Hanung Bramantyo Blak-blakan Soal Film 'Gowok': Kamasutra Jawa yang Berani!

Table of Contents

Sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo, lagi-lagi bikin kejutan. Kali ini bukan soal film biografi atau drama romantis yang bikin baper, tapi tentang sebuah proyek film yang terdengar sangat berani dan bikin penasaran: ‘Gowok’. Judulnya saja sudah unik, apalagi embel-embel yang disematkan padanya: “Kamasutra Jawa”. Langsung terbayang, film ini pasti akan memancing banyak diskusi, mungkin juga kontroversi. Hanung sendiri buka-bukaan soal alasan di balik ketertarikannya pada tema yang satu ini.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Hanung Bramantyo

Siapa sih yang nggak kenal Hanung Bramantyo? Sutradara asal Yogyakarta ini sudah malang melintang di industri perfilman Indonesia selama bertahun-tahun. Karyanya beragam banget, mulai dari film-film box office religi kayak Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, sampai film biografi yang menggugah kayak Sang Pencerah dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Nggak ketinggalan juga film-film drama yang menyentuh hati seperti Brownies atau yang penuh kritik sosial.

Hanung dikenal sebagai sutradara yang nggak takut mengangkat tema-tema yang sensitif, kompleks, dan seringkali memancing perdebatan publik. Dia punya cara pandang yang unik dalam menerjemahkan naskah menjadi gambar bergerak, seringkali menggabungkan elemen komersial dengan pesan mendalam. Gaya penyutradaraannya seringkali realistis, tapi juga bisa punya sentuhan puitis, tergantung genre filmnya. Makanya, ketika nama Hanung Bramantyo muncul lagi terkait film berjudul ‘Gowok’ dengan deskripsi “Kamasutra Jawa”, banyak yang langsung menduga ini bukan film biasa.

Track record-nya menunjukkan bahwa Hanung suka menantang diri sendiri dan penontonnya untuk berpikir. Dia pernah bicara soal poligami dari sudut pandang berbeda, membahas sejarah pergerakan Islam di Indonesia, sampai mengangkat isu nasionalisme dan kemanusiaan. Jadi, wajar kalau dia tertarik pada tema yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa yang kaya, termasuk aspek-aspek yang mungkin selama ini jarang dibicarakan secara terbuka. Keberaniannya ini memang menjadi salah satu ciri khas yang membuat Hanung Bramantyo punya tempat tersendiri di perfilman Tanah Air.

“Gowok”: Judul yang Menggetarkan, Tema yang Menggoda

Oke, mari kita bedah judulnya: ‘Gowok’. Bagi yang familiar dengan budaya Jawa, kata ini mungkin sedikit asing atau malah sudah pernah dengar dalam konteks tertentu yang jarang dibicarakan. Lalu, ada frasa “Kamasutra Jawa”. Langsung terbayang, ini pasti akan membahas soal seluk-beluk hubungan intim, tapi dalam bingkai kearifan lokal Jawa. Kamasutra yang kita kenal kan biasanya identik dengan India, sebuah teks kuno yang membahas seni bercinta, kehidupan rumah tangga, dan aspek-aspek lain dari kehidupan sosial yang terkait dengan hasrat dan hubungan manusia.

Nah, Kamasutra Jawa ini yang bikin menarik. Apakah ini semacam panduan serupa tapi dengan sentuhan filosofi dan praktik Jawa? Ataukah ini lebih ke penggalian konsep-konsep Jawa kuno tentang tubuh, harmoni dalam hubungan, peran suami istri, atau bahkan ritual-ritual tertentu yang berhubungan dengan prokreasi atau kesuburan? Deskripsi ini secara otomatis menciptakan aura misteri dan eksotisme, sekaligus potensi kontroversi yang cukup besar. Mendengar judul dan deskripsinya saja, banyak orang mungkin langsung bereaksi kaget, penasaran, atau bahkan curiga. Ini bukan tema yang setiap hari diangkat di bioskop Indonesia.

Frasa “yang Berani!” melengkapi gambaran itu. Keberanian ini bisa berarti berani dalam mengeksplorasi tema seksualitas yang masih tabu di masyarakat kita, berani dalam menyajikan sudut pandang yang mungkin berbeda dari pandangan umum, atau berani menghadapi potensi kritik dan perdebatan yang pasti akan muncul. Hanung Bramantyo tampaknya memang sengaja memilih tema yang menggetarkan ini, bukan hanya untuk menarik perhatian, tapi mungkin juga karena dia melihat ada nilai penting atau pengetahuan yang perlu digali dan disajikan kepada publik melalui medium film.

Mengurai Makna “Kamasutra Jawa”: Lebih dari Sekadar Seksualitas

Ketika bicara “Kamasutra Jawa”, kita tidak bisa langsung membayangkannya hanya sebatas posisi-posisi seksual seperti Kamasutra India yang populer. Budaya Jawa itu kaya akan simbolisme, filosofi, dan konsep-konsep spiritual yang mendalam, bahkan dalam urusan hubungan intim. Mungkin “Kamasutra Jawa” yang dimaksud Hanung lebih merujuk pada semacam kawruh atau pengetahuan tentang bagaimana membangun keharmonisan dalam rumah tangga, termasuk di dalamnya aspek fisik, emosional, dan spiritual dari sebuah hubungan suami istri, berdasarkan kearifan lokal Jawa kuno.

Bisa jadi, film ini akan menggali pandangan Jawa tentang tubuh manusia, bukan hanya sebagai objek fisik, tetapi sebagai miniatur jagat raya (mikrokosmos) yang terhubung dengan alam semesta (makrokosmos). Hubungan intim mungkin dilihat sebagai salah satu cara untuk mencapai keseimbangan dan harmoni, tidak hanya antara dua individu, tetapi juga antara manusia dengan alam dan bahkan Tuhan. Konsep roso (rasa, perasaan, makna mendalam) dan semedi (meditasi, perenungan) bisa saja dihubungkan dengan bagaimana masyarakat Jawa kuno memandang keintiman. Mungkin ada ajaran tentang pentingnya ngajeni (menghargai) pasangan, menjaga kesucian hubungan, atau bahkan ritual-ritual yang dilakukan sebelum atau sesudah bersatunya suami istri, yang bertujuan untuk memohon berkah atau menjaga energi positif dalam rumah tangga.

Selain itu, “Kamasutra Jawa” bisa juga mencakup aspek-aspek sosial dan budaya yang melingkupi pernikahan dan hubungan. Misalnya, bagaimana peran istri dan suami dilihat dalam tradisi Jawa, bagaimana cara berkomunikasi antar pasangan, atau bahkan bagaimana mendidik anak dalam konteks pandangan dunia Jawa. Mungkin ada juga pembahasan tentang etika dalam hubungan, kesetiaan, dan cara mengatasi konflik rumah tangga berdasarkan prinsip-prinsip Jawa. Jelas, jika ini yang dieksplorasi, film ini akan jauh lebih kompleks dari sekadar panduan bercinta; ini adalah penggalian mendalam terhadap fondasi keintiman dan hubungan dalam budaya Jawa yang mungkin selama ini tersembunyi atau kurang dipahami oleh generasi sekarang. Ini adalah upaya untuk melihat seksualitas bukan sebagai sesuatu yang vulgar atau hanya fisik, tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan manusia yang terhubung dengan dimensi spiritual dan budaya.

Keberanian Hanung: Mengapa Tema Ini Dianggap ‘Berani’?

Di Indonesia, membicarakan seksualitas secara terbuka masih dianggap tabu di banyak kalangan masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan tradisi atau budaya tertentu. Film yang secara eksplisit atau bahkan implisit membahas tema seperti “Kamasutra Jawa” pasti akan langsung berhadapan dengan berbagai reaksi. Ada yang mungkin penasaran karena ini menggali aspek budaya yang jarang terungkap, tapi banyak juga yang mungkin langsung menolaknya mentah-mentah karena dianggap melanggar norma kesopanan, norma agama, atau tradisi yang mereka pahami secara berbeda.

Mengapa tema ini “berani”? Pertama, karena ini menyinggung seksualitas, area yang sangat pribadi dan seringkali dihindari dalam diskusi publik formal. Kedua, karena ini mengaitkannya dengan “Jawa”, yang bisa menimbulkan sensitivitas budaya. Ada risiko disalahpahami, dianggap melecehkan budaya Jawa, atau malah dianggap mempromosikan praktik-praktik tertentu yang mungkin tidak sesuai dengan pandangan agama yang dianut mayoritas masyarakat. Ketiga, penggunaan kata “Kamasutra” itu sendiri sudah punya konotasi yang kuat, yang bagi sebagian orang mungkin langsung dihubungkan dengan hal-hal yang vulgar, padahal seperti dibahas sebelumnya, Kamasutra Jawa bisa jadi punya makna yang jauh lebih luas dan filosofis.

Hanung Bramantyo tahu betul risiko ini. Memilih tema ini menunjukkan keberaniannya untuk mendobrak tabu dan mengajak masyarakat untuk melihat aspek budaya yang mungkin selama ini tersembunyi di balik stigma. Dia berani mengambil risiko kritik, protes, atau bahkan penolakan dari berbagai pihak. Keberanian ini juga terletak pada upayanya untuk menyajikan narasi yang jujur dan mendalam tentang sebuah topik yang rumit, tanpa terjebak dalam sensasionalisme belaka. Ini adalah tantangan artistik yang besar, sekaligus tanggung jawab moral untuk menyajikan kearifan lokal dengan cara yang bijak dan penuh penghormatan, meskipun temanya sensitif.

Alasan di Balik Pilihan Tema “Gowok”: Mengungkap Motivasi Hanung

Jadi, apa alasan Hanung Bramantyo nekat menggarap atau setidaknya membicarakan film bertema “Kamasutra Jawa” ini? Jika dilihat dari rekam jejaknya, Hanung seringkali tertarik pada cerita-cerita yang punya akar budaya kuat atau yang bisa memicu diskusi sosial. Mungkin baginya, “Kamasutra Jawa” ini adalah pintu masuk untuk menggali kekayaan filosofi Jawa yang terlupakan, khususnya yang berkaitan dengan hubungan manusia dan keintiman, yang merupakan fondasi dari sebuah keluarga dan masyarakat.

Salah satu motivasinya mungkin adalah pelestarian budaya. Di tengah gempuran budaya modern dan arus informasi global, banyak generasi muda yang semakin jauh dari kearifan lokal leluhur mereka. Aspek-aspek budaya yang dianggap tabu, seperti pandangan tradisional tentang seksualitas dan hubungan intim, seringkali hilang ditelan zaman atau hanya diketahui secara parsial dan menyimpang. Hanung mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk menghadirkan kembali pengetahuan kuno ini dalam format yang relevan dan menarik bagi penonton masa kini, sekaligus membersihkan stigma negatif yang mungkin melekat padanya.

Alasan lain bisa jadi adalah kritik sosial. Mungkin film ini akan secara halus atau terang-terangan mengkritik kemunafikan masyarakat modern yang di satu sisi sangat terbuka terhadap pengaruh asing (termasuk dalam urusan seksualitas lewat media sosial atau pornografi), tapi di sisi lain sangat tertutup dan menghakimi ketika bicara tentang ajaran atau praktik tradisional mereka sendiri. Hanung mungkin ingin mengajak penonton untuk merefleksikan nilai-nilai apa yang sebenarnya ingin mereka pegang teguh. Atau, ini bisa jadi upaya untuk menantang norma dan membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang seksualitas dalam konteks budaya sendiri, bukan hanya mengadopsi mentah-mentah pandangan dari luar. Baginya, mungkin penting untuk menunjukkan bahwa budaya lokal pun punya pandangan dan ajaran yang kompleks dan patut dipelajari terkait dengan aspek fundamental kehidupan manusia ini.

Proyeksi Tantangan dan Respon Publik

Film ‘Gowok’ dengan tema “Kamasutra Jawa” jelas akan menghadapi banyak tantangan. Pertama dan paling obvious adalah sensor. Adegan atau dialog yang dianggap terlalu eksplisit, baik visual maupun verbal, pasti akan jadi sasaran gunting lembaga sensor. Hanung perlu mencari cara kreatif untuk menyampaikan pesannya tanpa harus terlalu vulgar, mengandalkan simbolisme, dialog yang cerdas, atau penggambaran yang lebih puitis.

Selain itu, respon publik kemungkinan besar akan terpecah belah. Akan ada yang antusias dan memuji keberanian serta kedalaman film ini, melihatnya sebagai kontribusi penting dalam mendokumentasikan kearifan lokal dan memecah kebisuan seputar seksualitas. Namun, tidak sedikit juga yang akan menentang, mengutuk, atau bahkan memboikot film ini. Kritik bisa datang dari kelompok agama yang merasa ajaran mereka bertentangan dengan isi film, dari akademisi atau budayawan yang merasa film ini salah menafsirkan atau mereduksi makna budaya Jawa, atau dari masyarakat umum yang merasa tidak nyaman dengan tema yang diangkat.

Potensi kontroversi ini adalah bagian tak terpisahkan dari proyek semacam ini. Hanung Bramantyo, dengan pengalamannya, pasti sudah memperhitungkan ini. Mungkin film ini memang dibuat untuk memicu diskusi dan perdebatan sehat di masyarakat tentang bagaimana kita memandang tradisi, budaya, dan seksualitas di era modern. Film yang bagus seringkali memang bukan yang membuat semua orang nyaman, tapi yang membuat orang berpikir dan berdialog. Respon publik terhadap ‘Gowok’ nantinya akan menjadi cerminan menarik tentang bagaimana masyarakat Indonesia hari ini menyikapi isu-isu sensitif yang berakar pada tradisi mereka sendiri.

Gaya Penceritaan Hanung Bramantyo

Mengingat gaya khas Hanung Bramantyo, kemungkinan besar film ‘Gowok’ tidak akan menjadi film yang hanya sekadar menampilkan adegan-adegan erotis demi sensasi. Hanung punya keahlian dalam meramu cerita yang berbasis karakter dan bernuansa dramatis. Dia biasanya fokus pada pergulatan batin tokoh-tokohnya, konflik internal dan eksternal yang mereka hadapi, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial dan budaya mereka.

Dalam konteks ‘Gowok’, Hanung mungkin akan menceritakan kisah melalui sudut pandang beberapa karakter yang merepresentasikan pandangan berbeda terhadap “Kamasutra Jawa” ini. Mungkin ada karakter yang mencoba melestarikan ajaran kuno, karakter yang menolaknya karena dianggap ketinggalan zaman atau bertentangan dengan keyakinan baru, karakter yang mencarinya karena merasa ada kekosongan dalam hidup modern, atau karakter yang mengeksploitasinya. Melalui interaksi dan konflik antar karakter inilah, Hanung bisa menyajikan kekayaan dan kompleksitas tema “Kamasutra Jawa” tanpa harus melulu bersifat didaktis atau gamblang. Visual filmnya mungkin akan kaya akan simbolisme Jawa, menggunakan setting, kostum, dan musik yang otentik untuk membangun atmosfer yang kuat. Pendekatan ini akan memungkinkan film untuk menggali kedalaman filosofis dari tema tersebut, alih-alih hanya permukaannya.

‘Gowok’ sebagai Kontribusi pada Sinema Indonesia

Jika berhasil dikemas dengan baik, film ‘Gowok’ bisa menjadi kontribusi penting bagi perfilman Indonesia. Film ini bisa menjadi pembuka jalan bagi tema-tema budaya yang lebih beragam dan mendalam di layar lebar. Film Indonesia seringkali masih didominasi oleh genre-genre tertentu (horor, drama romantis komedi), sementara penggalian kekayaan budaya nusantara, terutama aspek-aspek yang dianggap tabu atau kurang populer, masih jarang disentuh.

‘Gowok’ bisa membuktikan bahwa tema yang bersumber dari kearifan lokal, bahkan yang paling sensitif sekalipun, bisa diangkat menjadi karya sinema yang berkualitas, menggugah pikiran, dan tetap relevan bagi penonton modern. Ini juga bisa mendorong sutradara lain untuk lebih berani mengeksplorasi kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk aspek-aspek yang selama ini mungkin dianggap “gelap” atau “tersembunyi”. Pada akhirnya, ini akan memperkaya khazanah perfilman nasional dan menunjukkan bahwa Indonesia punya cerita yang tak ada habisnya untuk diceritakan, dengan kedalaman yang luar biasa.

Hanung Bramantyo Blak-blakan Gowok

Berikut adalah perbandingan spekulatif tema film ‘Gowok’ dengan beberapa film Hanung Bramantyo sebelumnya:

Film Genre Utama Tema Budaya Lokal Tema Seksualitas/Hubungan Intim Tingkat Keberanian Tema (Spekulatif)
Ayat-Ayat Cinta Drama Religi Budaya Timur Tengah Poligami, Pernikahan Tinggi (Religi/Sosial)
Sang Pencerah Biografi/Sejarah Islam Nusantara Pernikahan (tidak eksplisit) Sedang (Sejarah/Pembaharuan)
Bumi Manusia Sejarah/Drama Budaya Jawa, Kolonial Percintaan, Pernikahan Sedang (Sejarah/Sosial)
Gowok (Spekulasi) Drama Budaya Budaya Jawa Kuno Kamasutra Jawa, Keintiman Tradisional Sangat Tinggi (Seksualitas/Budaya Tabu)

Tabel di atas menunjukkan bagaimana ‘Gowok’ secara spekulatif berbeda dari film-film Hanung sebelumnya dalam hal fokus tema, terutama keberanian dalam menggali aspek budaya yang sangat pribadi dan minim diskursus publik seperti “Kamasutra Jawa”.

Hanung Bramantyo memang sutradara yang selalu berhasil mencuri perhatian. Pilihannya untuk blak-blakan soal film ‘Gowok’ dengan tema “Kamasutra Jawa yang Berani!” ini jelas bukan tanpa perhitungan. Dia tampaknya siap menghadapi segala kemungkinan, mulai dari pujian setinggi langit sampai kritik pedas yang menusuk. Film ini, meskipun detail produksinya masih spekulatif, sudah berhasil menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa dan membuka ruang imajinasi tentang seperti apa nantinya kearifan lokal Jawa kuno yang berkaitan dengan keintiman ini akan disajikan di layar lebar. Ini janji akan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengedukasi dan memprovokasi pemikiran.

Bagaimana pendapat Anda tentang rencana film ‘Gowok’ dengan tema “Kamasutra Jawa” ini? Apakah Anda penasaran atau justru skeptis? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar