Awas! Pakar Ungkap Cara Hacker Curi Datamu Lewat Hotspot Wi-Fi

Table of Contents

Ilustrasi bahaya berbagi hotspot Wi-Fi

Media sosial X (dulunya Twitter) belum lama ini dihebohkan oleh curhatan seorang warganet. Ceritanya, dia tiba-tiba didekati orang asing yang penampilannya lusuh dan acak-acakan. Orang asing itu meminta tolong untuk diberikan akses hotspot atau tethering dari ponsel si warganet.

Hotspot, atau sering juga disebut tethering, adalah fitur praktis yang ada di ponsel pintar kita. Fungsinya adalah untuk membagikan koneksi internet seluler yang dimiliki ponsel ke perangkat lain, seperti laptop, tablet, atau ponsel lain yang tidak punya koneksi internet sendiri. Jadi, ponsel kita bertindak seperti router Wi-Fi kecil yang bisa dipakai banyak perangkat.

Salah satu postingan yang viral berbunyi kira-kira begini:

“[SCAM] Siapapun yang diluar sana kalau ada orang dengan pakaian lusuh acak kaduk minta hotspot ke kalian jangan dikasih saranin ke opsi lain ini barusan terjadi ke aku tapi alhamdulillah digagalkan sama feelingku yang ga enak.” - @bibl*

Utas (thread) di X itu kemudian merinci kronologinya. Pemilik akun tersebut merasa aneh dan curiga. Kenapa? Karena di lokasi tempat dia dimintai hotspot itu sebenarnya sudah tersedia Wi-Fi umum alias Wi-Fi gratis yang bisa diakses siapa saja. Mestinya, kan, orang itu bisa pakai Wi-Fi umum saja kalau memang cuma butuh internet biasa. Karena keanehan inilah, si pemilik akun punya firasat buruk dan menolak permintaan hotspot tersebut. Dia menduga, orang asing itu punya niat tidak baik atau sedang mencoba melakukan penipuan, atau yang sering kita sebut dengan istilah “scam”.

Scam sendiri merupakan tindakan penipuan yang tujuannya macam-macam, bisa untuk mendapatkan uang, barang berharga, atau yang tak kalah penting di era digital ini, data pribadi korban. Modusnya pun makin canggih, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Nah, pertanyaan besar pun muncul: mungkinkah tindakan penipuan atau pencurian data ini benar-benar bisa dilakukan hanya dengan meminta akses hotspot?

Bisakah Data Kita Dicuri Hanya Karena Membagikan Hotspot?

Untuk menjawab rasa penasaran ini, tim Kompas.com sempat menghubungi pakar keamanan siber dan IT dari Vaksincom, Bapak Alfons Tanujaya. Beliau memberikan penjelasan mengenai kasus yang viral ini dan potensi risikonya.

Menurut Alfons, kasus pencurian data atau scam yang dilakukan oleh orang yang mengakses hotspot kita, dalam artian si peminta hotspot adalah pelakunya, itu sebetulnya cukup jarang terjadi. Ini berbeda dengan skenario di mana pemilik jaringan Wi-Fi (misalnya Wi-Fi publik atau bahkan hotspot pribadi yang disetel khusus) adalah pelakunya.

“Justru, biasanya pemilik wi-fi atau hotspot yang bisa menyadap dan mencuri data,” terang Alfons. Ini artinya, risiko lebih besar biasanya datang dari pihak yang mengelola jaringan internet itu sendiri, bukan dari orang yang numpang pakai. Mereka yang punya kontrol atas jaringan punya potensi lebih besar untuk memantau atau bahkan mencegat data yang lewat di jaringan tersebut.

Namun, bukan berarti risiko itu nol. Alfons menambahkan, jika seandainya ada kasus di mana data berhasil dicuri oleh orang yang mengakses hotspot kita, kemungkinan besar itu terjadi karena ada celah keamanan di perangkat kita yang belum diperbaiki atau diperbarui.

“Perangkat yang membagikan koneksi wi-fi atau hotspot mungkin saja memiliki kelemahan dan belum dipatch sehingga bisa dieksploitasi,” lanjut Alfons. Ini penting sekali untuk diingat. Perangkat lunak (software) pada ponsel atau laptop yang membagikan hotspot bisa jadi memiliki kelemahan bawaan yang belum ditambal oleh pembuatnya. Jika orang yang berniat jahat kebetulan tahu celah ini dan terhubung ke hotspot kita, mereka bisa mencoba mengeksploitasinya untuk mengakses atau mencuri data.

