ketika pesawat berguncang, meskipun itu normal dan aman, pikiran kita bisa langsung panik membayangkan hal terburuk.

Pengalaman seperti turbulensi, pendaratan yang agak keras, suara aneh dari mesin, penundaan penerbangan yang lama, atau bahkan penumpang lain yang rewel, bisa meninggalkan kesan negatif. Kesan ini kemudian tersimpan dalam memori kita. Saat nanti kita akan terbang lagi, memori itu teraktifkan dan membangkitkan kembali rasa tidak nyaman atau cemas yang pernah dialami, meskipun penerbangan kali ini mungkin akan mulus-mulus saja. Pikiran kita cenderung mengingat pengalaman negatif lebih kuat, menjadikannya semacam ‘bukti’ bahwa terbang itu ‘berbahaya’ atau setidaknya ‘tidak aman dan membuat cemas’.

2. Paparan Kabar Kecelakaan Pesawat

Ini dia yang paling relevan dengan kasus Air India tadi. Mendengar atau membaca berita kecelakaan pesawat, apalagi yang disajikan secara dramatis dengan detail yang mengerikan, sangat mudah memicu ketakutan. Media seringkali menampilkan berita kecelakaan pesawat secara besar-besaran karena sifatnya yang langka dan dampaknya yang tragis.

Ketika kita terus-menerus melihat berita, foto, atau bahkan video terkait kecelakaan, otak kita mulai membentuk gambaran yang jelas tentang kejadian itu. Kita membayangkan posisi para korban, kepanikan mereka, dan hal-hal mengerikan lainnya. Imajinasi ini bisa begitu kuat sehingga tubuh kita bereaksi seolah kita benar-benar berada di situasi tersebut. Semakin sering kita terpapar, semakin kuat gambaran dan rasa takut itu. Ini yang disebut availability heuristic, kita cenderung meyakini sesuatu lebih mungkin terjadi kalau informasinya mudah kita ingat atau temukan (misalnya, karena sering diberitakan), padahal faktanya mungkin sangat langka.

3. Ada Ketakutan-Ketakutan Lain

Rasa takut naik pesawat seringkali bukan fobia yang berdiri sendiri. Justru, seringkali aerofobia ini merupakan ‘tempat berkumpul’ bagi ketakutan-ketakutan lain yang sudah ada dalam diri seseorang. Beberapa ketakutan umum yang seringkali berhubungan dengan takut terbang antara lain takut ketinggian (akrofobia), takut keramaian atau berada di ruang sempit dengan banyak orang (klaustrofobia atau ochlophobia), takut serangan panik (panic attack), perasaan terjebak, atau merasa kehilangan kendali atas situasi.

Ilustrasi. Mengapa orang takut naik pesawat? Kadang orang mengalami ketakutan-ketakutan lain termasuk takut berada di ruangan tertutup sehingga muncul perasaan terjebak. (Getty Images/anyaberkut)

Bayangkan saja, naik pesawat itu menggabungkan semuanya: Anda berada di ketinggian ribuan kaki, di dalam ruangan tertutup yang sempit bersama puluhan atau ratusan orang asing, dan Anda tidak memegang kendali apapun atas mesin, arah, atau kondisi penerbangan. Bagi seseorang dengan salah satu atau lebih fobia ini, terbang bisa jadi pengalaman yang sangat menakutkan.

Terutama bagi yang rentan mengalami serangan panik, pesawat bisa jadi lingkungan yang paling mengkhawatirkan. Serangan panik datang tiba-tiba dengan gejala fisik yang kuat (jantung berdebar, sesak napas, pusing) dan seringkali disertai perasaan takut mati atau gila. Saat mengalami serangan panik, naluri alami adalah mencari jalan keluar atau melarikan diri dari situasi yang dianggap mengancam. Nah, di dalam pesawat, Anda tidak bisa lari ke mana-mana. Ini membuat penderita serangan panik merasa benar-benar terjebak dan tak berdaya, memperparah rasa takut mereka.

4. Stres dalam Waktu Lama

Kondisi psikologis seseorang saat akan bepergian juga sangat memengaruhi. Jika seseorang sedang mengalami periode stres berat yang berkepanjangan, tubuh dan pikiran mereka cenderung lebih rentan. Stres kronis bisa berasal dari berbagai sumber, seperti masalah pekerjaan, konflik hubungan, kehilangan orang terdekat, masalah finansial, atau bahkan penyakit.

Stres jangka panjang menguras energi mental dan membuat sistem saraf kita jadi lebih sensitif dan reaktif. Kita jadi lebih mudah cemas dan ambang batas toleransi terhadap ketidaknyamanan menurun. Dalam kondisi seperti ini, ketakutan yang sebelumnya terkendali atau bahkan tidak ada, bisa muncul ke permukaan atau memburuk. Naik pesawat, yang bagi sebagian orang sudah cukup menegangkan, bisa jadi pemicu yang memperparah kondisi stres dan memunculkan rasa takut terbang yang intens. Pikiran yang sudah tegang karena stres lebih mudah tergelincir ke skenario negatif saat dihadapkan pada situasi yang sedikit pun terasa di luar kendali.

Fakta vs. Fobia: Melihat Keamanan Penerbangan dari Sudut Pandang Berbeda

Penting untuk diingat bahwa meskipun berita kecelakaan pesawat sangat menggemparkan, penerbangan komersial adalah salah satu mode transportasi paling aman di dunia berdasarkan data statistik. Probabilitas terlibat dalam kecelakaan pesawat sangat, sangat kecil dibandingkan dengan, misalnya, mengemudi mobil. Maskapai penerbangan modern memiliki prosedur perawatan yang sangat ketat, teknologi navigasi dan keamanan yang canggih, serta pilot yang menjalani pelatihan intensif dan berulang.

Setiap komponen pesawat diawasi dan diperiksa secara rutin. Pesawat dirancang dengan sistem ganda (redundant systems) untuk memastikan jika satu bagian gagal, ada cadangan yang siap menggantikan. Pilot dilatih untuk menghadapi berbagai skenario darurat di simulator sebelum menerbangkan pesawat sesungguhnya. Turbulensi sendiri, meskipun tidak nyaman, sangat jarang membahayakan struktur pesawat modern. Memahami fakta-fakta ini, meskipun tidak serta-merta menghilangkan rasa takut, bisa membantu melawan pikiran irasional yang muncul akibat paparan berita negatif.

Mengatasi Rasa Takut Terbang: Tips dari Para Ahli

Jika rasa takut terbang Anda sudah sangat mengganggu dan menghalangi aktivitas (misalnya, jadi tidak bisa bepergian untuk pekerjaan atau liburan), ada baiknya mencari bantuan profesional. Tapi ada juga beberapa tips yang bisa dicoba sendiri untuk mengurangi kecemasan:

  • Pahami Cara Kerja Pesawat: Belajar sedikit tentang bagaimana pesawat bisa terbang dan seberapa aman strukturnya bisa membantu menghilangkan misteri dan menepis anggapan bahwa pesawat ‘jatuh begitu saja’.
  • Pelajari Statistik Keamanan: Mengingatkan diri sendiri tentang fakta bahwa terbang itu sangat aman, bahkan lebih aman dari aktivitas sehari-hari lainnya, bisa membantu menenangkan pikiran.
  • Latihan Relaksasi: Teknik pernapasan dalam, meditasi, atau mindfulness bisa sangat membantu meredakan gejala fisik kecemasan saat di pesawat. Latih ini di rumah sebelum hari keberangkatan.
  • Alihkan Perhatian: Bawa buku, nonton film, dengarkan musik, main game, atau ajak ngobrol teman seperjalanan. Sebisa mungkin jangan terus-menerus fokus pada pikiran cemas atau setiap suara dan guncangan kecil.
  • Visualisasi Positif: Bayangkan penerbangan yang mulus dan lancar dari awal hingga akhir. Visualisasikan diri Anda tiba di tujuan dengan perasaan tenang.
  • Berbicara dengan Kru Kabin: Jangan ragu memberitahu pramugari bahwa Anda takut terbang. Mereka terlatih untuk membantu penumpang dengan kecemasan dan bisa memberikan dukungan atau sekadar memastikan Anda baik-baik saja.
  • Cari Bantuan Profesional: Terapi perilaku kognitif (CBT) atau terapi paparan (exposure therapy) sangat efektif dalam mengatasi fobia, termasuk fobia terbang. Terapis akan membantu Anda mengubah pola pikir negatif dan secara bertahap membiasakan diri dengan situasi terbang.
  • Konsultasi Medis: Untuk kasus yang parah, dokter mungkin meresepkan obat anti-kecemasan yang bisa diminum sebelum penerbangan, tapi ini harus di bawah pengawasan dokter.

Berikut adalah salah satu video yang bisa memberi Anda tips tambahan tentang cara mengatasi rasa takut terbang:

(Ganti YOUR_VIDEO_ID dengan ID video YouTube yang relevan, contoh: s8yC35Q2V4M atau video tips mengatasi fobia terbang lainnya)

Intinya, rasa takut terbang itu manusiawi, apalagi setelah mendengar berita-berita yang mengkhawatirkan. Tapi penting untuk membedakan antara risiko nyata (yang sangat rendah dalam penerbangan) dan ketakutan yang diperkuat oleh pikiran dan emosi kita. Dengan strategi yang tepat, rasa takut ini bisa dikelola bahkan diatasi.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mengalami rasa takut naik pesawat? Apa yang biasanya Anda lakukan untuk mengatasinya? Bagikan pengalaman dan tips Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar