Honorer TMS PPPK Tahap 2 Jerit: KemenPAN-RB Cuek, Panselda Buntu? Nasib Kami Gimana?
JAKARTA - Wah, ada kabar kurang enak nih buat para honorer yang kemarin ikut seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap 2. Katanya, instruksi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) itu kayak dianggap angin lalu aja sama panitia seleksi daerah (panselda). Padahal instruksinya penting banget, lho!
Instruksi Pusat Gak Didenger di Daerah?¶
Jadi gini ceritanya, KemenPAN-RB itu udah kasih instruksi jelas banget, minta panselda di daerah tuh jangan gampang kasih label “tidak memenuhi syarat” (TMS) ke honorer yang ikut seleksi PPPK tahap 2. Tujuannya baik, biar lebih banyak honorer yang punya kesempatan jadi ASN.
Tapi, kenyataannya di lapangan malah beda jauh. Banyak panselda yang masih aja ngelebel honorer sebagai TMS pas seleksi administrasi. Akibatnya fatal! Honorer yang kena TMS ini otomatis gak bisa lanjut ke tahap seleksi PPPK berikutnya. Pupus deh harapan mereka buat jadi ASN. Sedih banget, kan?
Curhatan Honorer: Kami Jadi Korban!¶
Salah satu honorer yang jadi korban TMS ini adalah Bapak Penda Sebayang. Beliau ini honorer K2 teknis di Palembang. Pak Penda cerita ke JPNN kalau beliau kaget banget pas dikasih tau panselda penyebab dirinya TMS. Katanya sih gara-gara namanya gak ada di database Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Seleksi PPPK tahap 2 ini beneran memakan korban. Di Kota Malang aja masih ada yang kena TMS. Saya juga kena TMS, padahal saya ini honorer K2,” keluh Pak Penda dengan nada kecewa.
Pak Penda merasa namanya dicemarkan karena dibilang gak ada di database BKN. Padahal, menurut beliau, jelas-jelas namanya ada kok di database BKN. Selain itu, ada lagi alasan TMS yang bikin Pak Penda makin bingung, yaitu dibilang gak punya pengalaman kerja. Lho, kok bisa? Padahal beliau udah lama mengabdi sebagai honorer.
Kekecewaan Pak Penda ini nunjukin banget kalau panselda Palembang kayaknya gak ngeh atau malah sengaja gak mau ngikutin permintaan KemenPAN-RB. Padahal pemerintah pusat udah berusaha kasih jalan buat honorer, eh di daerah malah kayak gini.
“Pemerintah pusat itu sebenarnya sudah berbuat banyak, tapi ya itu, mental di daerahnya yang kayak gini. Akhirnya honorer yang jadi korban,” ujar Pak Penda dengan nada getir.
Mental Daerah? Atau Emang Ada Masalah Sistemik?¶
Pernyataan Pak Penda soal “mental daerah” ini jadi pertanyaan besar nih. Apakah emang beneran masalah mental petugas di daerah yang kurang peduli sama nasib honorer? Atau jangan-jangan ada masalah sistemik yang lebih besar?
Bisa jadi, instruksi dari pusat itu gak nyampe atau gak jelas di daerah. Atau mungkin juga panselda di daerah punya pertimbangan lain yang bikin mereka tetap ngasih label TMS ke honorer. Misalnya, kuota formasi PPPK yang terbatas, atau mungkin ada aturan daerah yang bentrok sama aturan pusat.
Apapun alasannya, yang jelas honorer jadi pihak yang paling dirugikan. Mereka udah berharap banget bisa ikut PPPK tahap 2 ini, eh malah kebentok masalah TMS yang kayaknya sepele tapi dampaknya gede banget.
Nasib Honorer Gimana Dong?¶
Pertanyaan besarnya sekarang, terus nasib honorer yang udah kena TMS ini gimana dong? Apa mereka cuma bisa pasrah nerima nasib? Atau ada jalan lain yang bisa ditempuh?
Pemerintah pusat, khususnya KemenPAN-RB, harus turun tangan lebih aktif lagi nih. Jangan cuma kasih instruksi doang, tapi juga harus mastiin instruksinya itu beneran dijalankan di daerah. Mungkin perlu ada pengawasan yang lebih ketat, atau mungkin perlu ada mekanisme pengaduan yang jelas buat honorer yang merasa dirugikan.
Panselda di daerah juga harus lebih peka sama nasib honorer. Jangan cuma fokus sama aturan dan administrasi doang, tapi juga harus punya sense of humanity. Ingat, honorer ini udah lama mengabdi, mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi. Jangan sampai gara-gara masalah TMS ini, harapan mereka buat hidup lebih baik jadi pupus.
Cari Solusi Bareng-bareng¶
Masalah TMS honorer PPPK tahap 2 ini bukan masalah sepele. Ini masalah serius yang nyangkut hajat hidup orang banyak. Semua pihak harus duduk bareng cari solusi terbaik. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, panselda, dan perwakilan honorer, semuanya harus terlibat.
Mungkin perlu ada evaluasi menyeluruh soal pelaksanaan seleksi PPPK ini. Di mana letak masalahnya? Kenapa instruksi pusat kayak gak didenger di daerah? Bagaimana caranya biar masalah TMS ini gak terus berulang?
Yang jelas, jangan sampai masalah ini terus berlarut-larut. Honorer udah nunggu terlalu lama buat dapat kepastian nasib. Jangan sampai harapan mereka sirna begitu saja.
Gimana menurut kalian soal masalah TMS honorer PPPK ini? Punya pendapat atau pengalaman yang sama? Yuk, share di kolom komentar! Kita diskusi bareng, siapa tahu ada solusi yang bisa kita sumbangsihkan.
Posting Komentar