Rieke Diah Pitaloka Ungkap Kisah Mat Solar: Dulu Beli Tanah, Sekarang Jadi Tol!

Table of Contents

Rieke Diah Pitaloka Ungkap Kisah Mat Solar

Perjuangan Mat Solar yang Belum Usai

Kabar duka kepergian Mat Solar memang bikin sedih banyak orang. Tapi, ternyata perjuangan panjangnya buat dapetin hak atas tanah yang sekarang jadi jalan Tol Serpong-Cinere itu belum selesai, lho! Sahabatnya, Rieke Diah Pitaloka, yang dulu juga main bareng di Bajaj Bajuri, masih terus berjuang supaya hak almarhum Mat Solar bisa segera diberikan. Ini bukan cuma soal uang, tapi juga soal keadilan buat almarhum dan keluarganya.

Tanah milik Mat Solar ini nilainya lumayan besar, sekitar Rp 3,3 miliar. Sayangnya, sampai sekarang uang itu belum juga dibayar sama negara, yang dalam hal ini diwakili sama PT Jasa Marga. Padahal, tanah itu udah kepakai buat proyek jalan tol yang penting banget. Bayangin aja, tanah udah diambil, tapi hak pemiliknya kayak diabaikan gitu. Ini jelas bikin Rieke dan keluarga Mat Solar kecewa banget.

Negara Menyatakan Tanah Sengketa

Yang lebih bikin bingung lagi, negara tiba-tiba bilang kalau tanah itu sengketa, padahal sebelumnya nggak ada masalah. Kejadiannya itu sekitar Desember 2019. Karena status sengketa ini, uang yang seharusnya jadi haknya Mat Solar malah dititipin di Pengadilan Negeri Tangerang, lewat jalur konsinyasi. Sampai sekarang, uang itu masih ngendap di pengadilan. Rieke sendiri bilang mereka masih terus berjuang buat nyelesain masalah ini.

Rieke, yang juga dikenal sebagai Oneng dan sekarang jadi anggota DPR, cerita ini pas selesai pemakaman Mat Solar di TPU Wakaf Haji Daiman, hari Selasa, 18 Maret 2025. Waktu itu suasana masih penuh duka, tapi Rieke tetap semangat ngomongin soal hak sahabatnya. Dia keliatan banget pengen masalah ini cepet selesai dan hak Mat Solar bisa segera didapatkan. Perjuangan ini bukan cuma buat Mat Solar aja, tapi juga buat nunjukkin kalau hukum dan keadilan itu harus ditegakkan.

Janji yang Tak Terpenuhi dari Jasa Marga

Menurut cerita Rieke, dulu Direktur Utama Jasa Marga pernah janjiin kalau uang ganti rugi tanah itu bakal cair sebelum Lebaran. Janji ini tentu aja jadi harapan buat Mat Solar dan keluarganya. Mereka pasti udah nunggu-nunggu banget uang itu cair, apalagi buat keluarga yang ditinggalkan. Tapi sayangnya, sampai Mat Solar meninggal dunia, janji manis itu belum juga jadi kenyataan. Ini jelas bikin keluarga dan sahabat-sahabat Mat Solar makin sedih dan kecewa.

Rieke, atau Oneng, dengan nada tegas bilang kalau uang itu adalah hasil kerja keras Mat Solar selama bertahun-tahun di dunia hiburan. Dia tahu betul gimana perjuangan Mat Solar buat dapetin uang itu. Kerja keras siang malam, akting di depan kamera, semua itu buat keluarga dan masa depan. Jadi, wajar banget kalau Rieke nggak terima hak sahabatnya kayak diulur-ulur gini. Ini bukan cuma soal uang, tapi juga soal penghargaan atas kerja keras seseorang.

