Matahari Diobral? Lippo Ambil Alih Bisnis Ritel Sang Raja!
Jakarta, CNBC Indonesia — Kabar kurang sedap datang dari Matahari Department Store. Dulu raja ritel kebanggaan Indonesia, kini sinarnya agak meredup. Beberapa waktu belakangan ini, Matahari memang lagi menghadapi masa-masa sulit. Tahun lalu aja, mereka sampai harus melakukan PHK dan menutup beberapa gerai. Kenapa ya? Katanya sih, performa penjualan lagi kurang oke.
Kilau Matahari Meredup¶
Manajemen Matahari sendiri mengakui kalau mereka sudah menutup 13 gerai yang kinerjanya kurang memuaskan sepanjang tahun 2024. Wah, lumayan banyak juga ya? Penutupan gerai ini tentu jadi tanda tanya besar. Apakah Matahari benar-benar lagi kesulitan?
Tapi, tunggu dulu! Di tengah kabar kurang mengenakkan ini, ada juga berita positifnya lho. Menurut laporan keuangan tahun 2024, ternyata laba Matahari masih lumayan tinggi, yaitu Rp 827,7 miliar. Malah naik 22,54% dibandingkan tahun sebelumnya! Kok bisa ya, tutup gerai tapi laba naik?
Ternyata, meskipun laba naik, penjualan barang dagangan Matahari memang lagi tertekan. Penjualan mereka tercatat Rp 12,30 triliun, turun 1,95% dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau dirinci, semua lini penjualan mereka turun. Penjualan eceran di gerai turun 1,85% jadi Rp 3,66 triliun, dan penjualan konsinyasi juga turun 2% jadi Rp 8,64 triliun. Bahkan, pendapatan dari program member Matahari Rewards juga nol rupiah! Waduh, kenapa bisa sampai begini?
Efisiensi Biaya Jadi Penyelamat?¶
Nah, ternyata penurunan pendapatan ini diimbangi dengan penurunan beban biaya. Beban penjualan konsinyasi dan beban pokok pendapatan Matahari berhasil ditekan. Masing-masing jadi Rp 5,90 triliun dan Rp 2,13 triliun. Beban usaha juga berhasil dipangkas jadi Rp 2,97 triliun, dan beban lain-lain juga turun jadi Rp 262,9 miliar.
Jadi, kelihatannya Matahari lagi fokus banget buat efisiensi biaya. Mungkin ini strategi mereka buat tetap bertahan di tengah kondisi pasar yang lagi menantang. Tapi, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Dan apakah Matahari bisa kembali bersinar seperti dulu?
Dari Toko Micky Mouse di Pasar Baru…¶
Buat yang belum tahu, sejarah Matahari ini panjang banget lho. Jauh sebelum jadi department store raksasa, Matahari dulunya cuma toko baju kecil di Pasar Baru Jakarta. Namanya unik banget: Micky Mouse! Toko ini didirikan sama Hari Darmawan tahun 1960.
Awalnya, toko Micky Mouse ini jualan baju impor dan juga merek sendiri, MM Fashion, yang dibuat sama istri Hari. Ternyata, bisnis Micky Mouse ini lumayan sukses di lima tahun pertama. Mereka punya pelanggan setia sendiri. Tapi, Hari Darmawan ternyata punya ambisi yang lebih besar.
Hari Darmawan ternyata sering iri sama toko sebelah, namanya De Zion. Toko De Zion ini selalu ramai pengunjung, dan yang datang juga orang-orang kaya. Hari penasaran banget, kok bisa ya De Zion sesukses itu? Dia coba meniru strategi De Zion, tapi ternyata nggak berhasil.
Mimpi Mengakuisisi De Zion¶
Tapi, Hari nggak menyerah. Dia malah punya ide buat mengakuisisi toko De Zion. Kebetulan, tahun 1968, ada kabar kalau pemilik De Zion mau menjual tokonya. Tanpa pikir panjang, Hari langsung gercep membelinya.
Menurut buku Filosofi Bisnis Matahari (2017) karya Kristin Samah & Sigit Triyono, Hari Darmawan berhasil mengakuisisi dua toko De Zion di Jakarta dan Bogor berkat pinjaman US$ 200 Juta dari Citibank. Setelah dibeli, nama De Zion langsung diganti jadi “Matahari”.
Kenapa Matahari? Ternyata, “De Zion” itu artinya “Matahari” dalam bahasa Belanda! Hari Darmawan sendiri pernah bilang, seperti dikutip dari buku 50 Great Business Ideas From Indonesia (2010) karya Muhammad Ma’ruf, “De Zion dalam bahasa Belanda artinya kan Matahari.”
Meniru Strategi Sogo Department Store¶
Setelah punya Matahari, Hari Darmawan nggak berhenti berinovasi. Dia belajar dari kesuksesan Sogo Department Store di Jepang. Hari pengen Matahari jadi kayak Sogo, yang jual baju selengkap mungkin, biar konsumen bisa milih barang yang terbaik dan harganya juga terjangkau.
Strategi meniru Sogo ini ternyata ampuh banget. Matahari jadi makin ramai pengunjung. Bisnis Matahari pun berkembang pesat banget di tahun 1970-an dan 1980-an.
Gerai Matahari nggak cuma jual pakaian aja. Tapi juga perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, peralatan elektronik, mainan, alat tulis, buku, dan lain-lain. Perkembangan pesat ini bikin Hari Darmawan berani buka gerai di luar kota di tahun 1990-an.
Matahari Merajai Ritel Indonesia¶
Hampir di setiap kota di Indonesia pasti ada Matahari. Semua orang kenal Matahari. Saking suksesnya, Matahari pede banget buat melantai di bursa saham. Tahun 1989, PT Matahari Department Store Tbk resmi jual saham ke publik dengan kode emiten LPPF.
Meskipun udah jadi raja ritel, Hari Darmawan nggak puas gitu aja. Dia pengen Matahari jadi pusat bisnis ritel paling penting di Indonesia. Ambisinya gede banget: pengen punya 1.000 gerai Matahari!
Kedatangan James Riady dan Lippo Group¶
Di saat yang sama, ambisi Hari Darmawan ini ternyata didengar sama James Riady. James ini bankir muda dan anak dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. James tertarik buat kasih pinjaman dana ke Hari sebesar Rp 1,6 Triliun. Hari setuju, dan dapat pinjaman dengan bunga rendah. Tapi, di sinilah awal mula masalahnya, yang nggak pernah disangka-sangka sama Hari.
Nggak lama setelah pinjaman cair, James Riady ternyata juga punya niat buat terjun ke bisnis ritel. Dia bawa merek ritel terkenal dari Amerika Serikat ke Indonesia, yaitu WalMart. Yang bikin kaget, WalMart ini dibangun persis di depan Matahari! Mirip kayak Indomaret dan Alfamart yang sering sebelahan.
Persaingan dengan WalMart¶
Kemunculan WalMart jelas jadi sinyal bahaya buat Matahari. Persaingan usaha jadi makin ketat. Tapi, Hari Darmawan nggak mau kalah dari pesaing sekaligus pemberi pinjamannya. Dia tetap fokus ngurus Matahari. Dan ternyata, WalMart kalah saing sama Matahari. Matahari tetap jadi raja ritel.
Tapi, di tahun 1996, kabar mengejutkan datang. Hari Darmawan, yang lagi menikmati masa kejayaan Matahari, tiba-tiba dapat tawaran buat menjual Matahari ke James Riady. Sejak saat itu, Matahari yang omsetnya Rp 2 Triliun resmi jadi milik Lippo Group.
Penjualan Matahari ini bikin banyak orang spekulasi. Soalnya, banyak yang heran kenapa Matahari dijual padahal lagi sukses-suksesnya. Hari Darmawan juga nggak mungkin bangkrut, karena bisnis Matahari pasti terus jalan.
Matahari di Bawah Kendali Lippo¶
Sejak akuisisi itu, Matahari resmi jadi bagian dari Lippo Group. Nama Hari Darmawan pun perlahan mulai meredup dari panggung ritel Indonesia. Matahari terus berkembang di bawah Lippo, tapi ya, cerita tentang Hari Darmawan sebagai pendiri dan visionary Matahari sudah jadi bagian dari sejarah.
Gimana menurut kalian soal kisah Matahari ini? Menarik ya perjalanan bisnisnya. Dari toko kecil di Pasar Baru sampai jadi raksasa ritel, terus akhirnya diakuisisi sama Lippo. Apakah Matahari bisa bangkit lagi dan kembali bersinar? Yuk, kasih pendapat kalian di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar