Resign Demi Jamu? UMKM Ini Buktikan Bisa Raup Puluhan Juta!
Siapa sangka, kebiasaan masa kecil minum jamu tradisional bisa jadi jalan menuju kesuksesan finansial? Itulah yang dialami Susi Suryani, pemilik Jamu Herblass. Berbekal resep keluarga, Susi berhasil mengubah kegemaran menjadi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang omzetnya tembus puluhan juta rupiah per bulan. Kisahnya membuktikan bahwa produk warisan leluhur punya potensi pasar yang luar biasa di era modern ini.
Di sebuah kampung sederhana di Cisantri, Purwakarta, sekitar 7 kilometer dari Tol Sadang, Susi merintis usahanya bersama sang suami. Dari lokasi inilah, Jamu Herblass mulai dikenal luas. Produk mereka bahkan sudah bolak-balik jadi peserta Brilianpreneur, ajang pameran UMKM bergengsi, lho! Kerennya lagi, Herblass juga dapat dukungan penuh dari BRI, mulai dari sertifikasi halal gratis sampai kemudahan transaksi digital pakai QRIS.
Awal Mula Herblass: Dari Kebiasaan Keluarga Jadi Bisnis¶
Cerita Herblass dimulai dari keheranan Susi melihat penjual jamu gendong di kota besar. Di tengah gempuran produk modern, jamu tradisional ternyata tetap diminati. Ini jadi sinyal kuat bagi Susi bahwa pasar jamu itu nyata dan stabil.
Dia kemudian teringat masa kecilnya di kampung, di mana ibu dan neneknya rajin meracik jamu. Salah satu kenangan paling lekat adalah tangan orang tuanya yang selalu berwarna kuning karena kunyit. Kenangan itu jadi inspirasi baginya.
Tak pikir panjang, Susi pun coba-coba bikin jamu sendiri di tahun 2005. Resepnya jelas, warisan dari ibu dan neneknya. Produk pertama yang dia coba adalah jamu kunyit asam.
Hasilnya? Tangan Susi ikut-ikutan kuning, persis seperti ibunya dulu! Tapi justru warna kuning itu jadi pembuka jalan bisnisnya.
Resign dari Kerja Demi Jamu¶
“Tangan saya yang kuning membuat temen kerja bertanya-tanya tentang aktivitas saya,” cerita Susi. Saat ditanya, Susi jujur bilang kalau dia sedang bikin jamu. Dari situ, teman-teman kerjanya mulai penasaran dan minta dibuatkan jamu.
Permintaan semakin banyak, bahkan ada yang request jamu yang rasanya enak. Susi pun tertantang meracik formula khusus agar jamunya lebih nikmat tanpa mengurangi khasiatnya. Hari libur pun dihabiskan untuk produksi jamu.
Dia tak malu membawa jamu buatannya ke kantor dalam botol besar atau jerigen untuk dijual ke teman-teman. Respons positif terus datang, membuat Susi yakin bahwa bisnis jamu ini punya potensi besar.
Melihat permintaan yang terus meningkat dan prospek yang menjanjikan, Susi akhirnya membuat keputusan besar. “Akhirnya, karena permintaan ada terus dan meningkatkan, saya serius menggeluti usaha ini,” ujarnya. Pada tahun 2006, Susi resmi resign dari pekerjaannya dan memilih fokus 100% mengembangkan Herblass.
Innovation: Dari Botol Beling ke Jamu Serbuk Instan¶
Di awal perjalanannya, Herblass mengemas produknya dalam botol beling alias botol kaca. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Selain Susi dan suami sudah terbiasa menangani bahan tersebut, saat itu botol plastik kecil juga masih sulit didapatkan. Mereka memanfaatkan apa yang ada dan mereka kuasai.
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia ternyata membawa hikmah tersendiri bagi Herblass. Masa itu membuat Susi berpikir keras untuk berinovasi. Terutama karena banyak permintaan dari luar kota yang mengandalkan pengiriman daring. Jamu cair tentu punya tantangan pengiriman yang berbeda.
Maka, lahirlah inovasi baru: jamu instan seduh dalam bentuk serbuk. Ide ini juga muncul dari pengamatan Susi pada penjual jamu gendong. Dia sempat heran kenapa tangan mereka tidak kuning padahal jualan jamu kunyit.
Usut punya usut, ternyata banyak penjual jamu gendong yang sudah menggunakan bahan jamu dalam bentuk serbuk yang tinggal diseduh. Pengamatan ini semakin memicu Susi untuk menciptakan produk serupa tapi dengan kualitas terjamin.
Rahasia Jamu Rumahan Berstandar Industri¶
Latar belakang Susi yang pernah bekerja di industri makanan dan minuman selama 13 tahun lebih, khususnya di bidang Research and Development (R&D), jadi modal berharga. Pengalaman ini memberinya pengetahuan mendalam tentang formulasi dan pengembangan produk. Dia tertantang membuat jamu serbuk yang praktis namun tetap punya khasiat tinggi.
Dukungan sang suami yang berpengalaman di bidang quality control (QC) melengkapi tim kecil mereka. Berdua, mereka mampu menerapkan standar produksi yang tinggi layaknya pabrik, meskipun skala rumahan.
“Mulai dari analisa fisik, kimia, hingga mikrobiologi kami lakukan sendiri untuk menjaga kualitas dan khasiat tinggi,” jelas Susi. Ini yang membedakan Herblass. Meskipun dibuat secara tradisional dengan resep keluarga, kualitasnya dijaga ketat dengan ilmu dan pengalaman profesional. Hasilnya adalah jamu yang aman, berkualitas, dan berkhasiat.
Membangun Pasar dan Jangkauan Nasional¶
Di tengah persaingan ketat di industri jamu, Herblass terus memperluas jangkauan pasarnya. Produk-produk Herblass kini sudah bisa ditemukan di platform e-commerce besar seperti Shopee dan Tokopedia. Ini membuka pintu bagi konsumen di seluruh Indonesia.
Selain online, pemasaran juga dilakukan secara offline melalui jaringan apotek, reseller, dan penjualan langsung di rumah produksi. Susi bercerita, banyak konsumen yang datang langsung ke rumahnya, tidak hanya untuk membeli, tapi juga untuk berkonsultasi tentang jamu yang paling cocok untuk kondisi mereka.
Pendekatan personal ini ternyata efektif. “Sekarang banyak yang langsung datang ke rumah untuk konsultasi jamu yang cocok dikonsumsi,” kata Susi. Interaksi langsung ini membangun hubungan yang lebih erat dan memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk alami Herblass.
Berkat pemasaran online, jangkauan Herblass sudah merambah berbagai pelosok nusantara. Konsumennya datang dari Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Jamu Herblass yang diracik di Purwakarta kini dinikmati di berbagai pulau.
Namun, Susi mengakui bahwa potensi pemasaran digital mereka masih bisa dioptimalkan lagi. “Kalau untuk produksi, alhamdulillah sudah stabil. Tinggal penguatan di marketing yang perlu ditingkatkan,” tambahnya. Fokus ke depan adalah memperkuat tim pemasaran digital agar Herblass makin dikenal luas.
Impact: Memberdayakan Warga Sekitar¶
Kehadiran Herblass tak hanya membawa manfaat bagi Susi dan keluarganya, tapi juga bagi warga sekitar. Untuk mendukung proses produksi, Herblass memberdayakan lebih dari lima orang staf. Angka ini belum termasuk anggota keluarga yang ikut membantu, serta mitra warga sekitar.
Susi menerapkan konsep kemitraan yang fleksibel. Warga di sekitar rumah produksinya diberi kesempatan untuk menjadi reseller tanpa ikatan kerja formal yang kaku.
“Kalau tetangga mau bantu pasarkan juga dipersilakan, konsepnya lebih ke pemberdayaan, bukan terikat,” jelas Susi. Model ini memungkinkan warga sekitar mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara yang mudah dan fleksibel, sambil membantu Herblass memperluas jaringan distribusinya di tingkat lokal. Ini adalah contoh nyata UMKM yang tumbuh bersama komunitasnya.
Achievement: Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan¶
Kerja keras dan dedikasi Susi Suryani membuahkan hasil yang membanggakan. Meski dijalankan tanpa tim pemasaran khusus yang besar, Jamu Herblass mampu membukukan omzet yang cukup signifikan. Saat ini, rata-rata omzet Herblass mencapai sekitar Rp50 juta per bulan.
“Baru sekitar lima puluh juta sebulan, itu pun tanpa tim marketing,” ujar Susi dengan kerendahan hati. Angka ini menunjukkan potensi besar Herblass, mengingat pemasaran masih banyak mengandalkan Susi sendiri, tim kecil, dan reseller yang tumbuh organik.
Produk-produk Herblass yang dipasarkan melalui online (Shopee, Tokopedia), jaringan mitra, dan penjualan langsung terus diminati. Permintaan yang datang dari berbagai daerah, dari Bali hingga Sulawesi, menjadi bukti kualitas dan khasiat jamu Herblass.
Dukungan dari Bank BRI juga sangat berperan dalam pencapaian ini. Selama tiga tahun menjadi binaan BRI, produk Herblass selalu dilibatkan dalam berbagai pameran UMKM di Jakarta.
“Pameran tersebut membuat produk kami semakin dikenal luas. Banyak buyer dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Susi. Selain itu, ajang pameran ini juga membuka peluang bagi banyak orang untuk bergabung menjadi reseller Herblass, memperluas jaringan penjualan secara signifikan.
Customer Voice: Bukti Khasiat dari Konsumen Setia¶
Keberhasilan Herblass tak lepas dari khasiat produknya yang dirasakan langsung oleh konsumen. Mayanti, salah seorang konsumen setia Herblass, punya cerita positif. Dia rutin mengonsumsi jamu Herblass untuk membantu menurunkan kadar gula darahnya.
“Alhamdulillah saya rutin minum habis tiga botol, gula darah sembuh,” tutur Mayanti. Tak hanya itu, dia juga masih rutin minum jamu Herblass karena badannya terasa lebih enteng dan cocok untuk meringankan pegal-pegal. Testimoni seperti ini menjadi bukti paling kuat akan kualitas Herblass.
Mayanti juga mengapresiasi varian produk Herblass yang beragam. “Produk jamu Herblass memiliki banyak varian dan jenis tergantung kegunaannya. Konsumen yang membeli akan banyak pilihan sesuai kebutuhannya,” jelasnya. Keragaman produk ini membuat konsumen bisa memilih jamu yang paling pas untuk kebutuhan spesifik mereka.
Tanggapan positif juga datang dari Rizal di Kecamatan Cibatu. Dia merasakan manfaat baik bagi kesehatan setelah mengonsumsi herbal jahe atau bir pletok dari Herblass. Pengalaman positif dari konsumen-konsumen ini menjadi motor penggerak dan validasi bagi Herblass.
Target dan Harapan ke Depan¶
Dengan potensi yang sudah terlihat dan omzet yang cukup baik, Susi Suryani punya target jelas ke depan. Salah satu prioritas utama adalah membangun tim marketing yang lebih solid. Dengan tim yang fokus di pemasaran, Herblass bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi.
Penguatan di sisi pemasaran digital akan menjadi kunci untuk meningkatkan omzet. Susi berharap, dengan tim marketing yang mumpuni, Herblass bisa terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih besar, baik bagi konsumen, tim, maupun warga sekitar yang diberdayakan.
Kisah Susi Suryani dan Jamu Herblass adalah inspirasi nyata bahwa tradisi bisa berpadu dengan inovasi dan strategi bisnis yang tepat. Dari kebiasaan masa kecil hingga omzet puluhan juta, Herblass membuktikan bahwa resign demi menggeluti passion, terutama di sektor tradisional seperti jamu, sangat bisa dilakukan dan bahkan membawa kesuksesan.
Bagaimana pendapat Anda tentang kisah inspiratif Susi Suryani ini? Pernahkah Anda mencoba jamu Herblass atau punya pengalaman serupa membangun bisnis dari hobi? Yuk, berbagi di kolom komentar!
Posting Komentar