Tanah Jadi Tol, Hak Belum Dibayar

Sekarang, sebagian tanah milik Mat Solar udah jadi bagian dari jalan tol Serpong-Cinere. Kita semua tahu jalan tol itu penting buat mobilitas dan pembangunan. Tapi, bukan berarti hak pemilik tanah bisa diabaikan gitu aja. Rieke dengan lantang menuntut supaya hak almarhum Mat Solar segera diberikan. Dia pengen negara bertanggung jawab dan nggak menunda-nunda pembayaran ganti rugi.

“Saya tahu perjuangan Bang Juri untuk keluarganya dan sesama luar biasa. Jadi tanah yang kini sebagian digunakan untuk Tol Serpong-Cinere adalah tanah yang urusannya belum selesai oleh negara. Bayar!” seru Rieke dengan nada tinggi. Kata-kata Rieke ini jelas nunjukkin kekecewaan dan kemarahannya atas ketidakadilan yang dialami Mat Solar. Dia pengen keadilan ditegakkan dan hak sahabatnya segera dipenuhi. Ini bukan cuma soal uang, tapi soal harga diri dan keadilan hukum.

Sidang Sengketa Tanah

Sidang pertama soal sengketa tanah ini dijadwalkan di Pengadilan Negeri Tangerang tanggal 19 Maret. Ini jadi titik terang buat nyelesain masalah yang udah berlarut-larut ini. Oneng berharap banget masalah ini bisa cepet selesai lewat jalur hukum. Dia juga berharap proses sidang berjalan lancar dan keadilan bisa berpihak pada almarhum Mat Solar dan keluarganya.

Oneng juga nyindir proses konsinyasi yang dulu dilakuin. Menurut dia, kalau proses konsinyasi nggak dilakukan buru-buru, mungkin aja Mat Solar masih bisa nyelesain masalah tanah ini sendiri. “Seandainya dulu proses konsinyasi tidak dilakukan tergesa-gesa, mungkin sahabat saya ini masih bisa menyelesaikan masalah tanah yang menjadi hasil kerja kerasnya,” kata Oneng dengan nada menyesal. Ini nunjukkin kalau proses hukum yang terburu-buru kadang malah bikin masalah jadi makin rumit.

Tanggapan dari Jasa Marga

Menanggapi tuntutan Rieke, Direktur Utama Jasa Marga, Subakti Syukur, mengakui memang ada kendala soal kasus ini. Kendalanya itu soal konsinyasi yang udah dilakuin sebelumnya. “Memang ini betul Bu Rieke, ini masalah konsinyasi yang sudah terlanjur ya, pembebasan tanah kan oleh PU. Kemudian, kami kawal,” jelas Subakti. Dia nggak nyangkal kalau masalah ini emang ada dan perlu diselesain.

Tapi, Subakti juga mastiin kalau uang ganti rugi yang ketahan di pengadilan itu bakal segera dibayar sebelum Idul Fitri. “Target kami sebelum Lebaran ini kalau bisa sudah dibayarkan. Kami ikuti terus, kok. Dan nanti akan langsung kita buatkan ke notaris jadi perjanjian perdamaian,” lanjutnya. Janji dari Dirut Jasa Marga ini tentu jadi angin segar buat keluarga Mat Solar dan Rieke. Kita semua berharap janji ini beneran ditepati dan masalah ini bisa segera selesai dengan adil.

Kisah Mat Solar ini jadi pelajaran penting buat kita semua. Kadang, perjuangan buat dapetin hak itu nggak gampang dan butuh waktu lama. Tapi, semangat dan dukungan dari orang-orang terdekat itu penting banget buat terus berjuang. Semoga masalah ini cepet selesai dan keluarga Mat Solar bisa mendapatkan haknya dengan segera.

Gimana pendapat kalian soal kasus ini? Apakah kalian pernah punya pengalaman serupa? Yuk, sharing di kolom komentar! Kita diskusi bareng soal masalah keadilan dan hak-hak masyarakat di negeri ini.

Posting Komentar