Ballerina: Review Jujur Film Aksi Korea yang Bikin Deg-degan!
Ballerina membuktikan diri bukan sekadar film ‘nebeng’ popularitas John Wick. Jujur, film ini berhasil menyuguhkan aksi laga yang fresh dan seru banget, bahkan kalau dibandingkan dengan film-film sejenis yang rilis tahun ini. Film ini berdiri kokoh dengan gayanya sendiri, menunjukkan bahwa semesta John Wick masih punya banyak cerita menarik untuk dieksplorasi. Kehadirannya terasa pas, mengisi kekosongan yang mungkin dirasakan para penggemar John Wick sambil memperkenalkan karakter baru yang potensial. Film ini layak banget ditonton buat kamu yang doyan film aksi.
Film Ballerina mengangkat premis yang sebenarnya cukup familiar di dunia aksi: balas dendam. Kali ini, fokusnya ada pada Eve Macarro, seorang pembunuh bayaran yang diperankan dengan apik oleh Ana de Armas. Kalau John Wick memulai misi balas dendamnya karena anjing kesayangannya diusik, motivasi Eve sedikit berbeda namun tak kalah personal. Misi balas dendam Eve dipicu oleh kematian ayahnya yang terjadi saat dia masih kecil, meninggalkan luka mendalam yang hanya bisa disembuhkan lewat perhitungan.
Dari sinilah, kita bisa melihat perbedaan warna yang ditawarkan Ballerina dibandingkan saga John Wick yang sudah ada. Empat film John Wick sebagian besar bercerita tentang usaha sang Baba Yaga untuk lepas dari cengkeraman High Table, organisasi kriminal paling berkuasa, dan meraih ‘pensiun’ yang tenang. Sementara itu, Ballerina justru membawa kita kembali ke titik nol, menunjukkan bagaimana Eve Macarro memulai perjalanannya dan masuk ke dalam dunia bawah tanah yang penuh bahaya.
Len Wiseman, sutradara film ini, bekerja sama dengan penulis skenario Shay Hatten untuk menggarap kisah awal Eve. Kita dibawa menyaksikan bagaimana Eve pertama kali menginjakkan kaki di Ruska Roma, organisasi kejam yang menjadi tempat para calon pembunuh bayaran ditempa dan dilatih. Momen-momen awal di Ruska Roma ini terasa seperti satu-satunya jeda sebelum badai aksi benar-benar pecah.
Memang, Len Wiseman tampaknya tidak ingin berlama-lama dengan cerita latar belakang yang terlalu mendayu-dayu. Bagian pelatihan di Ruska Roma hanya disajikan sekilas, cukup untuk memberi gambaran bahwa Eve bukanlah orang sembarangan, tapi juga tidak bertele-tele. Ini membuat film terasa cepat masuk ke intinya, langsung memperkenalkan kita pada dunia keras yang akan dihadapi Eve. Rasanya seperti persiapan singkat sebelum terjun ke medan perang yang tak terhindarkan, meningkatkan rasa antisipasi penonton.
Review film Ballerina: Ballerina mengungkap perjalanan awal Eve terjun ke dunia kriminal bawah tanah. (Lionsgate/Murray Close)
Setelah Eve dinyatakan siap dan diizinkan bertugas di lapangan oleh Ruska Roma, Ballerina langsung bertransformasi menjadi ajang pamer aksi laga yang memukau dan non-stop. Misi pertamanya adalah melindungi seseorang bernama Katla Park, tapi ini hanyalah pemicu rentetan pertempuran yang harus dihadapinya. Dari satu sudut ke sudut lain, musuh terus berdatangan, menguji setiap kemampuan yang telah dilatihnya. Film ini benar-benar membuat penonton duduk di ujung kursi.
Len Wiseman patut diacungi jempol karena berhasil mengikuti standar tinggi yang sudah ditetapkan oleh Chad Stahelski, sutradara John Wick. Adegan-adegan laga dalam Ballerina terasa segar, koreografinya cerdas, dan eksekusinya mematikan. Setiap pertarungan dirancang dengan detail, mulai dari baku tembak jarak jauh yang presisi hingga duel jarak dekat yang brutal.
Keberhasilan Ballerina dalam adegan aksi tak hanya terletak pada koreografi yang apik, tapi juga pada tingkat kekerasan yang ditampilkan. Eve Macarro tidak main-main dalam menghadapi musuhnya; dia membunuh dengan cara yang ekstrem dan berdarah-darah. Ini memberikan nuansa yang berbeda, terasa lebih mentah dan tanpa kompromi, mencerminkan kerasnya dunia yang dia jalani. Setiap pukulan, tendangan, dan tusukan terasa dampaknya.
Salah satu aspek paling menghibur dari Ballerina adalah kreativitas sang sutradara dalam memanfaatkan benda-benda di sekitar Eve sebagai senjata. Ana de Armas sebagai Eve dipersenjatai dengan hal-hal tak terduga yang sungguh ‘nyeleneh’ tapi efektif. Bayangkan bertarung dengan pisau berpeluru karet, melempar piring dengan presisi mematikan, menggunakan remot televisi untuk melumpuhkan lawan, atau bahkan memakai sepatu ice skating sebagai alat tempur di luar gelanggang es.
Kreativitas penggunaan senjata ini jelas mengingatkan pada momen-momen ikonis John Wick, seperti saat dia menghabisi tiga orang hanya dengan satu pensil atau mengalahkan lawan menggunakan kartu remi. Kesamaan quirk ini seolah menggarisbawahi bahwa Ballerina memang lahir dari universe yang sama dengan John Wick. Ini bukan sekadar easter egg, tapi bukti bahwa semangat kreatif dalam merancang adegan laga di semesta ini tetap hidup.
Cerita kemudian memuncak ketika Eve akhirnya mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai identitas pembunuh ayahnya. Lewat Ballerina, penggemar semesta John Wick diperkenalkan dengan keberadaan sebuah sekte misterius yang dipimpin oleh karakter The Chancellor, diperankan oleh Gabriel Byrne. Sekte ini ternyata sudah eksis selama ratusan tahun, beroperasi di balik layar dan melatih para pengikutnya menjadi prajurit yang tangguh dan loyal.
Mereka bahkan memiliki permukiman khusus yang terisolasi di kawasan pedesaan Hallstatt, Austria, menjadikan tempat itu benteng mereka. Keberadaan sekte ini menambah dimensi baru pada dunia kriminal bawah tanah yang sudah dikenal dari film-film John Wick. Mereka bukan sekadar gerombolan penjahat biasa, melainkan organisasi dengan sejarah panjang dan kekuatan yang signifikan, membuat misi balas dendam Eve menjadi jauh lebih berbahaya.
Ambisi balas dendam yang membara membawa Eve seorang diri untuk menghadapi sekte tersebut di markas mereka. Ini bukan tentang melawan segelintir orang atau satu peleton kecil, tapi nyaris satu desa penuh dengan orang-orang bersenjata dan terlatih. Misi yang jelas terlihat seperti misi bunuh diri ini menjadi klimaks utama dan panggung terbesar bagi Ballerina untuk menampilkan aksi puncaknya.
Namun, di tengah-tengah rentetan aksi yang mendebarkan ini, saya sempat merenung sejenak tentang penggambaran karakter Eve Macarro. Di satu sisi, dia ditampilkan begitu lihai, brutal, dan efektif dalam melumpuhkan musuh-musuhnya, padahal secara timeline, dia baru saja lulus dari pelatihan di Ruska Roma. Kemampuannya mengadaptasi berbagai benda di sekitarnya menjadi senjata terasa sangat tinggi untuk seseorang dengan jam terbang yang relatif minim sebagai pembunuh bayaran profesional.
Naluri bertarung Eve yang sporadis dan agresif memang bisa dipahami mengingat usianya yang masih muda dan didorong oleh amarah balas dendam, berbeda dengan John Wick yang gayanya lebih terukur dan efisien berkat pengalamannya bertahun-tahun. Namun, kemampuan optimalisasi senjata improvised yang ditunjukkannya terasa seperti keterampilan tingkat lanjut yang biasanya hanya dimiliki oleh veteran. Ini sedikit terasa seperti fast-track dalam pengembangan karakternya dari segi kemampuan tempur.
Meskipun ada sedikit pertanyaan soal skill curve Eve, keraguan itu langsung lenyap ditelan oleh banjirnya adegan aksi di Hallstatt yang disajikan tanpa henti. Rentetan pertempuran di lokasi ini benar-benar luar biasa, dirancang dengan intensitas tinggi dan variasi yang membuat mata tak berkedip. Keindahan arsitektur Hallstatt yang ikonik justru menjadi latar belakang yang kontras dengan kekacauan dan kekerasan yang terjadi.
Bagian klimaks ini menjadi semakin spesial dengan munculnya sosok yang paling ditunggu-tunggu oleh para penggemar semesta ini. Di sepertiga akhir cerita, John Wick, yang diperankan oleh Keanu Reeves, akhirnya menampakkan diri. Kehadirannya bukan sekadar cameo, tapi memiliki peran signifikan sebagai utusan dari Ruska Roma, yang ditugaskan untuk menghentikan misi pribadi Eve yang dianggap melanggar aturan atau berisiko menimbulkan masalah lebih besar.
Review film Ballerina: Kehadiran John Wick (Keanu Reeves membalas rindu fan karena belum tentu dapat melihat aksinya lagi di semesta John Wick dalam waktu dekat.(Courtesy of Lionsgate)
Kehadiran John Wick ini bagaikan oase di tengah gurun bagi para penggemar yang sudah rindu aksinya, terutama karena nasib John Wick di film selanjutnya masih belum pasti. Pembunuh legendaris yang dikenal sebagai Baba Yaga atau The Boogeyman ini berhasil membuat keseruan adegan laga dalam Ballerina menjadi berlipat ganda. Interaksi antara John Wick dan Eve, meskipun singkat, terasa penuh tension dan karisma.
Setiap kali Keanu Reeves muncul di layar sebagai John Wick, energinya langsung terasa berbeda. Keahlian bertarungnya yang khas, aura misteriusnya, dan cara dia bergerak membuat setiap frame menjadi berharga. Momen-momen ketika dia beraksi bersama atau bahkan berhadapan dengan Eve menjadi puncak yang dinantikan, membuktikan bahwa warisan John Wick masih sangat kuat dan relevan dalam semesta ini.
Sepertiga akhir cerita ini menjadi penutup yang sangat memuaskan untuk 125 menit petualangan Eve Macarro. Meskipun plot balas dendam mungkin terasa klise, eksekusi adegan laganya membuat Ballerina naik ke level yang berbeda. Sinematografi, koreografi, dan kreativitas dalam aksi laga berhasil mengemas cerita sederhana menjadi tontonan yang luar biasa seru. Film ini tidak hanya menjual nama besar John Wick, tapi benar-benar menghadirkan kualitas yang sepadan.
Kualitas film ini disempurnakan dengan penampilan yang sangat menjanjikan dari Ana de Armas. Debutnya di saga John Wick sebagai karakter utama sungguh memukau. Dia tidak hanya terlihat cantik dan anggun, tapi juga meyakinkan sebagai mesin pembunuh yang brutal dan tangguh. Penampilan fisiknya dalam koreografi laga patut diacungi jempol, menunjukkan dedikasi dan latihan keras yang dijalaninya.
Setelah penampilannya yang mencuri perhatian meski singkat dalam film James Bond No Time to Die (2021), Ana de Armas di Ballerina seolah menasbihkan dirinya sebagai salah satu aktris laga yang patut diperhitungkan di masa depan. Dia memiliki karisma, kemampuan akting, dan fisik yang dibutuhkan untuk genre ini. Dia berhasil menghidupkan karakter Eve dengan lapisan emosi yang dibutuhkan, membuat penonton bersimpati dengan misi balas dendamnya meski cara yang ditempuh sangat brutal.
Saya pribadi tidak akan terkejut, dan bahkan sangat berharap, agar studio memberikan lampu hijau untuk melanjutkan perjalanan Eve Macarro di film-film mendatang. Karakter Eve Macarro, di tangan Ana de Armas, rasanya sangat pantas menjadi penerus tongkat estafet di semesta John Wick. Terutama jika nantinya saga utama memang mengizinkan Keanu Reeves ‘pensiun’ dengan tenang setelah John Wick 5, Eve bisa menjadi wajah baru yang kuat untuk franchise ini.
Dia menawarkan perspektif yang berbeda – lebih muda, lebih mentah, dengan motivasi yang berbeda dari John Wick. Potensi untuk mengeksplorasi lebih jauh dunia Ruska Roma, hubungan Eve dengan karakter-karakter lain di semesta ini, dan bagaimana dia tumbuh menjadi pembunuh bayaran yang matang sungguh besar. Film ini terasa seperti pembuka yang kuat untuk babak baru dalam dunia yang penuh pembunuh bayaran, hotel Continental, dan aturan-aturan aneh.
Secara keseluruhan, Ballerina adalah film aksi yang solid, menghibur, dan berhasil menghadirkan ketegangan yang membuat deg-degan. Aksi laganya keren, kreatif, dan brutal. Penampilan Ana de Armas sebagai Eve Macarro sangat memuaskan dan menjanjikan. Kehadiran John Wick menjadi nilai plus yang manis. Film ini sangat direkomendasikan bagi penggemar John Wick dan siapa saja yang menikmati film aksi dengan koreografi pertempuran yang detail dan hardcore.
Bagaimana pendapat kalian setelah menonton Ballerina? Atau apakah review ini bikin kalian penasaran untuk segera menyaksikannya? Yuk, bagikan pikiran dan reaksi kalian di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar