Prabowo Bilang Rusia-China Gak Standar Ganda? Ini Analisisnya!
Belakangan ini, pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto soal Rusia dan China mencuri perhatian. Di hadapan para pemimpin dan pakar ekonomi di St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia, Prabowo tegas bilang kalau dua negara raksasa itu, Rusia dan China, bukanlah negara yang menganut standar ganda. Menurut beliau, kedua negara ini selalu konsisten membela mereka yang lemah dan memperjuangkan keadilan buat semua negara di dunia. Wah, menarik nih buat dibedah lebih lanjut!
Standar Ganda dalam Kaca Mata Diplomasi¶
Apa sih sebenarnya “standar ganda” itu dalam dunia hubungan internasional? Gampangnya gini, standar ganda itu ibarat menerapkan aturan atau prinsip yang berbeda untuk situasi yang mirip, tergantung siapa pelakunya atau siapa korbannya. Misalnya, suatu negara mengecam keras tindakan X yang dilakukan oleh musuhnya, tapi diam saja atau bahkan mendukung tindakan X yang sama persis ketika dilakukan oleh sekutunya. Ini sering jadi kritik pedas dalam diplomasi, karena dianggap tidak adil dan merusak kredibilitas.
Nah, pernyataan Prabowo yang bilang Rusia dan China nggak standar ganda ini tentu jadi sorotan. Apalagi, kritik standar ganda ini seringkali dialamatkan ke negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, terkait isu-isu global seperti konflik di Timur Tengah atau isu kedaulatan negara. Dengan mengatakan Rusia dan China beda, Prabowo seolah memberikan pujian sekaligus perbandingan tajam.
Kritikan Terhadap Amerika Serikat?¶
Menurut pandangan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, pernyataan Prabowo ini memang bisa dilihat sebagai sebuah kritikan. Tapi, kritikan ini nggak ditujukan ke Rusia atau China, melainkan justru ke Amerika Serikat. Beliau menilai, AS seringkali memperlihatkan standar ganda dalam berbagai kebijakan luar negerinya.
Hikmahanto mencontohkan sikap AS di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dinilai sangat jelas standar gandanya, terutama dalam membela Israel secara membabi buta. Padahal, kata Hikmahanto, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Israel belum tentu selalu bisa dibenarkan. Jadi, ketika Prabowo bilang Rusia dan China nggak standar ganda, itu bisa diartikan sebagai sindiran halus atau kritik balik terhadap pihak lain yang justru dianggap punya standar ganda.
Kenapa Pilih ke Rusia Ketimbang KTT G7?¶
Ada lagi poin menarik yang disorot Hikmahanto, yaitu pilihan Prabowo untuk datang ke Rusia menemui Presiden Vladimir Putin ketimbang hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kanada yang dihadiri Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, ada empat alasan kenapa pilihan ke Rusia itu lebih pas dan strategis.
Pertama, kalau datang ke KTT G7, posisi Indonesia sebagai negara berkembang mungkin hanya akan ‘didengar’ pandangannya soal perkembangan geoekonomi. Ibaratnya, cuma jadi audiens yang ikut mendengarkan perspektif negara-negara maju. Beda kalau ke Rusia, Prabowo bisa lebih fokus untuk membuat kesepakatan-kesepakatan bilateral yang langsung menguntungkan Indonesia. Pertemuan bilateral kan memungkinkan diskusi yang lebih mendalam dan target yang lebih spesifik.
Kedua, dengan memilih datang ke Rusia, Prabowo berstatus sebagai tamu utama. Ini tentu beda banget dengan status di KTT G7 yang pesertanya banyak sekali kepala negara dan pemerintahan, di mana peran Prabowo mungkin hanya sekadar perwakilan negara berkembang yang diminta mendengarkan. Menjadi tamu utama memberikan platform diplomatik yang lebih kuat dan perhatian yang lebih besar dari tuan rumah.
Ketiga, kunjungan ke Rusia bisa dimanfaatkan untuk mengangkat isu-isu penting bagi Indonesia dan dunia, seperti nasib rakyat Palestina di Gaza dan ketegangan antara Israel dan Iran. Kenapa ini penting? Karena, seperti kita tahu, AS seringkali berada di belakang Israel. Nah, di sini lah peran Rusia dan China jadi pengimbang. Mereka seringkali mengambil posisi yang berbeda atau setidaknya lebih netral (atau bahkan mendukung Palestina) di forum-forum internasional seperti PBB. Membicarakan isu ini dengan Rusia dan China bisa jadi cara untuk mencari dukungan atau setidaknya membangun dialog di luar blok Barat.
Alasan keempat menurut Hikmahanto berkaitan dengan persepsi. Jika Prabowo hadir di KTT G7, Indonesia bisa dipersepsikan condong atau berpihak pada negara-negara Barat yang mayoritas tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Sebaliknya, dengan pergi ke Rusia, Indonesia dipersepsikan mendukung atau setidaknya menjalin hubungan erat dengan BRICS (blok negara berkembang yang anggotanya kini semakin meluas dan dianggap sebagai penyeimbang G7). Dalam konteks geoekonomi dan geopolitik global yang semakin terpolarisasi, menjaga keseimbangan persepsi ini bisa jadi strategi penting bagi Indonesia yang menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Murni Soal Ekonomi dan Undangan?¶
Namun, ada juga pandangan lain. Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, punya analisis yang berbeda. Bagi Rezasyah, ucapan Prabowo yang bilang Rusia dan China nggak standar ganda itu murni dalam konteks ekonomi. Beliau nggak melihat ada maksud terselubung berupa kritikan terhadap AS atau negara lain terkait konflik seperti di Gaza atau Iran.
Menurut Rezasyah, interaksi Indonesia dengan Rusia yang notabene negara Eurasia, dan dengan China yang sama-sama di Asia, memang lebih mudah dan luwes. Kedekatan geografis dan konteks regional bisa jadi faktor pendukungnya. Fokusnya adalah pada kerjasama ekonomi dan bilateral yang menguntungkan kedua belah pihak, tanpa perlu diseret ke isu-isu konflik geopolitik yang kompleks.
Soal pilihan ke Rusia daripada ke KTT G7, Rezasyah punya penjelasan yang lebih sederhana. Beliau bilang, Prabowo datang ke St. Petersburg karena memang sudah mendapatkan undangan dari Presiden Putin lebih dulu. Undangan ini sudah diputuskan sejak jauh hari karena dianggap programnya sesuai dengan kebutuhan nasional Indonesia untuk jangka panjang. Nah, kebetulan jadwalnya berbentrokan dengan KTT G7.
“Presiden Prabowo hanyalah manusia biasa, dan bukan superman yang bisa berada di banyak tempat pada saat yang berdekatan waktu,” kata Rezasyah. Penjelasan ini menekankan faktor praktis dan logistik dalam penjadwalan kunjungan kenegaraan. Prioritas diberikan pada undangan yang datang lebih dulu dan dianggap lebih relevan dengan agenda strategis nasional saat itu. Rezasyah juga menambahkan, meskipun masyarakat Indonesia punya simpati yang besar terhadap perjuangan Iran (merujuk pada konteks ketegangan dengan Israel), pemerintah Indonesia selalu mengupayakan penyelesaian konflik secara damai, konsisten dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Membela yang Lemah: Sudut Pandang Global South¶
Penting juga untuk melihat konteks pernyataan Prabowo dari sudut pandang “negara selatan” atau Global South. Kelompok negara ini (yang mencakup banyak negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin) sering merasa kepentingan mereka kurang terwakomodasi atau bahkan diabaikan oleh negara-negara adidaya. Mereka juga sering menjadi korban dari kebijakan yang mereka anggap tidak adil atau standar ganda.
Ketika Prabowo mengatakan “Banyak negara selatan setuju dengan saya bahwa Rusia dan China adalah negara yang tidak standar ganda. Mereka selalu membela orang yang menderita. Mereka membela keadilan semua rakyat negara-negara dunia,” itu menunjukkan upaya untuk menempatkan Indonesia (sebagai bagian dari Global South) sejajar dengan negara-negara lain di kelompok ini yang punya pandangan serupa. Pernyataan ini juga bisa dilihat sebagai bentuk apresiasi terhadap peran Rusia dan China yang dinilai lebih memperhatikan atau mendukung aspirasi negara-negara Global South, berbeda dengan persepsi terhadap negara-negara Barat.
Peran Rusia dan China dalam forum seperti BRICS, Shanghai Cooperation Organisation (SCO), atau pun dalam memberikan bantuan pembangunan tanpa “ikatan” politik yang ketat (dibandingkan pinjaman dari lembaga keuangan Barat misalnya) memang seringkali menarik bagi negara-negara berkembang. Mereka menawarkan alternatif sumber daya dan aliansi di tengah dominasi Barat.
Perspektif Lain: Apakah Rusia dan China Benar-benar Tanpa Standar Ganda?¶
Nah, biar analisisnya lengkap, penting juga untuk melihat apakah pandangan bahwa Rusia dan China benar-benar tanpa standar ganda ini disepakati semua pihak? Tentu saja tidak. Sama seperti negara manapun, Rusia dan China juga punya kebijakan luar negeri yang didasarkan pada kepentingan nasional mereka sendiri.
Beberapa kritik yang sering muncul misalnya terkait sikap Rusia terhadap kedaulatan negara lain, terutama menyangkut konflik di Ukraina. Ada yang berpandangan, Rusia mengecam intervensi Barat di suatu negara, tapi pada saat yang sama melakukan intervensi militer di negara tetangganya sendiri. Ini, bagi sebagian pengamat, bisa dianggap sebagai bentuk standar ganda.
China juga menghadapi kritik serupa. Misalnya, sikap mereka terhadap isu kedaulatan teritorial di Laut China Selatan, atau isu hak asasi manusia di dalam negeri, seringkali dianggap bertentangan dengan retorika mereka tentang non-intervensi dan kesetaraan antarnegara berdaulat di panggung global.
Jadi, pandangan apakah suatu negara punya standar ganda atau tidak seringkali sangat bergantung pada sudut pandang dan kepentingan si penilai. Pernyataan Prabowo yang menekankan pandangan dari “negara selatan” memberikan satu perspektif penting dalam dinamika global saat ini.
Melihat Video Pernyataan Prabowo¶
Untuk mendapatkan gambaran langsung bagaimana pernyataan Prabowo ini disampaikan, kita bisa melihat cuplikan videonya. Di sana, terlihat jelas Prabowo menyampaikan pidatonya dengan penuh keyakinan di hadapan audiens internasional di SPIEF 2025. Menyaksikan langsung gestur dan intonasi beliau bisa menambah pemahaman kita terhadap konteks dan penekanan yang ingin disampaikan.
Seperti yang disebutkan dalam artikel aslinya, ada video terkait pernyataan ini:
Sayangnya, saya tidak bisa menyisipkan video langsung di sini, tapi Anda bisa mencarinya di platform video online.
Intinya, pernyataan Prabowo ini memicu berbagai tafsir. Apakah itu murni soal ekonomi, strategi diplomasi menyeimbangkan kekuatan global, atau kritik halus terhadap negara lain? Mungkin saja semuanya punya porsi masing-masing dalam kalkulasi politik luar negeri Indonesia. Yang jelas, ini menunjukkan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo akan terus aktif berinteraksi dengan berbagai kutub kekuatan dunia, sesuai dengan prinsip bebas aktif yang dianut sejak lama. Menarik untuk dinanti bagaimana langkah-langkah diplomasi Indonesia selanjutnya di panggung global!
Gimana nih menurut kalian? Setuju dengan analisis para pakar? Atau punya pendapat lain soal pernyataan Prabowo ini? Yuk, diskusi di kolom komentar!
Posting Komentar