Sebagai contoh, mungkin ada kerentanan pada sistem operasi ponsel, pada modul Wi-Fi ponsel, atau pada aplikasi tertentu yang berjalan di latar belakang yang bisa diakses dari jaringan lokal. Jika perangkat kita tidak rutin diperbarui (update), celah-celah keamanan ini tetap terbuka dan siap dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab yang berhasil terhubung ke jaringan hotspot kita. Jadi, intinya, risiko itu ada tapi lebih karena kelemahan di perangkat kita daripada si peminta hotspot itu sendiri punya “sihir” khusus untuk langsung membobol data.

Langkah Pencegahan: Tingkatkan Keamanan Saat Berbagi Hotspot

Melihat potensi risiko, sekecil apapun itu, lantas bagaimana cara terbaik untuk melindungi diri? Alfons memberikan nasihat yang paling simpel dan paling aman: sebisa mungkin, hindari berbagi hotspot dengan orang asing atau bahkan orang yang tidak sepenuhnya kita percaya.

“Simpelnya, usahakan untuk tidak membagikan hotspot,” tegas Alfons. Ini adalah garis pertahanan pertama dan terbaik. Dengan tidak membagikan koneksi internet kita, kita menutup pintu bagi potensi risiko keamanan yang datang dari luar. Data kita tetap berada dalam ekosistem pribadi, tidak terpapar ke orang lain.

Namun, hidup kadang tidak sesederhana itu. Mungkin ada situasi darurat di mana kita harus membagikan hotspot, misalnya untuk membantu teman atau keluarga yang kehabisan kuota, atau dalam konteks pekerjaan. Jika memang terpaksa harus berbagi, terutama jika yang meminta adalah orang yang tidak begitu kita kenal atau bahkan orang asing seperti kasus viral di X, ada beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko pencurian data dan kejahatan digital lainnya:

  1. Batasi Waktu Penggunaan Hotspot: Ponsel modern biasanya punya fitur untuk membatasi durasi hotspot aktif. Setelah durasi habis, hotspot akan mati otomatis. Ini berguna untuk memastikan koneksi tidak terus-menerus terbuka. Beberapa ponsel bahkan memungkinkan pembatasan data yang bisa digunakan.
  2. Gunakan Password yang Rumit dan Kuat: Ini krusial! Jangan pernah membagikan hotspot tanpa password. Gunakan password yang panjang, gabungan huruf besar, kecil, angka, dan simbol. Hindari password yang mudah ditebak seperti tanggal lahir atau nama panggilan. Semakin kuat password, semakin sulit orang asing (atau bahkan tetangga iseng) untuk terhubung tanpa izin. Pastikan juga jenis enkripsi yang digunakan adalah yang terbaru dan terkuat, seperti WPA2 atau lebih baik lagi WPA3 jika perangkat Anda mendukung. Enkripsi ini mengacak data yang lewat sehingga tidak mudah dibaca oleh pihak yang tidak berwenang meskipun mereka berhasil terhubung ke jaringan.
  3. Aktifkan Enkripsi Perlindungan Hotspot: Sebagian besar ponsel modern sudah otomatis menggunakan enkripsi WPA2/WPA3 saat fitur hotspot diaktifkan. Namun, pastikan setelan ini aktif dan tidak menggunakan metode keamanan yang lebih lemah seperti WEP yang sudah usang dan mudah diretas. Periksa pengaturan hotspot di ponsel Anda untuk memastikan enkripsi terbaik sudah dipilih.

“Hal ini penting dilakukan agar supaya hotspot tidak mudah diretas,” lanjut Alfons. Dengan password yang kuat dan enkripsi yang baik, kita membuat lapisan keamanan yang kokoh. Ini menghalangi pihak yang tidak berhak untuk masuk ke jaringan hotspot pribadi kita.

Potensi Risiko Lain Saat Membagikan Hotspot ke Orang Lain

Selain potensi (meskipun jarang) pencurian data langsung oleh pengguna hotspot, Alfons juga menggarisbawahi beberapa risiko lain yang bisa timbul saat kita membagikan koneksi internet dari ponsel kita. Risiko-risiko ini mungkin tidak langsung terkait dengan pencurian data pribadi kita, tetapi bisa berdampak pada kenyamanan, biaya, bahkan masalah hukum.

Mari kita rinci satu per satu:

1. Kuota Bandwidth Terpakai Orang Lain

Ini mungkin risiko yang paling jelas dan sering dirasakan. Saat kita membagikan hotspot, perangkat lain yang terhubung akan menggunakan jatah kecepatan atau kapasitas internet (bandwidth) yang kita miliki. Ini seperti membagi “pipa” internet kita.

Jika orang yang terhubung ke hotspot kita menggunakan aplikasi atau melakukan aktivitas yang rakus bandwidth, seperti streaming video HD, mengunduh file besar, atau bermain game online, maka kecepatan internet yang kita gunakan di ponsel kita sendiri atau perangkat lain yang terhubung (misalnya laptop yang kita pakai kerja) akan melambat drastis. Ini bisa sangat mengganggu produktivitas atau kenyamanan kita.

Bayangkan jika kuota internet kita terbatas. Berbagi hotspot bisa membuat kuota cepat habis tanpa kita sadari, terutama jika kita tidak membatasi penggunaan data oleh perangkat lain.

2. Alamat IP Pemilik Hotspot Akan Teridentifikasi Jika Ada Kejahatan

Ini adalah risiko yang jauh lebih serius. Setiap kali kita terhubung ke internet, koneksi kita diidentifikasi dengan sebuah alamat unik yang disebut Alamat Internet Protocol (IP). Saat kita membagikan hotspot, alamat IP yang digunakan oleh semua perangkat yang terhubung adalah alamat IP ponsel kita yang terhubung ke jaringan seluler provider.

“Jika ada penipu yang menggunakan hotspot kita untuk melakukan aktivitas jahat, maka internet protocol (IP) kita yang akan teridentifikasi,” jelas Alfons.

Ini sangat berbahaya. Jika orang yang numpang pakai hotspot kita melakukan tindakan ilegal atau penipuan di internet, misalnya menyebarkan konten terlarang, melakukan peretasan, mengirim email phishing, atau melakukan transaksi penipuan, investigasi polisi atau pihak berwenang akan melacak alamat IP yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Dan alamat IP itu adalah alamat IP kita.

Akibatnya, kita sebagai pemilik hotspot yang terdaftar dengan nama kita di provider layanan seluler, bisa dipanggil untuk dimintai keterangan atau bahkan dianggap terlibat atau bertanggung jawab atas tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang yang menumpang hotspot kita. “Hal itu jelas sangat membahayakan,” tegas Alfons. Risiko hukum ini adalah salah satu alasan terkuat untuk berpikir dua kali sebelum membagikan hotspot ke sembarang orang.

3. Baterai Ponsel Cepat Terkuras

Mengaktifkan fitur hotspot dan membagikan koneksi internet membutuhkan daya baterai yang cukup besar dari ponsel. Ponsel harus bekerja lebih keras untuk menjaga koneksi seluler tetap stabil, mengoperasikan modul Wi-Fi untuk memancarkan sinyal, dan mengelola koneksi dengan perangkat-perangkat yang terhubung.

“Baterai ponsel akan lebih cepat terkuras jika kita memberikan hotspot,” jelas Alfons.

Jika kita berbagi hotspot dalam waktu lama atau dengan banyak perangkat, jangan kaget jika persentase baterai ponsel Anda turun dengan cepat. Ini mungkin merepotkan jika kita sedang berada di luar dan tidak punya akses ke charger atau power bank.

4. File Sharing Dapat Diakses Oleh Pengguna Hotspot

Beberapa sistem operasi atau aplikasi di ponsel atau laptop memungkinkan adanya fitur berbagi file atau folder melalui jaringan lokal. Tujuannya adalah untuk memudahkan pertukaran data antar perangkat yang terhubung dalam satu jaringan Wi-Fi yang sama, misalnya antara laptop dan ponsel Anda sendiri di rumah.

Namun, jika fitur file sharing ini dalam keadaan aktif dan kita membagikan hotspot, ada kemungkinan perangkat lain yang terhubung ke hotspot kita bisa “melihat” atau bahkan mengakses file atau folder yang kita bagikan di jaringan lokal.

“Jika ada file sharing di perangkat kita yg terkoneksi Wi-Fi, maka file tersebut akan bisa diakses oleh pengakses hotspot,” jelas Alfons.

Ini bisa menjadi masalah besar jika file atau folder yang dibagikan berisi data sensitif, dokumen pribadi, foto, atau informasi rahasia lainnya. Untuk itu, sangat penting untuk memastikan fitur file sharing (seperti Windows File Sharing, AirDrop di Apple, atau fitur serupa lainnya) dalam keadaan nonaktif saat membagikan hotspot ke orang lain. Periksa juga pengaturan izin akses folder atau file di perangkat Anda. Pastikan tidak ada folder pribadi yang disetel untuk bisa diakses publik di jaringan lokal.

5. Potensi Dieksploitasi dan Diberi Malware

Ini kembali ke poin risiko keamanan perangkat kita. Alfons menjelaskan bahwa pengakses hotspot bukan hanya berpotensi mencuri data melalui celah keamanan, tetapi mereka juga dapat mencoba mengeksploitasi perangkat kita untuk tujuan lain.

Pengakses hotspot yang berniat jahat dapat memindai jaringan lokal yang dibuat oleh hotspot kita untuk mencari kelemahan pada perangkat yang terhubung (ponsel kita sendiri atau perangkat lain yang kita hubungkan ke hotspot). Jika mereka menemukan celah keamanan, mereka bisa mencoba mengambil alih kontrol perangkat kita atau setidaknya menanamkan kode berbahaya atau malware (malicious software).

Malware ini bisa berbagai macam bentuknya:
* Virus: Merusak file atau sistem.
* Trojan: Menyamar sebagai program biasa tapi punya tujuan jahat, misalnya mencuri data atau membuka backdoor.
* Spyware: Diam-diam mengumpulkan informasi tentang aktivitas online atau data pribadi kita.
* Ransomware: Mengunci file atau sistem dan meminta tebusan.

Alfons menegaskan bahwa pengakses hotspot bisa saja sampai mengambil alih perangkat dan atau menanamkan kode jahat atau malware. Potensi ini mungkin lebih tinggi jika perangkat kita memiliki sistem operasi atau aplikasi yang sudah usang dan punya banyak kerentanan yang diketahui publik. Malware yang ditanamkan bisa bekerja di latar belakang tanpa kita sadari, mencuri data seiring waktu, atau menunggu perintah dari si penyerang.


Berbagi Hotspot vs. Wi-Fi Publik: Mana yang Lebih Aman?

Setelah membahas risiko berbagi hotspot pribadi, mungkin muncul pertanyaan: bagaimana dengan menggunakan Wi-Fi publik gratis yang sering tersedia di kafe, bandara, atau tempat umum lainnya? Apakah itu lebih aman?

Menurut banyak pakar keamanan siber, menggunakan Wi-Fi publik yang tidak aman (terutama yang tanpa password atau dengan password yang dibagikan ke semua orang tanpa enkripsi yang memadai) justru memiliki risiko yang lebih tinggi dalam hal pencurian data dan intersepsi komunikasi.

Kenapa? Karena pada jaringan Wi-Fi publik, Anda terhubung ke jaringan yang dikelola oleh pihak lain dan biasanya digunakan oleh banyak orang asing secara bersamaan. Di jaringan seperti ini, pihak yang mengelola Wi-Fi (pemilik kafe, administrator bandara, dll.) memiliki potensi untuk memantau atau mencuri data yang lewat. Bahkan pengguna lain yang terhubung ke jaringan yang sama juga bisa melakukan serangan, seperti Man-in-the-Middle (MitM), di mana mereka menyusup di antara perangkat Anda dan internet untuk mencegat data, atau melakukan DNS spoofing untuk mengarahkan Anda ke situs palsu.

Expert Alfons Tanujaya sendiri dalam artikel ini menyebutkan, “Justru, biasanya pemilik wi-fi atau hotspot yang bisa menyadap dan mencuri data.” Pernyataan ini sering kali lebih relevan untuk konteks Wi-Fi publik yang dikelola oleh pihak ketiga.

Jadi, membagikan hotspot pribadi memiliki risiko, tetapi risikonya lebih banyak terkait dengan kelemahan pada perangkat kita yang dieksploitasi oleh tamu, atau konsekuensi hukum jika tamu melakukan aktivitas ilegal. Sementara itu, menggunakan Wi-Fi publik yang tidak aman memiliki risiko yang lebih langsung terkait dengan pengelola jaringan atau pengguna lain di jaringan yang sama yang bisa mencegat komunikasi Anda atau mengarahkan Anda ke situs palsu.

Dalam kasus orang asing meminta hotspot di dekat Wi-Fi publik, kecurigaan si warganet di X cukup beralasan. Kenapa repot-repot minta hotspot pribadi yang mungkin sinyalnya tidak sekuat Wi-Fi publik, apalagi jika ada indikasi penampilan mencurigakan? Bisa jadi si orang asing memang punya motif tersembunyi, entah ingin memanfaatkan koneksi tanpa terlacak (dengan IP kita yang teridentifikasi), atau mungkin memang berniat mencari celah keamanan di perangkat yang membagikan hotspot.


Tips Tambahan Menjaga Keamanan Digital

Terlepas dari apakah kita berbagi hotspot atau menggunakan Wi-Fi, menjaga keamanan digital adalah keharusan di era modern. Berikut beberapa tips tambahan:

  1. Selalu Perbarui Sistem Operasi dan Aplikasi: Ini adalah salah satu langkah terpenting. Pembaruan (update) software seringkali menyertakan perbaikan celah keamanan yang ditemukan. Dengan rutin memperbarui, kita menutup pintu bagi banyak cara peretas masuk ke perangkat kita.
  2. Gunakan Antivirus/Anti-Malware: Instal aplikasi keamanan yang terpercaya di ponsel dan laptop Anda. Lakukan pemindaian rutin untuk mendeteksi dan menghapus malware.
  3. Hindari Mengakses Informasi Sensitif di Jaringan yang Tidak Dipercaya: Jangan melakukan transaksi perbankan online, belanja online, atau mengakses akun email/media sosial penting saat terhubung ke Wi-Fi publik atau hotspot yang dibagikan oleh orang asing. Jika terpaksa, pertimbangkan menggunakan VPN (Virtual Private Network).
  4. Gunakan VPN Saat Online di Jaringan Publik: VPN mengenkripsi koneksi internet Anda, menyembunyikan alamat IP asli Anda, dan membuat aktivitas online Anda lebih pribadi dan aman dari pantauan di jaringan lokal (seperti Wi-Fi publik).
  5. Nonaktifkan Fitur yang Tidak Digunakan: Matikan fitur seperti Wi-Fi, Bluetooth, dan hotspot saat tidak digunakan. Ini tidak hanya menghemat baterai tetapi juga mengurangi potensi titik masuk bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.
  6. Periksa Izin Aplikasi: Di ponsel, periksa izin yang diminta oleh aplikasi yang terinstal. Pastikan aplikasi tidak memiliki izin yang berlebihan, misalnya aplikasi game meminta izin akses ke kontak atau SMS.

Kesimpulan: Berbagi Hotspot Ada Risikonya, Tapi Bisa Diminimalisir

Kasus viral di X menunjukkan bahwa permintaan berbagi hotspot dari orang asing bisa menimbulkan kecurigaan yang beralasan. Meskipun pakar menyebut pencurian data langsung oleh pengguna hotspot yang numpang itu jarang terjadi dan lebih sering risiko datang dari pemilik jaringan (terutama Wi-Fi publik), potensi eksploitasi celah keamanan di perangkat kita atau konsekuensi hukum akibat aktivitas ilegal tamu tetap ada.

Risiko-risiko lain seperti boros kuota, baterai cepat habis, dan potensi akses ke file sharing juga patut dipertimbangkan.

Nasihat terbaik adalah sebisa mungkin hindari berbagi hotspot dengan orang asing. Namun, jika memang harus berbagi, pastikan Anda sudah mengambil langkah-langkah pengamanan seperti menggunakan password yang kuat dengan enkripsi terbaru, membatasi waktu dan data, dan memastikan perangkat Anda selalu diperbarui dan aman dari celah keamanan.

Jaga selalu keamanan digital Anda. Firasat buruk kadang bisa menyelamatkan Anda dari potensi masalah.

Bagaimana pengalamanmu? Pernahkah kamu diminta berbagi hotspot oleh orang asing? Apa yang kamu lakukan? Bagikan pendapat dan pengalamanmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar