Ngeri! Apotek Ilegal di Tanah Abang Jual Tramadol Bebas?

Table of Contents

Ngeri! Apotek Ilegal di Tanah Abang Jual Tramadol Bebas?

Siapa sangka, di tengah ramainya lalu lalang orang di Jalan KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ada pemandangan yang bikin geleng-geleng kepala. Sekelompok orang ternyata dengan santainya menjajakan obat keras jenis tramadol. Bayangin aja, transaksi jual beli obat yang seharusnya butuh resep dokter ini malah dilayani di pinggir jalan, tanpa malu-malu, seolah lagi jualan gorengan.

Area transaksi mereka pun bukan tempat tersembunyi, tapi justru memanfaatkan fasilitas umum. Mereka nongkrong di pinggir jalan, di bawah pohon, bahkan ada yang di atas trotoar. Pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara motor, bisa dengan gampang melihat aktivitas mereka.

Lucunya lagi, meskipun di sekitar situ banyak pedagang kaki lima (PKL) lain, para penjual tramadol ini enggak kelihatan canggung sama sekali. Malah, beberapa PKL lain kayaknya udah akrab banget sama mereka. Suasana ini menciptakan semacam ‘ekosistem’ yang bikin praktik ilegal ini jadi terkesan biasa saja, padahal ini soal obat keras yang bisa membahayakan kesehatan kalau disalahgunakan.

Tramadol sendiri itu termasuk obat keras, alias nggak boleh dijual bebas tanpa pengawasan dokter. Obat ini punya efek yang lumayan kuat dan berpotensi bikin kecanduan kalau dipakai sembarangan. Makanya, peredarannya diawasi ketat banget sama pemerintah.

Nah, ironisnya, meskipun polisi udah sering banget nangkepin para penjual obat keras kayak gini, mereka itu kayak nggak ada habisnya. Ditangkep, muncul lagi yang baru. Kayak permainan ‘whack-a-mole’ versi dunia nyata yang bikin pusing. Fenomena ini menunjukkan ada masalah mendasar yang lebih kompleks di balik praktik jual beli tramadol ilegal ini.

Transaksi Terbuka di Siang Bolong

Tim Kompas.com sempat ngintip langsung situasi di sana pada hari Senin, 5 Mei 2025, sekitar pukul 12.10 siang. Waktu itu, coba deh berkendara motor lewat Jalan KS Tubun dari arah Pasar Tanah Abang menuju Petamburan. Pas mau masuk area jembatan, langsung kelihatan ada lima orang di sisi kanan jalan.

Mereka terdiri dari empat cowok dan satu cewek, lagi duduk-duduk santai di balik pagar pembatas jalan. Alas duduknya cuma pakai kursi plastik biasa, persis di bawah rindangnya pohon. Jarak duduk mereka nggak terlalu dekat, sekitar lima meteran satu sama lain, kayak menjaga jarak gitu deh.

Di antara mereka, ada satu cowok yang posisinya paling ujung kanan. Penampilannya biasa aja, pakai kaus hitam lengan pendek, topi, sandal jepit, dan celana jin. Dia lagi jongkok, nyender ke tembok pembatas, pas di atas trotoar Jalan KS Tubun. Cowok ini rambutnya agak putih-putih gitu, udah kelihatan umur.

Di tangan kirinya, kelihatan dia lagi pegang beberapa bungkus obat. Eh, nggak lama, ada pengendara motor yang jalannya diperlambat di dekat dia. Dengan pede banget, cowok itu langsung nawarin obat yang dia pegang, yaitu tramadol. Transaksi nggak berlangsung lama, cuma sekejap mata, lalu si pengendara motor langsung tancap gas lagi.

Jualan di Depan Museum Tekstil? Gila Aja!

Penasaran, Kompas.com coba mutar balik, balik lagi ke Jalan KS Tubun, tapi kali ini dari arah Petamburan menuju Pasar Tanah Abang Blok G. Nah, di sini nih pemandangannya lebih ramai lagi. Tepat di depan Museum Tekstil yang seharusnya jadi ikon budaya, ada seorang cowok pakai kaus abu-abu lengan pendek sama celana pendek jin lagi jongkok. Dia nyender santai ke kanstin trotoar.

Kebetulan banget, waktu itu lalu lintas lagi agak macet karena ada angkot JakLingko yang lagi nurunin penumpang. Momen macet ini dimanfaatin banget sama para penjual tramadol di Jalan KS Tubun arah Blok G. Mereka langsung nawarin dagangannya ke siapa aja yang lewat atau mendekat.

Setelah cowok berkaus abu-abu tadi, ada lebih dari sepuluh cowok lain yang diduga kuat juga jualan tramadol secara terang-terangan di sepanjang trotoar itu. Mereka berderet gitu, masing-masing dengan posisi duduk atau jongkok yang nggak jauh beda. Setiap orang dari mereka kelihatan memegang sejumlah bungkus obat keras di tangan.

Salah satu penjual bahkan terlihat sangat agresif menawarkan dagangannya. Dia sampai pakai gestur tangan, telapak tangan menghadap ke atas, jari-jarinya digerakkan berulang kali ke arah badannya, seolah manggil atau ngajak para pengguna jalan buat mampir beli. Ngeri kan, saking beraninya mereka?

Di ujung deretan para penjual ini, ada seorang cowok yang posisinya agak beda. Dia duduk di kursi plastik hitam, pakai kemeja hitam yang dalamnya pakai kaus, dan kepalanya pakai topi hitam. Cowok ini nggak kelihatan pegang obat sama sekali. Tapi, pandangannya terus-menerus tertuju ke arah para penjual yang berderet di depannya.

Dia kayak lagi mantau gitu deh. Di tangan kirinya ada segepok uang, sementara tangan kanannya sibuk main ponsel. Posisinya ini bikin dia dicurigai sebagai semacam ‘koordinator’ atau penadah dari praktik jual beli obat ilegal ini. Dia yang pegang duit, sementara yang lain jadi ‘kaki tangan’ di lapangan.

Modus Penjualan dan Harganya

Di trotoar Jalan KS Tubun arah Pasar Tanah Abang Blok G ini, para penjual tramadol ilegal tadi mangkal setelah deretan pedagang barang bekas. Mereka jualan berdampingan aja sama beberapa PKL lain yang jual minuman atau kopi. Campur aduk gitu deh.

Kompas.com mencoba mendekati salah satu penjual, yang pakai kaus abu-abu berlengan pendek tadi. Dengan gaya casual, coba deh pura-pura nanya.
“Berapaan, Bang?” tanya Kompas.com.
Si penjual langsung nyaut singkat, “Rp 35.000.
“Satu strip tramadol kan?” coba mastiin lagi.
Iya, satu papan (tramadol isi 10 butir),” jawabnya santai.

Gila kan? Obat keras yang seharusnya pakai resep dokter, dijual bebas cuma Rp 35.000 per papan (satu strip biasanya isinya 10 butir). Transaksinya pun singkat, padat, dan jelas, dilakukan di tempat terbuka tanpa peduli ada orang lain atau enggak di sekitarnya. Ini menunjukkan betapa parahnya keberanian mereka dalam melakukan praktik ilegal ini. Mereka nggak cuma nggak takut, tapi kayaknya udah merasa aman banget di lokasi itu.

Bahaya Tramadol yang Dijual Bebas

Penting banget nih buat kita semua tahu, kenapa sih tramadol ini dilarang dijual bebas? Tramadol itu obat pereda nyeri yang kuat. Awalnya emang dipakai buat ngobatin nyeri sedang sampai berat, misalnya setelah operasi atau karena penyakit kronis. Tapi, obat ini bekerja dengan mempengaruhi sistem saraf pusat.

Kalau dipakai nggak sesuai aturan atau dosisnya kelebihan, tramadol bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya. Mulai dari pusing, mual, muntah, sembelit, sampe yang serius kayak depresi pernapasan (napas jadi dangkal dan lambat, bisa fatal), kejang, overdosis, bahkan kematian. Selain itu, pemakaian jangka panjang bisa bikin kecanduan fisik dan psikologis.

Bayangin aja, obat sekuat ini bisa dibeli siapa aja, termasuk remaja atau orang yang nggak tahu bahayanya, tanpa perlu konsultasi dokter. Mereka beli karena mungkin denger-denger obat ini bisa bikin ‘fly’ atau ‘tenang’. Padahal, di balik rasa tenang sesaat itu, ada risiko kesehatan yang nggak main-main mengintai. Ini bukan cuma masalah kriminal, tapi juga masalah kesehatan masyarakat yang serius banget. Anak-anak muda di sekitar Tanah Abang jadi rentan terpapar dan terjerumus ke dalam penyalahgunaan obat.

Berikut beberapa bahaya kalau tramadol disalahgunakan:

  • Kecanduan: Tramadol termasuk golongan opioid sintetik, punya potensi bikin kecanduan tinggi.
  • Efek Samping Serius: Depresi pernapasan, kejang, pusing berat, mual parah.
  • Interaksi Obat: Bisa berbahaya kalau dicampur sama alkohol atau obat lain (terutama antidepresan atau penenang).
  • Kerusakan Organ: Penggunaan jangka panjang dan dosis tinggi bisa merusak hati dan ginjal.
  • Risiko Overdosis: Bisa menyebabkan koma bahkan kematian.
  • Masalah Mental: Bisa memperburuk kondisi depresi atau kecemasan.

List Bahaya Penyalahgunaan Tramadol:

  • Potensi Kecanduan Fisik & Psikologis
  • Depresi Pernapasan (fatal)
  • Kejang
  • Overdosis & Kematian
  • Gangguan Fungsi Hati dan Ginjal
  • Interaksi Berbahaya dengan Zat Lain (Alkohol, Obat Lain)
  • Memperburuk Kondisi Psikologis

Ini bukan daftar lengkap, tapi cukup buat kasih gambaran betapa nggak main-mainnya obat ini kalau dipakai sembarangan.

Kekhawatiran Warga Sekitar

Area jembatan di Jalan KS Tubun itu lokasinya strategis banget. Dia menghubungkan Pasar Tanah Abang yang super ramai sama Jalan KS Tubun, tempat Museum Tekstil berdiri. Jembatan ini jadi jalur utama buat pejalan kaki dan kendaraan yang mau ke atau dari Pasar Tanah Abang.

Banyak banget warga yang lewat jembatan ini tiap hari. Misalnya, mereka yang dari Stasiun Tanah Abang atau halte TransJakarta terdekat mau ke pasar, atau sebaliknya. Jadi, nggak heran kalau aktivitas ilegal para penjual tramadol ini bikin warga sekitar jadi nggak nyaman dan nggak aman.

Salah satu warga yang khawatir itu namanya Lita, umurnya 34 tahun. Dia ngaku takut banget tiap kali harus lewat trotoar Jalan KS Tubun arah Pasar Tanah Abang atau Stasiun Tanah Abang. Gimana nggak takut, dia kan tiap hari lewat sana buat berangkat atau pulang kerja naik kereta. Rutenya emang harus ngelewatin Museum Tekstil dan jembatan yang jadi lokasi mangkal para penjual tramadol itu.

“Kalau dibilang takut, ya takut. Karena kan kita kalau mau berangkat atau pulang kerja lewat sini buat ke Stasiun Tanah Abang,” cerita Lita ke Kompas.com. Dia harus berhadapan langsung sama pemandangan para penjual yang terang-terangan nawarin dagangannya.

Di tengah rasa takutnya itu, kadang Lita nekat aja lewat. Tapi, lebih sering dia milih nggak ambil risiko dan naik ojek online (ojol). “Ya begitu, pakai ojol ya. Kan enak jadi enggak melewati mereka secara langsung. Tapi ya saya sebenarnya nggak tahu itu obat apa,” kata Lita sambil ngaku nggak paham detail soal tramadol, yang penting dia merasa nggak aman lewat sana.

Kisah Lita ini cuma salah satu contoh dari banyak warga lain yang mungkin merasakan hal serupa. Lingkungan yang seharusnya jadi tempat umum yang aman, malah jadi sarang peredaran obat keras. Ini jelas jadi PR besar buat aparat kepolisian dan pemerintah daerah buat memberantas praktik ilegal ini sampai ke akar-akarnya. Nggak cuma nangkepin penjual di lapangan, tapi juga nyari tahu siapa ‘pemain’ besarnya dan gimana jalur distribusinya bisa sampai ke tangan mereka di pinggir jalan Tanah Abang.

Sampai kapan pemandangan ngeri kayak gini bakal terus ada di salah satu pusat keramaian Jakarta? Ini bukan cuma soal jual beli obat, tapi juga soal keamanan warga, kesehatan publik, dan masa depan anak-anak muda yang rentan jadi korban.

Gimana menurut kalian, apa yang harusnya dilakukan pemerintah dan kita sebagai masyarakat buat ngadepin masalah ini? Pernah lihat kejadian serupa di tempat lain? Share pendapat kalian di kolom komentar di bawah ya!

Posting Komentar