Ngeri! Pengobatan 'Kretek' Bikin Leher Wanita Ini Nyaris Patah Gara-gara Sakit Punggung
Jakarta - Siapa sangka, niat hati mencari kesembuhan dari sakit punggung lewat terapi ‘kretek’ atau chiropractic, seorang wanita asal Amerika Serikat malah nyaris meregang nyawa. Pengalaman mengerikan ini dibagikan oleh Carissa Klundt, seorang wanita berusia 41 tahun, yang biasanya merasa terbantu dengan metode ini. Namun, satu sesi terapi justru mengubah total hidupnya menjadi lebih berat dan penuh perjuangan.
Sebelum kejadian nahas itu, Carissa bukanlah orang asing bagi dunia kebugaran. Ia adalah mantan penasihat kebugaran yang aktif dan peduli dengan kondisi tubuhnya. Sakit punggung yang dialaminya muncul setelah ia menjalani operasi besar, yaitu pengangkatan implan payudara. Operasi ini ternyata berdampak signifikan pada otot-otot punggungnya, membuatnya tegang dan terasa amat menyakitkan.
Awalnya Rutin dan Membantu¶
Demi mengatasi nyeri punggung pasca operasi yang tak kunjung reda, Carissa memutuskan untuk kembali ke terapi chiropractic. Ia memang sudah beberapa kali melakukan sesi dengan chiropractor, dan sejauh itu ia merasa perawatan tersebut cukup efektif meredakan keluhannya. Ini sebabnya ia sangat percaya pada chiropractor langganannya dan rutin membuat janji. Ia mencari cara non-invasif untuk membantu pemulihan dan mengurangi rasa sakit yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Kepercayaan inilah yang membawanya kembali untuk sesi terapi pada November 2022.
Sesi-sesi sebelumnya terasa normal, memberikan sedikit kelegaan dari ketegangan otot yang melilit punggungnya. Ia mengenal bunyi ‘kretek’ yang sering muncul saat penyesuaian tulang dilakukan, dan baginya itu adalah bagian dari proses. Ia menganggap bunyi tersebut sebagai tanda bahwa ada ‘sesuatu’ yang kembali ke tempatnya, melepaskan tekanan yang menumpuk. Pengalaman positif di awal ini membuat Carissa tidak ragu untuk terus menjalani terapi ini sebagai salah satu metode manajemen nyerinya.
Saat ‘Kretek’ Berubah Jadi Malapetaka¶
Semua berubah pada sesi terapi di bulan November 2022 itu. Carissa menjelaskan bahwa penyesuaian yang dilakukan pada lehernya terasa sangat berbeda dari biasanya. Ada bunyi ‘kretek’ yang memang ia harapkan, tetapi kali ini diikuti dengan rasa sakit yang luar biasa dan perasaan bahwa ada yang benar-benar tidak beres di area lehernya. Ini bukan bunyi kretek biasa yang terasa lega setelahnya, melainkan bunyi yang membuat alarm di tubuhnya berbunyi kencang.
“Begitu itu terjadi, saya tahu ada yang tidak beres,” tutur Carissa, menggambarkan momen mengerikan itu. “Anda memang mendengar bunyi retakan saat melakukan terapi, tetapi saya tahu ada yang tidak beres.” Rasa sakit di lehernya langsung terasa intens, tidak seperti nyeri sementara yang terkadang muncul setelah penyesuaian. Sesaat setelah sesi, Carissa sudah merasa tidak enak badan, dan sesampainya di rumah kondisinya memburuk drastis.
Gejala Mengerikan dan Diagnosis Mengejutkan¶
Setibanya di rumah, rasa sakit di leher Carissa semakin menjadi-jadi. Ia mulai merasakan mual hebat dan akhirnya muntah-muntah. Ini jelas bukan efek samping wajar dari terapi chiropractic. Kondisinya terus memburuk selama beberapa minggu berikutnya. Kelelahan ekstrem melanda, dan ia mengalami serangkaian episode pingsan yang sangat mengkhawatirkan. Gejala-gejala ini membuat suami dan keluarganya panik dan segera membawanya ke Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit, tim medis segera melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemindaian CAT scan untuk melihat kondisi internal tubuhnya, terutama area kepala dan leher mengingat gejalanya yang aneh dan kejadian sebelumnya. Hasil pemindaian itu sungguh mengejutkan dan mengerikan. Carissa didiagnosis mengalami Diseksi Arteri Vertebralis (VAD) atau Vertebral Artery Dissection. Ini adalah kondisi medis serius di mana terjadi robekan pada lapisan dalam salah satu arteri vertebralis, yaitu pembuluh darah penting yang membentang di sepanjang tulang belakang leher dan memasok darah ke bagian belakang otak.
Memahami Diseksi Arteri Vertebralis (VAD)¶
Untuk memahami betapa berbahayanya VAD, kita perlu tahu peran arteri vertebralis. Ada dua arteri vertebralis, kiri dan kanan, yang bergabung di bagian bawah otak membentuk arteri basilaris. Sistem ini sangat penting untuk memberikan suplai darah yang kaya oksigen ke batang otak, serebelum (otak kecil), dan bagian belakang hemisfer otak besar. Robekan pada arteri ini bisa menyebabkan darah menggumpal di lokasi robekan, menyempitkan atau bahkan menghalangi aliran darah. Gumpalan ini juga bisa terlepas dan terbawa ke otak, menyebabkan stroke iskemik.
Penyebab VAD bisa bermacam-macam, mulai dari trauma tumpul (seperti kecelakaan mobil atau cedera olahraga) hingga kondisi medis tertentu yang melemahkan dinding pembuluh darah. Namun, penyesuaian leher yang kuat atau gerakan leher yang tiba-tiba dan ekstrem, termasuk yang kadang dilakukan dalam terapi chiropractic, telah diidentifikasi sebagai salah satu pemicu VAD pada beberapa kasus. Arteri vertebralis melewati kanal tulang belakang leher, dan gerakan rotasi atau ekstensi leher yang berlebihan bisa meregangkan atau bahkan merobek pembuluh darah ini. Kasus Carissa diduga kuat berkaitan erat dengan penyesuaian leher yang baru saja ia jalani.
Segera Dilarikan ke ICU, Nyaris Stroke¶
Setelah diagnosis VAD dipastikan, tim medis menyadari betapa berbahayanya kondisi Carissa. Ia berisiko tinggi mengalami stroke yang bisa berakibat fatal atau menyebabkan kerusakan otak permanen. Tanpa buang waktu, Carissa segera dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit) di rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk menangani kasus vaskular seperti ini. Di sinilah tingkat keparahan situasinya dijelaskan secara gamblang oleh para dokter.
“Saya bisa saja meninggal dengan mudah,” ujar Carissa, mengingat kembali penjelasan dokter. Tim medis menekankan betapa gentingnya situasinya saat itu. Ia berada dalam garis tipis antara hidup dan mati, dan kedatangannya ke rumah sakit tepat pada waktunya adalah penyelamat. Kejadian ini bukan hanya meninggalkan luka fisik baginya, tetapi juga trauma mendalam bagi seluruh anggota keluarganya yang menyaksikan ia berjuang dan berada di ambang bahaya besar. Mereka semua hidup dalam ketakutan selama masa kritis itu.
Perjuangan Panjang Menuju Pemulihan¶
Perjalanan Carissa setelah diagnosis VAD bukanlah hal yang mudah. Kondisi ini memaksanya untuk berbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama. Tubuhnya terasa begitu lemah. Salah satu gejala yang paling mengganggu adalah kelelahan ekstrem. Ia membutuhkan tidur hingga 17 jam sehari, menunjukkan betapa beratnya beban yang ditanggung tubuhnya akibat cedera pada pembuluh darah vital itu. Kegiatan paling sederhana seperti berjalan pun menjadi sangat sulit.
Ia tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan bantuan untuk berpindah tempat. Rasa sakit di leher dan kepala terus saja muncul, menjadi pengingat konstan akan insiden yang menimpanya. Proses pemulihannya sangat lambat dan penuh tantangan fisik maupun emosional. Ia mungkin harus menjalani berbagai bentuk terapi fisik dan rehabilitasi untuk mendapatkan kembali sedikit kekuatan dan mobilitasnya, meskipun detail spesifiknya tidak disebutkan dalam cerita awalnya. Setiap hari adalah perjuangan untuk mengatasi kelemahan dan rasa sakit yang membayangi.
Hidup Berubah Drastis: Pembelajaran Pahit¶
Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Carissa mengalami diseksi arteri yang mengancam jiwanya itu. Sayangnya, gejala dari kondisi tersebut belum sepenuhnya hilang. Ia masih merasakan dampak jangka panjang dari cedera yang dialaminya. Namun, ia berusaha keras untuk beradaptasi dengan kondisi tubuhnya yang sekarang. “Tetapi, saya sehat, lebih aktif, dan menyesuaikan dengan tubuh saya,” katanya, menunjukkan semangat untuk terus maju meskipun ada keterbatasan. “Ini adalah perubahan gaya hidup secara menyeluruh.”
Dampak paling terasa adalah pada aktivitas fisik yang sebelumnya menjadi bagian besar hidupnya sebagai mantan penasihat kebugaran. Banyak hal yang dulu bisa ia lakukan dengan mudah kini menjadi mustahil. “Saya tidak akan pernah bermain ski lagi, tidak bisa naik rollercoaster, dan mengajar kelas (kebugaran) lagi,” tambahnya dengan nada penyesalan, mengingat hobinya dan profesinya yang tak bisa lagi dijalani. Keterbatasan ini tentu sangat sulit diterima bagi seseorang yang dulunya aktif dan bugar.
Trauma dan Pentingnya Kesadaran¶
Selain dampak fisik, Carissa juga harus berjuang melawan trauma dan ketakutan yang tersisa. Ada rasa cemas yang mendalam bahwa kondisi VAD itu bisa saja kambuh atau menyebabkan komplikasi lain di masa depan. Meskipun kondisinya saat ini stabil, proses pemulihannya ia akui sangat panjang dan melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Kehidupan yang dulu ia jalani seakan terhenti mendadak karena insiden tunggal itu.
“Hidup saya benar-benar terhenti,” ucapnya jujur. Carissa mengaku sangat menyesal pergi ke chiropractor pada hari itu. Namun, ia tidak bermaksud menyalahkan profesi chiropractic secara keseluruhan, melainkan lebih fokus pada pentingnya kesadaran akan risiko yang mungkin terjadi, terutama pada manipulasi leher. “Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun, ini hanya tentang menyebarkan lebih banyak kesadaran,” tegasnya. Ia ingin orang-orang belajar dari pengalamannya yang pahit ini.
Menyalakan Alarm: Kenali Gejala dan Risiko¶
Melalui ceritanya yang dibagikan luas, Carissa berharap dapat menjadi pengingat bagi orang lain. Ia ingin orang-orang memahami bahwa meskipun jarang, komplikasi serius seperti VAD bisa terjadi akibat manipulasi leher. Penting untuk mengetahui apa saja gejalanya agar bisa segera mencari pertolongan medis jika mengalaminya. Gejala VAD bisa bervariasi tetapi seringkali meliputi sakit kepala dan leher yang tiba-tiba dan parah, pusing, penglihatan ganda, kesulitan berbicara, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau kesulitan berjalan – banyak di antaranya tumpang tindih dengan gejala stroke.
Carissa menekankan bahwa VAD adalah kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan medis darurat. Penting bagi pasien untuk mendiskusikan riwayat kesehatan mereka secara detail dengan praktisi chiropractic, termasuk operasi atau kondisi medis yang mendasari. Mereka juga harus merasa nyaman bertanya mengenai risiko yang terkait dengan prosedur, terutama manipulasi leher. Mendapatkan informasi sebanyak mungkin dan mempertimbangkan alternatif terapi bisa menjadi langkah bijak sebelum memutuskan jenis perawatan yang akan diambil. Kesadaran adalah kunci untuk membuat keputusan yang aman bagi kesehatan diri sendiri.
Bagaimana tanggapan Anda setelah membaca kisah Carissa? Apakah Anda pernah mendengar tentang risiko manipulasi leher dalam terapi ‘kretek’? Bagikan pengalaman atau pendapat Anda di kolom komentar!
Posting Komentar