Epithumia Dukung Program Makan Bergizi Gratis: Apa Kata Mereka?
Oleh: Randi Rasman
Filosof terkenal, Plato, pernah menggambarkan epithumia sebagai sisi gelap kekuasaan. Bayangin aja, kekuasaan yang maunya serakah, otoriternya minta ampun, dan ujung-ujungnya korup. Epithumia itu kayak hawa nafsu manusia yang pengennya lebih dan lebih dalam hal materi. Misalnya, makanan enak, minuman mewah, seks, dan duit yang nggak ada habisnya.
Dalam pandangan Plato tentang jiwa manusia, epithumia ini letaknya di perut ke bawah. Dua bagian jiwa lainnya adalah thumos, yang pengennya dihormati dan punya prestise, letaknya di dada. Terus ada logistikon, yang paling tinggi, letaknya di kepala, yaitu akal sehat dan rasio. Konsep ini dijelasin sama A. Setyo Wibowo di tahun 2017.
Kekuasaan dan Nafsu Duniawi Ala Epithumia¶
Menariknya, konsep epithumia dari Plato ini masih relevan banget buat ngelihat gimana kekuasaan politik di Indonesia bekerja. Kekuasaan sering banget dipake buat memenuhi nafsu duniawi para pemimpin. Caranya? Ya lewat korupsi dan hubungan mesra antara penguasa sama para oligarki. Hasilnya udah jelas, ujung-ujungnya cuma menguntungkan segelintir orang aja.
Problem kayak gini udah jadi makanan sehari-hari di Indonesia sejak negara ini merdeka. Selain korupsi, penyakit politik di Indonesia juga ditandai sama hubungan deket antara penguasa dan oligarki yang simbiosis mutualisme. Mereka kayak партнер kerja yang saling menguntungkan, tapi sayangnya, keuntungannya nggak buat rakyat banyak.
Hubungan ini seringkali dibangun buat ngemulusin kepentingan kelompok tertentu aja. Kita bisa lihat contohnya gimana pemerintah gencar banget ngeruk sumber daya alam, sementara masyarakat kecil makin terpinggirkan dan hak-hak publik dirampas demi memuluskan jalan oligarki.
Tanah adat masyarakat dirampas buat dijadiin area tambang, proyek geotermal, tempat wisata mewah, dan lain-lain. Semua ini dibungkus dengan janji manis bakal menyejahterakan masyarakat dan kehidupan yang lebih baik. Padahal, kenyataannya nggak seindah itu. Keuntungan gede cuma dinikmati penguasa dan oligarki, sementara rakyat cuma kebagian remah-remahnya aja.
Buat ngelancarin semua ini, mereka seringkali nggak peduli sama pertimbangan akal sehat dan etika. Yang penting nafsu mereka terpenuhi, dampak negatifnya bodo amat. Hannah Arendt pernah bilang gejala kayak gini sebagai banalitas kejahatan. Karena sering banget kejadian, kejahatan itu jadi terasa biasa aja, nggak lagi mengerikan. Perbuatan yang merusak jadi dianggap wajar dan sah-sah aja.
Semua ini terjadi karena fokusnya cuma satu: memuaskan hasrat pribadi dan kelompok, yang dalam bahasa Plato disebut epithumia.
Program Makan Bergizi Gratis: Beneran Bergizi atau Cari Simpati?¶
Nah, salah satu contoh paling nyata dari epithumia zaman sekarang ini adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lagi digembar-gemborkan sama rezim Prabowo-Gibran. Katanya sih, MBG ini buat meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat gizi yang lebih baik buat anak sekolah.
Tapi, emang program ini beneran ampuh buat ngatasi masalah kualitas SDM yang rendah? Jujur aja, aku lebih ngelihat program ini cuma buat memenuhi janji kampanye aja, bukan buat beneran ningkatin kualitas manusia Indonesia. Apalagi, baru jalan beberapa bulan, udah banyak masalah yang muncul di berbagai daerah.
Salah satunya, skema pembiayaan antara Badan Gizi Nasional Republik Indonesia (BGN RI) sama mitra program MBG itu nggak jelas. Akibatnya, dana cairnya lama, dan operasional program jadi terhambat. Menu makanannya juga belum tentu memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), dan banyak siswa yang bilang rasanya hambar. Katanya bergizi, tapi kok gitu?
