Riccardo Tisci, Eks Desainer Burberry, Kena Tuduh Pelecehan Seksual!

Table of Contents

Riccardo Tisci, Eks Desainer Burberry, Kena Tuduh Pelecehan Seksual!

Dunia fashion lagi heboh nih. Nama besar Riccardo Tisci, desainer yang pernah jadi creative director buat rumah mode top sekelas Givenchy dan Burberry, mendadak jadi pusat perhatian. Sayangnya, perhatian kali ini bukan karena koleksi terbarunya atau karya fashion yang bikin takjub, melainkan karena tuduhan serius.

Ada seorang pria bernama Patrick Cooper yang melayangkan tuduhan pelecehan seksual terhadap Tisci. Berita ini langsung menyebar cepat di kalangan penggemar fashion dan media internasional. Tentu aja, tuduhan ini cukup mengagetkan banyak pihak, mengingat reputasi Tisci sebagai salah satu desainer paling berpengaruh dekade ini.

Detail Tuduhan yang Mencengangkan

Gugatan hukum terkait tuduhan ini kabarnya udah didaftarkan di Mahkamah Agung Negara Bagian New York. Tanggal pengajuannya disebutkan pada 29 April 2025. Jadi, ini bukan sekadar omongan kosong, tapi udah masuk ranah hukum.

Patrick Cooper, si penggugat, menceritakan detail kejadian yang menurutnya sangat merugikan dan traumatis. Insiden yang dituduhkan itu konon terjadi pada 29 Juni 2024. Ini terjadi setelah ada pertemuan atau acara di kawasan Manhattan, New York.

Cooper mengaku kenal dengan Riccardo Tisci ini lewat seorang teman. Setelah acara tersebut, mereka berdua sempat makan malam di sebuah restoran di Harlem, Manhattan. Malam yang tadinya mungkin terasa biasa aja, ternyata berujung pada pengalaman buruk yang tak terduga menurut versinya.

Kronologi Menurut Penggugat

Dalam berkas gugatannya, Patrick Cooper menuduh bahwa Riccardo Tisci melakukan tindakan di luar batas. Dia mengklaim bahwa Tisci secara diam-diam menaruh zat berbahaya ke dalam minumannya. Ini yang diduga membuat Cooper jadi nggak sadar atau hilang kendali atas diri dan pikirannya.

Dia menggambarkan kondisinya saat itu sangat parah. Merasa benar-benar nggak bisa melawan atau membela diri. Patrick bilang, dia jadi linglung banget, sampai nggak tahu lagi di mana dia berada atau apa yang sedang terjadi. Apalagi apa yang dilakukan oleh orang lain, khususnya Tisci, terhadapnya.

Setelah itu, menurut keterangan tertulis Cooper, dia dibawa ke apartemen Tisci yang berlokasi di kawasan SoHo. Di situlah, dia mengaku ditahan secara paksa dan mengalami pelecehan seksual. Cooper menegaskan niatnya malam itu sama sekali bukan untuk berakhir di apartemen atau di ranjang Tisci.

Ketika terbangun, Patrick mengaku kaget dan mendapati Tisci sedang menciumnya. Dia menggambarkan kejadian itu sebagai ‘serangan seksual yang bersifat predator dan melanggar hukum’. Lebih lanjut, dia juga menyatakan saat terbangun, dirinya dalam keadaan tanpa busana di samping desainer asal Italia itu.

Pengalaman ini tentu sangat mengerikan dan traumatis buat Patrick Cooper. Nggak lama setelah kejadian yang dituduhkan itu, dia langsung bertindak. Patrick segera pergi ke rumah sakit untuk menjalani tes yang dikenal sebagai ‘rape kit’. Selain itu, dia juga melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian New York atau NYPD.

Bantahan dari Pihak Riccardo Tisci

Menanggapi tuduhan serius ini, pihak Riccardo Tisci nggak tinggal diam. Juru bicara Riccardo Tisci langsung mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka membantah keras semua tuduhan yang dilayangkan oleh Patrick Cooper.

Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa ‘Semua tuduhan ini sama sekali tidak benar’. Pihak Tisci juga menyatakan bahwa Riccardo berharap dapat membersihkan namanya dari tuduhan palsu dan jahat ini melalui proses hukum yang berlaku. Sampai saat artikel ini ditulis, Riccardo Tisci sendiri belum memberikan komentar atau pernyataan langsung mengenai kasus ini. Dia mungkin menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum dan juru bicaranya untuk menangani masalah ini.

Proses hukum ini kemungkinan akan berjalan cukup panjang. Akan ada penyelidikan mendalam, pengumpulan bukti, dan mungkin persidangan untuk menentukan kebenaran dari tuduhan ini. Tentu publik akan menantikan bagaimana kelanjutan kasus ini dan seperti apa hasil akhirnya nanti.

Jejak Karier Gemilang Riccardo Tisci

Terlepas dari kasus yang sedang menimpanya, nggak bisa dipungkiri kalau Riccardo Tisci adalah salah satu desainer yang sangat berpengaruh di dunia fashion. Pria kelahiran Taranto, Italia, pada tahun 1974 ini punya rekam jejak karier yang panjang dan penuh pencapaian. Ia lulus dari Central Saint Martins di London pada tahun 1999, salah satu sekolah fashion paling bergengsi di dunia.

Setelah lulus, Tisci sempat bekerja untuk beberapa label sebelum akhirnya mendirikan labelnya sendiri di Milan. Namun, titik baliknya datang ketika ia diangkat menjadi Direktur Kreatif untuk busana wanita di Givenchy pada tahun 2005. Keputusan ini sempat bikin banyak alis terangkat, mengingat Givenchy saat itu butuh penyegaran dan Tisci belum terlalu dikenal luas sebagai nama besar di industri mewah.

Era Keemasan di Givenchy

Di Givenchy, Riccardo Tisci benar-benar membawa perubahan drastis. Ia dikenal dengan gaya desainnya yang gelap, romantis, dan kadang sentuhan gotik. Tisci nggak takut mencampurkan elemen subkultur, seperti streetwear dan musik rock, dengan keanggunan haute couture. Ini adalah perpaduan yang cukup berani dan berhasil menarik perhatian generasi baru.

Di bawah kepemimpinan Tisci, Givenchy kembali bersinar dan menjadi salah satu label paling dicari. Ia sukses menciptakan banyak momen ikonis di atas runway, mulai dari koleksi yang terinspirasi dari tengkorak, Rottweiler, hingga motif bintang yang jadi ciri khas. Tisci juga sangat pandai memanfaatkan kekuatan selebriti.

Ia memiliki hubungan dekat dengan banyak bintang besar, seperti Madonna, Beyoncé, Rihanna, dan keluarga Kardashian-Jenner. Khususnya Kim Kardashian dan Kanye West (saat itu). Tisci bahkan mendesain gaun pengantin Kim Kardashian untuk pernikahannya dengan Kanye West, yang jadi sorotan dunia. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Tisci di kalangan selebriti papan atas.

Tisci juga berjasa dalam membuat Givenchy lebih relevan dengan pasar yang lebih muda dan menyukai streetwear. Ia berhasil menggabungkan keahlian rumah mode mewah dengan estetika yang lebih santai dan edgy, menciptakan tren baru yang kemudian banyak diikuti oleh desainer lain. Kolaborasi Givenchy dengan merek seperti Nike juga semakin memperkuat posisinya di persimpangan fashion mewah dan budaya pop.

Setelah 12 tahun yang sukses gemilang di Givenchy, Riccardo Tisci akhirnya memutuskan untuk hengkang pada tahun 2017. Kepergiannya saat itu cukup mengejutkan, tapi banyak yang menduga ia akan segera bergabung dengan rumah mode besar lainnya. Dan benar saja, tak lama berselang, ia mengumumkan langkah selanjutnya.

Mengguncang Burberry

Pada tahun 2018, Riccardo Tisci resmi ditunjuk sebagai creative director baru Burberry, menggantikan Christopher Bailey. Ini adalah tantangan baru yang nggak kalah besar. Burberry adalah ikon fashion Inggris dengan warisan yang sangat kaya, terutama lewat ciri khas trench coat dan motif check-nya.

Tisci punya tugas berat untuk menyegarkan citra Burberry tanpa menghilangkan identitas klasiknya. Ia langsung tancap gas dengan memperkenalkan logo dan monogram baru untuk Burberry, yang didesain bekerja sama dengan desainer grafis legendaris Peter Saville. Langkah ini menunjukkan niat Tisci untuk melakukan rebranding besar-besaran.

Di Burberry, Tisci mencoba menjembatani warisan Inggris yang klasik dengan sentuhan modern yang lebih urban dan multikultural. Ia menampilkan koleksi yang mencampurkan jas rapi dengan hoodie atau sweatshirt, serta mengadaptasi motif check Burberry menjadi lebih abstrak dan kontemporer. Ia juga fokus pada keberlanjutan dan inklusivitas, mencoba menarik konsumen yang lebih sadar isu sosial.

Salah satu strategi Tisci di Burberry adalah merilis koleksi kapsul terbatas yang disebut “B Series” setiap bulan. Ini adalah taktik yang diadopsi dari merek streetwear untuk menciptakan hype dan rasa eksklusif, mendorong konsumen untuk terus mengikuti rilisan terbaru Burberry. Pendekatan ini berhasil menarik perhatian kaum muda dan penggemar streetwear.

Meski upaya Tisci di Burberry menuai beragam reaksi dari kritikus dan penggemar setia, nggak bisa dipungkiri bahwa ia berhasil membawa energi baru ke dalam rumah mode berusia ratusan tahun itu. Ia membawa perspektif segar dan mencoba menempatkan Burberry di posisi yang relevan di era digital dan streetwear yang sedang naik daun.

Namun, perjalanan Tisci di Burberry juga nggak bertahan selama di Givenchy. Ia akhirnya meninggalkan Burberry pada September 2022, setelah empat tahun menjabat. Kepergiannya disebut sebagai bagian dari perubahan strategis di perusahaan.

Berikut adalah kilas balik singkat dua peran besar Riccardo Tisci di dunia fashion:

Rumah Mode Posisi Periode Ciri Khas di Era Tisci Dampak Utama
Givenchy Creative Director 2005 - 2017 Estetika gelap/gotik, kolaborasi seni, muses selebriti, perpaduan couture & streetwear Membangkitkan Givenchy, ikon street-luxury, daya tarik selebriti kuat
Burberry Creative Director 2018 - 2022 Rebranding logo/monogram, perpaduan warisan & modern, koleksi terbatas, fokus inklusivitas Mencoba menyegarkan citra Burberry, menarik generasi baru

Karier Tisci menunjukkan kemampuannya beradaptasi dan membawa visi unik ke dalam dua rumah mode yang sangat berbeda. Ia sering dipuji karena kemampuannya menjembatani dunia couture yang mewah dengan sentuhan modern yang berani dan relevan dengan budaya pop saat ini.


Untuk melihat beberapa karyanya di Givenchy, ini salah satu show yang cukup ikonik:



*Givenchy Haute Couture Spring/Summer 2015 Show - Salah satu show ikonis di era Riccardo Tisci.*


Dan ini salah satu show Burberry di bawah arahannya:



*Burberry Spring/Summer 2021 Show - Menampilkan sentuhan modern khas Tisci.*


Industri Fashion dan Isu Serupa

Tuduhan pelecehan seksual di industri fashion bukanlah hal yang baru. Beberapa tahun terakhir, semakin banyak individu yang berani speak up mengenai pengalaman buruk mereka, baik itu terkait pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan, atau lingkungan kerja yang toksik. Gerakan seperti #MeToo juga punya pengaruh besar dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas di berbagai industri, termasuk fashion.

Kasus seperti ini menunjukkan bahwa nama besar dan reputasi gemilang di dunia profesional tidak serta merta melindungi seseorang dari tuduhan atau isu-isu personal. Industri fashion, yang seringkali dipandang glamor dari luar, ternyata juga memiliki sisi gelap dan kerentanan yang perlu diatasi. Penting bagi setiap individu untuk merasa aman dan dihormati di lingkungan kerja maupun sosial.

Saat ini, status Riccardo Tisci adalah sebagai desainer lepas setelah meninggalkan Burberry. Ia belum bergabung dengan rumah mode besar lainnya. Kasus hukum ini tentu akan sangat memengaruhi citra dan karier masa depannya, terlepas dari bagaimana hasil akhirnya. Publik akan terus memantau perkembangan kasus ini dengan seksama.

Bagaimana menurut kalian? Kaget mendengar berita ini? Apa pendapat kalian tentang tuduhan yang menimpa Riccardo Tisci dan bantahan dari pihakya? Bagikan pikiran dan opini kalian di kolom komentar di bawah ya!

Posting Komentar