Capek Kerja Jadi Biang Kerok Kecelakaan di Industri Morowali? Ini Kata Survei!
Baru-baru ini, Federasi Pertambangan dan Energi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FPE KSBSI) merilis hasil survei yang bikin kita mikir keras soal keselamatan kerja di kawasan industri ইন্দোnesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Kawasan yang lagi naik daun ini ternyata menyimpan cerita kelam soal kecelakaan kerja.
Temuan Survei: Biang Keladi Kecelakaan di IMIP¶
Presiden FPE KSBSI, Riswan Lubis, blak-blakan memaparkan hasil survei yang bikin geleng-geleng kepala. Katanya, ada empat faktor utama yang jadi penyebab tingginya angka kecelakaan kerja di IMIP. Apa saja itu?
- Kelalaian pekerja: Ini jadi sorotan pertama. Mungkin karena capek atau kurang fokus, kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
- Lingkungan kerja: Kondisi lingkungan kerja yang kurang aman juga jadi pemicu. Bayangin aja kerja di pabrik yang panas, berdebu, atau bising, pasti konsentrasi buyar.
- APD kurang memadai: Alat Pelindung Diri (APD) yang seharusnya jadi tameng terakhir, ternyata kualitasnya kurang oke atau bahkan nggak lengkap. Ini bahaya banget!
- Kerusakan alat: Mesin atau peralatan kerja yang rusak dan nggak segera diperbaiki juga jadi sumber masalah. Kayak bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Riswan menegaskan, empat faktor ini nunjukkin ada masalah gede dalam penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di IMIP. Implementasi budaya aman dan K3 masih lemah banget! Parahnya lagi, pengawas terkesan tutup mata dan membiarkan masalah ini terus berlarut-larut.
Nggak cuma itu, survei juga menemukan hubungan kerja yang kurang harmonis antara pekerja asing (TKA) dan pekerja lokal. Ini juga memperparah kondisi K3 di lapangan. Komunikasi yang buruk dan kurangnya rasa saling pengertian bisa jadi pemicu kecelakaan.
Menurut Riswan, survei ini adalah cara untuk mencari akar masalah di IMIP yang bikin angka kecelakaan kerja terus melonjak. Tujuannya jelas, memberikan kritik membangun dan masukan supaya kondisi kerja di IMIP bisa jadi lebih baik. Harapannya, kejadian mengerikan yang menimpa pekerja nggak terulang lagi.
Hasil survei ini bahkan dibahas dalam Seminar Dialog Sosial Industri Nikel Menuju Zero Accident di Sulawesi Tengah. Organisasi buruh dan NGO juga ikut nimbrung buat mencari solusi.
IMIP: Kawasan Industri Raksasa di Jantung Sulawesi¶
Buat yang belum tahu, IMIP ini kawasan industri hasil kerja sama antara perusahaan Indonesia, Bintang Delapan Group, dan perusahaan raksasa dari China, Tsingshan Steel Group. Di sini, nikel diolah jadi berbagai macam produk, mulai dari baja tahan karat, baja karbon, sampai bahan baku baterai kendaraan listrik yang lagi nge-tren.
Tapi di balik gemerlapnya industri nikel, ada cerita pilu soal keselamatan pekerja.
Kerja Keras Bagai Kuda: Jam Kerja Panjang Picu Kelelahan¶
Hasil survei bikin kita merinding. Ternyata, banyak pekerja di IMIP yang kelelahan akibat jam kerja yang gila-gilaan panjangnya. Rata-rata, mereka kerja 56 jam seminggu atau 225 jam sebulan! Itu udah kayak kerja rodi zaman dulu.
“Ini harus jadi perhatian serius pemerintah,” tegas Riswan. “Jam kerja yang terus menerus kayak gini pasti bikin kondisi fisik pekerja makin lemah dan rentan kena penyakit.” Nggak heran kalau potensi kecelakaan kerja jadi makin tinggi.
Data dari Kementerian Tenaga Kerja juga nggak kalah mengerikan. Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan, Yuli Adiratna, pernah bilang ke media, ada 25 kecelakaan kerja di IMIP dari tahun 2016 sampai 2023! Akibatnya, 39 orang meninggal dunia, 82 luka-luka, dan 40 orang pusing-pusing nggak karuan. Angka yang bikin hati miris.
Suara Lantang dari Akar Rumput: Buruh Selalu Jadi Korban¶
Catur Widi dari Rasamala Hijau mengingatkan kita semua, dalam setiap kecelakaan kerja, buruh selalu jadi pihak yang paling dirugikan. Makanya, setiap upaya perbaikan sistem K3 harus fokus pada perlindungan buruh.
“Selama ini, buruh seringkali jadi pihak yang paling lemah saat kecelakaan kerja terjadi,” kata Catur dalam seminar. “Mereka sering disalahkan, dianggap paling bertanggung jawab, atau bahkan kehilangan pekerjaan setelah kecelakaan. Buruh yang sehat aja sering jadi korban PHK, apalagi yang kena dampak kecelakaan kerja.” Pedih banget kenyataannya.
Alfian dari Sembada Bersama Indonesia juga nggak kalah pedas. Menurutnya, temuan survei FPE KSBSI makin menguatkan dugaan kalau IMIP, dan smelter nikel lain di Indonesia, lebih mentingin produksi nikel daripada nyawa buruh.
“Kebijakan hilirisasi nikel yang dibangga-banggakan pemerintah, ternyata ditopang oleh jam kerja panjang, kecelakaan kerja yang mematikan dan berulang, upah rendah, dan bahaya penyakit akibat kerja yang serius,” ungkap Alfian dengan nada geram. Penyakit-penyakit mengerikan seperti kanker paru-paru, paru-paru hitam, dan mesothelioma jadi ancaman nyata bagi pekerja nikel.
Sembada Bersama Indonesia mencatat, dari tahun 2019 sampai 2025, ada 104 kecelakaan kerja di semua smelter nikel di Indonesia! Akibatnya, 107 orang meninggal dunia dan 155 lainnya luka-luka. Ini bukan sekadar angka, tapi nyawa manusia.
Tanggapan IMIP: Pembelaan dan Janji Perbaikan¶
Menanggapi temuan survei yang cukup tajam ini, Kepala Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja PT IMIP, Jhon Semuel, langsung angkat bicara. Katanya, semua pekerja di IMIP, termasuk pekerja kontraktor, sudah dibekali induksi K3 saat pertama kali masuk kerja.
“Selain induksi K3, setiap hari juga ada toolbox meeting yang mengingatkan instruksi kerja aman sebelum memulai aktivitas,” jelas Semuel dalam keterangan tertulis. Toolbox meeting ini semacam briefing singkat soal keselamatan kerja yang dilakukan rutin.
Soal lingkungan kerja, Semuel bilang, IMIP sudah punya deklarasi Komitmen Kepatuhan Norma K3. Mereka juga melakukan pengukuran dan pengendalian lingkungan kerja, nggak cuma oleh pihak eksternal, tapi juga internal perusahaan.
Terkait APD yang dibilang kurang memadai, Semuel malah balik bertanya. “Perlu ditelusuri lebih jauh soal perlakuan terhadap APD yang didistribusikan. Apakah APD-nya dipakai dengan benar atau malah dialihfungsikan demi kenyamanan pekerja?” Seolah-olah menyalahkan pekerja yang mungkin kurang disiplin dalam menggunakan APD.
Soal peralatan kerja, Semuel menegaskan, semua peralatan di IMIP masuk kategori objek K3 dan kelayakannya harus teruji. Dia juga menekankan pentingnya partisipasi aktif pekerja untuk mengecek dan memeriksa peralatan setiap hari, terutama kendaraan. Tujuannya, supaya perawatan bisa dilakukan secara preventive atau predictive dan peralatan tetap laik pakai.
Menanggapi sorotan soal jam kerja panjang, Kepala Departemen Sumber Daya Manusia IMIP, Achmanto Mendatu, menjelaskan, waktu kerja di IMIP sudah sesuai aturan undang-undang. Katanya, ada waktu kerja normal 7 jam sehari untuk 6 hari kerja seminggu atau 8 jam sehari untuk 5 hari kerja seminggu, total 40 jam seminggu.
“Di luar itu, sudah masuk hitungan lembur, termasuk kerja di hari libur. Maksimal waktu lembur yang diberikan perusahaan adalah empat jam,” kata Achmanto. Tapi, kenyataannya di lapangan, banyak pekerja yang merasa jam kerjanya jauh lebih panjang dari itu.
IMIP juga mengklaim terus berupaya melakukan perbaikan dan selalu berkoordinasi dengan pengawas ketenagakerjaan dari provinsi maupun pusat. Janji-janji perbaikan terus diucapkan, tapi implementasinya di lapangan masih jadi pertanyaan besar.
Latar Pendidikan Pekerja: Bukan Lulusan Teknik?¶
IMIP juga menyinggung soal latar belakang pendidikan pekerja. Katanya, IMIP punya tanggung jawab untuk membantu pemerintah menurunkan angka pengangguran di Sulawesi Tengah dan Indonesia. Tapi, faktanya, sebagian besar pekerja di IMIP bukan lulusan teknik yang paham soal K3.
“Latar pendidikan mereka beragam banget. Ada yang sarjana keguruan, perawat, bidan, bahkan sarjana teologi,” ungkap IMIP dalam keterangan tertulis. “Dengan latar pendidikan kayak gitu, bisa disimpulkan pemahaman mereka tentang K3 di industri masih minim.”
Meski begitu, IMIP mengklaim sudah melakukan berbagai upaya, termasuk pelatihan K3 internal dan eksternal yang berlisensi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI. Pelatihan internal dilakukan rutin setiap satu atau dua bulan sekali, sementara pelatihan eksternal sesuai jadwal dari Departemen Sumber Daya Manusia IMIP.
Terakhir, IMIP membeberkan data jumlah karyawan mereka. Per Oktober tahun lalu, ada 84.336 pekerja di IMIP. Rinciannya, 77.855 laki-laki dan 6.481 perempuan. Jumlah yang fantastis, tapi juga menyimpan potensi masalah besar jika keselamatan kerja tidak jadi prioritas utama.
Gimana menurut kamu soal masalah keselamatan kerja di IMIP ini? Apakah jam kerja panjang memang jadi penyebab utama kecelakaan? Atau ada faktor lain yang lebih dominan? Yuk, sharing pendapatmu di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar