Gokil! Chery Tiggo 8 Pro Hybrid Lebih Irit dari BeAT? Cek Konsumsi BBM-nya!
Wow, ada kabar mengejutkan nih dari dunia otomotif Indonesia. Chery baru saja meluncurkan jagoan barunya, Chery Tiggo 8 CSH, pada Jumat (15/5) kemarin. Yang bikin heboh, mobil hybrid ini diklaim punya konsumsi bahan bakar super irit, mencapai 76 kilometer per liter! Angka ini bahkan disebut-sebut bisa lebih irit dari motor matic populer seperti Honda BeAT atau Vario yang biasa kita pakai sehari-hari.
Tentu saja, klaim ini langsung jadi perbincangan hangat. Bagaimana bisa sebuah SUV bongsor seperti Tiggo 8 bisa mencapai angka konsumsi BBM yang luar biasa efisien, bahkan mengalahkan motor? Pasti ada teknologi canggih di baliknya yang membuatnya jadi sebegitu irit. Mari kita bedah lebih dalam.
Mengenal Chery Tiggo 8 CSH: Jantung Hybrid Canggih¶
Sesuai namanya, Chery Tiggo 8 CSH ini dibekali teknologi Chery Super Hybrid. Ini bukan sembarang mobil hybrid, melainkan jenis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Artinya, mobil ini punya kemampuan berjalan sepenuhnya dengan tenaga listrik untuk jarak tertentu, dan baterainya bisa diisi ulang dari sumber listrik eksternal, sama seperti mobil listrik murni.
Di bawah kapnya, tersemat mesin bensin Acteco H4J15 berkapasitas 1.500 cc turbo. Mesin ini bekerja harmonis bersama dengan motor listrik yang powerful. Sumber tenaga listriknya berasal dari baterai jenis Lithium Iron Phosphate (Li-Po) yang lumayan besar, berkapasitas 18,3 kWh. Kombinasi mesin bensin, motor listrik, dan baterai inilah yang memungkinkan Tiggo 8 CSH mencapai efisiensi yang diklaim luar biasa.
Untuk mengatur perpindahan daya dari mesin, motor listrik, atau keduanya, Chery mengandalkan transmisi canggih bernama 1DHT Super Electric Hybrid. Transmisi ini dirancang tanpa stepless (tanpa percepatan yang terasa bertingkat), sehingga diklaim mampu membuat perpindahan daya terasa sangat halus dan presisi. Sistem transmisi ini juga jadi kunci penting dalam mengoptimalkan penggunaan energi dari mesin bensin maupun motor listrik secara efisien.
Angka Fantastis: Klaim Konsumsi 76 Km/Liter¶
Ini dia bagian yang paling bikin penasaran: angka konsumsi BBM-nya! Chery mengklaim, berdasarkan hasil pengetesan standar NEDC (New European Driving Cycle), Chery Tiggo 8 CSH bisa menembus angka 76 km/liter untuk konsumsi bahan bakar gabungan atau equivalent fuel consumption.
Angka 76 km/liter ini adalah hasil hitungan gabungan antara penggunaan mode listrik dan mode bensin. Jika hanya mengandalkan mesin bensinnya, Chery mengklaim konsumsi BBM Tiggo 8 CSH bisa mencapai 19 km/liter. Sementara itu, dalam mode full EV (hanya pakai listrik), mobil ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 90 kilometer. Nah, angka 76 km/liter itu didapat dari kalkulasi khusus yang memperhitungkan kontribusi penggunaan mode EV ini.
Tentu saja, angka 76 km/liter ini adalah hasil dalam kondisi pengetesan standar NEDC. Kondisi NEDC biasanya dilakukan di laboratorium dengan siklus kecepatan dan beban yang terkontrol. Di dunia nyata, konsumsi BBM sangat bervariasi tergantung banyak faktor, seperti gaya mengemudi, kondisi lalu lintas (macet atau lancar), kontur jalan (menaiki tanjakan atau turunan), beban angkut, penggunaan AC, dan yang paling penting untuk PHEV seperti ini, seberapa sering baterai diisi ulang dan mode EV dimanfaatkan.
Meskipun demikian, klaim 76 km/liter (NEDC) untuk sebuah SUV berukuran besar tetap merupakan pencapaian yang signifikan. Ini menunjukkan potensi efisiensi yang luar biasa dari teknologi hybrid plug-in Chery.
Bagaimana Cara Menghitungnya? Kok Bisa Irit Banget?¶
Pasti banyak yang bertanya-tanya, kok bisa sih angkanya setinggi itu? Angka 76 km/liter ini memang bukan konsumsi BBM murni dalam arti mobil hanya membakar bensin sejauh 76 km dengan 1 liter. Ini adalah konsumsi ekuivalen yang memperhitungkan energi listrik yang dipakai dan dikonversikan ke satuan bahan bakar.
Budi Darmawan, Sales Director Chery Indonesia, menjelaskan bahwa perhitungan ini agak rumit dan didasarkan pada metode yang dibuat oleh departemen perhubungan China. Intinya, angka tersebut didapat saat mode full EV-nya dimanfaatkan secara maksimal.
Budi memberikan gambaran sederhananya: “Jadi itu adalah hitungan yang dibuat oleh department perhubungan China. Jadi, agak complicated. Tapi kurang lebih gambarannya begini, let say dalam sehari kita komuter 100 km aja. Nah, EV-nya sendiri bisa cover 90 km.”
“Artinya sisa 10 km itu yang akan memakai bensin. 10 km ini katakanlah cuma butuh 0,5 liter. Berarti kan dari total 100 km hanya mengkonsumsi 0,5 liter. Tapi siklus itu nggak bisa dihitung sekali, jadi berkali-kali dan dirata-rata,” tambahnya.
Selain menghitung bensin yang terpakai, metode ini juga memperhitungkan energi listrik yang digunakan dari baterai, lalu energi tersebut dikonversikan ke satuan ekuivalen bahan bakar. Jadi, konsumsi ekuivalen 76 km/liter itu adalah hasil rata-rata dari siklus penggunaan yang mencakup penggunaan mode listrik dan bensin, dengan kontribusi besar dari jarak tempuh mode listrik.
Karena perhitungannya yang memang “ngejlimet” (rumit), Chery mengakui bahwa perlu penjelasan lebih lanjut. “Sebenarnya ada perhitungan lagi, kayak listrik yang dipakai di-convert ke bahan bakar. Sedikit ngejlimet memang, tapi kita lagi siapkan video metodologi perhitungannya,” kata Budi. Ini menunjukkan bahwa klaim angka ini memang perlu dipahami konteksnya, terutama metode perhitungannya yang berbeda dengan mobil bensin konvensional atau hybrid biasa.
Untuk memberikan gambaran visual tentang konsep perhitungan ini, meskipun tidak persis sama dengan metode China, kira-kira alurnya bisa digambarkan seperti diagram berikut (ini adalah ilustrasi sederhana, bukan metode resmi China):
mermaid
graph TD
A[Mulai Perjalanan Harian Jarak Tertentu] --> B{Baterai Terisi Cukup?};
B -- Ya --> C[Mobil Beroperasi di Mode EV (Hingga Baterai Habis)];
B -- Tidak / Baterai Lemah --> D[Mobil Beroperasi di Mode Hybrid/Bensin];
C --> E{Perjalanan Masih Sisa?};
D --> E;
E -- Ya --> D;
E -- Tidak --> F[Catat Total Jarak Tempuh Harian];
F --> G[Catat Total Bensin Terpakai (Liter)];
F --> H[Catat Total Energi Listrik Terpakai (kWh)];
H --> I[Konversi Energi Listrik ke Ekuivalen Bensin];
G --> J[Total Ekuivalen Bensin (Liter)];
I --> J;
J --> K[Hitung Konsumsi Ekuivalen: Total Jarak / Total Ekuivalen Bensin];
K --> L[Rata-ratakan Hasil dari Berbagai Siklus Penggunaan];
L --> M[Hasil Konsumsi Ekuivalen (Contoh: 76 km/liter)];
Diagram di atas menggambarkan bahwa dalam perhitungan konsumsi ekuivalen PHEV, energi listrik yang digunakan juga diperhitungkan dan “disetarakan” dengan berapa liter bensin yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi sebesar itu. Jika jarak tempuh harian sebagian besar dicover oleh mode EV yang energinya berasal dari baterai yang diisi ulang dari luar, maka konsumsi “bensin” ekuivalennya bisa menjadi sangat rendah, sehingga didapat angka yang sangat tinggi seperti 76 km/liter.
Bandingkan dengan Skutik Harian¶
Sekarang mari kita lihat perbandingannya dengan motor matic yang disebut-sebut, seperti Honda BeAT atau Vario. Motor-motor ini dikenal sebagai tulang punggung transportasi harian banyak orang karena ukurannya yang ringkas, lincah di kemacetan, dan tentu saja, konsumsi BBM-nya yang relatif irit dibandingkan mobil.
Motor matic 125-150cc umumnya memiliki konsumsi BBM di kisaran 40-50 km/liter dalam penggunaan harian, tergantung gaya berkendara dan kondisi jalan. Ada juga yang bisa lebih irit atau boros. Angka 40-50 km/liter ini sudah dianggap sangat efisien untuk kendaraan roda dua.
Melihat klaim 76 km/liter pada Chery Tiggo 8 CSH, jelas angka tersebut secara numerik jauh lebih tinggi dari konsumsi rata-rata motor matic. Ini yang membuat klaim Chery menjadi sangat gokil dan menarik perhatian. Bayangkan, SUV besar berkapasitas 7 penumpang (Tiggo 8 Pro biasanya 7-seater) bisa lebih irit dari motor matic yang cuma bisa mengangkut 2 orang dan barang bawaan minimal.
Namun, penting untuk diingat bahwa perbandingan ini harus dilihat dalam konteks yang tepat. Konsumsi 76 km/liter Tiggo 8 CSH adalah angka ekuivalen dari siklus pengetesan laboratorium (NEDC) yang mencakup penggunaan mode EV. Sedangkan konsumsi 40-50 km/liter pada motor matic adalah angka realita penggunaan harian tanpa mode EV yang bisa diisi ulang dari luar.
Maksud Chery membandingkan dengan BeAT/Vario tampaknya adalah untuk menyoroti betapa drastisnya peningkatan efisiensi yang bisa dicapai oleh teknologi PHEV ini, sehingga sebuah SUV pun bisa memiliki ekuivalensi konsumsi energi yang jauh lebih baik dibandingkan kendaraan yang secara inheren sudah irit seperti motor matic. Ini menunjukkan potensi besar PHEV dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, terutama jika pengguna disiplin mengisi ulang baterai dan memaksimalkan mode listriknya untuk perjalanan harian.
Mengupas Teknologi Chery Super Hybrid Lebih Dalam¶
Teknologi Super Hybrid yang digunakan Chery Tiggo 8 CSH ini sebenarnya menggabungkan keunggulan dari beberapa sistem. Mesin 1.5L turbo yang diusung merupakan bagian dari keluarga mesin Acteco yang dikembangkan Chery. Mesin turbo ini sudah terbukti bertenaga dan efisien di model Tiggo lainnya.
Kemudian ada motor listrik yang perannya sangat krusial. Motor listrik ini tidak hanya berfungsi sebagai penggerak utama dalam mode EV, tetapi juga bisa bekerja bersama mesin bensin dalam mode hybrid untuk memberikan tenaga tambahan saat dibutuhkan (akselerasi atau menanjak) atau membantu mesin bekerja di putaran paling efisien.
Baterai Li-Po 18,3 kWh adalah komponen vital sebagai sumber energi listrik. Kapasitas sebesar ini memungkinkan Tiggo 8 CSH menempuh jarak 90 km hanya dengan tenaga listrik. Ini artinya, jika jarak tempuh harian Anda kurang dari 90 km, Anda berpotensi tidak perlu menyalakan mesin bensin sama sekali, cukup diisi ulang baterainya setiap malam di rumah. Inilah kunci mengapa angka konsumsi ekuivalennya bisa setinggi itu.
Transmisi 1DHT Super Electric Hybrid adalah otak dari sistem ini. DHT (Dedicated Hybrid Transmission) adalah jenis transmisi khusus yang dirancang untuk mobil hybrid. Transmisi 1DHT pada Tiggo 8 CSH ini memiliki satu tingkat percepatan (atau lebih tepatnya, sistem kopling yang mengatur aliran daya) yang dikombinasikan dengan manajemen elektronik yang sangat canggih. Sistem ini memungkinkan mobil beralih dengan mulus antara mode penggerak (listrik saja, bensin saja, atau kombinasi keduanya) dan meregenerasi energi saat pengereman (regen braking) untuk mengisi ulang baterai.
Sinergi antara mesin bensin, motor listrik, baterai, dan transmisi DHT yang canggih inilah yang memungkinkan Chery Tiggo 8 CSH mencapai keseimbangan antara performa (SUV besar tetap butuh tenaga) dan efisiensi yang sangat tinggi.
Harga dan Ketersediaan¶
Bagi yang tertarik dengan SUV super irit ini, Chery Tiggo 8 CSH sudah bisa dipesan di Indonesia. Chery menawarkan harga khusus untuk konsumen yang melakukan pemesanan awal. Untuk 1.000 konsumen pertama, mobil plug-in hybrid ini dibanderol dengan harga Rp 499 juta.
Harga Rp 499 juta ini tentu sangat menarik, mengingat ini adalah sebuah SUV PHEV berteknologi canggih dengan kapasitas baterai besar dan klaim efisiensi luar biasa. Harga ini bisa dibilang sangat kompetitif dibandingkan mobil PHEV lain di pasaran, dan bahkan bersaing dengan beberapa model SUV non-hybrid di kelasnya. Strategi harga ini sepertinya disiapkan untuk menarik perhatian dan mendorong adopsi teknologi PHEV di Indonesia.
Mengapa Angka Ini Penting?¶
Angka konsumsi ekuivalen 76 km/liter pada Chery Tiggo 8 CSH ini penting karena beberapa alasan:
- Efisiensi Biaya Operasional: Jika pengguna benar-benar bisa memaksimalkan mode EV-nya dengan mengisi ulang baterai secara rutin, biaya energi per kilometer akan jauh lebih rendah dibandingkan mobil bensin biasa. Menggunakan listrik untuk menempuh jarak 90 km jelas jauh lebih murah daripada menggunakan bensin untuk jarak yang sama. Ini bisa jadi daya tarik utama bagi konsumen yang mencari penghematan dalam penggunaan harian.
- Pengurangan Emisi: Dengan kemampuan menempuh jarak 90 km dalam mode full EV, Tiggo 8 CSH bisa beroperasi tanpa emisi sama sekali untuk sebagian besar perjalanan harian di dalam kota. Ini berkontribusi positif terhadap kualitas udara, terutama di perkotaan padat.
- Posisi di Pasar: Klaim efisiensi ini memposisikan Chery Tiggo 8 CSH sebagai pilihan yang sangat menarik di segmen SUV besar, menawarkan kombinasi ruang, fitur, performa, dan efisiensi yang sulit ditandingi oleh SUV konvensional. Ini menunjukkan komitmen Chery dalam membawa teknologi elektrifikasi ke pasar Indonesia dengan solusi yang relevan dan kompetitif.
- Edukasi Pasar: Angka ini juga secara tidak langsung mengedukasi pasar mengenai potensi dan cara kerja mobil PHEV. Ini memperkenalkan konsep konsumsi ekuivalen dan pentingnya memanfaatkan mode listrik serta infrastruktur pengisian daya.
Tantangan dan Realita Konsumsi BBM Harian¶
Meskipun angka 76 km/liter terdengar sangat menggiurkan, penting bagi konsumen untuk memahami bahwa ini adalah angka ekuivalen berdasarkan siklus pengetesan standar (NEDC). Konsumsi BBM aktual yang akan didapatkan pengguna di dunia nyata akan sangat bervariasi.
Faktor kunci untuk mencapai efisiensi mendekati klaim tersebut adalah kedisiplinan dalam mengisi ulang baterai dan memanfaatkan mode EV sesering mungkin, terutama untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah (di bawah 90 km). Jika mobil sering digunakan untuk perjalanan jauh tanpa sempat mengisi ulang baterai, maka Tiggo 8 CSH akan lebih sering mengandalkan mesin bensin atau mode hybrid, dan konsumsi BBM-nya akan lebih mendekati angka 19 km/liter (mesin bensin saja) atau di antara itu, bukan 76 km/liter.
Kondisi lalu lintas yang macet parah, gaya mengemudi agresif, atau penggunaan fitur yang membutuhkan banyak energi (AC maksimal, fitur hiburan) juga akan mempengaruhi konsumsi energi secara keseluruhan.
Oleh karena itu, klaim 76 km/liter ini sebaiknya dilihat sebagai potensi maksimal efisiensi yang bisa dicapai dalam kondisi ideal yang mencakup penggunaan mode EV secara signifikan. Real-world usage experience dari para pemilik nantinya akan menjadi tolok ukur yang lebih akurat mengenai seberapa irit mobil ini dalam berbagai skenario penggunaan harian di Indonesia.
Kesimpulan¶
Chery Tiggo 8 CSH hadir membawa klaim sensasional mengenai efisiensi bahan bakar ekuivalen hingga 76 km/liter, sebuah angka yang bahkan melampaui konsumsi rata-rata motor matic populer. Klaim ini didukung oleh teknologi Chery Super Hybrid, sebuah sistem Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) canggih yang memadukan mesin 1.5L turbo, motor listrik, baterai 18,3 kWh, dan transmisi 1DHT.
Angka fantastis 76 km/liter ini adalah hasil perhitungan ekuivalen berdasarkan siklus pengetesan standar NEDC, yang secara signifikan memperhitungkan penggunaan mode full EV yang mampu menempuh jarak hingga 90 kilometer. Ini menunjukkan potensi luar biasa PHEV dalam menekan konsumsi bahan bakar fosil, terutama untuk penggunaan harian di dalam kota.
Dengan banderol harga Rp 499 juta untuk 1.000 unit pertama, Chery Tiggo 8 CSH menawarkan paket menarik bagi konsumen yang mencari SUV besar dengan fitur lengkap, performa mumpuni, dan efisiensi energi yang superior. Tentu saja, kunci untuk merasakan “iritnya” mobil ini adalah dengan rutin mengisi ulang baterai dan memaksimalkan mode EV-nya.
Gimana menurut kalian klaim konsumsi BBM 76 km/liter ini? Bikin penasaran buat nyobain langsung nggak? Atau ada yang sudah punya pengalaman dengan mobil hybrid atau PHEV? Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar