IHSG Bergoyang Karena IPO Gede? Plus, Ada Info Penting Soal BBRI Nih!

Table of Contents

Pergerakan IHSG yang Lagi Nggak Santai

Beberapa hari belakangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi nggak mau senyum nih. Pasar saham kebanggaan kita ini terpantau terus tertekan, sudah tiga hari berturut-turut loh koreksinya. Hari ini aja, Jumat pagi sekitar jam 10.52 WIB, IHSG udah anjlok sekitar 1,1%, bertengger di level 6.887.

Angka 6.887 ini tentu bikin sebagian investor deg-degan ya. Setelah sempat perkasa, kok sekarang malah loyo? Tapi tenang, ada analisis menarik dari pakar yang bisa bantu kita lihat gambaran lebih besarnya. Jadi, jangan panik duluan!

Koreksi Wajar di Tengah Gejolak

Menurut CEO Sucor Sekuritas, Bapak Bernardus Wijaya, pergerakan IHSG saat ini masih dalam batas kewajaran kok. Beliau bilang, koreksi ini belum bisa dibilang mengkhawatirkan banget. Masih ada ruang buat IHSG untuk kembali bangkit dan melanjutkan tren positifnya nanti.

Syaratnya, IHSG nggak boleh sampai jebol atau melewati batas bawah penting. Batas ini ada di area moving average 100 atau MA100, tepatnya di level 6.795. Selama level ini nggak tembus, koreksi yang terjadi sekarang masih dianggap “koreksi sehat” dalam pergerakan pasar saham.

Koreksi ini bukan tanpa alasan lho. Ada beberapa pendorong utama yang bikin pasar sedikit rewel. Dua faktor utama yang disebut-sebut adalah kondisi geopolitik global yang lagi kurang stabil dan, yang nggak kalah penting, adanya aktivitas raising money besar-besaran, terutama untuk Initial Public Offering (IPO) jumbo yang bakal ramai di bulan Juli mendatang.

IHSG Bergoyang

Efek Domino dari IPO Besar

Ngomongin soal IPO jumbo, ini memang salah satu faktor yang cukup sering mempengaruhi pergerakan IHSG, terutama kalau ukurannya gede. Kenapa begitu? Karena ketika ada perusahaan yang mau IPO dengan target dana besar, biasanya investor-investor gede, baik institusi maupun perorangan dengan modal kuat, akan siap-siap mengalokasikan dananya ke sana. Nah, dana ini kan bisa datang dari penjualan saham lain yang sudah mereka pegang di pasar reguler.

Jadi, bayangin aja, kalau ada beberapa IPO besar antre di bulan yang sama, ini bisa memicu aksi jual saham-saham yang ada di portofolio mereka demi menyiapkan dana segar untuk berburu saham IPO baru. Efeknya? Tentu saja harga saham-saham yang dijual itu bisa tertekan, dan kalau saham-saham yang dijual adalah saham-saham dengan kapitalisasi besar atau yang punya bobot signifikan di IHSG, ya IHSG kita ikut bergoyang deh. Ini semacam “efek domino” di pasar.

Salah satu IPO besar yang sudah di depan mata dan disebut-sebut adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Perusahaan ini sedang dalam masa bookbuilding, alias penentuan harga saham awalnya. Kisaran harganya dipatok antara Rp 170 sampai Rp 190 per saham. Kalau semua berjalan lancar, masa penawaran umum atau periode di mana masyarakat umum bisa ikut pesan sahamnya diperkirakan bakal berlangsung di awal Juli, sekitar tanggal 2-4.

Kehadiran IPO CDIA dan kemungkinan IPO besar lainnya di bulan Juli nanti memang jadi salah satu katalisator yang perlu diperhatikan investor. Volume transaksi di pasar reguler bisa jadi sedikit berkurang karena sebagian dana beralih ke pasar perdana untuk ikut IPO. Belum lagi kalau nanti saham IPO-nya mulai tercatat, ini bisa menambah jumlah saham yang beredar di pasar dan mungkin mengubah komposisi portofolio investor.

Tapi jangan khawatir, nggak semua IPO itu “mengambil” dana dari pasar ya. Ada juga IPO yang berhasil menarik dana baru masuk ke pasar modal. Namun, untuk IPO skala besar, efek realokasi dana dari saham lama ke saham baru itu seringkali lebih terasa dan bisa menciptakan tekanan jual sementara di saham-saham existing. Inilah salah satu penjelasan mengapa IHSG bisa sedikit tertekan saat ada ancang-ancang IPO jumbo.

Selain IPO, faktor geopolitik juga jadi bumbu penyedap ketidakpastian. Konflik di berbagai belahan dunia, perubahan kebijakan dagang antarnegara besar, atau bahkan isu-isu regional bisa mempengaruhi sentimen investor global. Kalau investor global lagi nervous, dana mereka bisa aja ditarik dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, atau mereka jadi lebih hati-hati dalam berinvestasi. Ini semua menambah daftar alasan kenapa IHSG kita lagi sensitif nih.

Saham Bank: Primadona Saat Volatilitas?

Nah, di tengah kondisi pasar yang lagi naik-turun nggak jelas alias bergejolak ini, kira-kira sektor apa ya yang bisa jadi pilihan menarik buat investor? Menurut Bapak Bernardus, saham-saham dari sektor perbankan bisa banget nih jadi pertimbangan. Apalagi kalau harga sahamnya sudah mulai mendekati area-area support atau batas bawah yang kuat secara teknikal.

Saham-saham bank memang sering dianggap sebagai saham defensif, dalam artian kinerjanya cenderung lebih stabil dibandingkan sektor lain di saat pasar lagi nggak pasti. Mereka punya fundamental yang kuat karena mengelola dana publik dan merupakan denyut nadi perekonomian. Jadi, mau ekonomi lagi kenceng atau melambat, masyarakat tetap butuh bank kan?

Salah satu contoh saham bank yang disorot adalah BBRI atau Bank Rakyat Indonesia. Saham bank plat merah ini punya area support yang cukup kuat di kisaran level 3.500 sampai 3.600. Artinya, di area harga tersebut, secara historis atau berdasarkan analisis teknikal, ada banyak pembeli yang siap menampung saham ini sehingga harganya cenderung sulit turun lebih jauh.

Kalau harga saham BBRI sudah merapat ke area 3.500-3.600 itu, kata Bapak Bernardus, bisa jadi momen yang pas buat mulai akumulasi alias nyicil beli sahamnya. Apalagi nih, di area harga segitu, Price to Earnings Ratio (PER) BBRI disebut-sebut berada di bawah 10 kali. PER itu gampangnya perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan per saham. Semakin rendah PER, semakin murah relatif saham itu jika dilihat dari kemampuan perusahaan mencetak laba.

PER di bawah 10 kali untuk saham bank besar sekelas BBRI seringkali dianggap menarik oleh banyak investor. Ini menandakan bahwa investor membayar kurang dari sepuluh kali lipat laba bersih tahunan perusahaan untuk setiap lembar saham yang mereka miliki. Tentu saja, PER bukan satu-satunya indikator, tapi ini bisa jadi sinyal awal bahwa saham tersebut mungkin sedang undervalued atau dihargai lebih rendah dari potensi laba yang bisa dihasilkannya.


PER BBRI Dibanding Bank Lain (Ilustrasi)

Kode Saham Sektor Area Support Kuat (Estimasi) Estimasi PER di Area Support Catatan
BBRI Perbankan Rp 3.500 - Rp 3.600 < 10x Fokus utama pada segmen mikro dan UMKM
BBNI Perbankan … (cari sendiri ya!) … (cari sendiri ya!) Biasanya kuat di segmen korporasi
BMRI Perbankan … (cari sendiri ya!) … (cari sendiri ya!) Bank terbesar di Indonesia (aset)

Catatan: Angka area support dan PER di tabel ini hanya ilustrasi berdasarkan komentar narasumber. PER dan support level sebenarnya bisa berubah dinamis. Investor wajib melakukan analisis mandiri!


Selain BBRI, saham perbankan lain yang juga bisa dilirik adalah BBNI (Bank Negara Indonesia) dan BMRI (Bank Mandiri). Ketiganya ini kan sering disebut sebagai big banks atau bank-bank besar di Indonesia. Masing-masing punya keunggulan dan fokus pasar yang sedikit berbeda, tapi secara umum, mereka adalah pilar sistem keuangan kita dan punya fundamental yang solid. Jika harga saham mereka juga terkoreksi mendekati area support kuat, ini bisa jadi kesempatan buat menambah posisi atau mulai masuk.

Investasi di saham perbankan besar juga sering dipilih karena mereka rutin membagikan dividen. Dividen itu sebagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi, selain potensi kenaikan harga saham (capital gain), investor juga bisa dapat passive income dari dividen. Ini tentu jadi nilai tambah, apalagi di saat pasar lagi moody begini.

Namun, penting diingat ya, meskipun saham bank terlihat menarik, tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi kamu. Jangan langsung all-in di satu sektor aja. Diversifikasi itu kunci dalam investasi!

Memahami Batas Wajar Koreksi

Penting untuk melihat pergerakan IHSG yang goyah ini dalam perspektif yang lebih luas. Koreksi itu adalah bagian normal dari siklus pasar saham. Nggak ada pasar yang bisa naik terus tanpa henti. Sesekali turun itu wajar, bahkan perlu, untuk “mendinginkan” pasar setelah naik kencang dan memberi kesempatan bagi investor baru untuk masuk di harga yang lebih menarik.

Seperti yang dibilang di awal, selama koreksi ini nggak sampai menembus batas support krusial (seperti level MA100 di 6.795 yang disebut tadi), ini masih bisa dikategorikan sebagai koreksi yang sehat. Ibarat orang lari maraton, ada kalanya butuh jeda sejenak untuk istirahat sebelum melanjutkan lari lagi sampai garis finis.

Apa yang bisa dilakukan investor saat pasar lagi koreksi?

  1. Tetap tenang: Jangan panik dan ikut-ikutan jual kalau memang saham yang kamu pegang punya fundamental bagus untuk jangka panjang.
  2. Evaluasi portofolio: Saat pasar turun, ini waktu yang pas buat review lagi saham-saham di portofoliomu. Mana yang masih punya prospek bagus, mana yang mungkin perlu dipertimbangkan ulang.
  3. Dollar Cost Averaging (DCA): Kalau punya dana nganggur, koreksi bisa jadi kesempatan untuk nyicil beli saham unggulan secara bertahap di harga yang lebih rendah. Ini strategi DCA, intinya meratakan harga beli.
  4. Fokus Jangka Panjang: Pasar saham itu paling cocok buat investasi jangka panjang. Gejolak jangka pendek itu wajar. Fokus pada potensi pertumbuhan perusahaan dalam 3-5 tahun atau bahkan lebih.
  5. Pantau Info: Tetap update dengan berita dan analisis dari sumber terpercaya. Pahami faktor-faktor yang sedang mempengaruhi pasar.


Siklus Pasar Sederhana

mermaid graph LR A[Uptrend / Bullish] --> B[Koreksi / Pullback]; B --> C[Konsolidasi / Sideways]; C --> A; C --> D[Downtrend / Bearish]; D --> E[Rebound / Recovery]; E --> A; B --> D;
Diagram ini menunjukkan siklus pasar saham yang umum. Koreksi (Pullback) adalah bagian normal dari Uptrend.


Faktor geopolitik dan antrean IPO besar memang bisa menciptakan turbulensi sementara di pasar. Investor dengan horison investasi jangka pendek mungkin akan merasa lebih nervous. Tapi buat investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru bisa menghadirkan peluang untuk mengoleksi saham-saham berkualitas di harga diskon.

Jadi, daripada gugup melihat IHSG yang lagi goyang, lebih baik kita coba pahami penyebabnya dan siapkan strategi yang tepat. Apakah ini saatnya untuk mulai lirik saham-saham bank besar yang harganya lagi diskon? Analisis dan keputusan akhir ada di tangan kamu sebagai investor!

Yuk, Ngobrol Santai!

Gimana nih pandangan kamu soal kondisi IHSG saat ini? Apa kamu termasuk yang lagi santai atau malah dag-dig-dug? Punya saham bank incaran lain selain BBRI, BBNI, atau BMRI? Share dong pendapat dan strategimu di kolom komentar di bawah! Kita diskusi bareng ya!

Posting Komentar