Awalnya, MBG janjiin susu gratis tiap hari, tapi kenyataannya susu cuma dikasih seminggu sekali. Jelas-jelas ini nggak sesuai sama janji awal. Koordinasi antar instansi yang terlibat juga belum optimal, jadi masalah distribusi dan pelaksanaan program juga nggak beres-beres.
Padahal, masalah yang lebih mendasar dari MBG ini ada. Kualitas SDM Indonesia yang rendah itu sebenernya disebabkan sama seabrek masalah di dunia pendidikan. Mulai dari kualitas guru yang kurang merata, sampai sarana prasarana yang timpang banget antar daerah.
Jadi, ngatasi masalah ini cuma dengan ngasih makan, apalagi makanan kemasan pabrik kayak yang dipraktekin di beberapa daerah, jelas bukan solusi yang tepat. Siswa-siswi yang diharapkan jadi generasi penerus bangsa, bukannya dikasih pendidikan yang berkualitas, malah disuguhi makanan yang sebenernya bisa mereka dapat di luar sekolah. Ini kayak ngasih permen ke anak kecil biar diem, tapi masalahnya nggak selesai.
Politik “Roti dan Sirkus”: Rakyat Kenyang, Pemerintah Senang¶
Program MBG ini jadi ngingetin aku sama istilah politik “roti dan sirkus” yang dikenalin sama Juvenal, seorang penyair Romawi kuno. Dia pake istilah itu buat ngegambarin gimana penguasa menenangkan masyarakat dengan makanan dan hiburan biar mereka nggak kritis dan nggak peduli sama kebijakan pemerintah.
Masyarakat dibikin jinak biar fokusnya cuma sama makanan dan hiburan aja, terus lupa buat ngritik pemerintah. Mirip banget kan sama kondisi sekarang?
Kenapa MBG bisa dibilang politik “roti dan sirkus”? Bahayanya program ini adalah menenangkan para pelajar biar cuma fokus sama hal-hal yang material (makanan), daripada membangun kesadaran dan nalar kritis. Mereka dikasih “roti” biar nggak ribut, nggak mikirin hal-hal yang lebih penting.
Memang jiwa manusia itu kompleks, ada logistikon, thumos, dan epithumia. Semuanya butuh asupan masing-masing. Tapi, alangkah baiknya kalau bagian logistikon (akal budi) dan thumos (moralitas dan harga diri) itu yang diprioritaskan daripada epithumia (uang, seks, dan makanan).
Ini penting banget buat nyiptain generasi muda yang berkualitas, yang bisa bawa bangsa ini ke arah yang lebih maju. Generasi muda itu perlu dibangun jadi generasi yang cerdas dan berkarakter, bukan cuma generasi yang kenyang perutnya tapi kosong otaknya.
Generasi Muda Harus Kritis!¶
Menghadapi tingkah laku pemerintah yang kayak gini, kesadaran diri dari setiap generasi muda itu penting banget. Terutama buat nggak langsung nelan mentah-mentah setiap program dan kebijakan yang keliatan populis, tapi sebenernya nggak bawa dampak yang signifikan.
Rasionalitas itu harus dikedepankan dalam menilai segala sesuatu. Apakah sesuatu itu beneran bermanfaat atau cuma buang-buang duit aja? Generasi muda jangan gampang terbuai sama program kayak MBG. Makanan yang dikasih itu cukup jadi penyemangat buat belajar aja, bukan jadi alasan utama buat hadir di sekolah.
Socrates, filosof Yunani klasik, pernah ngingetin, “orang bijaksana menjadikan makan-minum hanya untuk hidup, sebaliknya orang yang tidak bijaksana menjadikan hidup hanya untuk makan-minum”. Penting banget nih buat direnungkan.
Jadi pribadi yang bijaksana emang nggak gampang. Tapi, setidaknya kita bisa berusaha buat mencintai kebijaksanaan itu sendiri. Jangan sampai kita jadi generasi yang cuma mikirin perut kenyang, tapi lupa sama masa depan bangsa.
Gimana menurut kalian tentang program makan bergizi gratis ini? Setuju atau malah banyak mikirnya kayak aku? Yuk, diskusi di kolom komentar!
Posting Komentar