Jantung Berdebar Kencang? Kenali SVT, Gangguan Irama Jantung di Usia Muda!

Table of Contents

Jantung Berdebar Kencang

Guys, pernah ngalamin jantung tiba-tiba berdebar kencang banget tanpa sebab jelas? Rasanya kayak mau copot gitu? Nah, bisa jadi itu gejala dari gangguan irama jantung yang namanya Supraventricular Tachycardia atau disingkat SVT. Awalnya mungkin kita mikir ah cuma kecapekan atau kebanyakan kopi. Tapi hati-hati, meskipun sering dianggap sepele, SVT ini ternyata masalah kesehatan yang serius lho.

Biasanya sih, gangguan jantung kayak gini lebih identik sama orang yang udah sepuh. Tapi faktanya, SVT ini juga sering banget kejadian di kalangan anak muda. Jadi, penting banget buat kita yang masih muda buat kenal sama SVT ini, biar nggak panik kalau ngalamin gejalanya dan tahu gimana cara ngadepinnya. Jangan sampai deh SVT ini dibiarin berlarut-larut karena risikonya ngeri, bisa sampai gagal jantung, stroke, bahkan yang paling fatal, kematian. Nggak mau kan?

Macam-macam Gangguan Irama Jantung

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang subspesialis di bidang aritmia (gangguan irama jantung), dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.JP (K), FIHA, dari RS Siloam TB Simatupang ngejelasin, secara umum tuh gangguan irama jantung dibagi jadi tiga jenis utama. Biar gampang diinget, kita sebut aja “terlalu cepat”, “terlalu lambat”, dan “nggak beraturan”.

Pertama, ada yang namanya tachycardia. Ini kondisi kalau detak jantung kita lebih cepat dari normal. Kebayang kan kalau jantung ngebut terus? Nah, SVT ini masuk kategori tachycardia ini. Kedua, kebalikannya, ada bradycardia. Ini kalau detak jantungnya malah lebih lambat dari normal. Jantungnya kayak jalan santai banget gitu. Ketiga, ada juga yang iramanya nggak beraturan sama sekali, kayak flutter atau fibrillation. Jadi detaknya nggak ritmis, kadang cepat, kadang lambat, kadang kayak getaran aja. Masing-masing punya penyebab dan dampaknya sendiri.

Nah, kita fokus ke SVT ya. Karena dia termasuk tachycardia, ciri utamanya jelas: detak jantung yang super cepat. Dokter Dony bilang, SVT ini ditandai dengan detak jantung yang bisa melebihi 150 denyut per menit, bahkan bisa sampai 250 denyut per menit dalam kasus tertentu! Padahal, detak jantung normal kita saat istirahat itu ada rentangnya sendiri tergantung usia.

Buat ngecek detak jantung kita sendiri, gampang kok. Bisa raba nadi di pergelangan tangan pakai jari telunjuk sama tengah. Hitung berapa kali berdenyut selama 15 detik, terus hasilnya dikali empat. Itu perkiraan detak jantung kita per menit.

Sebagai gambaran, ini rentang detak jantung normal per menit saat istirahat berdasarkan usia:

  • Bayi baru lahir: 100-160 bpm
  • Bayi 0-5 bulan: 90-150 bpm
  • Bayi 6-12 bulan: 80-140 bpm
  • Anak 1-3 tahun: 80-130 bpm
  • Anak 3-4 tahun: 80-120 bpm
  • Anak 6-10 tahun: 70-110 bpm
  • Remaja (≥15 tahun): 60-100 bpm
  • Dewasa muda (20-35 tahun): 95-170 bpm (ini untuk aktivitas ya, kalau istirahat biasanya di rentang remaja)
  • Dewasa (35-50 tahun): 85-155 bpm (juga untuk aktivitas)
  • Lansia (≥60 tahun): 80-130 bpm (juga untuk aktivitas)

Nah, kalau saat lagi santai, duduk-duduk, atau bahkan tidur, tiba-tiba jantung ngegas sampai di atas 150 bpm, itu patut banget diwaspadai sebagai SVT. Beda ya sama detak jantung cepat karena habis lari maraton atau kaget, itu sih normal. Yang nggak normal itu kalau cepatnya tiba-tiba dan nggak ada pemicu aktivitas fisik yang berat.

Apa yang Bikin SVT Muncul?

Sebenarnya, penyebab utama SVT itu adalah adanya “jalur listrik tambahan” atau sirkuit pendek di sistem kelistrikan jantung kita. Jadi, selain jalur listrik normal yang mengatur irama, ada jalur “pintas” ini yang bikin sinyal listrik berputar-putar di area atas jantung (supraventricular), akhirnya bikin detak jantung jadi ngebut.

Jalur listrik tambahan ini kadang udah ada dari lahir (bawaan), tapi gejalanya baru muncul pas usia remaja atau dewasa muda. Makanya SVT ini lumayan sering terdiagnosis di usia muda. Selain faktor bawaan, SVT juga bisa dipicu sama proses degeneratif atau penuaan pada jantung, tapi ini lebih umum di usia lanjut.

Selain penyebab utama itu, ada juga faktor-faktor pemicu yang bisa “menyalakan” SVT pada orang yang punya bakat SVT. Pemicu ini bisa macem-macem, lho. Yang paling sering antara lain:
* Stres atau kecemasan berlebihan: Otak dan jantung itu nyambung banget, stres bisa mempengaruhi irama jantung.
* Kurang tidur: Pola tidur yang berantakan bisa mengganggu keseimbangan tubuh, termasuk irama jantung.
* Konsumsi kafein berlebihan: Kopi, teh, minuman energi, atau cokelat bisa jadi pemicu buat beberapa orang.
* Konsumsi alkohol: Sama seperti kafein, alkohol juga bisa mempengaruhi sistem kelistrikan jantung.
* Dehidrasi: Kurang cairan juga bisa jadi masalah.
* Merokok: Kebiasaan merokok merusak pembuluh darah dan jantung secara umum.
* Obat-obatan tertentu: Beberapa jenis obat, termasuk obat batuk pilek yang dijual bebas, bisa memicu SVT pada individu yang rentan.
* Perubahan hormon: Pada wanita, perubahan hormon saat menstruasi, kehamilan, atau menopause kadang bisa jadi pemicu.

Pas lagi SVT, rasanya nggak nyaman banget. Selain jantung berdebar kencang dan nggak karuan, penderitanya juga bisa ngerasain gejala lain kayak:
* Nyeri atau rasa nggak enak di dada
* Sesak napas
* Pusing atau kliyengan
* Mual, kadang sampai mau muntah
* Merasa sangat lelah atau lemas
* Dalam kasus yang parah, bisa sampai pingsan.

Uniknya, kadang ada juga lho pasien SVT yang nggak ngerasain debaran jantung kencang secara sadar, cuma ngerasa nggak enak di dada aja. Padahal detak jantungnya lagi lari kencang banget. Episode SVT ini seringnya berlangsung nggak terlalu lama, kata dr. Dony, bisa cuma 2-3 jam terus hilang sendiri. Tapi, kalau nggak ditangani, atau kalau sering kambuh, ini yang bahaya.

Komplikasi SVT: Jangan Anggap Enteng!

Meskipun kadang SVT bisa berhenti sendiri, ada tiga potensi komplikasi serius kalau gangguan irama ini dibiarkan atau nggak ditangani dengan benar. Ini dia yang bikin SVT nggak bisa dianggap enteng, apalagi di usia muda yang seharusnya produktif.

Pertama, detak jantung yang ngebut banget saat episode SVT itu bisa bikin tekanan darah turun drastis dan otak kekurangan oksigen sesaat, akhirnya bisa bikin pingsan. Kebayang kan lagi aktivitas terus tiba-tiba pingsan? Bahaya banget, apalagi kalau lagi nyetir atau di tempat tinggi.

Kedua, pada beberapa jenis SVT yang langka dan berhubungan sama kelainan bawaan (misalnya Wolff-Parkinson-White Syndrome), jalur listrik tambahan itu bisa sangat cepat menghantarkan sinyal listrik. Akibatnya, detak jantung bisa melonjak sampai 300 denyut per menit atau bahkan lebih! Ini sangat berbahaya karena bisa memicu ventricular fibrillation (VF), gangguan irama jantung yang mematikan mendadak. VF ini bikin jantung cuma kayak bergetar aja, nggak mompa darah, langsung cardiac arrest.

Ketiga, kalau SVT ini sering kambuh atau berlangsung lama selama bertahun-tahun, kondisi ini bisa bikin jantung “capek” dan strukturnya berubah. Lama kelamaan, SVT bisa memicu munculnya gangguan irama jantung yang lain yang lebih kompleks dan parah, yaitu Atrial Fibrillation (AF). AF ini adalah gangguan irama jantung yang paling umum dan jadi penyebab utama gagal jantung serta stroke yang berhubungan sama jantung. Jadi, SVT itu bisa jadi “gerbang” menuju masalah jantung yang lebih besar di kemudian hari.

Melihat risiko-risiko ini, jelas SVT perlu ditangani. Pengobatan SVT tujuannya nggak cuma menghentikan episode saat sedang kambuh, tapi juga mencegah kekambuhan dan komplikasi jangka panjang. Salah satu metode penanganan yang paling efektif dan sering jadi pilihan, terutama untuk SVT yang sering kambuh atau gejalanya parah, adalah prosedur medis yang namanya ablasi.

Prosedur Ablasi untuk SVT

Apa sih ablasi itu? Simpelnya gini, karena SVT itu disebabkan oleh jalur listrik tambahan di jantung, prosedur ablasi itu tujuannya buat “mematikan” atau menonaktifkan jalur listrik nakal tersebut. Bayangin aja kayak ada kabel korslet di rumah, terus sama tukang listriknya kabel itu diputus atau diisolasi biar nggak bikin masalah lagi.

Prosedur ablasi untuk SVT biasanya dilakukan menggunakan kateter. Kateter itu semacam selang kecil dan lentur. Kateter ini dimasukkan ke dalam pembuluh darah besar, biasanya di area pangkal paha (selangkangan). Lewat pembuluh darah itu, kateter dipandu sampai masuk ke dalam jantung.

Di ujung kateter ada elektroda yang bisa ngedeteksi sinyal listrik jantung dan juga bisa ngasih energi panas (biasanya energi frekuensi radio atau RF). Dokter ahli aritmia yang ngelakuin prosedur ini akan pakai teknologi pencitraan (dulu 2D, sekarang udah canggih ada 3D) buat bikin “peta” kelistrikan di dalam jantung pasien. Dari peta ini, dokter bisa nemuin lokasi persis jalur listrik tambahan yang bikin SVT.

Setelah lokasi jalur listrik tambahan itu ketemu, ujung kateter diarahkan ke situ. Kemudian, energi RF dialirkan melalui kateter ke jaringan jantung kecil di lokasi tersebut. Panas dari energi RF ini akan “membakar” atau merusak jaringan kecil itu, sehingga jalur listrik tambahan tadi non-aktif secara permanen. Hasilnya, sirkuit pendek yang bikin SVT jadi terputus, dan jantung bisa berdetak dengan irama normal lagi.

Prosedur ablasi ini bukan operasi jantung yang harus membelah dada ya (torakotomi). Ini termasuk prosedur minimal invasif karena hanya melalui sayatan kecil untuk memasukkan kateter di pangkal paha. Durasi prosedurnya bervariasi, tergantung kerumitan kasusnya, tapi biasanya beberapa jam.

Menurut dr. Dony, prosedur ablasi ini punya tingkat keberhasilan yang tinggi banget buat mengatasi SVT, yaitu sekitar 90-95%. Artinya, sebagian besar pasien yang menjalani ablasi SVT bisa sembuh dan bebas dari serangan SVT seumur hidup.

Yang menarik, prosedur ablasi ini aman dilakukan nggak cuma buat orang dewasa atau lansia, tapi juga buat anak-anak. Di RS Siloam TB Simatupang misalnya, prosedur ini bisa dilakukan pada anak usia 5 tahun sampai pasien yang udah lebih dari 70 tahun. Tentu aja, penilaian dan persiapan sebelum ablasi harus cermat, disesuaikan sama kondisi pasien.

Potensi Risiko Ablasi

Meskipun aman dan efektif, seperti prosedur medis lainnya, ablasi juga punya potensi risiko. Tapi tenang, risikonya termasuk kecil kok. Salah satu risiko utama yang perlu dipertimbangkan adalah kalau jalur listrik tambahan yang mau di-ablasi itu lokasinya dekat banget sama jalur listrik utama jantung (sistem konduksi AV node).

Kalau jalur utama ini ikut kena “panas” saat proses ablasi, bisa-bisa fungsi hantar listrik jalur utama ini terganggu. Kalau gangguannya parah, irama jantung bisa jadi lambat banget atau malah block total. Nah, kalau ini terjadi, dokter mungkin perlu memasang alat pacu jantung (pacemaker) di bawah kulit dada untuk membantu mengatur detak jantung secara normal. Tapi kasus ini jarang terjadi, apalagi dengan teknologi pemetaan yang semakin canggih.

Selain itu, risiko lain yang mungkin muncul adalah komplikasi di area tempat kateter dimasukkan di pangkal paha, seperti bengkak, memar, atau perdarahan ringan. Risiko infeksi juga ada, tapi sangat jarang. Dokter dan tim medis akan memantau ketat selama dan setelah prosedur untuk meminimalkan risiko-risiko ini.

Teknologi pemetaan jantung yang dipakai saat ablasi juga terus berkembang. Dulu cuma pakai pemetaan 2D, sekarang udah banyak pakai pemetaan 3D. Pemetaan 3D ini hasilnya lebih detail dan akurat, kayak bikin “peta” jantung yang lebih nyata. Ini sangat membantu dokter, terutama buat kasus-kasus SVT yang lebih kompleks atau kalau anatomi jantung pasien ada variasi. RS Siloam TB Simatupang sendiri kabarnya sudah punya peralatan 3D terbaru buat prosedur ini, jadi akurasi tindakan ablasi bisa lebih tinggi.

Kesimpulan

Jadi guys, jantung berdebar kencang yang tiba-tiba dan tanpa sebab jelas itu nggak bisa disepelekan, apalagi kalau sering kambuh. Kenali SVT sebagai salah satu penyebabnya, meskipun kamu masih muda. Jangan takut atau malu buat periksa ke dokter kalau ngalamin gejala ini ya. Deteksi dini itu kunci buat mencegah komplikasi yang lebih parah.

Kalau memang terdiagnosis SVT dan dokter menyarankan ablasi, nggak perlu khawatir berlebihan. Prosedur ini terbukti efektif dan aman untuk sebagian besar pasien, bisa menghilangkan SVT secara permanen dan bikin kamu bisa kembali beraktivitas normal tanpa dibayangi rasa khawatir jantung ngebut mendadak. Menjaga gaya hidup sehat juga penting sebagai pendukung kesehatan jantung secara keseluruhan.

Punya pengalaman atau pertanyaan soal SVT atau debar-debar jantung? Yuk, share di kolom komentar di bawah! Semoga info ini bermanfaat ya!

Posting Komentar