Arthur Hayes: Bitcoin Bisa Sentuh US$250K? Kapan Nih?
Harga Bitcoin memang lagi bikin penasaran ya. Sempat naik sedikit minggu ini, tapi masih aja betah di bawah US$ 90.000. Kayaknya pasar kripto masih pada was-was nih sama kondisi ekonomi yang belum pasti. Investor juga jadi lebih hati-hati, nunggu momen yang pas buat gerak. Ini semua rame dibahas di media sosial X, katanya dari Cointelegraph.
Tapi, ada kabar menarik nih dari Arthur Hayes, pendiri BitMEX. Katanya, Bitcoin malah punya potensi buat meroket tinggi banget, bisa sampai US$ 250.000 di akhir tahun 2025! Wah, angka yang fantastis ya? Kira-kira apa nih yang bikin Hayes seoptimis ini?
Prediksi Gede dari Arthur Hayes¶
Hayes ini bukan orang baru di dunia kripto. Prediksi-prediksinya seringkali jadi perhatian banyak orang. Nah, kali ini dia bikin postingan blog yang membahas soal potensi Bitcoin melambung tinggi. Alasan utamanya adalah perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Menurut Hayes, bank sentral AS, The Fed, kemungkinan besar bakal balik lagi ke kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE). Kenapa bisa gitu? Katanya sih karena ada tekanan politik dan kebutuhan buat nyokong ekonomi dalam negeri. Kita tahu sendiri kan, ekonomi global lagi penuh tantangan.
Pelonggaran Kuantitatif (QE) Bisa Jadi Kunci?¶
Buat yang belum familiar, pelonggaran kuantitatif atau QE itu gampangnya gini: bank sentral nyetak duit baru buat beli aset-aset keuangan, kayak obligasi pemerintah atau surat berharga lainnya. Tujuannya buat nambahin likuiditas di pasar, biar ekonomi lebih bergairah. Nah, kalau The Fed beneran QE lagi, ini bisa jadi angin segar buat Bitcoin.
Hayes menyoroti dua hal penting terkait kebijakan The Fed, yaitu soal rasio leverage tambahan (SLR) dan pengelolaan neraca keuangan mereka. SLR ini aturan yang mengharuskan bank punya modal lebih banyak kalau mereka pegang aset berisiko tinggi. Kalau The Fed ngasih kelonggaran soal SLR ini, bank-bank jadi lebih bebas buat nyimpen obligasi pemerintah tanpa harus nambah modal gede-gedean. Ini bisa dibilang QE terselubung, karena secara nggak langsung nambahin duit yang beredar di pasar.
Sinyal dari Jerome Powell dan Dampaknya¶
Hayes juga nyebutin pernyataan Jerome Powell, ketua The Fed, yang kayak ngasih kode-kode kalau The Fed mungkin bakal berhenti ngurangin neraca keuangan mereka. Neraca keuangan bank sentral itu isinya aset dan kewajiban mereka. Selama ini, The Fed lagi gencar-gencarnya ngurangin neraca keuangannya sebagai bagian dari kebijakan pengetatan moneter. Kalau kebijakan ini dihentikan, apalagi dibalik jadi QE, bisa jadi efeknya gede banget.
Komentar dari pejabat keuangan lain juga mendukung dugaan ini. Intinya, kebijakan-kebijakan ini bisa bikin imbal hasil obligasi turun, dan duit jadi lebih deras ngalir ke pasar-pasar yang lebih berisiko, termasuk pasar kripto. Nah, Bitcoin sebagai aset yang dianggap berisiko, tapi juga punya potensi keuntungan tinggi, bisa kecipratan rejeki dari situasi ini.
Analogi Krisis Keuangan 2008¶
Hayes ngingetin kita sama krisis keuangan global tahun 2008. Waktu itu, emas dan komoditas lain pada naik daun karena banjir likuiditas dari The Fed. The Fed waktu itu ngepompa duit gede-gedean buat nyelametin ekonomi dari krisis. Nah, bedanya, sekarang kita punya Bitcoin.
Menurut Hayes, Bitcoin ini fungsinya mirip sama emas di zaman sekarang, yaitu sebagai aset lindung nilai dari pelemahan mata uang fiat. Mata uang fiat itu kayak Rupiah, Dollar, Euro, dan lain-lain, yang nilainya nggak ditopang sama aset fisik kayak emas. Kalau nilai mata uang fiat melemah karena inflasi atau kebijakan moneter yang longgar, aset kayak Bitcoin dan emas biasanya jadi incaran investor.
Bitcoin: Aset “Anti-Establishment” yang Diuntungkan¶
Hayes bahkan nyebut Bitcoin sebagai “aset anti-establishment”. Maksudnya, Bitcoin ini nggak dikontrol sama pemerintah atau bank sentral. Justru kebijakan ekspansif dari bank sentral kayak QE ini malah bisa jadi katalis positif buat Bitcoin. Kenapa? Karena QE bisa bikin nilai mata uang fiat melemah, dan orang-orang jadi cari alternatif aset yang lebih aman, salah satunya Bitcoin.
Apalagi, sejak tanggal 1 April kemarin, kebijakan pengetatan likuiditas (QT) The Fed udah diperlambat drastis. Dari yang tadinya US$ 25 miliar per bulan, jadi cuma US$ 5 miliar. QT ini kebalikan dari QE, yaitu bank sentral nyerap likuiditas dari pasar. Dengan diperlambatnya QT, artinya likuiditas di pasar jadi nggak kesedot terlalu banyak.
Menurut perhitungan Hayes, pengurangan QT ini aja udah kayak nambahin likuiditas tahunan sebesar US$ 240 miliar. Bahkan, angka ini bisa naik sampai US$ 420 miliar. Duit sebanyak ini kalau masuk ke pasar kripto, efeknya bisa dahsyat banget.
Jadi, Kapan Bitcoin ke US$ 250K?¶
Prediksi Arthur Hayes ini tentu aja bukan kepastian. Pasar kripto itu dinamis banget, banyak faktor yang bisa mempengaruhi harga. Tapi, argumen Hayes soal potensi perubahan kebijakan moneter The Fed dan dampaknya ke Bitcoin ini cukup masuk akal dan patut diperhatikan.
Kalau The Fed beneran balik lagi ke kebijakan longgar, dan likuiditas pasar banjir lagi, bukan nggak mungkin Bitcoin bisa terbang tinggi. Angka US$ 250.000 mungkin kedengeran ambisius, tapi di dunia kripto yang penuh kejutan, segala sesuatu bisa terjadi.
Yang pasti, kita sebagai investor kripto harus terus pantau perkembangan pasar dan kebijakan-kebijakan ekonomi global. Jangan lupa juga buat riset dan analisa sendiri sebelum ambil keputusan investasi. Prediksi dari tokoh-tokoh besar kayak Arthur Hayes bisa jadi salah satu referensi, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita sendiri.
Gimana menurut kalian? Apakah prediksi Arthur Hayes ini bakal jadi kenyataan? Atau ada faktor lain yang bisa mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin? Yuk, diskusi di kolom komentar!
Posting Komentar