Lama Sembuh COVID-19? Waspada Fibrosis Paru, Ini Penjelasannya!
Fibrosis paru jadi momok menakutkan buat mereka yang pernah kena COVID-19. Bayangin aja, udah lima tahun berlalu sejak pandemi, tapi efek samping COVID-19 ini masih aja bisa terasa. Gak cuma masalah mental aja, tapi juga gejala fisik yang panjang banget. Salah satunya yang lagi ngetren dibicarain, namanya fibrosis paru pasca-COVID. Ini tuh kayak ada luka di paru-paru kita, dan bisa makin parah kalau gak ditangani, bahkan sampai butuh transplantasi paru segala. Serem, kan?
Dr. Scott Scheinin, seorang ahli transplantasi paru dari Mount Sinai Health System di New York, Amerika Serikat, bilang kalau infeksi awal COVID-19 itu bikin peradangan hebat di berbagai bagian tubuh. “Nah, pas infeksinya udah sembuh, banyak orang malah jadi punya kerusakan jaringan paru,” katanya ke Fox News Digital tanggal 8 Maret 2025. Jadi, sembuh dari COVID bukan berarti langsung sehat total ya, guys. Ada aja masalah jangka panjang yang bisa muncul.
Scheinin ini termasuk dokter yang super sibuk waktu awal-awal pandemi dulu. “Pengalaman pertama ngadepin COVID-19 di New York itu bener-bener pengalaman terburuk dalam hidup saya, ngeri banget,” kenangnya. Bisa kebayang ya, betapa dahsyatnya gelombang pertama COVID-19 itu.
Kisah Pasien: Pastor Benjamin Thomas¶
Salah satu pasiennya Dr. Scheinin ini ada seorang pastor, umurnya sekitar 50-an, kena COVID-19 di Maret 2020. Namanya Pastor Benjamin Thomas, dari East Meadow, Long Island. Duh, kasihan banget, dia dirawat di rumah sakit hampir 100 hari! 54 hari di antaranya pakai ventilator, dan enam minggu dalam keadaan koma. Pas keluar rumah sakit bulan Juli 2020, dia masih harus pakai alat bantu oksigen.
Tahun 2022, Pastor Thomas ngerasa makin susah buat aktivitas sehari-hari. Bahkan buat hal-hal kecil aja udah butuh oksigen. “Mandi aja gak bisa lebih dari 30 detik tanpa oksigen,” curhat Pastor Thomas. Padahal, sebelumnya dia gak punya masalah kesehatan sama sekali lho.
Dr. Scheinin jelasin, dari hasil biopsi paru Pastor Thomas, ketahuan kalau gejala yang dia alamin itu fibrosis paru pasca-peradangan akibat infeksi COVID-19. Kondisi parunya terus memburuk sampai akhirnya harus transplantasi dua paru sekaligus! Setelah nunggu di daftar tunggu selama tujuh bulan, operasinya baru bisa dilakuin tanggal 28 Februari 2023. Panjang banget ya perjuangan Pastor Thomas ini.
Apa Sih Fibrosis Paru Itu?¶
Paru-paru kita yang sehat itu tugasnya penting banget, yaitu ngirup oksigen dan ngeluarin karbon dioksida. Nah, peradangan yang muncul gara-gara respons tubuh terhadap virus corona itu, di banyak orang bisa bikin luka di paru-paru. Kayak ada jaringan parut gitu di dalam paru-paru.
Pada beberapa kasus, paru-paru jadi gak bisa berfungsi normal lagi kayak sebelum kena infeksi, kata Dr. Scheinin. “Pertukaran gas jadi kehalang karena ada area di jaringan paru yang luka. Akibatnya, organ ini jadi gak berfungsi optimal,” jelasnya. Jadi, bayangin aja paru-paru kita kayak ada yang ngeganjel, gitu deh.
“Areanya mungkin kecil, gak terlalu signifikan, dan gak kelihatan. Tapi makin parah luka di jaringan paru, fungsi normal paru juga makin rusak, dan pasien jadi susah napas,” lanjutnya. Ini yang bikin masalah di kemudian hari, apalagi kalau orangnya udah punya masalah pernapasan lain sebelumnya.
“Flu atau penyakit lain bisa jadi makin parah karena kerusakan bawaan di paru. Menurut saya, kondisi ini bikin paru jadi lebih gampang cedera,” tutur Dr. Scheinin. Jadi, fibrosis paru ini kayak bikin paru-paru kita jadi ringkih gitu ya.
Gejala, Cara Diagnosis, dan Pengobatan Fibrosis Paru¶
Gejala fibrosis paru pasca-COVID ini bisa mirip sama penyakit paru lainnya. Kata Dr. Scheinin, kalau kamu pernah kena COVID-19 dan masih sering sesak napas, batuknya gak berhenti-berhenti, kemampuan olahraga jadi menurun, apalagi kalau kamu perokok atau punya penyakit bawaan kayak emfisema, mending langsung periksa ke dokter atau ahli paru (pulmonolog). Jangan tunda-tunda ya!
Cara meriksa kondisi ini sebenernya gak terlalu invasif kok. Biasanya dokter bakal nyuruh rontgen atau CT scan buat lihat struktur kerusakan parunya. Selain itu, ada juga tes darah dan tes fungsi paru. Tapi tenang aja, gak semua orang yang pernah kena COVID-19 bakal ngalamin fibrosis paru kok. Tingkat keparahan dan pemulihannya juga beda-beda tiap orang, jelas Dr. Scheinin.
Tapi, ada juga beberapa kasus di mana seseorang jadi lebih rentan kena fibrosis paru gara-gara udah punya masalah kesehatan sebelumnya. Nah, infeksi COVID-19 ini bisa mempercepat perkembangan fibrosisnya. Makanya, kalau ngerasa ada gejala-gejala di atas, langsung aja periksa ke dokter paru, terutama kalau sesak napasnya udah ganggu banget.
Faktor risiko fibrosis paru pasca-COVID ini antara lain punya penyakit kronis bawaan, usia lanjut, dan pernah pakai ventilator pas kena COVID-19, menurut penelitian sebelumnya. Para peneliti juga lagi nyari cara buat ngobatin kondisi ini, misalnya dengan obat antifibrosis, steroid, dan obat antiperadangan lain yang biasa dipake buat penyakit paru lainnya. Selain obat-obatan, perawatan juga bisa berupa rehabilitasi paru, latihan fisik, dan perubahan gaya hidup, jelas Dr. Scheinin. Jadi, penanganan fibrosis paru ini komprehensif banget ya.
Penting diingat: Fibrosis paru itu masalah serius yang bisa muncul setelah sembuh dari COVID-19. Gejalanya mirip penyakit paru lain, jadi penting buat kita aware dan segera periksa ke dokter kalau ngerasa ada yang gak beres sama paru-paru kita setelah kena COVID. Jangan anggap enteng ya, kesehatan paru-paru itu investasi jangka panjang buat hidup kita.
Gimana menurut kalian tentang fibrosis paru ini? Ada yang punya pengalaman serupa atau punya pertanyaan? Yuk, sharing di kolom komentar!
Posting Komentar