Diabetes Tipe 5? Pakar FKUI Ungkap Fakta Baru Soal Kencing Manis!

Table of Contents

Ilustrasi seseorang mengecek gula darah

Eh, kamu tahu nggak sih kalau dunia diabetes itu terus berkembang? Terbaru, ada kabar penting dari pakar kita di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam. Beliau cerita ada tipe diabetes baru yang mulai diakui secara internasional, namanya Diabetes Tipe 5.

Prof. Ari menjelaskan, tipe ini beda banget dari yang kita kenal selama ini. Penyakit gula darah ini ternyata erat kaitannya sama kondisi malnutrisi atau gizi buruk. Penemuan dan pengakuan tipe baru ini punya implikasi besar dalam cara kita memahami dan menangani diabetes, lho.

Apa Itu Diabetes Tipe 5?

Jadi, apa sih sebenarnya Diabetes Tipe 5 ini? Menurut Prof. Ari dan juga Federasi Diabetes Internasional (IDF) yang baru meresmikannya di tahun 2025, tipe ini muncul pada orang yang mengalami gangguan malnutrisi kronis. IDF sendiri menyebut tipe ini sebagai severe insulin-deficient diabetes (SIDD).

Kondisi kekurangan gizi parah ini bikin produksi insulin di tubuh jadi menurun drastis. Padahal, insulin itu penting banget buat bantu jaringan tubuh mengambil gula dari darah untuk dijadikan energi. Kalau produksi insulinnya kurang, otomatis gula darah pun akan menumpuk dan meningkat dalam darah, akhirnya terjadilah diabetes melitus.

Ini poin krusialnya: penderita Diabetes Tipe 5 mengalami kekurangan insulin yang parah. Tapi, mereka tidak resisten terhadap insulin. Ini beda banget sama tipe diabetes yang paling umum kita kenal, yaitu Diabetes Tipe 2. Jadi, masalah utamanya ada di jumlah insulin yang kurang, bukan karena tubuh nggak responsif terhadap insulin yang ada.

Beda Banget Sama Diabetes Tipe 2? Yuk, Kita Bedah!

Nah, ini nih yang menarik dan sering bikin bingung. Kalau Diabetes Tipe 2 itu seringnya terkait sama resistensi insulin. Maksudnya, tubuh punya insulin tapi sel-sel tubuh (otot, lemak, hati) nggak bisa menggunakan insulin itu secara efektif untuk mengambil gula dari darah. Resistensi insulin ini biasanya dipicu oleh faktor gaya hidup yang kurang sehat, kelebihan berat badan atau obesitas, dan kurang aktivitas fisik.

Nah, Diabetes Tipe 5 justru kebalikannya total! Penderitanya itu mengalami defisiensi insulin berat, artinya produksi insulinnya sangat sedikit atau bahkan hampir tidak ada. Tapi, sel-sel tubuh mereka nggak resisten sama insulin. Kalau dikasih terapi insulin dari luar, tubuhnya akan merespons dengan baik. Makanya, penyebab utama Diabetes Tipe 5 juga beda jauh, yaitu malnutrisi kronis yang parah, terutama yang dialami di masa pertumbuhan anak-anak atau remaja.

Jadi, intinya:
* Diabetes Tipe 2: Masalah utama resistensi insulin, penyebab seringkali gaya hidup/obesitas.
* Diabetes Tipe 5: Masalah utama defisiensi insulin, penyebab utama malnutrisi kronis.

Memahami perbedaan ini penting banget supaya diagnosis dan penanganannya bisa tepat sasaran.

Penyebab Utama Diabetes Tipe 5: Akibat Malnutrisi Kronis

Kenapa malnutrisi kronis bisa bikin diabetes tipe 5? Gini, pankreas kita punya sel-sel khusus yang namanya sel beta. Sel beta inilah yang tugasnya memproduksi hormon insulin. Untuk bisa bekerja optimal dan memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, sel beta ini butuh asupan nutrisi yang memadai.

Kalau seseorang mengalami kekurangan gizi parah dan berkepanjangan (kronis), terutama kekurangan protein, vitamin, dan mineral penting, sel beta pankreasnya bisa mengalami kerusakan atau fungsinya menurun drastis. Ibaratnya, pabrik insulinnya nggak punya bahan baku atau tenaganya buat produksi. Kondisi ini paling rentan terjadi pada masa pertumbuhan yang kritis, yaitu masa kanak-kanak dan remaja, saat tubuh butuh banyak nutrisi untuk berkembang.

Malnutrisi ini nggak cuma soal kurang makan, lho. Bisa juga karena pola makan yang sangat buruk (misalnya hanya makan karbohidrat tanpa protein dan nutrisi lain), atau kondisi medis lain yang bikin penyerapan nutrisi di usus terganggu. Makanya, anak-anak atau remaja yang hidup di daerah yang rawan kekurangan pangan atau punya akses terbatas pada makanan bergizi jadi lebih berisiko mengalami Diabetes Tipe 5 di kemudian hari. Kekurangan gizi di masa kritis pertumbuhan ini bisa punya dampak jangka panjang yang serius pada fungsi organ, termasuk pankreas.

Gejala dan Tantangan Diagnosis Diabetes Tipe 5

Gejala awal Diabetes Tipe 5 mirip-mirip sama tipe diabetes lainnya kok. Kamu mungkin akan merasakan gejala klasik seperti:
* Sering merasa haus (polidipsi)
* Sering buang air kecil dalam jumlah banyak (poliuri)
* Cepat merasa lapar walaupun baru saja makan (polifagi)
* Berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas
* Gampang merasa lelah dan lemas
* Luka jadi lebih sulit sembuh

Namun, mendiagnosis Diabetes Tipe 5, terutama di lingkungan yang rentan malnutrisi, bisa jadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis. Kenapa? Karena kadang gejala diabetesnya bisa “tertutupi” atau berbaur dengan kondisi kekurangan gizi itu sendiri. Misalnya, penurunan berat badan bisa dianggap hanya karena malnutrisi, padahal juga diperparah oleh diabetes.

Untuk memastikan, dokter perlu melakukan pemeriksaan yang lebih spesifik. Selain tes gula darah puasa, gula darah sewaktu, dan tes HbA1c (untuk melihat rata-rata gula darah 2-3 bulan terakhir), dokter mungkin juga akan melakukan tes fungsi pankreas atau cek kadar peptida-C. Peptida-C adalah molekul yang dibuat bersamaan dengan insulin oleh pankreas, jadi mengukur kadarnya bisa jadi penanda seberapa banyak insulin yang diproduksi tubuh. Riwayat gizi pasien, terutama riwayat malnutrisi di masa lalu, juga jadi petunjuk penting banget dalam menegakkan diagnosis Diabetes Tipe 5.

Mengelola Diabetes Tipe 5: Kombinasi Terapi dan Perbaikan Gizi

Pengobatan Diabetes Tipe 5 fokus di dua hal utama: menggantikan insulin yang kurang dan memperbaiki kondisi malnutrisinya. Karena tubuh penderita mengalami defisiensi insulin yang parah, mereka biasanya butuh terapi insulin seumur hidup dalam bentuk suntikan untuk mengontrol kadar gula darahnya. Dosis dan jenis insulinnya akan disesuaikan oleh dokter.

Selain terapi insulin, program rehabilitasi gizi adalah komponen yang sangat krusial dalam penanganan Diabetes Tipe 5. Pasien perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang di bawah pengawasan tenaga medis, seperti ahli gizi. Tujuan rehabilitasi gizi ini adalah untuk membantu memulihkan kondisi tubuh secara keseluruhan, memperbaiki berat badan (jika kurang), dan memastikan tubuh mendapatkan semua vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan. Walaupun perbaikan gizi bisa bantu meningkatkan kesehatan umum, fungsi produksi insulin pankreas yang sudah rusak parah mungkin nggak bisa pulih total, makanya terapi insulin tetap dibutuhkan.

Mengontrol gula darah yang stabil lewat kombinasi terapi insulin dan nutrisi yang baik itu penting banget lho. Kenapa? Karena gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan berbagai komplikasi diabetes yang serius. Komplikasi ini bisa menyerang berbagai organ, seperti kerusakan mata (retinopati), kerusakan ginjal (nefropati), kerusakan saraf (neuropati), hingga masalah jantung dan pembuluh darah yang bisa meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Jadi, pengelolaan yang tepat adalah kunci untuk hidup lebih sehat dan berkualitas meski menyandang diabetes tipe 5.

Jenis Diabetes Lain yang Perlu Kamu Ketahui

Ngomongin diabetes, Prof. Ari juga mengingatkan kita soal tipe-tipe lain yang nggak kalah penting buat diketahui. Ini biar pemahaman kita soal penyakit gula ini makin lengkap:

  1. Diabetes Gestasional: Ini adalah penyakit kencing manis yang muncul spesifik selama masa kehamilan. Biasanya terjadi pada ibu hamil yang sebelumnya nggak punya riwayat diabetes. Kondisi ini bisa terjadi karena perubahan hormon selama kehamilan mengganggu kerja insulin. Faktor risiko bisa meningkat kalau ibu hamil punya riwayat keluarga diabetes, kelebihan berat badan sebelum hamil, atau melahirkan bayi dengan berat badan lahir besar di kehamilan sebelumnya. Diabetes gestasional biasanya hilang setelah melahirkan, tapi ibu dan bayinya berisiko lebih tinggi terkena Diabetes Tipe 2 di masa depan. Makanya, tetap perlu follow-up setelah melahirkan.

  2. Diabetes yang Diinduksi Obat-obatan: Beberapa jenis obat tertentu bisa memengaruhi kadar gula darah dan memicu diabetes pada orang yang punya kerentanan. Contoh obat yang paling sering dikaitkan adalah kortikosteroid (seperti prednison). Obat lain seperti diuretik jenis tertentu atau beberapa obat untuk HIV/AIDS juga bisa memengaruhi. Biasanya, kondisi diabetes ini bisa membaik atau hilang kalau penggunaan obat pemicunya dihentikan (tentunya di bawah pengawasan dokter).

  3. Diabetes Tipe 1: Ini adalah tipe diabetes yang paling sering didiagnosis pada anak-anak dan remaja, tapi bisa juga menyerang usia berapa pun. Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun. Artinya, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi malah menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi insulin. Akibatnya, pankreas jadi tidak bisa memproduksi insulin sama sekali atau sangat sedikit. Penderita Diabetes Tipe 1 mutlak membutuhkan terapi insulin seumur hidup untuk bertahan hidup.

Jadi, ternyata diabetes itu macam-macam banget penyebabnya, nggak cuma soal kebanyakan gula atau gaya hidup buruk. Ada yang terkait genetik, autoimun, kehamilan, obat-obatan, dan sekarang kita tahu, ada juga yang sangat erat hubungannya sama malnutrisi kronis.

Pentingnya Kesadaran dan Pencegahan

Penemuan dan pengakuan Diabetes Tipe 5 oleh IDF dan penjelasan dari pakar seperti Prof. Ari Fahrial Syam ini penting banget buat meningkatkan kesadaran kita semua. Terutama di negara-negara yang masih punya masalah serius soal malnutrisi atau kekurangan gizi.

Ini jadi pengingat keras bahwa gizi yang baik itu krusial bukan cuma buat pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, tapi juga buat kesehatan metabolisme jangka panjang, termasuk mencegah risiko terkena diabetes di masa depan. Pencegahan malnutrisi, akses yang merata terhadap pangan bergizi seimbang, dan program kesehatan yang fokus pada perbaikan gizi ibu dan anak bisa jadi kunci utama buat menekan angka kasus Diabetes Tipe 5 di masa depan.

Edukasi tentang pentingnya pola makan sehat, pemeriksaan kesehatan rutin, dan deteksi dini penyakit juga perlu terus digalakkan. Dengan mengetahui risiko dan gejala berbagai tipe diabetes, kita bisa lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan atau mencari pertolongan medis lebih cepat kalau dibutuhkan.

Yuk, mulai sekarang lebih peduli sama asupan gizi diri sendiri dan orang di sekitar kita, terutama anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan! Kesehatan itu investasi jangka panjang yang paling berharga.

Gimana pendapatmu soal tipe diabetes baru ini? Atau mungkin kamu punya pengalaman atau pertanyaan soal diabetes? Share dong di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar