Anggaran Dikti Dipangkas, Mahasiswa-Dosen PTN Resah: Kuliah Bisa Terganggu!

Table of Contents

Anggaran Pendidikan Tinggi Dipangkas, Mahasiswa dan Dosen PTN Resah: Kuliah Bisa Kacau!

Pemangkasan anggaran di dunia pendidikan tinggi lagi jadi sorotan nih. Dana penelitian dipotong, kuliah terpaksa daring, sampai insentif dosen juga kena pangkas. Gara-gara efisiensi anggaran dari pemerintah, dosen dan mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pada protes. Mereka khawatir banget kualitas pendidikan bisa makin merosot. Sebenarnya, masalah apa aja sih yang muncul setelah kebijakan efisiensi ini diterapkan di kampus-kampus negeri?

Kebijakan pemangkasan anggaran ini ternyata buntut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Negara. Inpres ini tujuannya buat mengatasi kebocoran APBN, dan salah satu dampaknya ya kena ke anggaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Kabarnya, Kemendikti Saintek harus rela anggarannya dipotong lumayan besar, sekitar Rp22,5 triliun dari total anggaran tahun 2025 yang awalnya Rp57,6 triliun. Pengamat pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak Jejen Musfah, bilang kebijakan ini tuh kurang tepat sasaran. Soalnya, katanya, kebijakan efisiensi ini malah nggak sejalan sama cita-cita pemerintah yang pengen banget ningkatin kualitas SDM, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan.

Bapak Jejen juga khawatir efisiensi ini justru bakal bikin kualitas pendidikan tinggi makin jeblok, penelitian jadi lemah, dan kesejahteraan dosen juga terancam. Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Bapak Togar Simatupang, mengakui kalau pemotongan anggaran ini memang sensitif dan bikin banyak orang khawatir. Tapi, beliau optimis masalah ini bisa diatasi lewat dialog dan solusi yang konstruktif.

Dana Penelitian Dipotong Sampai 40%, Peralatan Praktikum Gagal Diperbarui

Dana Penelitian Dipotong Sampai 40%, Peralatan Praktikum Gagal Diperbarui

Beberapa minggu terakhir, banyak PTN di Indonesia yang ngeluarin surat edaran tentang pelaksanaan efisiensi anggaran di lingkungan kampus. Surat-surat ini muncul sebagai respons atas Inpres Presiden, Surat Edaran Menteri Keuangan, dan Kemendikti Saintek soal efisiensi anggaran.

Sebelumnya, kebijakan efisiensi anggaran ini udah diprotes duluan sama mahasiswa lewat demo besar-besaran di berbagai daerah. Mahasiswa udah turun ke jalan selama seminggu lebih, mulai dari tanggal 17 Februari. Waktu itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sempat bilang bakal mempelajari tuntutan mahasiswa. Tapi, ternyata suara mahasiswa kayaknya kurang didengerin, buktinya surat edaran efisiensi tetap aja keluar dari kampus-kampus.

Contohnya di Universitas Mataram (Unram). Rektornya, Prof. Ir. Bambang Hari Kusumo, sampai ngeluarin keputusan resmi soal kebijakan efisiensi anggaran tahun 2025. Dalam surat keputusan yang lumayan panjang itu, ada beberapa poin penting:

  • Remunerasi Dosen Ditunda: Pembayaran remunerasi dosen yang biasanya diterima tiap bulan, tahun ini cuma bisa dibayar sampai bulan Juni. Kelanjutannya gimana? Masih belum jelas nih. Kampus punya dua opsi: kalau anggaran dari pemerintah balik normal, remunerasi tetap lanjut kayak biasa. Tapi kalau nggak, remunerasi bulan Juli sampai Desember baru bakal dibayar tahun depan, di anggaran 2026. Waduh, dosen-dosen pasti pada khawatir nih.
  • Dana Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dipangkas: Efisiensi juga nyentuh dana penelitian dan pengabdian masyarakat. Dana penelitian di Unram dipotong 40%, sementara pengabdian masyarakat dipangkas 26%. LPPM dan fakultas diminta buat mikir ulang rencana penelitian dan pengabdian yang udah disusun, terus prioritaskan mana yang paling penting. Ini bisa jadi pukulan berat buat riset di kampus.
  • Operasional Kampus Dibatasi: Biaya operasional kampus juga nggak luput dari efisiensi. Mulai dari penggunaan alat tulis kantor (ATK) yang dibatasi, listrik, sampai air juga harus hemat. Rektor bahkan minta semua pihak buat lebih digital biar hemat ATK, terus maksimalkan cahaya matahari biar hemat listrik. AC dan kipas angin juga dibatasi jam pakainya, lift juga cuma dinyalain pas perawatan pagi dan sore. Kampus jadi kayak mau mati lampu nih.
  • Kegiatan Seremonial Dibatasi: Semua kegiatan seremonial, sosialisasi, pelatihan, lokakarya, diminta buat diadain di dalam kampus aja, pakai fasilitas yang ada. Perjalanan dinas juga dibatasi banget, kecuali yang super penting dan mendesak, itu pun harus dapat izin rektor atau dekan dulu. Biar makin hemat kayaknya.
  • Insentif Kinerja Dosen Dipotong: Insentif kinerja dosen dan program studi unggul juga kena potong 40%. Rektor sih berharap pemotongan ini nggak ngaruh ke kinerja dosen. Tapi, ya namanya juga insentif dipotong, semangat kerja bisa aja kendor.

Salah seorang dosen Unram, Ahmad Sirrulhaq, langsung shock pas baca surat edaran ini, terutama bagian pemotongan remunerasi dan insentif kinerja. Dosen FKIP ini bilang kebijakan ini pasti bakal ganggu kinerja dosen. Pemotongan dana penelitian sampai 40% juga dianggap nggak masuk akal. Target penelitian dosen buat publikasi internasional bisa terancam gagal gara-gara dana minim.

“Riset buat publikasi internasional kayak Scopus itu kan butuh biaya, kalau anggarannya dikurangin, ya bisa-bisa nggak jadi, paling mentok publikasi nasional,” keluh Pak Ahmad. Beliau juga khawatir soal tunjangan kinerja dosen ASN yang nasibnya belum jelas. Kalau sampai tunjangan kinerja nggak dibayar, semangat dosen bisa langsung anjlok.

Soal proses belajar mengajar, Pak Ahmad mikir mungkin nggak terlalu banyak perubahan. Tapi, kuliah praktikum kayaknya bakal kena imbasnya. “Peralatan laboratorium yang tadinya mau dibeli, kemungkinan batal. Lab-lab yang tadinya mau di-upgrade, ya nggak jadi,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram, Yudiatna Dwi, bilang efek efisiensi ini emang belum terlalu kerasa sekarang. Tapi, kegiatan pemilu raya mahasiswa yang mau diadain awal Maret aja nggak dapat dana dari kampus. Alasannya ya karena penyesuaian anggaran. Selain itu, biaya praktikum di tiap fakultas atau prodi juga kemungkinan bakal dipangkas. Mahasiswa bisa terpaksa nombok biaya praktikum dari uang pribadi. BEM Unram sendiri udah nolak keputusan efisiensi ini dan ancam mau demo lagi.

Kuliah Daring Sampai Anggaran Penelitian Nol Rupiah

Kuliah Daring Sampai Anggaran Penelitian Nol Rupiah

Kebijakan efisiensi di Politeknik Negeri Bengkalis malah lebih ekstrem lagi. Kampus ini ngeluarin surat edaran tanggal 21 Februari 2025 yang isinya beberapa instruksi:

  • Kuliah Daring Sampai UTS: Semua mata kuliah teori dan praktik dilaksanain daring dari pertemuan pertama sampai Ujian Tengah Semester (UTS).
  • Praktikum Luring Sistem Blok: Mata kuliah praktik yang nggak bisa daring, dilaksanain luring tapi sistem blok, diatur sama prodi atau jurusan.
  • Kuliah Teori Daring Paralel: Kuliah teori yang daring bisa dilaksanain paralel.

Seorang dosen di Politeknik Negeri Bengkalis, Bapak Alfan, cerita kalau kabar soal penghematan anggaran dari Kemendikti Saintek udah kedengeran sejak dua minggu lalu. Kampus langsung respons dengan ngeluarin keputusan petunjuk teknis pelaksanaan efisiensi. Imbasnya, dosen-dosen kayak dipaksa buat super hemat dalam ngajar.

“Ini bukan hemat lagi, tapi super hemat,” kata Pak Alfan. Kuliah yang tadinya tatap muka jadi keganggu, selain buat hemat listrik, juga karena belanja barang habis pakai dikurangin. “Kami ini pendidikan vokasi, praktik lebih banyak. Sekarang tatap muka dikurangin, daring ditingkatin. Praktikum pasti keganggu, udah dikurangin,” ujarnya dengan nada kesal.

Nggak cuma kuliah yang kena imbas. Fungsi tri dharma perguruan tinggi juga ikut terdampak. Dosen-dosen sekarang nggak bisa lagi ngelaksanain pengabdian dan penelitian karena anggarannya “dinolkan”, alias nggak ada sama sekali. Keputusan kampus ini jelas ditolak mentah-mentah sama mahasiswa karena ngerugiin mereka. Politeknik Negeri Bengkalis kan kampus vokasi, kuliah praktik lebih banyak dari teori.

Ketua BEM Politeknik Negeri Bengkalis, Herizal Kurniawan, bilang kampus terlalu buru-buru respons kebijakan Kemendikti Saintek dan nggak nyari solusi lain. Mahasiswa sempat demo tanggal 25 Februari buat nuntut kuliah daring dibatalin, minta transparansi anggaran, dan dana organisasi mahasiswa tetap dikeluarin. Hasilnya, kampus batalin kuliah daring. Tapi, mahasiswa tetep bakal ngawasin terus pelaksanaannya.

Listrik, Air, AC, Internet Dibatasi Ketat

Listrik, Air, AC, Internet Dibatasi Ketat

Nasib serupa juga dialami Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kampus seni ini juga ikut-ikutan potong anggaran sesuai Inpres Presiden dan Surat Edaran Kemendikti Saintek. Manajemen ISBI Bandung langsung gercep ngeluarin surat edaran tanggal 25 Februari 2025 yang isinya antara lain:

  • Listrik Mati Jam 16.30: Penggunaan listrik cuma sampai jam 16.30 WIB, kecuali masjid, ruang kuliah, dan penerangan umum.
  • Hemat Listrik: Semua pegawai harus pastiin listrik nyala sesuai kebutuhan, maksimalkan cahaya matahari, dan matiin listrik sebelum keluar ruangan.
  • Komputer Mati, Videotron Off: Komputer harus mati kalau nggak dipake. Videotron dimatiin selama masa efisiensi, kecuali ada acara khusus.
  • AC Dilarang Kecuali Darurat: Penggunaan AC nggak boleh di semua ruangan, kecuali server atau kondisi darurat.
  • Hemat Air: Pemakaian air harus sesuai kebutuhan, efisien, nggak boros, dan pastiin nggak ada kebocoran.
  • Perjalanan Dinas Dibatasi: Perjalanan dinas diseleksi ketat dan cuma buat yang urgen, disaranin kegiatan daring atau hybrid.
  • Kegiatan Kampus Daring/Tanpa Konsumsi: Workshop, seminar, rapat, dan kegiatan lain dilaksanain daring atau di lingkungan kampus tanpa konsumsi.
  • Internet Mati Jam 18.00: Internet kampus dimatiin jam 18.00 WIB.
  • Lembur Ditiadakan: Lembur nggak diperbolehkan.
  • Gedung Pertunjukan Dibatasi: Penggunaan gedung pertunjukan yang boros listrik/AC dibatasi.
  • Kegiatan Kampus Selesai Jam 18.00: Semua kegiatan kampus, termasuk mahasiswa, harus selesai jam 18.00 WIB. Kampus jadi kayak mau tutup lebih awal nih.

Keputusan kampus ini langsung bikin Aliansi Mahasiswa ISBI Bandung protes. Mereka bikin aksi pembangkangan dengan ngadain pertunjukan musik dan nyalain listrik sampai jam 22.00 WIB, empat jam lebih lama dari batas waktu yang ditetapin kampus.

Mukhammad Haikal Athar Abdullah, mahasiswa ISBI Bandung yang ikut protes, bilang kebijakan penghematan ini ganggu banget proses kuliah dan kegiatan mahasiswa. Apalagi penghematannya nyentuh kebutuhan dasar mahasiswa kayak listrik dan internet. “Kan kami juga bayar, tapi kok pelayanannya kayak gini, atas nama efisiensi segala macem. Harusnya kampus bisa ngatur lebih bijak lagi,” kata Haikal.

Haikal juga mempertanyakan kenapa lift kampus dimatiin, padahal nyusahin mahasiswa yang kelasnya di lantai atas. Klinik kesehatan kampus juga ditutup sejak tanggal 26 Februari, ini juga disesalin mahasiswa. “Ini fatal menurut saya, teman-teman saya banyak yang anak rantau, uangnya terbatas. Kalau mau ke puskesmas harus keluar biaya lagi. Klinik di kampus kan bisa kasih obat gratis atau pertolongan pertama,” jelas Haikal.

Aliansi Mahasiswa ISBI Bandung ngancam bakal terus demo sampai manajemen kampus mau mediasi dan diskusi sama mahasiswa. Soalnya, selama ini kampus ngambil keputusan sepihak tanpa ngelibatin mahasiswa yang kena dampak kebijakan. “Kebijakan dari kampus langsung terbit aja, tanpa diskusi sama mahasiswanya. Pas ditanya kenapa mahasiswa nggak diajak diskusi, mereka bilang kebijakannya udah dari negara, nggak bisa didiskusiin lagi, padahal kan bisa aja. Itu sih kekesalan kami,” keluh Haikal.

Dosen Seni Teater ISBI Bandung, Iman Soleh, juga prihatin sama kebijakan penghematan ini. Apalagi yang dihemat kebutuhan mendasar mahasiswa kayak listrik, AC, dan internet. Menurut Pak Iman, kebijakan ini bakal susah diterapin, soalnya beberapa ruang kelas, studio, atau gedung pertunjukan emang kondisinya gelap, meski siang hari. Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan juga lebih banyak kegiatan malam buat latihan.

“Anak-anak mahasiswa nyari ilmu setelah pelajaran selesai jam 4 sore, lanjut malam hari manfaatin wifi kampus. Di ISBI Bandung malah lebih banyak kegiatan malam,” jelas Pak Iman. “Ini bakal jadi kendala besar.” Kalau lampu dimatiin dan latihan siang hari, ya susah, jadwal kuliah juga bentrok. Listrik itu kebutuhan mendasar banget buat anak teater, buat pertunjukan atau latihan.

Sejauh ini, kebijakan penghematan belum ganggu proses kuliah yang diampu Pak Iman, karena mata kuliahnya pagi hari. Tapi, beliau khawatir sama proses bimbingan yang seringnya malam hari. Pak Iman juga nyesel kebijakan ini dikeluarin tanpa diskusi sama dosen dan mahasiswa. “Kebijakan itu mestinya didiskusiin dulu sama kami yang di lapangan,” katanya. Beliau sadar efisiensi ini nggak cuma di ISBI Bandung, tapi juga kampus lain. Tapi, penghematan di dunia pendidikan itu memprihatinkan banget, sama kayak penghematan di dunia kesehatan, terutama buat kebutuhan mendasar. “Sebenernya kalau buat dunia pendidikan, listrik, AC, wifi itu nggak usahlah [efisiensi], itu penting banget buat mahasiswa. Bukan soal mahal atau murah,” pungkasnya.

Kemendikti Saintek Terima Banyak Keluhan

Kemendikti Saintek Terima Banyak Keluhan

Sekjen Kemendikti Saintek, Bapak Togar Simatupang, ngakuin proses pemangkasan anggaran ini emang sensitif dan bikin khawatir. Beliau bilang pihaknya udah nerima puluhan keluhan buat dievaluasi dan dicari solusinya. “Dengan dialog dan cara-cara konstruktif, pasti kita bisa atasi masalah ini. Mudah-mudahan minggu pertama Maret selesai,” ujarnya.

Beliau juga negasin pemerintah udah jamin Uang Kuliah Tunggal (UKT) nggak bakal naik, sesuai omongan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Tapi, Bapak Togar ngakuin ada cara-cara yang harus dilakuin buat capai keseimbangan anggaran. Soal gaji pegawai, katanya nggak bakal kena, kecuali gaji pegawai outsourcing. “Atau jumlah outsourcing-nya, kontraknya yang setahun mungkin dibikin dulu 6 bulan, 6 bulan,” jelasnya. Kontrak pegawai outsourcing, termasuk petugas kebersihan, tetep jalan. Tapi, buat yang baru atau belum ada, mungkin perlu penjadwalan ulang atau hitung ulang sesuai target efisiensi.

“Kalau tenaga pengajar mungkin terkait dosen tidak tetap, masih bisa ditinjau ulang, tapi batasan tetep penuhi capaian pembelajaran. Kalau misalnya pelajaran kuliah bisa dikasih dosen tetap dan lebih hemat, ini juga memungkinkan.” Soal beasiswa, Menkeu Sri Mulyani udah jamin beasiswa yang udah jalan tetep lanjut. Tapi, beasiswa baru mungkin bakal dirasionalisasi atau dihentiin. Penelitian yang sifatnya fundamental atau hasilnya susah diliat juga mungkin dikurangin atau dihilangin.

Bapak Togar ngakuin pemangkasan anggaran nggak bisa dipukul rata buat semua kampus. Contohnya Politeknik Bengkalis yang langsung bikin semua kuliah daring, padahal mayoritas mata kuliahnya praktik. “Ini nggak tepat juga. Pukul rata. Nanti diliat mana praktik yang emang bisa di-online-kan, mana yang nggak,” ujarnya. Proses efisiensi anggaran ini emang nggak bisa serentak.

Pendidikan Tinggi Indonesia Bisa Makin Terpuruk

Pendidikan Tinggi Indonesia Bisa Makin Terpuruk

“Indonesia Emas sulit terwujud dan bonus demografi jadi bencana karena generasi kita nggak terampil,” kata Bapak Jejen Musfah. Baginya, efisiensi anggaran ini bukan kebijakan yang tepat, nggak sesuai sama Asta Cita pemerintah Prabowo-Gibran. Beliau minta pemotongan dana pendidikan dibatalin demi ningkatin mutu pendidikan di Indonesia. “Karena yang diperlukan itu penambahan beasiswa dan peningkatan fasilitas belajar.”

Senada, Koordinator Nasional Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, juga desak pemerintah buat revisi pemangkasan anggaran ini. Beberapa kampus udah kesulitan jalanin program, perawatan fasilitas, atau bahkan bayar gaji tenaga honorer. “Pemangkasan anggaran ningkatin risiko pemecatan tenaga honorer, karena kampus mungkin perlu kurangin pengeluaran buat gaji,” ujar Ubaid. Efisiensi anggaran juga bisa dorong kampus naikin Uang Kuliah Tunggal (UKT) buat nutupin kekurangan dana.

Ketua Umum Serikat Pekerja Kampus (SPK), Dhiya Al-Uyun, juga nolak efisiensi anggaran karena dianggap sepihak. SPK nyebut pemangkasan anggaran ini kebijakan top-down. “Kebutuhan universitas, terutama buat riset dan sebagainya, itu beda sama apa yang dipikirin kementerian atau presiden,” ungkapnya. Tekanan buat tenaga pendidikan juga makin berat karena dipaksa efisiensi tapi kerja harus optimal. SPK nemuin dugaan pengurangan fasilitas dosen dan “perapihan” tenaga pendidikan dan pekerja kampus. “Ada wacana pemecatan sepihak di beberapa kampus,” ujarnya. Gaji dibatasi, tapi kerjaan nggak.

Pakar kebijakan publik Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, khawatir kebijakan ini bisa bikin dosen dan pekerja kampus mogok kerja. “Kalau udah mogok, pasti proses belajar mengajar terhenti,” ucapnya.

‘Efisiensi Jangan Pukul Rata’

Efisiensi Jangan Pukul Rata

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Gurnadi Ridwan, bilang tujuan pemangkasan anggaran sebenernya bagus. “Masalahnya, kegiatan dan kebutuhan tiap lembaga itu beda-beda. Efisiensi anggaran di Inpres 1/2025 nggak bisa pukul rata,” ujar Gurnadi. Beliau himbau Kemendikti Saintek buat nyisir semua PTN, liat efektivitas dan efisiensi alokasi belanja tiap kampus. “Contohnya di Politeknik Negeri Bengkalis. Efisiensi malah jadi kontraproduktif,” kata Gurnadi. Pemerintah pusat harus evaluasi implementasi Inpres 1/2025 ini. Jangan sampai civitas akademika jadi korban. FITRA juga desak PTN buat transparan soal keuangan yang dikelola, biar publik bisa nilai dan kasih masukan.

Gimana menurut kalian soal pemangkasan anggaran pendidikan tinggi ini? Komen di bawah ya!

Posting Komentar