Rupiah Keok Dihajar Trump! BRICS Bisa Jadi Penyelamat RI?

Table of Contents

Rupiah Loyo Dihantam Trump! BRICS Bisa Jadi Jurus Pamungkas?

Nilai tukar rupiah lagi-lagi kena getahnya nih gara-gara kebijakan ekonomi dari Amerika Serikat. Kali ini, gara-gara mantan Presiden AS, Donald Trump, yang bikin pengumuman soal tarif impor baru. Trump bilang, semua negara yang mau ekspor barang ke Amerika, siap-siap aja kena tarif impor minimal 10 persen! Wah, langsung deh rupiah jadi ikut-ikutan lemes.

Indonesia juga nggak luput dari incaran Trump. Malah lebih parah, kita kena tarif impor sampai 32 persen! Kebayang kan dampaknya buat ekonomi kita? Barang-barang ekspor kita jadi mahal di sana, otomatis permintaan bisa turun. Dolar AS makin perkasa, sementara rupiah jadi makin tertekan.

Alhasil, nilai rupiah langsung nyungsep ke angka Rp 16.774 per Dolar AS pada hari Kamis, 3 April, sekitar jam 9 pagi WIB. Padahal sebelumnya masih lumayan stabil. Ini jelas bikin banyak pihak khawatir, terutama para pelaku ekonomi dan masyarakat umum.

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pemerintah Indonesia harus gercep nih buat cari cara mengatasi dampak buruk dari tarif impor AS ini. Kalau nggak, rupiah bisa terus-terusan melemah dan makin parah kondisinya.

“Pelemahannya cukup dalam ini, meskipun perdagangan internasional hari ini masih di kisaran Rp 16.745, sempat menyentuh Rp 16.770,” ujar Ibrahim saat dihubungi. Kelihatan banget kan, betapa guncangnya pasar uang kita gara-gara kebijakan Trump ini.

Nah, Ibrahim punya beberapa ide nih buat pemerintah. Yang pertama, kita juga harus berani melawan balik Amerika! Caranya gimana? Ya, kita terapkan juga tarif impor 32 persen buat produk-produk yang masuk dari AS. Biar mereka juga merasakan dampaknya, jangan cuma kita aja yang kena getahnya. Ini namanya prinsip timbal balik, biar adil.

Selain itu, yang nggak kalah penting, kita harus segera cari pasar ekspor baru selain Amerika Serikat. Jangan terlalu bergantung sama satu negara aja. Ibaratnya, jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Kalau keranjangnya jatuh, ya habis semua telurnya.

Untungnya, Indonesia kan sekarang udah gabung sama blok ekonomi BRICS. Nah, ini bisa jadi jurus pamungkas kita nih! Negara-negara anggota BRICS ini harus buka pintu lebar-lebar buat produk ekspor Indonesia. Kita alihkan aja tujuan ekspor kita ke negara-negara BRICS, jangan cuma fokus ke Amerika Serikat.

Emang dari awal tujuan Indonesia gabung BRICS itu kan buat ningkatin perdagangan kita. Jadi, ini saat yang tepat buat memaksimalkan potensi BRICS. Kita bisa jalin kerjasama ekonomi yang lebih erat dengan negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Pasar mereka juga gede-gede kok, nggak kalah sama Amerika.

Terakhir, Ibrahim juga menyarankan supaya Bank Indonesia (BI) dan pemerintah ngeluarin berbagai stimulus ekonomi. Stimulus ini tujuannya buat ngebantu masyarakat dan pelaku usaha biar nggak terlalu terpuruk di tengah kondisi ekonomi yang lagi sulit ini.

Stimulusnya bisa macem-macem, mulai dari keringanan kredit buat para pengusaha, memperbanyak bantuan sosial (bansos) buat masyarakat yang kurang mampu, Bantuan Langsung Tunai (BLT), sampai mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat koperasi-koperasi di daerah.

UMKM dan koperasi ini penting banget lho, apalagi di saat ekonomi lagi lesu kayak gini. Mereka ini bisa jadi fondasi ekonomi kita yang paling kuat. Soalnya, UMKM dan koperasi ini kan lebih tahan banting, nggak gampang goyah kayak perusahaan-perusahaan besar. Mereka juga nyerap banyak tenaga kerja lokal.

Jadi, dengan berbagai langkah ini, diharapkan rupiah bisa kembali perkasa dan ekonomi Indonesia bisa tetap kuat di tengah gempuran kebijakan ekonomi dari negara lain. Kita nggak boleh menyerah gitu aja. Harus terus cari solusi dan berjuang demi kemajuan bangsa.

Gimana menurut kamu? Apakah BRICS beneran bisa jadi penyelamat rupiah dan ekonomi Indonesia? Atau ada solusi lain yang lebih jitu? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar!

Posting Komentar